
Baju hitam, kacamata hitam, sarung hitam, penutup kepala hitam, sepatu hitam, semuanya serba hitam! Seseorang yang tampak misterius itu menengok ke arah kaca, dia memperbaiki dan mengganti posisi pakaiannya ketika dirasa kurang.
Manusia yang sedang memikirkan rencana untuk menyelinap. Seseorang yang ingin bertemu dengan Pujangga Hatinya dengan cara yang tidak biasa. Bahkan, dari semua yang ada di tubuhnya, hanya matanya yang tidak tertutup oleh apapun.
Satu garis mata itu tidak tertutup sarung apapun. Termasuk rambutnya yang dia biarkan terurai, tidak tertata, alias berantakan. Penampilannya malam ini sungguh membuat hati orang-orang takjub, sebab ini tak seperti dirinya di siang hari.
Orang itu adalah Zeo, Zeonard Leonardo Zurick. Pangeran Mahkota yang baru saja menjadi mantan seorang Zevanya Laureen, cucu dari Theo Walcott. Seseorang yang tengah patah hati dan sedih karena Zevanya.
Namun, ingatlah, ini semua bukan tentang salah siapa. Sebab bukan Zevanya ataupun Zeo yang memilih untuk putus tunangan. Ada dua orang yang lebih berkuasa, yakni Tuan Petrus dan Tuan Theo.
Sekali lagi, bukan kehendak Zevanya untuk putus, bahkan Zevanya saja tidak tahu bahwa posisinya sudah di ujung tanduk. Zevanya sudah tidak dapat berontak dan bahkan dirinya sudah tidak bisa berbuat apa-apa.
Bahkan, setelah dia dipindah sel, dia sama sekali tidak membersihkan badan dan belum makan! Lemas? Sudah pasti dirasakan oleh Zevanya, sebab dia sama sekali tidak ingin makan.
Walaupun dia pernah diberikan makanan yang sama seperti makanan babi, Zevanya tidak pernah menyentuh atau memakannya. Bukan, bukan karena Zevanya jijik, tetapi dia sama sekali tidak minat dengan pikirannya yang sangat bercabang.
Banyak hal yang telah berubah dari Zevanya. Dia tidak lagi ceria seperti dulu. Bahkan, Zevanya pernah berkata jika, dia harus mati karena mendekam di jeruji besi ini, Zevanya rela, dia bahkan lebih memilih menyenangkan orang-orang yang ingin dia mati. Namun, Zevanya pernah berjanji, dia tidak akan melepas orang yang membuatnya seperti sekarang.
Tubuh Zevanya sudah sangat kurus, mukanya pucat, rambutnya berantakkan, dan segalanya yang tidak pantas. Bahkan, di sel tingkat satu ini, Zevanya diikat dengan besi, besi yang menghiasi tangannya dan juga kakinya, membuat Zevanya tak bisa bergerak sedikitpun.
__ADS_1
Namun, itu semua tidak membuat Zevanya putus asa. Zevanya tetap menjadi Zevanya, dengan otak pintarnya yang setia menunggu, rela, ikhlas, juga pasrah. Bahkan, penjaga sel juga pernah berkata tidak tega, tapi dia sudah tidak bisa membantu lagi atau Zevanya harus mendapatkan hukuman yang lebih sadis dari ini.
Jika tetua kerajaan tau, Raja saat ini, atau Tuan Petrus, dia sudah pasti ditendang ke lubang buaya, sebab, kerajaan seperti ini, terlebih di Bangsa Rayon, tidak boleh memperlakukan manusia yang belum jelas memiliki kesalahan dibuat seperti hewan.
Tuan Petrus dan Zeo sendiri tahu akan hal itu. Kemudian, saat Zeo masuk ke dalam sel itu, Zeo kaget. Tubuh Zevanya bahkan sudah sangat ringkih, mukanya pun sudah tidak seperti Zevanya lagi, meskipun dia masih cantik, Zeo akui itu.
Zeo masih terdiam di tempatnya, dia seperti tidak ada niatan untuk mendekat. Namun, jika dirasakan, dada Zeo berdegup lebih kencang dari biasanya. Zeo meremas tangannya sendiri, siapa yang menurunkan perintah seperti ini? Bukankah ini sudah melanggar aturan? Namun, sebisa mungkin, Zeo tidak mengamuk dan membuat nyawa Zevanya semakin bahaya.
Dengan satu dan lain pertimbangan Zeo tetap masuk. Dia mendekap tubuh ringkih Zevanya. Dia (Zeo) sudah menahan tangisnya sendiri agar tidak jatuh.
“Aaaa–“ Secepat mungkin Zeo menutup mulut Zevanya yang membuat Zevanya meronta. Bayangan tentang kejadian ssewaktu kemarin-kemarin masih ada di dalam benaknya. Zevanya masih sangat ketakutan.
“Zevanya, Sayangku,” ucap Zeo sangat romantis. Dia mengecup seluruh muka Zevanya, meskipun tampilan Zevanya tidak menarik seperti biasanya, tetapi jika sudah cinta, apapun bisa dilakukan oleh Zeo.
“Heum.” Zevanya hanya berdehem. Dia tidak punya tenaga yang banyak hanya untuk menjawab Zeo. Dia sudah sangat lemas.
Malam ini, Zeo habiskan untuk bersama dengan Zevanya, mereka bercerita, dan Zeo sendiri berhasil mendapatkan informasi bahwa Zevanya bukanlah Zevanya yang sebenarnya.
Zeo juga mengaku, dia sudah tahu itu, dan dia akan memberikan bukti-bukti agar esok hari Zevanya bisa dibebaskan. Zeo juga menyusun rencana agar ketika Zevanya diinterogasi nanti, jawaban Zevanya sama dengan bukti-bukti yang ada.
__ADS_1
Malam ini, Zeo habiskan untuk merancang rencana. Kemudian, saat menjelang pagi hari, Zeo kembali ke kamarnya dengan kekuatannya. Dia sudah mendapatkan stamina tambahan dari bertemu Zevanya saat malam hari itu.
Ya, dia berencana membongkar kebusukan ayahnya sendiri. Katakanlah Zeo menebar bendera perang di tengah suasana yang damai. Namun, itu lebih baik daripada Zeo harus berjauhan dengab Zevanya, dan membuat kedua manusia itu semakin tersiksa.
Pagi-pagi sekali juga, Zeo sudah pergi ke kediaman Walcott. Dia kembali menyusun strategi, dan dia juga menceritakan tentang pertemuannya dengan Zevanya semalam.
“Kakak ketemu Zevanya?” tanya Wollfi kaget. Bagaimana caranya Zeo menyelinap? Sepertinya Wollfi harus banyak belajar tentang itu pada Zeo.
Fajar menyingsing cepat sekali, begitupun dengan Zeo, Kakek Theo, dan asistennya, Wollfi yang harus beranjak cepat menuju kerajaan. Mereka sudah membuat janji temu dengan rakyat, dan itu kembali membuat Bangsa Rayon gempar. Ada apa lagi sampai-sampai Bangsa Rayon dikumpulkan?
Sungguh, mereka semua takikardi, tetapi tidak bisa menolak undangan dari kerajaan, sebab nyawa mereka bisa jadi taruhannya. Benar saja, sesuai kesepakatan, 10 menit sebelum acara dimulai, semuanya sudah berkumpul di aula kerajaan.
“Oke, saya mengumpulkan semua orang di sini dengan membawa fakta dan bukti yang ada terkait Nona Zevanya. Menurut hadirin sekalian, Nona Zevanya akan dijatuhi hukuman atau selamat?” tanya Zeo. Dia sedang menguji rakyatnya.
“Selamat!”
Di tengah suasana yang bising, Tuan Petrus dan asistennya sedang kalut. Mereka takut bahwa kejahatan mereka dibeberkan. Sebab itu juga mereka tidak berani keluar dan menampakkan diri. Tuan Petrus beralasan sedang tidak enak badan sedikit. Serta asistennya beralasan menjaga Tuan Petrus. Padahal, mereka tengah memasang telinga baik-baik untuk mendengar pengakuan dari Zeo. Mereka hanya berharap Zeo mendapatkan hasil yang salah dan Zevanya dijatuhi hukuman, meskipun itu tidak mungkin.
Satu prosesi ke prosesi yang lainnya berlangsung dengan lancar, Zevanya berhak bebas, meskipun jabatan sebagai Ratu dan tunangan pangeran mahkotanya tidak bisa digunakan lagi. Jadilah, Zevanya memiliki status sebagai, Putri Terhormat Walcott. Gelar yang sungguh bagus!
__ADS_1