Dinikahi Mantan Napi

Dinikahi Mantan Napi
Malam Panas


__ADS_3

Pembicaraan terakhir dengan Valencia menyita perhatian Andaro yang masih tak habis pikir dengan yang sahabatnya lakukan.


Pencarian sudah dilakukan tp seolah Dion sudah menjadi tikus tanah dan membuat terowongan melintasi bawah gunung fuji.


Dengan tergesa-gesa Andaro bersiap ke Indonesia, mengemban misi mulia tapi juga rasa empati terhadap Valencia.


Andaro masih teringat perkataan Dion saat bertemu di bar, ternyata orang mabuk memang berkata hal yang jujur. Tak disangka Dion yang dikenalnya dapat menjadi Dion yang berbeda karena harga diri yang terinjak.


Setelah tiket penerbangan Haneda - Soekarno-Hatta sudah di dapatkan, Andaro menyusun strategi dan mendelegasikan setiap tanggung jawab di perusahaan supaya saat dia tidak ada semua tetap dapat tertangani dengan baik.


"Andaro, buat apa kau begitu repot mengorbankan waktu dan tenaga mu untuk hal yang bukan menjadi tanggungjawab mu? " ucap Maiko sepupu Andaro yang menjadi orang kepercayaannya di perusahaan.


"Entahlah, tapi aku merasa bertanggungjawab pada hilangnya Dion. Kalau saja saat itu aku tidak suntikkan dana besar untuk Dion mulai usaha ini, mungkin akan berbeda cerita.", jelas Andaro sembari menandatangani setiap dokumen yang masih tertumpuk d meja mengunggu acc nya.


Maiko sudah memastikan setiap dokumen yang diserahkan dan perlu tandatangan segera adalah dokumen yang memang sudah terverifikasi aman untuk perusahaan.


"Kau yakin Andaro, alasanmu hanya itu??"


"Hm.. ya.. alasanku hanya itu. (seharusnya hanya itu... sepertinya ya hanya itu alasanku)" Andaro menjawab dengan tegas yakin namun ternyata hatinya bimbang.


"Flight 00.05, apakah kau perlu ku siapkan driver untuk antar??"


"Tak perlu Maiko, arigatou. Mungkin jika kau bisa bantu tolong bantu packing baju untukku cukup untuk seminggu."


Mendengar instruksi, Maiko tersenyum penuh arti dan tangannya terulur, "Kartu kunci apartement, kupastikan kurang dari 1 jam aku sudah kembali"


Sepeninggal Maiko, Andaro sudah selesai menyelesaikan berkas yang harus ditandatangani dan kembali mencoba melacak keberadaan Dion. Jarinya bergerak menekan angka 1 pada ponselnya,


"Kuberi kau misi penting. Temukan Dion Tanuwijaya. Keberadaan terakhir dua hari lalu di Osaka, informasikan setiap ada pergerakan...


Jangan.. jangan lukai dia. Cukup seret dan kunci di apartemen tapi jangan biarkan dia mati atau kelaparan. He is my VIP brother. "


Usai pembicaraan ditelepon, tangan Andaro bergerak ke contact Valencia, diamati profil picture yang sudah berganti.

__ADS_1


Sepertinya tadi masih foto berdua dengan Dion dengan latar bunga sakura bermekaran.


Foto yang terpasang sebelumnya adalah foto yang Andaro bantu ambil saat mengantarkan mereka berdua berbulan madu di Jepang. Tapi kini foto sudah berganti menjadi foto punggung Valencia yang memperlihatkan rambutnya yang tergerai indah dan lengan ramping nan indah.


Pesan singkat dikirim oleh Andaro.


-Valencia, aku dapat flight direct jadi besok pagi sudah tiba di Indonesia-


Tak lama jawaban di Terima


-Terimakasih Andaro, maaf merepotkanmu. Aku akan menjemputmu di bandara-


Andaro heran dengan jawaban dari seorang Valencia, nampak bukan tipe wanita manja karena rela menawarkan penjemputan di pagi hari.


-No need, Valencia.. aku naik taxi dan ke hotel dulu untuk taruh barang dan sarapan. Setelah itu aku menuju ke rumahmu-


Panggilan telepon masuk, tak lama setelah pesan dikirim.


"Hai Andaro... kurasa kita sudah berteman jadi jangan sungkan padaku.. kau sudah meluangkan waktu untuk datang aku sudah banyak berhutang budi. Jadi lebih baik aku menjemput mu dan kau tak perlu menginap d hotel, di rumahku ada kamar kosong dan sarapan sudah kusiapkan sandwich beef bacon yang sepertinya itu pilihanmu saat kita bertiga makan bersama, " Andaro belum sempat menjawan sepatah kata pun, Valencia sudah memberondong dengan berbagai instruksi...


Maiko memasuki ruangan setelah mengetuk pintu.


"Ini yang bisa ku persiapkan, ayo sekarang berangkat lebih baik kau tunggu waktu di airport executive lounge saja. Aku mau segera pulang."


Andaro mengikuti Maiko dengan merebut koper yang semula di bawa Maiko.


Sesampainya di Indonesia, mata Andaro melihat dari Wanita yang tak asing baginya. Valencia menggunakan jeans dengan spatu kets putih dan kaos hitam fit body yang semakin memperjelas lekuk tubuhnya.


Malam hari yang canggung di rumah Valencia, hanya berdua mereka berada di depan televisi sambil memeriksa setiap dokumen milik perusahaan Dion.


"Bukankan ini melelahkan... aku perlu menyegarkan diri, kau mau wine atau whisky?"


tawaran Valencia di tanggapi enteng oleh Andaro yang masih memeriksa berkas.

__ADS_1


"Whisky saja"


Valencia yang merasa bosan dengan berkas berisikan laporan yang menjemukan, mulai melakukan peregangan badan yang tak luput dari ekor mata Andaro.


Tanpa make up pun dia tetap cantik. Akhhhh... tidak fokuslah Andaro... harusnya aku tak pilih whisky


Tak lama Valencia ternyata sudah memposisikan diri tertidur di sofa samping Andaro.. melihat posisi yang tidak nyaman, niat baik dan tulus Andaro menggendong Valencia ke kamar justru menjadi bumerang bagi Andaro.


Lengan Valencia bergelatut di leher Andaro, dan saat tubuhnya sudah di letakkan tanpa disangka Valencia masih tidak melepaskan Andaro bahkan menarik Andaro.


Tubuh mereka berhimpitan, suara napas menderu. Valencia mulai memeluk dan mencium leher Andaro dengan lembut.


"**** aku pria normal... jangan lakukan lebih lanjut Valencia.. hentikan", Andaro berusaha melepaskan tangan Valencia. Wanita itu menatap sendu penuh kesedihan.


"Apakah aku se menjijikkan itu?? bahkan suamiku pergi tanpa pesan dan kau juga melepaskanku.. hiks... ku mohon Andaro, aku perlu kehangatan.. hatiku membeku dan siap hancur... "


"Kau mabuk Valencia dan aku tak akan melakukan dengan wanita yang sedang mabuk dan berstatus istri orang." Tangan Valencia menyentuh wajah dan bibir Andaro.


"Kata-kata mu bentuk dari kepedulian atas harga diri wanita.. manis sekai, lupakan norma saat ini. Anggap saja aku seperti gadis yang pernah kau pelihara.. Yukime.. ya Yukime.. Dion memberi tahu.. ka... "


Nama terlarang yang diucapkan Valencia seperti menyiramkan bensin pada bara api di dalam diri Andaro. Tak perlu lama mulut Valencia sudah tak dapat menguarkan kata tapi berganti *******. Andaro mulai ******* dengan penuh hasrat dan memberikan gigitan kecil pada sudut bibir wanita pemberani di bawahnya.


Lidah mereka saling beradu, tangan Andaro bergerak tanpa instruksi dan hanya mengikuti reflek kemana harus mendarat. Kancing baju kemeja tidur Valencia sudah terbuka hingga memperlihatkan dua gundukan indah penuh dengan pelindung berwarna hitam, kontras dengan kulit putih mulus Valencia.


Jemari Andaro berhenti bagai mengenali dan mengagumi, tanpa permisi kait bra sudah terlepas berbeda dengan mulut keduanya yang seperti magnet saling tarik menarik.


Andaro terdiam menatap Valencia,


"Kau yang menantang ku Lady... sudah tak ada kesempatan untuk memintaku berhenti."


Valencia tersenyum dan memasukkan telunjuk Andaro ke mulutnya, menghisapnya, "lanjutkan sayang"


Seperti lampu hijau yang mendadak menyala, Andaro segera menerjang dan jemarinya menjelajah ke inti yang sudah mulai basah..

__ADS_1


knok.. knok...


Ketukan terdengar....


__ADS_2