
Valencia begitu naif mempercayai luka Andaro adalah goresan wastafel kamar mandi, dirinya tak akan menyangka penyebab sebenarnya luka yang di alami Andaro, hingga matanya menatap lebam pada punggung tangan Andaro.
Mata tajam Valencia menatap Andaro dalam bisu, menuntut kejujuran tanpa pertanyaan. Andaro yang menyadari arti tatapan Valencia hanya tersenyum, mengedikkan bahu, dan hendak menarik tangan dari genggaman Valencia.
"Jangan menghindar!! " gertak Valencia mempertahankan lengan Andaro di pangkuannya, jari Valencia beralih mengoleskan obat untuk peradangan dibagian buku-buku punggung jemari tangan Andaro.
"Terserah kalau kau tak mau cerita, hanya saja aku sudah muak dan benci dengan kebohongan. Jangan harap aku akan bertanya atau percaya pada orang yang pernah membohongiku." suara Valencia sangat dingin dan bagai ultimatum yang menyalakan timer bom waktu. Valencia menyingkirkan lengan Andaro, merapikan peralatan medis sederhana yang digunakan, dan hendak beranjak mengembalikan kotak P3K ke tempatnya sebelum Andaro menarik lengan Valencia untuk tetap duduk.
"Val, kadang tidak berterus terang bukan lah kebohongan tapi bisa saja cara kita melindungi seseorang."
"Klise... cara melindungi seseorang seperti itu tak berlaku untukku Andaro. Aku lebih memilih untuk mengerti apa yang membuatmu perlu melindungi ku hingga kau sembunyikan kenyataan simple yang mungkin tidak ada hubungannya denganku!"
"Karena ini ada hubungannya denganmu Val, setidaknya menurutku." Valencia berkerut mendengarkan jawaban Andaro, serasa terlalu banyak kejutan yang dia alami beberapa waktu terakhir ini.
"Kalau aku ungkapkan kejadian sebenarnya kenapa aku terluka dan asumsi yang aku miliki apa kamu bisa berjanji untuk tidak ketakutan dan tetap mau bergantung kepadaku??"
"Bergantung??? hmmm bukannya kau tau Andaro... aku meminta bantuanmu karena aku ingin mandiri tak bergantung pada Daddy atau Viktor.. tapi sekarang pilihan yang kau berikan adalah untuk bergantung padamu?? huffff berasa masuk lubang buaya setelah menghindari mulut singa."
"Aku mendukungmu untuk dapat berdiri dengan kakimu sendiri tanpa bayangan orang lain. Tapi sepertinya situasi sekarang ini kau butuh partner Val, you can't do it by yourself, please trust me."
"Okey... jadi jangan gunakan bahasa 'bergantung' aku lebih suka berjanji akan tetap bersedia menjadikanmu partner setelah mendengar cerita yang kau sembunyikan."
"Oke.. deal.. " Mereka berjabat tangan, tapi tak kunjung terlepas, Andaro menjelaskan sambil tetap menangkup telapak tangan Valencia.
"Dugaanku, ada orang yang sedang mengincarmu.. (Valencia hendak menarik tangannya tapi tertahan dengan kuat tangan Andaro). Dengarkan Val.. kejadian tadi siang saat kau hampir tertabrak motor itu bukan suatu ketidak sengajaan. Luka ini adalah goresan pisau dari pengendara motor yang akan menabrakmu."
Valencia masih tak dapat berkata-kata. Andaro menepuk tangan Valencia dan memberikan tekanan kehangatan.
"Aku merasa ada yang tidak beres Val, jadi waktu di dalam resto, sengaja aku pilih tempat duduk kita yang tetap dapat melihat mobilmu yang terparkir.. dan ternyata tikus akan tetap kembali ke tempat di mana dia meninggalkan jejak untuk membangun sarang."
"Maksudmu... pria itu kembali dan menghampiri mobilku??" Andaro menjawab dengan anggukan.
"Selanjutnya kau bisa lihat buktinya... aku bergegas keluar dan melakukan baku hantam dengan dia karena sepertinya entah kampas mobil atau roda yang menjadi sasaran perusakannya. Terlalu kebetulan kalau kita berpikir mobil yang dirusak adalah pilihan acak dan kebetulan itu adalah mobil wanita yang hampir tertabrak olehnya."
__ADS_1
Andaro merasakan tangan yang di genggamnya bergetar meskipun sikap dan wajah Valencia tetap tenang. Cangkang telor yang berusaha menyembunyikan kerapuhannya, tapi getaran ketakutan sudah terlanjur tertangkap oleh Andaro.
"Val.. tak usah kawatir, aku akan melindungimu... Mungkin ini terlalu cepat untuk kau dengar, tapi aku merasa ada perasaan lebih dari sekedar kepedulian seorang rekan atau teman. Aku tak berharap kau balas perasaanku hanya saja ijinkan aku melindungimu."
Valencia menatap Andaro dengan mata yang mulai sayu dengan buliran air yang mulai terbentuk. Bukan tangis kebahagiaan.. tapi Valencia merasa kerapuhannya sudah terbongkar dan ya Valencia memang merasa terlalu banyak kejutan yang terjadi.
"Andaro... kau bisa dapatkan gadis yang jauh lebih baik lagi, aku pun tak dapat menjanjikan dapat berlaku baik atau membahagiakan hatimu."
Senyum Andaro terkembang, setidaknya penolakan yang diterima masih memiliki peluang untuk penerimaan di waktu ke depan.
"Tak usah kau pikirkan sekarang Val, kau tak menghindar dariku itu sudah cukup untuk saat ini."
"Maaf Andaro... aku terlalu bingung.. kenapa semua ini terjadi... " Valencia menunduk dengan satu tangan yang bebas dia garuk kepala yang tidak gatal menyebabkan rambut indahnya sedikit berantakan, frustasi.. itu yang dia pikirkan saat ini.
Andaro menarik Valencia ke dalam dekapannya.
"Sssttt... tenanglah... bagi kebingunganmu denganku. Mari kita uraikan setiap masalah satu persatu.. " ucap Andaro sembari membelain merapikan rambut Valencia.
Dalam dekapan Andaro, Valencia menemukan ruang ketenangan dan merasakan kehampaan dalam dirinya mulai terisi.
Valencia mulai berucap lirih, melakukan saran Andaro untuk mulai merapikan keruwetan yang dialami saat ini.
"Kita sudah membahasnya jadi hal itu sudah tak perlu kau pikirkan lagi, sebagai clue.. hukuman yang akan keluar tidak akan 4 tahun.. dugaanku dapat diperoleh di angka 1 hingga 1.5 tahun. Jadi keluarkan masalah ini dari bebanmu."
"Surat cerai yang ku urus untuk mengakhiri hubungan dengan Dion... apakah itu langkah terbijak yang bisa aku pilih?"
"Dalam hal ini, aku tak akan ambil kesempatan dengan pendapat subjektif.. menurutku kalau memang masih ada cinta tidak mungkin akan pergi tanpa pamit dan bahkan meninggalkan masalah pelik seperti ini."
"Ya.. dia sudah meninggalkan masalah yang lebih pelik dari yang bisa aku bayangkan." jawaban Valencia bersayap dan retoris.
Andaro hanya menepuk bahu Valencia dan memisahkan jarak dengan menatap Valencia lekat.
"Kau wanita kuat Val, hanya saja memang tempaan masalah kurang banyak dihadapi tapi aku yakin dibalik semua ini ada wanita dewasa yang sangat kuat dan dapat menyelesaikan setiap permasalahan. Ingat.. you are not alone beb."
__ADS_1
Valencia mengangguk menangkap kekuatan kata positif Andaro.
"Aku masih punya dua masalah lagi Andaro." Alis Andaro terangkat seolah bertanya tanpa kata.
"Kalau memang ada orang yang mengincar nyawaku, apa yang harus aku lakukan?? tak mungkin kita berdiam diri bukan?? apa pendapatmu partnerku??" Valencia tersenyum, menyentil Andaro bahwa setelah tahu ada orang yang mengincarnya.. Valencia tetap menjadikan Andaro sebagai partner penyelesaian masalah..
"We're partner in crime.. pendapatku kalau kita tetap ada di rumah ini sepertinya akan lebih menguntungkan dia yang sedang mengawasimu Val."
"Baik Andaro... aku juga sempat terpikir kalau mobil ku sudah mereka incar bukan tidak mungkin keberadaan ku sudah diikuti. Menurutmu haruskah aku kembali ke rumah Daddy Hero?? hanya itu tempat teraman yang aku dapat pikirkan."
Andaro mengangguk dan beranjak mengembalikan kotak P3K ke tempatnya, mengambil air mineral untuknya dan untuk Valencia.
"Aku rasa itu pilihan bagus Val. Kau bisa tinggal dengan Daddy Hero dan aku tetap akan di sini sampai kita ketahui siapa oknum yang mengincarmu"
Valencia sedikit menyesal kalau harus meninggalkan Andaro seorang diri sementara banyak pertolongan yang sudah Andaro berikan untuknya.
"Wait ku telepon Daddy"
Pembicaraan Valencia dengan Daddy didengarkan oleh Andaro, sesekali terdengar suara Viktor yang menyahut bahwa hari itu juga Valencia harus pulang tapi terlalu cepat untuk berbenah dan sudah disepakati besok adalah paling lambat Valencia pulang ke rumah besarnya.
Daddy Hero yang mendengar bahwa Andaro tetap tinggal di rumah Dion mengutarakan ketidaksetujuannya.
📞 Kau, Andaro.. apa dia juga mendengar pembicaraan ini??
📞Ya Tuan, I hear you
📞 Dengarkan aku nak, besok kau harus ikut dengan Valencia tinggal di rumah ku. Tak ada alasan lagi kita berbicara sekarang, kita lanjutkan besok.. akan ada banyak pembicaraan antara kita. tut.. tuuutt.. tutt...
Andaro dan Valencia saling pandang.. Valencia hanya menggedikkan bahu dan tersenyum senang karena sekarang bertambah satu orang lain yang merasakan seberapa dominan nya Daddy Hero.
"Baik Val... sekarang tinggal satu masalah lain yang mengganjal, katakan padaku.
Lama Valencia berpikir... akhirnya dia ungkapkan...
__ADS_1
"Mmmm.. itu.. masih ada spider di kamarku... "
Dueeeng... Andaro memejamkan mata berpikir harus tertawa atau gemas gila dengan masalah pelik terakhir yang diungkapkan Valencia.