
Tenangnya air bukan berarti semua baik-baik saja. Karena terkadang dalam ketenangan kita dapat terbuai dan kehilangan kewaspadaan. Mungkin itu pula yang dialami oleh Andaro dan Valencia.
Kehidupan rumah tangga yang masih seumur jagung dengan setiap proses penyesuaian yang tidak mudah, tapi terasa begitu indah dan tanpa masalah berarti membuat keduanya berpikir bahwa semua awal yang baik sudah dimulai dan kedepannya akan lebih mudah untuk dijalani.
Usia kandungan Valencia sudah masuk ke trimester akhir, untuk berjalan sudah terasa berat sperti membawa gendang. Tak ada keluhan dari Valencia bahkan sesekali terkikik geli saat merasakan bayi mungilnya melakukan gerakan atau bahkan seperti tendangan.
Andaro menikmati momen mendekatkan telinga di perut buncit Valencia sembari mengelus dan membelai dengan penuh cinta, tak jarang Andaro mengajak bicara dan menyuarakan lembut lagu pengantar tidur.
"Baby.. papa harus pergi dulu beberapa hari ya buat urus kerjaan, adek pinter ya temani mama.. kita cuma pisah 3 malam..baik-baik ya jagoan..", kecup Andaro pada perut Valencia.
Valencia tersenyum melihat kehangatan kasih sayang yang Andaro berikan, "Iya papa... kami baik-baik, papa kerja yang baik juga ya jangan nakal dan jangan lirik-lirik cewek muda sexy!!"
"Tentu tidak lah, cinta papa cuma buat mama seorang.. " Andaro mengakhirinya dengan kecupan panjang pada bibir Valencia yang sempat kaget menerima serangan tanpa permisi dari suami.
Andaro dan Valencia berjalan beriringan sampai di pintu rumah, mobil penjemput sudah tiba dan ada rasa berat bagi Andaro meninggalkan Valencia yang terlihat sudah tertatih dalam melangkah.
"Pastikan jangan terlambat makan ya honey, istirahat, dan suruh Harumi menemani kalau kamu ingin jalan keluar."
Valencia mengangguk dan mengelus-elus perutnya yang tiba-tiba terasa lebih mengencang tapi masih terasa normal, mungkin anaknya tahu akan berjauhan dengan papa nya untuk sementara.
Mobil sudah membawa Andaro pergi, Valencia berbalik berjalan menuju sofa.
"Harumi, tolong bantu bawakan alat pijat punggung yang ada di kamar ke ruang tamu."
Harumi, gadis berusia 20 tahun yang mulai diperbantukan untuk melayani Valencia. Sudah sekitar dua bulan ini Harumi tinggal bersama Andaro, sikapnya yang santun dan tidak terlalu banyak bicara membuat Valencia menyukainya.
Jarang ditemukan asisten muda yang bisa bersikap santun tak banyak ingin tahu dan memiliki batasan profesional, meskipun demikian Valencia tetap tak menganggap Harumi sebagai asisten rumah tangga yang harus selalu diperintah tapi partner yang membantunya melewati hari menjadi lebih mudah.
Dengan berlari kecil Harumi menata alat pijat punggung yang diminta Valencia, "Apa punggung Nyonya sakit? ada lagi yang bisa saya lakukan?"
"Entahlah Harumi hanya saja tadi saat mengantarkan suamiku, perut ini terasa mengencang jadi aku sepertinya perlu pijatan rileks untuk menenangkannya."
"Haik.." Harumi mengangguk dan berbalik, memasang putaran piring hitam dan musik klasik mengalun.
"Tuan menyuruh saya memutarkannya saat Nyonya terlihat lelah supaya bisa bersantai. Saya akan buatkan Nyonya seduhan chamomile dan jangan ragu untuk panggil saya kalau memerlukan bantuan"
Valencia mengangguk senang, keberadaan Harumi sangat berarti. Usia muda tak mengurangi kepekaannya untuk memahami kondisi yang dirasakan oleh Valencia. Pijatan lembut di punggung menenangkannya dan membuat mata Valencia
...>-<...
Tiba di Kobe Kuko, Andaro melangkah memasuki bandar udara yang luasnya tak lebih besar dibanding bandar udara Narita atau Haneda.
Tatapan Andaro tajam dengan setelan jas senada dengan celana kain menampakkan kesan eksekutif muda tampan penuh pesona.
Kali ini Andaro harus menemui Mr Kotaro di Hiroshima. Masalah yang berhubungan dengan Dion masih saja tersisa. Andaro berharap Dion tak melakukan kesalahan dengan Mr Kotaro, pria bertangan besi yang tak akan memberikan ampun pada siapapun yang mengusiknya.
Teleponnya berdering, suara dari seberang sudah menyapa dengan riang.
📞Andarosan... kau ke Hiroshima menemui Mr Kotaro bukan? kenapa kau tak ajak aku?
"Sejak kapan kau bersemangat menemani perjalanan bisnisku?" Andaro bertanya balik.
📞 Sejak aku tahu Mr Andaro memiliki anak tampan yang masih single dan sepertinya tak kalah rupawan dan berkharisma seperti ayahnya.
"Hmmm... jadi Viktor tidak menarik perhatianmu? Kau sudah tidak menjalin komunikasi setelah Viktor pulang ke Indonesia?"
📞 Ahh maaf siapa ya Viktor?? lelaki kurang ajar itu memutus komunikasi setelah dia kembali ke Indonesia, seolah aku hanya ibu kos nya selama dia di Jepang.
Andaro tertawa membayangkan seperti apa sebalnya Maiko dan canggungnya Viktor untuk memulai komunikasi terlebih dahulu.
__ADS_1
"Baiklah jadi bagaimana? kau akan menyusulku? aku akan di Hiroshima 3 malam, entah apa saja yang akan dibicarakan oleh Mr Kotaro tapi dia minta aku meluangkan waktu selama itu."
📞WOW..Kau meninggalkan Valencia selama 3 malam?? Kau yakin? Istrimu sedang hamil tua...
"Aku tak punya pilihan lain. Paling tidak dia tak sendiri, ada Harumi yang menemani."
📞Baik lah, aku akan berkemas
"Kau mau menemani Valencia?"
📞Haha..tidak Andaro..Harumi lebih ahli soal ibu hamil.. sore ini aku akan menyusulmu ke Hiroshima.. aku harus mengakrabkan diri dengan calon Mertuaku. Bye
Belum sempat Andaro membalas, telepon di seberang sudah terputus. Andaro melangkah menuju gate karena sudah terdengar pengumuman boarding.
...>-<...
Valencia masih terlelap dengan mesin pijat yang masih menyala setelah menghabiskan seduhan daun chamomile. Harumi menghampiri nyonya muda yang nampak lelap.
"Nyonya, waktunya makan malam... saya sudak menyiapkan set makan malam di meja makan."
Valencia mengerjapkan mata dan meregangkan kakinya. Dimatikan alat pemijat dan mulai menatap Harumi dengan lelah, "sudah berapa lama aku tertidur Harumi?"
"Lebih dari 4 jam nyonya"
Valencia terkaget dan mencari ponselnya, Harumi sedikit banyak menyadari apa yang membuat nyonya nya seolah kebingungan.
"Ini ponsel Nyonya, tadi Tuan menelepon tapi Nyonya masih lelap jadi maaf saya mengangkatnya.."
"Oh..tidak apa Harumi..apa kata Tuan? dan lain kali selain telepon dari suamiku tak perlu kau angkat ya," lagi pula sepertinya hanya Maiko, Victor, dan Daddy Hero yang biasanya menelepon selain Andaro.
Harumi mengangguk patuh ,"Tuan bertanya kenapa saya yang mengangkat telepon, saya sudah jelaskan kalau Nyonya masih tidur. Tuan berpesan kalau mungkin akan sulit berkomunikasi jadi kalau ada yang mendesak dapat mengirimkan pesan text dulu."
"Terimakasih Harumi, apa kau sudah makan? kalau belum, kita bisa makan bersama."
Valencia mengangguk, mengambil ponsel, dan bangkit berjalan perlahan ke meja makan. Perutnya sudah tak lagi kencang, terasa tendangan-tendangan ringan saat dia berjalan, "Adek sudah lapar ya... yuk kita makan."
Sambil menikmati santap malam sehat yang disiapkan Harumi, Valencia mengirimkan pesan text pada Andaro.
📤Hi And... aku baru bangun dan sedang makan bersama baby. Berjauhan denganmu terasa mengurangi energi dan semangatku
Belum ada jawaban. Valencia masih melanjutkan makan namun denyut kepalanya tak tertahankan, mungkin terlalu banyak tidur membuatnya jadi pusing.
Usai menyantap makanan, Valencia memijat ringat kepala yang terasa berdentum-dentum seolah hujan es jatuh di kepalanya, napasnya terasa tersenggal. Diamati makanan di meja tidak ada yang aneh dan tidak ada yang memicu alergi hanya makanan yang biasa dia makan selama di Jepang.
Perlahan Valencia berusaha untuk bangkit berdiri dan berjalan tertatih untuk menuju ke kamar dan merebahkan diri. Diurungkan niat untuk meminta bantuan memanggil Harumi, masih merasa sanggup dan mampu untuk berjalan meskipun seolah berjalan di antara gempa karena sekeliling seolah bergoyang.
Valencia berhasil mencapai pintu kamar tapi tubuhnya terjatuh saat berusaha membuka pintu, suara dentuman tubuh Valencia yang tergeletak di lantai memanggil Harumi berlari ke meja makan dan didapati nyonyanya tak ada di sana.
"Nyonyaa..."
Harumi menemukan Valencia tertidur di lantai dengan posisi miring membelakanginya, nampak oleh Harumi terdapat bercak darah yang sudah mulai membasahi bagian bawah Valencia.
Dengan cekatan Harumi menekan tombol 119 agar pertolongan segera datang. Harumi pernah melihat hal yang sama saat menantu tuan Kobe, kakak ipar Andaro, terjatuh dan terjadi pendarahan.
Yang membedakan adalah saat itu dia masih lebih muda dan melihat wanita berlumuran darah di kaki sambil berteriak kesakitan membuatnya bersembunyi karena tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Belajar dari pengalaman, Harumi tahu bahwa kondisi Valencia saat ini bukanlah kondisi yang dapat dia tangani seorang diri dan mungkin ada nyawa yang sedang dipertaruhkan mengingat saat ini Valencia tak sadarkan diri.
Setelah telepon darurat tersambung dan menyebutkan alamat, Harumi menunggu pertolongan datang sambil menghampiri Valencia, memeriksa kondisi denyut nadi yang masih terasa dan mencoba membangunkan Valencia yang ternyata tak dapat dia lakukan.
__ADS_1
Ketukan pintu terdengar, Harumi membuka pintu rumah dan tiga petugas kesehatan masuk dengan membawa tandu, Valencia diangkat perlahan. Harumi masuk ke dalam kamar Valencia mengambil koper kecil yang sudah dipersiapkan jauh hari oleh Andaro agar saat waktu kelahiran semua barang sudah tersedia dan siap dibawa, pengetahuan yang Andaro dapatkan dari kelas parenting yang sangat berguna.
Di dalam ambulance, petugas dengan cekatan memasang alat bantu napas untuk Valencia, melakukan pengecekan tensi dan respon pupil mata.
"Pre-eklamsia," Bisik salah satu petugas.
Harumi mengetikkan pesan pada Andaro.
📤Tuan, kondisi Nyonya kritis, saya sudah di ambulance bersama Nyonya
Sudah 10 menit tetapi Andaro masih belum menjawab. Harumi yang biasanya santun menjadi geram dan mengumpat membuat tenaga medis yang berada di dalam ambulance menatapnya kaget.
"Sumimasen (maaf)," kata Harumi sambil mengangguk.
Tak hilang akal Harumi mencoba menelepon Andaro tapi tak ada jawaban. Akhirnya hanya ada satu nama yang dia kenal yang terlintas dan segera dia telepon.
"Nona Maiko... maaf mengganggu, saya tidak bisa menghubungi Tuan Andaro. Saya sedang menuju ke rumah sakit bersama Nyonya Valencia, Nyonya sepertinya terjatuh dan pendarahan, kami sedang di atas ambulance, apa yang harus saya lakukan?" pertahanan untuk tetap panik akhirnya runtuh, Harumi merasa tak mampu kalau harus menghadapi semua situasi ini seorang diri.
📞 Harumii.... tenangkan dirimu, Andaro sedang di dalam, baik lah aku akan segera menyampaikannya dan kau tenanglah
"Bagaimana aku bisa tenang nona...nyonya Valencia tak sadarkan diri dan dari diagnosis sepertinya pre-eklamsia...apa yang harus kulakukan nona??" Harumi mulai gelisah, petugas medis yang ada di dekatnya memberikan isyarat untuk Harumi tetap tenang.
📞Kamu sudah melakukan hal paling tepat Harumi, temani terus Valencia, dan kupastikan sebentar lagi Andaro akan menelepon kalian.
...>-<...
Usai telepon terputus, Maiko masuk ke ruang makan menundukkan badan pada Andaro, Mr Kotaro, dan tentunya target calon kekasih yang juga ada di sana. Syukurlah kesadarannya masih utuh hingga dia tidak melupakan apa yang baru saja dia dengar dari Harumi.
"Yurushite kudasai (maaf), Mr Kotaro... tapi sepertinya Andaro tidak dapat melanjutkan meeting dengan anda, saya akan menggantikannya."
Andaro menatap tak suka karena merasa Maiko memiliki akal licik untuk menggaet anak Mr Kotaro dengan alasan menggantikan Andaro dalam meeting.
"Kenapa Maikochan?" bukan Mr Kotaro tapi malah Kaneshiro, anak Mr Kotaro yang menjawab dengan suara menggoda.
Hampir saja Maiko terlena dengan pesonanya saat melihat wajah marah Andaro, "Istrimu sedang perjalanan ke rumah sakit, Harumi memanggil ambulance karena Valencia tak sadarkan diri, segeralah pamit dan pantau istrimu."
Mendengar penjelasan Maiko, Kaneshiro hampir saja salah paham dengan kata pertama karena dia pikir siapa istri yang dimaksud oleh Maiko.
Andaro tak dapat berkata-kata dan hanya dapat menundukkan badan kepada Mr Kotaro dan Kaneshiro untuk undur diri.
Secepat kilat, Andaro menelepon Harumi dan berbicara pada paramedis yang sudah memeriksa Valencia.
📞Istri anda tak sadarkan diri dan diagnosis awal adalah preeklamsia, dokter akan melakukan USG untuk melakukan pengecekan kondisi janin.
"Lalu apa yang mungki terjadi? paling cepat saya baru tiba di sana 3 jam dari sekarang"
📞Kami akan berusaha menyelamatkan keduanya
"Apa maksud anda mereka sekarang ada dalam bahaya?? Selamatkan merekaa..kumohon"
📞Kami akan berusaha Mr... dan kalau harus memilih salah satu, siapakah yang harus kami prioritaskan?
Berat dan penuh rasa sesak untuk Andaro menentukan, hatinya terlalu rakus ingin keduanya selamat.
"Tolong prioritaskan istriku..."
Mr Kotaro keluar ruangan dan mendengar getar suara Andaro,
"And... tenanglah... emosimu saat ini tak dapat memperbaiki keadaan. Tetaplah tenang, sekarang naiklah ke lantai teratas gedung ini, tunggu lah di dekat helipad. Aku sudah menelepon asistenku untuk segera melakukan penjemputan dan mengantarkanmu bertemu dengan istrimu."
__ADS_1
"Domo arigatougozaimasu (terimakasih banyak). Aku akan membalas budi untuk kebaikanmu Mr Kotaro..."
Mr Kotaro mengangguk dan menepuk punggung Andaro untuk bergegas masuk ke pintu lift yang sudah terbuka.