Dimensi Dunia Lain

Dimensi Dunia Lain
Bab 25


__ADS_3

Sebuah undangan berwarna emas mengkilap tengah dipegang seseorang bernama Zevanya Laureen. Zevanya membolak-balikan undangan yang diterimanya. Apa ini? Sedari tadi, itulah yang dipertanyakan Zeva.


Apa maksud Miya memberikannya ini tadi? Zevanya terus bertanya-tanya dalam benaknya. Bahkan, Miya langsung pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ini membuat Zeva bingung dan bertanya-tanya dalam hati.


Zeva duduk di samping ranjangnya. Apa maksud dari semua ini, tolong, Zeva nggak paham. Zeva mendengus.


Kenapa semua orang semakin lama semakin aneh? Apakah itu sifat asli mereka? Berarti mereka hanya berpura-pura saja selama ini dengan Zeva? Setengah tahun saja belum genap, terlalu cepat mereka menampakkan mukanya.


Seharusnya, menurut Zeva, mereka tunggu lebih lama lagi. Supaya Zeva sudah benar-benar jatuh di sisi mereka dan meraung atau menangis agar mereka tidak pergi. Ini kenapa cepat sekali. Sungguh tidak ada perasaannya.


Kemudian, kakek Zeva alias Theo Walcott masuk saat Zeva terus-terusan menggerutu. Kakek Zeva tersenyum. Sepertinya, sifat baru Zeva yang ia sukai adalah ketika cucunya tengah menggerutu seperti ini. Membuat orang lain menahan tawanya agar tidak keluar. Sebab Zeva sangat-sangat lucu. Ah, siapa yang tahan dengan muka imut nan menggemaskan miliknya? Theo saja bahkan bisa luluh.


Oh, Zeva. Janganlah kamu terlalu lucu hingga membuat orang lain sangat gemas. Theo memilih duduk di samping Zeva. Bahkan, saat Theo duduk saja, Zeva tidak sadar dengan itu.


“Nak,” panggil Theo. Baiklah, percobaan pertama masih tidak membuat Zeva tidak terkejut.


Kali ini, Theo lebih usil. Dia menepuk pundak Zeva dan memanggil nama lengkapnya. Zeva terjingkat kaget, tetapi dia langsung mendelik saat tahu itu Theo.


“Bersiaplah, nak. Kita akan menghadiri acara nikahan Miya.” Ucap sang kakek.


“Nikah? Kak Miya nikah sama siapa?” tanya Zevanya kaget. Setau dia, Miya belum punya pasangan atau kekasih. Lantas, Miya yang sudah menjadi kakaknya itu, akan menikah dengan siapa? Atau malah Miya yang tidak memberitahu Zevanya agar dirinya penasaran?


“Kamu bakal tau sendiri, nanti.” Cicit kakek Theo. Tidak mungkin bukan dia blak-blakan berkata bahwa anaknya sendiri, Reza, yang akan menikahi Miya.

__ADS_1


Semua orang di pelosok negeri, bahkan belahan dunia diundang. Memang Theo Walcott seniat itu untuk pernikahan putranya yang berusia 27 tahun itu sekarang. Iya, benar, 27 tahun.


Sebab, satu hari sebelum perayaan ulang tahun Zeva yang diadakan dengan penuh kejutan itu. Reza berulang tahun lebih dulu tanpa dirayakan sama sekali. Memang, Theo pernah meminta untuk dirayakan, tetapi Reza menolaknya mentah-mentah.


Reza juga malah mengancam Theo agar keingin Theo itu tidak terkabul. Alhasil, hanya Zeva lah yang dirayakan. Padahal, rencananya mereka berdua yang akan menjadi pangeran dan putrinya.


“Sudah siap, Nak?” tanya Theo Walcott.


“Iya, kakek.” Ucapnya tersenyum. Sangat manis dan membuat orang meleleh. Baiklah, Theo sudah berjanji akan membiarkan Zevanya mendampingi Miya seharian ini.


Theo segera mengajak Zevanya menyusul Miya yang sudah pasti selesai di dandani di aula kerajaan. Yap, benar. Acara pernikahan Reza dan Miya diadakan di kerajaan dengan mengundang pendeta untuk prosesi sakral mereka. Ada juga beberapa orang penting lainnya seperti perias, dan lainnya. Banyak sekali memang, sampai tak bisa disebutkan satu-satu. Raja yang masih menjabat juga hadir dengan anaknya. Ya, Raja hadir untuk memberikan berkah terhadap pernikahan warganya.


Nyanyian-nyanyian dilantunkan, doa-doa, dan serangkaian acara lainnya pun turut mengiringi acara pernikahan Reza dan Miya.


Baiklah, kita bisa melihat dua insan yang resmi menjadi kekasih halal itu tersenyum. Namun, jika diperjelas kedua manusia berbeda jenis kelamin itu memiliki hati yang berbeda.


Baru sekaranglah mereka bersatu, meski Reza tahu betul, bahwa Miya memang belum memiliki perasaan padanya. Ya, Miya terlalu sibuk sampai-sampai tidak tahu, atau mungkin juga tidak sadar dengan perasaannya sendiri.


Reza janji, pelan-pelan dia akan membuat Miya mencintai dia seperti dia mencintai Miya. Ya, begitulah. Reza juga bukan orang yang main menikahi anak orang dengan sembarangan, tentunya dengan penuh pertimbangan dan paksaan.


Kembali lagi ke Zeva. Dia mendampingi kakeknya, Theo. Untuk mengobrol dan membahas bisnis, termasuk bisnis-bisnis yang Zeva belum mengerti juga.


Kemudian, sudut mata Zeva melirik sekitar. Tak ada yang menarik perhatiannya untuk dituju. Tak ada yang membuat Zeva ingin datang. Namun, saat Zeva menoleh ke arah kiri.

__ADS_1


Zeva melihat seseorang yang membuat tidurnya terganggu, bahkan kamarnya berantakan. Zeya tidak menyangka sebenarnya orang itu akan ada di sini juga. Zeva hanya bisa melotot melihatnya, oh, astaga. Apakah memang dia orang yang Zeva cari? Tapi Zeva tidak akan mendatanginya walau ingin.


Zeva membuang mukanya ke arah lain. Zeva juga tidak tahu rasa apa yang menghinggap di hatinya saat ini. Mungkinkah dia benar-benar sudah terjebak dengan Zeo yang kini tengah mengobrol dengan seorang wanita cantik dan alim.


Benar, Zeo. Di sisi lain, dia tahu Zeva baru saja menatapnya. Zeo tersenyum miris, sampai saat ini juga Zeva tidak mau mendatanginya, apakah Zeo sudah tidak lagi menarik di mata Zeva?


Orang di sebelah Zeo yang merupakan seorang pebisnis besar itu memanggil Zeo yang terbengong. Beberapa kali sampai dirinya sebal sendiri.


“Eh, iya, ada apa?” tanya Zeo.


“Ah, tidak. Anda tadi bengong, saya takut ada apa-apa.” Kan tidak lucu jika nanti dia yang disalahkan, hehe.


“Ah, iya, terima kasih. Saya izin pamit.” Rencananya Zeo akan memancing Zeva dengan duduk di sebelahnya.


Yap, usaha itu berhasil. Upaya Zeva untuk terus memakan makanannya dengan fokus akhirnya bubar.


Dia malah sibuk memperhatikan percakapan antara kakek Theo dan Zeo.


“Kakek, apakah dengan ini semua akan baik-baik saja?” tanya Zeo di tengah-tengah percakapan. Zeva memasang telinga.


“Kamu nggak perlu khawatir, kakek udah urus semuanya, mungkin akhir bulan depan kamu sudah bisa untuk melepas dia.” Ucap kakek Theo. Meskipun Zeva menatap keduanya penuh selidik, tetap saja, Zeva tidak bisa berbuat apapun.


“Baiklah, kek. Jadi aku tinggal mengecek kesiapannya aja kan nanti?” obrolan mereka terus berlanjut tanpa ada sepatahkatapun yang dimengerti Zevanya.

__ADS_1


Setelah misteri-misteri yang belum terpecahkan, kini, bertambah lagi semakin banyak, dan Zevanya dibuat semakin pusing. Iya, setelah pelantikannya sebagai kepala keluarga baru kemarin, Zevanya mendapatkan kabar bahwa sejumlah harta Walcott berpindah tangan ke salah seorang warga desa.


Panik sudah pasti, tapi Zevanya sebisa mungkin mengontrol dirinya dan mencari tahu siapa yang berani berbuat seperti itu.


__ADS_2