Dimensi Dunia Lain

Dimensi Dunia Lain
Bab 38


__ADS_3

Setelah beberapa hari lamanya Zeo dan Zevanya tidak saling bertemu, tepat di hari ini, keduanya kembali bertemu. Tentu saja, di tempat biasa mereka bertemu. Iya, di bukit, saat siang hari.


Tentunya waktu siang ini dipergunakan satwa di sana untuk tidur, seperti Wollfi yang mungkin juga sedang tidur. Memangnya Wollfi tidak lelah setelah berburu rusa semalaman? Ya sudah jelas dia lelah. Apalagi jika disusuri, bukit ini sebenarnya tidaklah kecil. Sebab, bukit ini juga terhubung dengan gunung-gunung di sana.


Namun, hanya sedikit orang saja yang mengetahui jalan dari satu bukit ke bukit yang lain atau dari bukit ke gunung, begitupun sebaliknya. Wollfi sebenarnya termasuk hewan yang beruntung, sebab Wollfi mengetahui seluk beluk hutan di area perbukitan ini.


Lagipula, Wollfi hidup tidak hanya satu atau dua tahun saja. Namun, dia sudah mengabdi sangat lama untuk Bangsa Rayon, bahkan jika dikulik, Wollfi sebenarnya tahu perjalanan bangsa Rayon. Seperti yang dibilang Pak Tua, Wollfi tidak sesederhana yang dilihat.


“Kamu kangen aku nggak?” tanya Zeo. Dia memilih untuk membuka percakapan terlebih dulu.


“Nggak, aku hanya merindukanmu.” Yah, begitulah Zevanya, setelah pulang dari berjalan-jalannya kemarin, dia semakin gila, dan pintar membuat hati orang ingin melompat-lompat.


“Terserahmu.” Dengus Zeo. Apapun kata Zevanya, menurut Zeo, terserah saja, sebab Zevanya juga pasti sedang tidak berotak.


“Aku kemaren masuk dunia peri.” Zevanya berkata, dia memulai ceritanya.


“Dunia peri? Emangnya ada?” tanya Zeo. Dia tampak percaya dan juga tidak percaya. Memangnya di zaman sekarang masih ada yang seperti itu?


Zevanya kemudian menjelaskan tentang dunia peri, kepada Zeo yang memang tidak tahu apa-apa. Namun, Zevanya tidak menjelaskan dengan detail, meskipun statusnya dengan Zeo adalah tunangan, tentu saja, Zeva tetap tidak boleh terlalu mempercayai Zeo. Apalagi, Zeo adalah anak dari Tuan Petrus yang membuat Zevanya ok luka-luka kemarin. Huh, mengingat itu, Zevanya masih sangat kesal. Bagaimana hisa yang dia terperangkap dengan jebakan konyol seperti itu.


“Aku juga kemarin pergi ke Gunung,” ucap Zeo.


“Gunung? Ngapain?” tanya Zeva dengan heran.


Tunggu dulu. Gunung mana yang dimaksud oleh Zeo? Apakah Gunung yang konon dibilang melenyapkan nyawa manusia? Atau Gunung dingin dan bersalju? Baiklah, mari kita dengarkan kalimat selanjutnya yang akan dikeluarkan Zeo.


“Iya, aku pergi menemui seseorang.” Zeo tak langsung memberiyahukan dengan jelas. Di lubuk hatinya yang terdalam, Zeo masih sangat ragu untuk mengungkapkan hal itu pada Zevanya. Terlebih peringatan yang diberikan agar tidak memberikan Zevanya cerita yang ini. Namun, Zeo sudah terlanjur keceplosan. Jadi, Zeo harus bagaimana sekarang, sungguh membingungkan.

__ADS_1


“Kamu ke Gunung Berbisa ya? Pasti ketemu peramal.” Sebuah perkataan yang keluar dari mulut Zeva dan tidak main-main. Sebab apa yang dikatakan Zevanya adalah apa yang sebenarnya Zeo lakukan.


Lalu, apa yang Zevanya sebutkan itu juga fakta. Mengapa Zevanya bisa mencurigainya seperti itu? Lalu, kenapa tebakan Zevanya dapat tepat sasaran?


“Kok kamu bisa tahu?” Zeo tak dapat menyembunyikan kekagetan yang dia dapatkan. Zeo bahkan tidak berani bermain-main lagi, sepertinya percakapan ini sudah sangat serius.


“Karena aku bisa tahu apa yang menjadi ketakutan kamu sekarang.” Zeva tersenyum sambil mengatakannya. Dia bahkan berani menatap manik mata Zeo yang bisa dibilang sangat menyeramkan.


“Hah?” Zeo masih tidak paham.


“Singkatnya, aku tahu apapun yang kamu pikirkan saat bersamaku. Hehe.” Zeva juga tidak sebaik itu untuk menyembunyikan kekuatan yang dia miliki di depan Zeo. Dia sudah takluk.


“Kamu bisa membaca pikiran?” tanya Zeo, dia cukup kaget dengan fakta ini.


“Tentu saja, aku tidak mau dibodohi orang-orang,” dengus Zeva.


“Sejak kemarin dan ini merupakan hadiah pemberian dari ibu peri.” Seru Zeva.


Mengingat hari kemarin, Zevanya sungguh senang dan terbayang-bayang kembali, di mana dia mempermalukan dirinya dan juga menolong dunia peri. Yeah, benar. Zeva merasakan bangga yang teramat sangat.


“Ceritain, kemarin kamu gimana.” Ucap Zeo. Dia harus bisa mengalihkan perhatian Zeva agar tidak membahas tentang masalahnya.


“Ya aku biasa aja. Aku udah tau misterinya, tinggal menunggu penyelesaian, dan ya, aku memiliki kemungkinan yang sangat besar untuk pergi dari dunia ini.” Hanya itu yang Zeva ceritakan untuk Zeo saat ini.


“Kamu ke dunia peri kan kemarin? Kamu ke sana tuh ngapain?” tanya Zeo lagi. Meskipun masih sama, dia masih tidak tahu apakah cerita Zeva nyata atau tidak.


“Menyelamatkan dunia,” kekeh Zevanya. Dia bukan tidak mau bercerita sebenarnya, tapi ada janji yang harus dia jaga.

__ADS_1


“Huh. Terserah kamu lah.” Pusing Zeo.


Keduanya kembali saling bercerita, tetapi tidak menceritakan apa yang sudah mereka lalui. Hanya gurauan-gurauan sederhana diiringi tawa mereka. Keduanya saling larut dalam pembahasan masing-masing.


Kemudian, saat hari menjelang sore, Wollfi keluar dengan wujud serigalanya itu. Dia menghampiri sepasang tunangan yang sedang bercengkrama dengan asik.


“Aughhhhh!” serunya. Namun, bukan seram, di mata Zeo dan Zevanya itu adalah suatu hal yang lucu. Di mata mereka, Wollfi tidak gagah sama sekali saat mengaum seperti itu.


Wollfi yang kesal langsung menidurkan kepalanya di paha Zeva. Hal itu membuat Zeo seperti cacing kepanasan.


“Itu pahaku, awas, minggir!” seru Zeo.


“Rrrrr!” teriak Wollfi, seolah tak terima, tetapi hewan itu hanya mengerang dan semakin membenamkan wajahnya di perut rata Zeva yang memakai kaos.


Zevanya terkekeh geli, semakin Wollfi menelungsupkan kepalanya, Zevanya semakin dibuat geli, terlebih dia duduk dengan menggunakan celana pendek. Tentunya bulu-bulu Wollfi akan bersentuhan langsung dengan bulu-bulu Wollfi yang halus itu.


Zeo menarik kepala Wollfi paksa dan menggantikan itu dengan wajahnya. Mamun, pada dasarnya mereka berdua selalu berebut Zeva, maka keduanya masih terus berantem.


“Stop!” teriak Zevanya.


“Pahaku kan ada dua, masing-masing satu, ya.” Zevanya mengubah posisi duduknya jadi bersila. Meskipun masih mengeluarkan aura permusuhan, tetapi keduanya lebih kalem kali ini.


Lama kelamaan, keduanya tertidur. Pelan-pelan Zeva memindahkan kepala mereka ke atas tanah, sementara Zeva sendiri memilih untuk duduk di atas pohon.


Zeva hanya memperhatikan Zeo dan Wollfi dari jauh. Dia sama sekali tidak berniat untuk mendekat kembali, sebab keduanya sama-sama masih nyenyak tidur. Entah berapa lama mereka kurang waktu tidur.


“Oke, Zeva. Pertahankan seperti ini, kamu tidak boleh terpengaruh oleh salah satu dari mereka, perlakukan mereka adil dan perlakukan mereka seperti mereka yang menjadikan dirimu ratu.” Entah suara darimana, tetapi suara itulah yang membisikkannya.

__ADS_1


__ADS_2