
Lima belas hari berlalu dengan cepat, tanpa terasa, hari ini sudah waktunya untuk mereka kembali pulang ke Indonesia. Namun, mereka sungguh tidak rela.
Rasanya mereka ingin terus-terusan di sini, ya, mereka terlanjur nyaman. Namun, waktu yang sudah ditentukan tidak bisa diganggu gugat. Mereka tetap harus pulang dan mengikuti penerbangan hari ini.
“Aku pengen, nanti pas kita tua, kita tinggal di sini aja.” Nah, belum apa-apa sudah memikirkan usia tua. Bagaimana mungkin mereka rela meninggalkan tempat ini.
“Semoga saja kita bisa menikmati usia tua bersama-sama, ya, Sayang. Oiya, kamu istirahat aja, muka kamu pucet gitu.” Jujur saja, Zeo merasakan khawatir yang melebihi batas, bukan karena dia takut kehilangan, tapi Zeo lebih takut dengan kondisi Zeva yang sedang sakit tapi ditutupi.
“Iya, Sayang. Tapi bener kok, aku baik-baik aja. Masa iya aku Cuma ngeliatin kamu beresin barang kita yang sangat banyak ini sih?”
Meskipun tinggal baju kotor yang belum disiapkan, tetapi Zeva sadar diri. Bajunya begitu banyak, sebab Zeva memang selalu berganti baju, meskipun bajunya basah sedikit. Tahu dong ulah siapa, ya, ulah Zeo sendiri.
Jadi, sebenarnya pantas saja Zeo begitu sibuk saat ini. Toh, dia juga yang mencari ulah. Dia yang super protektif dan juga posesif. Kemudian, mengharuskan baju yang terbaik juga.
Meskipun barang-barang mereka yang lain sudah dibereskan sejak beberapa hari lalu. Namun, masih saja banyak. Contoh barang yang sudah dibereskan, salah satunya adalah oleh-oleh. Ya, total 2 koper besar menjadi tempat penaruhan oleh-oleh.
Sementara, 1 koper yang sedang dipersiapkan oleh Zeo saat ini berisi baju-baju kotor. Ya, banyak juga sih baju yang sengaja mereka beli untuk dipakai saat di Indonesia nanti. Namun, satu koper itu khusus punya mereka berdua, tanpa tercampur barang apapun. Bahkan, satu koper ini, di dalamnya berisi peralatan skincare milik Zevanya juga beberapa peralatan untuk perawatan Zeo sendiri.
Beberapa saat kemudian, mereka berdua sudah check out dari hotel yang menjadi tempat penginapan mereka selama 15 hari itu. Kemudian, keduanya menunggu mobil jemputan di lobby hotel.
“Kamu udah siap kan, Sayang?” tanya Zeo. Ya, tadi setelah turun untuk membawa dua koper besar, dia kembali naik dan turun membawa satu koper lagi serta menggandeng tangan Zevanya. Barulah setelah itu Zeo menguruskan check out mereka. Setelah dirasa siap, keduanya menunggu di lobi hotel.
__ADS_1
“Udah dong, hubby. Meskipun ga rela, tapi sudah menjadi hukum alam bahwa datang akan pergi, seperti kita yang hanya datang sejenak lalu pergi setelah bersenang-senang di sini.” Ya, Zevanya berubah menjadi sangat bijak setelah bertemu Zeo.
Keduanya menjadi bucin abis, setelah Zeo tahu bahwa apa yang ada di mimpinya adalah nyata, bukan khayalan semata. Memang sih, Zeo sempat tidak percaya dan ngambek, tapi itu hanya berlangsung beberapa jam.
Setelah itu, Zeo juga sempat menelpon Kevin untuk klarifikasi. Namun, sama seperti Zevanya, jawaban Kevin pun sama. Hanya bedanya, Kevin memaki-maki Zeo yang baru sadar. Bayangkan saja, mengalami mimpi selama kurang lebih 5 tahun, dan dia baru sadar bahwa Zevanya serta gadis yang dia cintai itu sama? Oh, astaga, ke mana saja Zeo selama ini? Itu yang membuat Kevin memaki-makinya.
“Hueekkk!” Zeo terduduk lemas di toilet. Entahlah, setelah beberapa hari lalu pulang dari Maldives, Zeo malah sering merasa mual, terlebih di pagi hari.
Namun, jika berada di dekat Zevanya, ataupun sudah siang, Zeo tidak lagi merasakan mual itu. Zeo jadi suka berpikiran yang tidak-tidak. Bahkan, dia pernah berkata seperti ini pada Zevanya.
“Kalau semisal nyawaku diambil duluan sama Tuhan, kamu jangan marah sama Tuhan, ya. Itu udah takdirku.”
“Suami kamu ke mana, Dek?” tanya Vania. Dia sedang ingin membahas urusan kantor, tadinya biar bisa sat-set, Vania kunjungi saja rumah sang adik dan suaminya. Rumah yang dia belikan untuk hadiah pernikahan.
“Masih di kantor, dia lembur. Memangnya kenapa kak?” tanya Zevanya. Sudah sering kakaknya ke sini, entah untuk bertemu dia atau hanya mencari suaminya, untuk bahas pekerjaan. Ya, Zevanya sangat tahu itu, sebab jika keduanya bertemu, mereka memaksa Zevanya juga ada di dekat mereka. Supaya tidak menimbulkan fitnah yang tidak-tidak, meskipun itu di ruang tamu.
“Seperti biasa. Kamu kok pucet banget sih dek?” tanya Vania.
“Emangnya aku pucet? Aku rasa malah biasa aja, tapi kemarin mertuaku datang juga ngomong gitu sih.” Pengakuan dari Zevanya membuat Vania curiga.
“Kamu terakhir haid kapan, dek?” tanyanya. Mungkin bagi orang lain, itu adalah pembahasan yang intim. Namun, bagi Zevanya itu adalah hal yang biasa.
__ADS_1
“Gatau, keknya aku udah telat deh, aku lupa pastinya tanggal berapa, tapi sekitar tanggal akhir kek gini, sebelum aku nikah loh. Kalau ga salah barengan sama kakak.” Vania semakin curiga. Ya, ucapan Zevanya mengarah ke hal-hal yang sepertinya akam membuat Vania senang.
“Kamu suka muntah pas pagi?” tanya Vania lagi.
“Nggak. Tapi suamiku iya, emangnya kenapa sih kak?” tanya Zevanya penasaran. Kok tumben kakaknya banyak tanya sih hari ini. Tidak seperti biasanya.
“Kamu punya testpack?” Vania kembali bertanya. Ya, Vania curiga jika Zevanya hamil. Mengingat kondisinya yang sedang subur saat mereka berdua pergi honeymoon.
“Nggak lah. Ngapain juga aku simpen yang begituan, nggak penting tau ga sih.” Zevanya masih tidak sadar. Namun, radar kepekaan kakaknya tidak perlu ditanya lagi.
“Setelah menikah, testpack itu penting, Dek. Apalagi kamu sudah berhubungan badan sama suami kamu. Kalau ga pake testpack, memangnya bagaimana caranya untuk tahu kamu sedang berbadan dua atau tidak.” Bijak Vania. Ya, dia sangat berpengetahuan.
“Tapi aku sama Zeo sepakat untuk ga punya anak deket-deket ini kok.”
“Emang kalian pake pengaman?” tanya Vania menyelidik. Hal itu membuat Zevanya gugup, ya nggak sih, meskipun sebelum menikah, kakaknya sudah memberitahu dia cara aman dan segala macamnya, tapi Zevanya kan lupa bawa. Malahan yang dia ingat hanya lingerie.
“Nggak kan? Itu masih ada kemungkinan kamu hamil. Hitung aja, masa subur kamu. Belum lagi, Zeo pasti punya bibit unggul, mengingat dia sangat senang untuk berolahraga.”
Tak selang beberapa lama, Vania membawakan testpack. Dia menyuruh Zevanya cek. Meski Zevanya ragu, Vania tetap menyuruhnya.
“Garis dua, tapi samar,” ucap Zevanya saat keluar.
__ADS_1