Dimensi Dunia Lain

Dimensi Dunia Lain
Bab 41


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 5 pagi. Di mana pagi ini Zevanya sudah terbangun dari tidur yang sangat lelapnya itu. Masih ada waktu selama 4 jam untuk pertemuan Zevanya dan keluarga Walcott.


“Zeva, katanya kamu mengumpulkan seluruh keluarga Walcott?” tanya Kakek Tua saat Zeva sampai di ruang makan.


“Tentu Kakek, kita harus membahas jelas semua harta keluarga Walcott.” Zeva memang mengambil keputusan sendiri. Tentunya tanpa persetujuan Kakek Tua seperti biasanya.


Kali ini, saat Zeva sedang mendudukkan dirinya di kursi yang ada di meja makan itu, Kakek Tua menghela napas. Seharusnya, saat ini Zevanya masih bersenang-senang, begitupun keluarga Walcott yang lain. Pembagian harta warisan itu seharusnya setelah dia tak ada di dunia ini lagi.


Namun, keputusan yang Zeva ambil sebagai Ratu Walcott tidak dapat diubah lagi hanya dengan omongannya. Karena, Kakek Tua Walcott tidak memiliki alasan yang jelas untuk melarangnya. Ingat, yang dihadapi Kakek Tua adalah Zeva, cucu sekaligus muridnya, jadi, apakah dia bisa membantah ucapan Zeva? Tentu saja sebagai cucu dan mantan muridnya yang memiliki ucapan pedas, kakek Tua itu akan kalah dengan Zeva.


“Baiklah-baiklah. Apakah kakek harus menghadiri acara itu juga?” tanya Kakek Tua.


“Tentu saja, Kakek. Kakek yang akan menyetujui pembagian nanti, jadi kakek wajib datang.” Zevanya meminta, tetapi dengan nada datar yang sudah menjadi kebiasaannya.


“Huh, baiklah, demi kamu.” Memang benar, Kakek Tua alias Theo Walcott selalu melakukan segala hal demi Zevanya.


“Baik, apakah semua sudah berkumpul?” tanya Zevanya menyelidik. Seharusnya kursinya penuh, dia hanya berpura-pura bertanya saja, dari jumlah, Zevanya sudah tahu bahwa ada satu orang yang tidak hadir. Namun, sedari malam kemarin, Zevanya sama sekali tidak menerima surat keterangannya.


“Sepertinya sudah, Nona.” Ucap Audrey takut-takut. Zevanya sedang mode senggol mati, dia juga takut. Meskipun tak dekat, Audrey selaku adik tiri Zevanya dari paman dan bibi Zevanya itu sedikit banyak tahu sikap dan sifatnya.


“Sepertinya? Kau sama sekali tidak ada niat untuk menjawab rupanya. Apakah ada yang mau membantu?” tanya Zevanya tersenyum miring.

__ADS_1


Suasana di ruangan itu terasa panas. Gersang dan mencekam adalah kalimat yang cocok. Sungguh, jika boleh meminta, mereka ingin segera keluar dari sini.


Terlebih paman dan bibi Zevanya yang merupakan orang tua asuh setelah orang tua angkat Zevanya meninggal. Meskipun begitu, mereka tetap tidak menerima kehadiran Zevanya di rumah itu. Bahkan, bisa dikatakan bahwa sekarang Zevanya mengubah posisi mereka.


Pamannya yang bertama Ansley dan bibinya Deasy itu saling menggenggam tangan masing-masing alias kedua tangan mereka saling bertautan satu sama lain. Mereka takut. Mungkin biasanya mereka yang begini, tapi sekarang posisinya sudah berbeda.


Zevanya yang sekarang bukanlah Zevanya yang mudah untuk ditindas lagi. Zevanya yang sekarang bahkan sangat menyeramkan seperti Kakek Tua. Bahkan, bukan hanya paman dan bibi Zevanya yang barusan tegang, tetapi semua orang yang dapat melihat dengan jelas manik mata Zevanya.


“Benar tidak ada yang ingin menjelaskan?” tanya Zevanya sekali lagi. Sementara Kakek Tua sudah menggelengkan kepala di kursi kesayangannya.


Kelakuan Zevanya ini sama seperti dirinya, memang benar bahwa keturunannya ini sudah paling cocok untuk mewarisi keluarga Walcott. Sungguh, Kakek Tua itu tidak menyesal sudah membiarkan Zevanya memegang kendali atas Walcott secara sepenuhnya.


“Nicholas Sebastian Imanuel Walcott, anak dari pasangan Tuan Yunanda dan Nyonya Starla. Apakah Tuan Yunanda ingin memberikan penjelasan?”


“Apakah saya perlu menggeret dan menghukumnya terlebih dulu baru Tuan Yunanda membuka suara?” ancam Zevanya tidak main-main. Zevanya memang bisa membawa putra Tuan Yunanda ke sini dengan kekuatannya.


“Nona, ampuni putra saya, saya mohon.” Ringis Nyonya Starla, dia menyerah, kuasa dan kekuatan Zevanya yang tinggi bisa saja membahayakan putranya. Meskipun putranya nakal dia tetap menyayangi sang putra dengan segala kemuliannya sebagai seorang ibu.


“Saya tidak butuh permohonan seperti itu. Saya butuh kejelasan!” Meskipun Zevanya segan dan tidak enak hati, dia harus menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang mengemban tanggung jawab.


“A-anda bawa saja Putra saya ke-kemari, tapi jangan hukum di-dia.” Anaknya yang membuat ulah dan ibunya yang meminta maaf. Apakah ini disebut sebagai drama terbalik? Astaga. Zevanya ingin sekali mendorongnya ke tengah lautan.

__ADS_1


“Baik, penjaga, bawa dia. Hotel X di jalan X.” Sebut Zevanya. Semua orang yang ada di sana tercengang, bukankah itu hotel yang ada di pinggiran kota?


“Tapi, nona... Itu jauh.” Salah seorang penjaga mengeluarkan kerisauannya.


“Pake kekuatan dong, biar sat-set beres.” Kekeh Zevanya yang semakin terlihat menyeramkan.


Oh iya, ada benarnya. Para penjaga itu dengan segera memakai kekuatannya untuk berteleportasi. Mereka tampaknya tadi lupa, bahwa sebelum mereka bisa menjadi bagian dari Walcott, serangkaian tes harus mereka lewati dengan saksama.


Tak membutuhkan waktu yang lebih lama, para penjaga itu membawa Nicholas yang dipegangi oleh dua penjaga.


“Mau duduk atau hukuman?” tanya Zevanya saat orang yang bernama Nicholas itu hendak melayangkan protes. Apa-apaan ini, dia tidak terima!


“Aku nggak mau salah satunya. Aku mau enak-enak!” kesal Nicholas. Dia sudah berada di titik teratas hasrat dunianya. Namun, dua penjaga itu muncul dan memboikot dia seperti ini.


“Oke, tapi jangan harap kamu bisa kembali masuk ke keluarga Walcott, bagaimana?” tanya Zevanya lagi. Kali ini dengan mengitari badan orang itu dan jangan lupakan tatapan tajam yang menghiasi dirinya sejak tadi.


“Baiklah-baiklah.” Dia nenyerah juga, dia tidak mau keluar dari Walcott!


“Baiklah, karena semua sudah berkumpul, mari kita ucapkan selamat kepada kita semua. Sebelum itu saya mengucapkan terima kasih atas sambutan Tuan Nicholas yang sungguh berani. Baiklah, kita akan mendengarkan pembagian harta warisan. Jangan ada yang menyela atau melakukan segala hal secara tidak sopan, atau akibatnya adalah pengeluaran anda dari keluarga Walcott,” ucap Zevanya. Dia tersenyum dan menyuruh pengacara itu membacakannya.


“Baiklah, Nona. Begini, pembagian harta ini nantinya akan disetujui kembali oleh Tuan Walcott selaku pemilik kekayaan saat ini. Juga, pembagian ini baru akan terlaksana pada saat Tuan Theo tidak ada. Pertama dan yang utama ialah Nona Zevanya dengan jumlah saham The Walcott Club sebesar 60%, perpindahan nama rumah besar Theo menjadi nama Nona Zevanya, dan segala asetnya, kemudian...” pengacara itu melanjutkan penyebutannya sampai dia sendiri merasa lelah.

__ADS_1


“Kok aku dikit?” protes Nicholas, sudah membuat insiden, sekarang dia juga kembali protes. Namun, Zevanya sedikit senang dengan protes itu, setidaknya ruangan ini punya suara yang menggemaskan.


__ADS_2