Dimensi Dunia Lain

Dimensi Dunia Lain
Bab 52


__ADS_3

Haha, bisa aja kak. Btw, aku belum liat orang tua kita dari kemarin. Mereka ke mana?” tanya Zevanya. Memang, setelah kemarin menjalani terapi dan pemeriksaan ulang, Zevanya divonis sembuh total dan boleh pulang.


Namun, ada yang menjanggal di hati Zevanya terkait ini semua. Ke mana keluarganya yang lain? Kenapa hanya ada seorang perempuan yang mengaku sebagai kakaknya saja.


Wajah Vania menegang. Apakah ini sudah saatnya untuk Vania berkata jujur? Harus dengan bahasa apa agar Vania lebih enak mengobrol dengan Zevanya?


Vania tidak menyangka, pagi-pagi seperti ini, dirinya sudah mendapatkan pertanyaan yang membuatnya bingung. Namun, bisa saja ini saat yang pas. Vania putuskan, dia akan berbicara di sini.


“Ayah sama Ibu sudah tenang.” Vania memang jujur, tapi tidak banyak.


“Tenang? Maksudnya?” tanya Zevanya. Dia tidak paham.


“Ayah sama Ibu sudah terbang ke surga. Mereka sudah pergi sejak dua tahun lalu.”


Zevanya mendelik kaget. Benarkah apa yang kakaknya katakan ini? Huh, Zevanya sontak menyesal. Mengapa dia tidak hadir di acara terbang ayah dan ibunya?


“Kak, aku berangkat!” seru Zevanya. Jam masuk kuliahnya jam 3, sementara saat ini jam sudah menunjukkan pukul 2 lewat 10, sedangkan waktu yang diperlukan untuk menempuh perjalanan jauh itu adalah 25 menit jika tidak macet. Jadi, Zevanya harus buru-buru.


Kakaknya berdehem. Dia sedang bersiap-siap juga untuk pergi meeting. Dia lupa dan ketiduran, kondisinya juga hampir sama dengan Zevanya.


Kakak beradik itu buru-buru. Untung saja mereka tidak ditambahkan kerepotan oleh adik mereka. Ya, adik mereka sedang les.


Miko, adik lelaki kebanggaan Vania. Dia duduk di bangku SMP yang sebentar lagi beranjak SMA. Jadilah, dia harus mengikuti banyak les. Namun, semua les ini juga didasarkan karena keinginan Miko sendiri.


Miko sebenarnya masih berumur 12 tahun, tapi dia sudah duduk di bangku kelas 9. Ini semua karena kepintarannya dan memilih loncat kelas. Alhasil, Miko mendapatkan julukan sebagai manusia terpintar di sekolahnya.


Namun, Miko sendiri tidak merasa pintar. Makanya, dia mau mengikuti banyak les dan belajar. Di tahun ketiga ini juga, Miko lebih memokuskan dirinya pada pelajaran daripada hal-hal lain. Miko juga kan sudah tidak ikut ekskul, jadi Miko lebih santai untuk mengikuti les, itu juga yang menjadi pertimbangan Vania.

__ADS_1


Beruntungnya saat ini bukan jam kantor bubar, jadi Zevanya masih bisa sampai ke kampusnya dengan tepat waktu, malah sebelum jam mata kuliahnya dimulai. Benar, Zevanya sampai 5 menit lebih awal. Jadi, kali ini Zevanya selamat, entah besok-besok.


Zevanya duduk. Namun, orang lain selalu membisikannya. Sejujurnya hal itu membuat Zevanya jadi tidak nyaman. Namun, tidak mungkin Zevanya berkata atau menegur mereka di saat ini.


Di saat posisi Zevanya sendiri tidak aman, sebab dirinyalah yang mungkin paling menonjol di antara mahasiswi lain. Kemudian, Zevanya memilih diam dan fokus dengan pelajaran mata kuliahnya sekarang ini. Zevanya benar-benar tidak terusik.


“Zevanya, tolong bawakan ini ke ruangan saya, ya.”


Baru saja Zevanya ingin menolak, dosen itu sudah pergi. Sementara, Zevanya sendiri saja tidak tahu di mana ruangan dosen itu berada. Dia melirik ke sekitar, tetapi tampaknya tak ada satupun orang yang bisa membantunya. Sebab, mereka semua langsung sibuk dengan temannya masing-masing.


Zevanya menghela napas. Biarlah dulu, lebih baik dia membereskan barang apa yang diminta dosen itu. Barang yang berisi tugas mahasiswa dan mahasiswinya.


“Benar-benar menyebalkan.” Zevanya mendengus. Mimpi apa dia semalam bisa terdampar di kelas yang tidak berperasaan ini? Huh.


Kemudian, Zevanya keluar dari ruang kelasnya, setelah dia menyampirkan tas selempangnya, dan membawa barang yang diminta itu.


“Permisi, Bang.” Zevanya memanggil seseorang. Dia sepertinya senior di kampus ini, Zevanya mau bertanya saja jadinya.


“Iya, Dek, kenapa?” tanya orang itu.


“Ruangan dosen, yang bernama Rio Anggani, di mana ya?” Dengan tidak mengurangi rasa hormat Zevanya, gadis itu tetap bertanya dengan sopan lalu selalu tersenyum.


Sejenak, cowok itu tertegun. Dia merasa dekat dengan cewek ini. Ada hubungan apa dia dengan cewek ini? Namun, panggilan dan teguran dari si cewek membuat cowok ini segera tersadar.


“Eum, saya antar aja gimana?” tanya cowok itu. Zevanya mengangguk, boleh juga. Daripada hanya diberi tahu, bisa-bisa dia tersesat.


“Kamu Junior baru ya?” tanya cowok itu.

__ADS_1


“Seharusnya nggak, tapi karena tragedi beberapa tahun lalu, jadinya iya.” Zevanya menjelaskan singkat, lagipula tidak perlu panjang-panjang kan?


“Tragedi apa?” tanya cowok itu.


“Kecelakaan.” Zevanya hanya menjawab singkat. Cowok itu tampak mengerti, karena dia langsung diam.


Sepertinya cowok yang belum Zevanya tahu namanya itu tahu bahwa Zevanya tidak nyaman ditanya-tanya. Alhasil, Zevanya dan cowok itu hanya diam saja.


Kemudian, “di sini ruangannya,” lantas cowok itu berpamitan pada Zevanya, sebab dia masih ada jam kuliah.


Namun, tidak lupa, cowok itu meminta nomor ponsel Zevanya. Tentu saja langsung Zevanya berikan, lagipula dia bukan artis penting yang harus menjaga nomor ponselnya. Haha.


Zevanya lantas mengetuk pintu ruangan dosen itu, “masuk!”


Zevanya tengah membersihkan dirinya di dalam kamar, dia sedang bersiap untuk makan malam. Begitupun dengan Vania dan Miko, sedangkan jika makanan, sudah ada bibi, jadi Vania atau Zevanya tidak perlu memasak lagi. Tepatnya, Vania ataupun Zevanya hanya memasak ketika mereka sedang ingin.


“Kak, makanannya enak yah!” ucap Miko berseru. Dia tampak menyukai menu hari ini. Sebab, hari ini memang mereka memasak menu udang balado.


“Iya, Dek.” Vania saja yang menjawab, sementara Zevanya sibuk sendiri dengan makanannya.


Bibi yang melihat interaksi itu hanya bisa menggeleng, sungguh, mereka sangat dekat, tapi Bibi juga bersyukur, meskipun saat itu Vania bisa menyalahkan Miko, Vania tetap paham dan bisa menerima emosinya yang memuncak. Vania juga sadar diri. Jadi, tidak ada yang menyalahkan Miko.


“Sini, biar bibi pisahkan.” Ucap sang bibi, dia baru ingat jika Zevanya tidak bisa memakan ikan yang memiliki banyak duri seperti ikan kembung begini.


“Eh, nggak usah Bi.” Zevanya terkekeh, dia merasa tidak enak. Bibi sudah memasak, masa Zevanys mengganggu waktu makannya lagi.


Seperti biasa, setelah makan malam, ketiga kakak beradik itu selalu menyempatkan waktu mengobrol sebelum kembali ke kamar mereka masing-masing. Banyak hal yang mereka bicarakan sampai hari menjelang larut. Namun, itu membuktikan bahwa tali persaudaraan mereka bertiga sangat erat.

__ADS_1


“Huh, capek sekali. Tapi aku nggak boleh melupakan skincare.” Zevanya berceletuk. Sembari dia mencuci wajah dan sikat gigi, lalu memakaikan skincare ke wajahnya.


__ADS_2