Dimensi Dunia Lain

Dimensi Dunia Lain
Bab 28


__ADS_3

Baiklah-baiklah. Zeo mengalah. Dia akui dia kenal dengan sosok itu. Sosok yang sangat mirip dengannya. Bagaimana mungkin Zeo tidak kenal? Sementara Zeo pernah tinggal hampir satu tahun lamanya di bukit itu.


Serigala yang merupakan temannya, juga saudara kecilnya. Zeo tidak melupakan hal itu. Selama perkembangan kultivasi Zeo, Wollfi juga memiliki kekuatannya, yakni berubah menjadi manusia. Namun, ada satu malam di mana Wollfi, nantinya tidak akan seperti itu lagi. Tepatnya di bulan purnama yang ke-73.


Jika Wollfi tidak kunjung menemukan pasangannya, maka Wollfi akan dijatuhkan ke alam bawah. Memang terdengar konyol, tetapi itulah perkara yang awalnya sebuah syarat untuk Wollfi belajar kultivasi.


Zeo terduduk lemas di atas ranjangnya sendiri. Dia merenung dengan pikiran ke sana dan ke mari. Semuanya bercampur menjadi satu, benar-benar membuat Zeo menjadi kacau.


“Apakah Zeva ditakdirkan untuk Wollfi?” gumam Zeo.


Kini, semua pikirannya dipenuhi oleh Wollfi dan Zeo. Apa kabar Zeo jika sampai keduanya bersama? Zeo tidak berharap itu benar-benar terjadi. Sampai saat ini, belum ada siaran klarifikasi Zeva. Ini membuat praduga mereka semakin kuat, bahwa semua ini memang benar. Tidak ada satupun warga yang tidak senang bahwa Ratu mereka sudah memiliki pasangannya.


Namun, mereka semua juga kecewa, kenapa Sang Ratu memilih menyembunyikan hubungannya dari mereka. Apakah Sang Ratu takut dengan mereka? Baru saja terdengar gaduh-gaduh yang membicarakan Ratu mereka.


Pengawal-pengawal utusan kerajaan itu datang dan memberikan penghormatan. Kali ini, bukan utusan dari kerajaan yang mereka bawa, tetapi ini ialah titah dari Sang Ratu.


Sementara, setelah semalam Zeva membuat klarifikasi bahwa semua itu tidaklah benar, Zeva dibuat tak tidur satu malam. Dia sibuk mengurus hal ini dan hal itu. Terlebih, dia juga sibuk mencari dalang yang sebenarnya. Bagaimana bisa pertemuannya dengan Wollfi dijadikan berita dan dia tidak sadar bahwa ada yang mengikutinya semalam?


Untung saja hanya rumor yang bisa dia tepis. Namun, Zeva belum juga menemukan titik terang siapa yang menyebarkan foto ini. Sebab, pengirim foto ini bersifat anonim. Juga, rasanya pengirim ini bukanlah dari daerah kekuasaan Zeva. Namun, mengapa orang itu bisa mencetak lewat surat kabar di daerahnya ya? Zeva benar-benar pusing.


“Kakek, bantu aku yaaaa?” pinta Zeva.

__ADS_1


“Kamu yang bikin masalah, kenapa harus kakek yang bantu?” remehnya.


“Aku nyerah, kekkkkkk!” gerutu Zeva. Dari pukul 1 pagi, dia sudah berulang kali mencari dalang dari semua masalah ini. Namun, sampai saat ini, jam 8, Zeva kan tidak tahu. Sementara klarifikasinya akan dimulai tepat jam 9, sudah sangat tidak ada waktu.


“Baiklah-baiklah, kakek kasih tahu ya.” Ucap Theo sengaja membuat lama apa yang ingin diucapkannya.


“Jadi, orang itu adalah mata-mata dari musuh kakek. Terlihat dari CCTV samping rumah ini, bahwa dia datang dan sengaja mengikuti kamu. Dia adalah X, mata-mata paling profesional dan tidak pernah meninggalkan jejak.” Ucap sang kakek dengan lugas.


“Dia dibayar kek?” tanya Zeva penasaran.


“Yaiya, kalau nggak, dia mana mau mengambil pekerjaan paling beresiko itu?” gerutu kakek Theo.


“Haha, baiklah. Terima kasih informasinya kakek.” Zevanya tersenyum sangat manis. Tolong, kakeknya mencair, dia juga balik tersenyum.


Pukul 9 tepat, Zevanya sudah berada di aula kerajaan dengan bajunya yang sudah berbeda dengan semalam. Zevanya datang dengan pakaian yang tertutup dan sopan. Zevanya tidak banyak bicara saat wartawan banyak bertanya.


Tidak menjawab, menyentak, atau apapun, dia benar-benar diam. Pengawal yang mengerubungi dirinya juga menghalangi reporter dan wartawan itu. Zevanya naik ke atas panggung, dia menyentuh mic.


Ekor matanya memberi kode untuk pengawal yang sudah berjaga menampilkan layar di belakangnya. Layar yang berisikan bukti-bukti bahwa foto itu hanyalah rumor.


Zeo tahu, saat ini Zeva sedang melakukan klarifikasi, tetapi dirinya enggan beranjak keluar. Zeo tidak bisa memaksa dirinya sendiri untuk melepaskan ego cemburu itu. Apalagi sebelum pergi, Zeva tidak ada bilang kepadanya sama sekali. Baiklah, kita tinggalkan orang yang cemburu itu.

__ADS_1


“Selamat pagi saudari-saudari yang saya sayangi, bapak ibu yang saya hormati. Sebuah kebanggaan bagi Yang Maha Kuasa kita bisa berkumpul di tempat ini, meskipun dengan kasus yang membawa nama saya terseret. Haha, baiklah, kita mulai saja, ya.” Ucap Zevanya memulai untuk membeberkan bukti-bukti pelaku.


“Foto ini diambil tepat pada saya keluar di malam hari. Memang benar di foto tersebut adalah saya, tetapi seseorang yang kalian anggap pria itu merupakan editan. Saya di sana sedang menikmati bintang dan alam yang indah.” Zevanya menjelaskan, tapi dia mengelak bahwa laki-laki itu adalah palsu.


“Wujud aslinya adalah seorang serigala, bagaimana mungkin serigala bisa berubah menjadi manusia? Nah, jika dilihat-lihat, ada persamaan antara foto ini dan foto pangeran. Keduanya sama-sama duduk dan postur tubuh mereka sama. Apakah ada yang menyadarinya?” tanya Zevanya, dia yakin tidak akan ada yang menyadarinya. Baru kemarin ketika percakapannya dengsn Wollfi itu dia tahu bahwa mereka memiliki bentuk tubuh manusia yang mirip.


Masih ramai. Zeva berdehem. Semua orang seketika diam memperhatikan foto itu. Ya, berkali-kali melihat juga mereka tidak percaya, bagaimana bisa editan semulus itu.


“Nah, kalian penasaran pelakunya kan?” tanya Zevanya.


“Mau saya kasih ciri-ciri nggak?” tanya Zevanya lagi.


“Mau!”


Ramai-ramai masyarakat menjawab membuat Zevanya semakin mabuk kepalang. Sudah tidak tidur satu malam, dirinya juga disibukkan masalah ini, dan sekarang mereka berisik? Oh, astaga, ternyata memang tidak enak menjadi Ratu Walcott yang memiliki tanggung jawab besar. Lalu, apa kabar dengan orang yang memegang takhta kerajaan?


Oke, proses klarifikasi Zevanya aman. Zevanya tidak mencari resiko dengan membeberkan identitas pria itu sembarangan.


Zevanya ingin sekali mengunjungi pangeran itu. Namun, di sini masih banyak warga kota yang belum pergi. Bisa bahaya dan terjadi rumor lagi. Jadilah dengan alasan ingin pulang, Zevanya kembali ke rumah Theo. Zevanya datang dan merebahkan tubuhnya di ranjang kesayangannya.


Tidak butuh waktu lama, Zeva terlelap dan kembali bermimpi dengan waktu itu. Namun, Zeva hanya duduk diam saja kali ini, tidak seheboh pertama kali. Zeva tahu akan ada sesuatu, makanya dia memilih menunggu daripada harus mencari.

__ADS_1


Benar saja, tak lama ibu peri datang dengan kotak berwarna coklat tua. Tak ada yang tahu pasti memang isi di dalamnya itu apa. Lalu, untuk apa juga kotak itu?


__ADS_2