
Valencia membukakan pintu rumah, diikuti Daddy Hero dan disusul Andaro. Driver dan asisten Daddy Hero menunggu di teras luar.
"Om, mau minum apa? nanti Cia ambilkan." tawar Cia sopan pada ke dua karyawan ayahnya yang sudah lama dia kenal.
"Tidak usah non terimakasih perhatiannya."
Daddy Hero mengedarkan pandangan pada rumah tipe 60 yang selama ini mengambil alih keberadaan putri tercintanya. Bukan rumah yang terlalu sederhana tapi untuk Hero rumah ini bahkan tak lebih besar dari ukuran garasi motor gede yang dia miliki.
Sebenarnya rumah Valencia sangat nyaman dan asri, dengan ukuran 8x7 meter dan dihuni sepasang pengantin baru sudah lebih dari cukup. Desain minimalis dengan perpaduan warna peach dan light brown ditambah tanaman adenium tertata di teras depan dan juntaian tanaman Lee kwan yu dari balkon menambah suasana asri dan sejuk rumah ini.
"Pantas kau terlihat lebih gemuk sekarang," Hero berucap seraya tetap mengedarkan pandangannya, tidak ada alat fitnes, rumah dengan tiga kamar tidur, dapur, dan 2 toilet terasa sesak baginya.
"Maksud Daddy apa?? sinis sekali"
"Tempat ini tak cocok jadi rumah tinggalmu. Terlalu sempit, susah bergerak, pantas energimu tertumpuk menjadi lemak." smirk Hero menyindir fasilitas down grade yang di dapat Valencia paska menikah dengan Dion.
Valencia hanya diam saja tak berkomentar daripada menambah panjang hinaan tersirat ayahnya. "Andaro, kupanaskan sandwich untukmu, mau mineral water, teh atau kopi?"
Belum Andaro sempat menjawab, Daddy Hero sudah kembali mengambil alih, "Cia, Daddy juga suka sandwich.. tp ku rasa kau tak punya wine jadi bolehlah kopi untukku."
"Daddy... 2 tahun begitu lamakah kita tak bertemu? aku merasa kau sangat menggemaskan 😄. Baiklah, aku masih ada sandwich dan kopi untuk Daddy. Andaro.. bagaimana denganmu??"
"Air mineral saja Val. Arigatou."
Mendengar jawaban dari Andaro, Daddy Hero melepaskan pandang menyelidik dari sudut rumah sederhana anak dan menantunya, kini tatapan dia arahkan ke Andaro yang sudah duduk dengan tenang di sofa ruang tamu berwarna hitam dengan kontras tirai korden di belakangnya berwarna putih dengan semburat ranting berwarna hitam.
"Hai Nak, bagaimana kau bisa kenal dengan Valencia?"
Valencia yang mendengarnya dari dapur menatap Andaro yang tetap tenang sementara Daddy mulai memasang sikap menyelidik dan tatapan pandang tajam berkharisma.
__ADS_1
"Saya kenal Valencia waktu di Jepang Om. Ya, Dion mengenalkan kami."
Braaak...
Tanpa permisi Daddy Hero menggebrak sofa hingga Cia terkaget dan tangannya terkena ujung oven.
"Brengsek... jadi kau temannya, apakah kau brengsek jugaa???!!!"
Andaro yang melihat Valencia mengibaskan telapak tangan setelah hentakan Daddy Hero yang mengagetkan, mengurungkan niat menjelaskan secara detail siapa dan bagaimana dia..
"Saya tidak bisa menilai seberapa level brengsek saya, maaf tuan saya permisi dulu."
Hero merasa tersinggung atas ketidaksopanan Andaro yang langsung masuk ke rumah melewatinya dengan langkah panjang. "Dasar tidak so... "
Perkataan Hero terhenti saat berbalik dan melihat Andaro sedang memegang telapak tangan Valencia di dapur dan membawanya di wastafel dapur.
"Tanganmu kenapa Cia?", Daddy yang garang berubah menjadi kawatir melihat telapak tangan putrinya nampak merah. Yang ditanya hanya menjawab dengan jutek dan marah.
Valencia masih melirik marah Daddy dan tak segera menjawab. Andaro melepaskan pergelangan tangan Valencia dan berjalan cepat ke kulkas, di lihatnya freezer kosong hanya ada blue ice gel dan coklat bar.
"Pegang ice pack ini, apa telapak tanganmu sudah lebih nyaman?"
"Makasih Andaro... kau tamu yang baru berkunjung tapi sudah membantuku menyembuhkan luka."
Daddy Hero yang masih jadi penonton bingung ada apa dengan putrinya, "Tanganmu kenapa?? Kau tak pernah di dapur, sudah duduk sana biar kita pesan online saja."
Valencia mendengus, "Daddy... aku kaget dengan gebrakanmu tadi... tanganku meluncur memegang oven saking kagetnya... thankyou Dad 😏. "
Andaro masih tak ikut bicara, dia terdiam dan mengurus telapak tangan Valencia agar luka bakarnya tak makin parah. Salah satu kemampuan Andaro yang secara natural dimilikinya adalah terkadang orang lupa bahwa ada dia di sana, tanpa sadar dia bisa membuat dirinya seolah tak terlihat meski tidak bersembunyi.
__ADS_1
"Maafkan Daddy Cia, bukan maksud Daddy mengagetkanmu, tapi karena tak menyangka ternyata pemuda ini ada hubungannya dengan calon mantan suamimu."
Hero menatap Andaro tajam dan tidak mendapatkan reaksi apapun dari Andaro selain membuka kotak obat yang didapatkan di laci dapur. Dengan sabar dan merasa tak ada gangguan, Andaro mengoleskan krim dingin ke tangan Valencia dan membalutkan kain kasa.
"Apa maksud Daddy? calon mantan suami? Cia tidak paham."
"Tak usah kau sembunyikan lagi masalahmu Cia, Dion lenyap sudah dua bulan ini tidak di Indonesia dan sepertinya besok kau ada tamu penting. Kenapa semua kau simpan sendiri? Daddy di sini untuk membantumu."
Kata-kata dari suara berat itu terdengar dengan jelas dari pintu rumah Valencia, ternyata sudah ada satu tamu lagi yang mendatangi rumah Valencia.
"Daddy.... aaaarrrggggg apa yang kau lakukan disiniii????" hardik Viktor tanpa basa-basi.
Viktor merasa dikhianati oleh Daddy Hero yang berjanji memberi waktu Valencia untuk mencoba menyelesaikan sendiri.
"Daddy di sini untuk berperan sebagai seorang ayah yang menyelamatkan putrinya."
Valencia memutar iris matanya melihat rumah yang kini berubah menjadi riuh dengan kedatangan Daddy dan kakaknya.. sempat lupa saat ini ada Andaro juga.
"Maaf Andaro, ternyata rumahku mendadak menjadi area take drama keluarga... benar katamu, seharusnya kau singgah di hotel dulu sebelum mulai cek dokumen." bisik Valencia yang hanya dibalas senyum oleh Andaro tapi mendapat tanggapan berbeda dari Daddy dan Viktor.
"Siapa dia Cia?? seingatku Dion tak seperti ini 🧐"
"Hahaha.. entah aku harus marah atau menangis, tapi bisakah kalian duduk tenang? aku merasa pusing sekarang," tanpa sadar Valencia memijit pelipisnya dengan kedua tangan melupakan satu tangan terluka dan merasa nyeri saat ditekan.. Andaro dengan diam menarik tangan kanan Valencia dan meletakkan di atas meja dapur.
"Salam kenal, saya Andaro teman Valencia. Mungkin sebaiknya kita semua duduk di sofa, Valencia kau juga duduklah si sofa"
Seolah menenangkan suasana dan tanpa ada banyak suara, mereka bertiga mengikuti instruksi Andaro untuk berjalan duduk ke sofa.
Andaro menggantikan Valencia yang masih belum selesai menyiapkan sarapan dan minum. Andaro mempersiapkan dengan sangat cekatan seolah mengenal tiap sudut dapur, diambilnya sandwich dari oven, 2 cangkir kopi juga 2 gelas air dingin tak lupa nampan untuk di bawa ke ruang tamu, kaleng biskuit yang terkena radar Andaro ikut diangkut ke depan.
__ADS_1
"Maaf menunggu, silahkan diminum dulu dan kita bisa bicara sambil mengisi perut seadanya."
Suasana sangat tenang nyaman tapi serasa ada yang salah. Daddy Hero, Viktor, dan Valencia terdiam sembari masing-masing mengambil minum dan mulai berpikir kejanggalan yang terjadi. Andaro dengan santainya mengambil sandwich mengacungkan pada mereka bertiga dan mulai menyantap sarapan dengan nyaman.