
Kamu mau main sama dia nggak, Ze?” tanya Zeo. Saat ini, posisinya Zeo memangku Zeva, dan mengelus serigala di sampingnya. Zeo juga bersandar di pohon, sebab pergantian waktu dari pagi ke siang terasa cepat. Sebab, saat ini juga mereka sedang meneduh dan menyingkir dari matahari yang memukaukan sinar panasnya.
“Mau, tapi aku takut.” Ucap Zeva yang bergidik ngeri saat membayangkan kejadian tadi. Pertama kalinya dia melihat serigala, dibuat kaget pula. Siapa yang tidak membekas di ingatan sih. Jadilah, Zeva hanya bisa bersandar di dada Zeo untuk menutupi rasa takut dan gugupnya berdekatan dengan serigala itu.
“Oh, jadi dari tadi kamu takut?” tanya Zeo sembari menahan tawanya agar tidak meledak. Bisa bahaya dia jika tertawa, perempuan di pangkuannya ini menyeramkan ketika marah.
“Kamu pikir aja lah. Aku gapernah ketemu serigala, sekalinya ketemu badan sebesar itu. Keterlaluan!” marah Zeva yang malah lucu.
Serigala itu seakan tahu Zeva takut, dia melunak. Dia duduk di dekat Zeva dan mengelus kaki Zeva dengan kepala dua warna itu.
Hati siapa yang tak tergoyahkan pada binatang bernama Wollfi itu? Hati Zeva lah. Di mana-mana orang akan luluh, tapi tidak dengan Zeva. Perempuan itu tidak peduli dengan usaha Wollfi, atau tepatnya ingin melihat seberapa jauh Wollfi menarik hatinya. Perempuan itu mendengus setelah melihat Wollfi yang tertidur di kakinya.
Pantas saja dari tadi berat, Zeo menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Zeva, dan Wollfi meniduri sebagian kakinya. Hei, mereka tahu ini berat atau tidak?
Namun, Zeva tidak bisa marah. Melihat wajah tenang dan damai mereka, Zeva lega. Ini artinya mereka nyaman bersama Zeva. Banyak membaca buku-buku yang ada di perpustakaan ataupun kamarnya membuat Zeva memiliki otak yang berfungsi dengan benar.
Lama kelamaan, Zeva ikut tertidur bersama mereka. Jika Zeo menyusupkan kepalanya di ceruk Zeva, maka Zeva juga bisa menelungsupkan kepalanya di leher Zeo. Ketiganya tidur dengan nyaman, bagai keluarga yang harmonis.
Zeo bangun duluan dari Zeva. Sebab serigala kesayangannya itu, mengganggu dirinya. Zeo menguap. Ingin membuka mata tapi masih mengantuk, begitulah kondisi Zeo sekarang. Sementara, serigala Zeo itu malah menjilat-jilat tangan Zeo yang mengusap matanya.
“Oh, astaga. Kenapa Fi?” tanya Zeo.
“Baiklah-baiklah, tapi tunggu dia bangun ya.”
Wollfi menggeram, dia tidak setuju, dia ingin berkenalan sekarang, bukan nanti. “Kalau dibangunin sekarang, nanti dia marah.” Ucap Zeo berharap Wollfi mengerti, tetapi serigala itu malah mengaum.
__ADS_1
“Siapa yang marah?” tanya Zeva menyelidik dengan muka yang terlihat kesal. Oh, tampaknya Zeva hanya pura-pura sedari tadi, sebab tak kuat dia memilih untuk jujur.
“Eeee, nggak ada kok, hehehe.” Ucap Zeo mengelak dari kenyataan.
“Nonaa.” Panggil Wollfi. Dia sudah berubah menjadi pria maskulin seperti Zeo.
“Oh, astaga, kamu bisa berubah?” tanya Zeva. Lagi-lagi dia merasa tertipu. Sebanyak apa rahasia Zeo sebagai pangeran bangsa itu?
“Ya, Nona. Hanya dalam wujud yang terbentuk dalam kultivasi inilah saya bisa berlindung.” Meskipun begitu, Wolfii tetap memberikan hormat. Dia tahu, kultivasi Zeva sangatlah rendah dan tidak terlihat, sebab sudah lama Zeva koma, selain itu, Zeva yang sekarang belum benar-benar pulih ingatannya. Namun, prediksi Wollfi, ingatan Zeva yang sekarang tidak akan pulih untuk beberapa bulan ke depan, butuh waktu yang sangat lama.
“Kultivasi? Apa itu kultivasi?” tanya Zeva penasaran. Dia baru pertama kali mendengar kalimat ini. Sia-sia saja usaha kakeknya untuk menyembunyikan masalah ini padanya. Kakeknya ingin bertahap, berbeda dengan keinginan Zeva yang selalu suka lingkungan keluar.
Sementara Zeo melirik kesal. Tidak tahukah Wollfi bahwa dia sudah diberi peringatan agar tidak mengajari cucunya itu macam-macam? Sangat menyebalkan!
“Cara seseorang untuk punya kekuatan.” Singkat Zeo sesingkat-singkatnya. Bukan dia tidak mau mengajari, dia masih mengingat pesan kakek Zeva itu.
“Bisa, tapi tidak sekarang.” Zeo tentu tidak mau mengajari.
“Kau tidak mau mengajariku?” tanya Zeva. Matanya sudah berkaca-kaca. Dia kira Zeo tak diberikan ultimatum sebelum pergi? Jika iya, Zeo juga tidak perlu meminta izin dan menjelaskannya dengan susah kepada Tuan Theo. Dangkal sekali pikiran Zeva, menurut Zeo.
“Mau, tapi nggak sekarang.” Ulang Zeo dengan kalimat yang hampir mirip.
“Kalau Wollfi, mau ngajarin aku nggak?”
Wollfi mengangguk. Dia menahan tawanya, sebab Zeo sudah menatapnya tajam seolah ingin mengulitinya. Zeo merubah Wollfi untuk kembali ke wujud aslinya hanya dengan satu kali kedipan mata.
__ADS_1
Wollfi berdecak dalam hati dan mengaum. Zeva yang melihat hal seperti itu hanya bisa melotot kaget. Kok bisa Wollfi baru berbincang dengannya sebentar sudah berubah menjadi serigala lagi, pikirnya. Apakah serigala mempunyai batas waktu untuk berkamuflase menjadi manusia? Dia bertanya lagi dalam hati. Alangkah baiknya semua itu tak sampai dikeluarkan oleh Zeva.
“Jangan pernah meminta dia mengajarkan kamu atau aku akan marah.”
Pemarah, julukan dari Zeva untuk saat ini. Zeva memutar otak, dia berpikir bagaimana cara agar Zeo mengajarkannya.
“Emangnya aku salah kalo minta ajarin ke dia? Kan kamu nggak mau ngajarin aku.” Dengan muka yang dibuat polos senatural mungkin, Zeva melayangkan protesnya.
“Nggak salah, tapi dia bukan orang yang tepat, sebab dia serigala.” Ucap Zeo lugas.
“Tapi kan dia bisa berubah jadi manusia.” Seru Zeva masih protes.
“Iya, manusia jadi-jadian.” Sahut Zeo. Dia tahu betul serigalanya itu, sebab dari kecil, Zeo lah yang merawatnya. Mana mungkin dia tidak tahu perkembangannya.
“Kamu mau tau lebih banyak kultivasi ya?” tanya Zeo, dia mengalihkan pembicaraan daripada Zeva malah bertanya-tanya terus.
“Iya.”
“Oke, aku bakal jelasin. Jadi kultivasi itu ada banyak tingkatan. Dari tingkat terendah, untuk mencapai yang tertinggi, butuh bertahun-tahun agar bisa meraihnya. Kultivasi yang dilakukannya juga beragam, dan untuk cara cepat, ada satu kultivasi yang bisa dilakukan, tapi hanya untuk ahli saja.” Kekeh Zeo di akhir kalimat.
“Kultivasi apaan?”
“Hanya untuk ahli, Ze.” Kekeh Zeo lagi, otaknya sudah membayangkan yang tidak-tidak.
“Kultivasi termudah dengan bertapa, atau mencari hewan berdarah suci, tapi sangat jarang ada hewan berdarah suci di kota ini.” Ucap Zeo. Dia sudah beberapa kali mencari, tetapi hanya ada beberapa, tidak lebih dari 50. Sebab, hewan berdarah suci bangkit dari tanah, dan mereka tidak bisa menghasilkan keturunan dengan mudah, jadi, sangat sulit. Hanya beberapa hewan berdarah suci tingkat atas yang dapat menyesuaikan hidup dalam beberapa generasi.
__ADS_1
Hewan berdarah suci juga tidak memiliki hati, darahnya putih seperti tulang, bahkan jika mereka bisa menaklukan tubuh mereka, hanya beberapa yang bisa terlihat normal seperti hewan lain. Belum bisa ditelusuri mengapa hal ini dapat terjadi.