Dinikahi Mantan Napi

Dinikahi Mantan Napi
Laura


__ADS_3

Tangan kuning langsat dengan jemari lentik menggenggam pegangan cangkir berisi Piccolo. Telinganya tetap waspada mendengarkan informasi penting yang tak sengaja dia dapatkan dari tukang roti yang mengantarkan pesanan pada barista kafe.


"Pantes aja Pak, kok Mas-mas wajah Asia Timur yang biasa sering order almond milk less sugar uda jarang kemari... ternyata pindah to?" sepinya pelanggan membuat barista dapat menanggapi topik yang dilemparkan penjual roti, khas obrolan julid ibu-ibu komplek.


"Iya Mas, omset saya juga berkurang, biasa paling tidak dua hari sekali non Valencia ada order. Cuma beberapa kali ada cowok lagi yang datang ke situ, kayanya beda orang Mas... mesai.. jaketnya g pernah ganti. Pakai jaket kulit hitam tiap datang, dan ndak lama juga paling 30 menit trus udah ndak ada. Apa petugas PLN baru ya Mas?", oceh Pak Roni si tukang roti.


"Bukaan Pak, komplek sini sudah token semua.. jadi sudah tidak jaman petugas PLN cek meteran per bulan."


Kicauan burung berbunyi, Pak Roni dan barista menoleh ke arah pintu masuk. Bagian atas pintu masuk kafe diberi sensor yang akan berbunyi kicauan burung saat ada pelanggan yang masuk.


"Pak Roni, saya ada pelanggan.. ini yang rotinya, kembalinya ambil aja"


"Wah makasih mas.. ya ya.. saya permisi," sampai di luar Pak Roni menghitung uang bayaran yang ternyata pas tak ada lebihan. "weeh dasar medit!! (pelit)"


Barista sedang memproses pesanan tamu ke dua nya pagi itu, menu take away 5 cup latte dipersiapkan cepat melihat pembeli yang tampak dikejar waktu dan tampilan baju rapi seperti siap mengaiz rizky dengan status karyawan kantoran. Wanita yang datang sejak satu jam lalu masih duduk dengan tertunduk menatap layar ponsel yang terletak di atas meja, sesekali menengok ke arah jalan komplek, tembok kafe berupa kaca membuat radius pandang mata tak terhalang.


Ternyata memang sepi dan tak berpenghuni pantas saja CCTV yang kupasang tak pernah menunjukkan adanya pergerakan. Batin wanita yang sedang mengamati rumah Valencia.


"Mbak Laura rumah atau kantornya daerah sini juga? "


Suara barista yang ternyata sudah mendekati meja mengagetkan Laura.

__ADS_1


"Oh anu, rumah teman. Kok anda tahu nama saya??"


Barista hitam manis beralis tebal, rambut ikal tersenyum tipis, "kan setiap buat pesanan selalu saya tanya nama customer, ya tujuannya bisa untuk perkenalan seperti ini juga Mbak, tapi kalau SOP (Standard Operating Prosedur) dari kantor untuk memastikan pesanan sesuai dengan nama pemesan"


Laura hanya mengangguk, tak ingin berlama-lama dan berbagi informasi, dia segera pamit dan berjalan memasuki komplek dan berjalan memutar untuk menuju ke halte bus.


Berjalan perlahan di depan rumah Valencia dengan berhati-hati supaya tidak menarik perhatian, Laura hendak memasukkan surat kaleng berisi ancaman lewat celah pintu bawah rumah Valencia. Laura menaruh benci pada Valencia dan berbuahkan dendam.


Setiap kehilangan perlu subject untuk disalahkan. Itu lah yang sedang terjadi. Semenjak menikah dengan Valencia, Laura merasa Dion berubah bahkan tidak peduli lagi dengan keluarga nya.


Sebelum menikah, Dion sangat rajin mengunjungi sang ibu di rumah sakit jiwa. Depresi akut dan gangguan kecemasan membuat dokter menyarankan Ibu Dion di rawat di sana. Biaya yang tidak sedikit tapi Dion sudah bertekad demi kesehatan Ibu apapun dilakukan. Hingga ternyata 2 tahun lebih tak ada kemajuan, Dion mulai terbagi fokusnya antara keluarga dengan Valencia.


Puncak kebencian Laura adalah saat menikah, Dion sama sekali tidak melibatkan keluarganya, bahkan dia sangsi kalau pihak Valencia tahu dimana Ibu dirawat. Yang Laura dengar, Dion bercerita kalau sekeluarga mereka ada acara keluarga besar yang sangat tidak dapat di tinggalkan untuk hadir di pernikahannya.


Laura masih tak habis pikir, kenapa keluarga Valencia tidak mempertanyakan alasan Dion. Laura tidak tahu bahwa sebenarnya kedok Dion sudah diketahui oleh Daddy Hero yang mencoba tetap diam menunggu sampai kapan rahasia tentang keluarganya akan diceritakan ke Valencia.


Di mata Laura dan kedua adiknya, Dion sangat tertekan harus memenuhi gaya glamor Valencia, meskipun sebenarnya semua kebutuhan Dion juga masih dipenuhi Valencia tapi tentu saja Laura tidak tahu dan tidak mau tahu.


Kebencian, dendam, sakit hati, pembalasan menutup pintu kebenaran agar obsesi tujuan kepuasan ego untuk melampiaskan emosi dapat tersalurkan.


Laura lah yang mencampurkan garam dengan arsenik. Saat mendengar kabar Dion sudah meninggalkan Indonesia, Laura mencari cara untuk masuk ke rumah Valencia. Meskipun Dion sudah mengirimkan uang 10 digit (min 1M) dengan pesan itu adalah kiriman uang terakhir untuk Ibu, Laura, dan kedua adiknya karena setelah ini Dion ingin mulai lembar baru kehidupannya sendiri tapi Laura tetap menangkap bahwa tindakan Dion ingin lepas dari keluarganya adalah karena hasutan Valencia.

__ADS_1


Menyakiti, menguntit, melukai, dan menakuti itu rencana Laura, dia ingin Valencia bisa memiliki nasib yang sama dengan Ibunya. Laura lagi-lagi tak terlalu peduli bahwa sebenarnya Dion sudah meninggalkan masalah pada Valencia.


Akses masuk ke rumah dapat dilakukan dengan mudah saat kantor Dion masih beroprasi dan Valencia terlihat pergi keluar, tak butuh waktu lama untuk Laura menggunakan kesempatan itu. Tapi satu bulan berselang tidak ada berita kematian Valencia. Plan B dijalankan dengan mengutus orang merusak kampas rem mobil Valencia.


Kegagalan terus dihadapi, tapi bukan Laura namanya kalau menyerah dengan kegagalan yang berulang. Motivasinya kegagalan adalah bukti dari keberhasilan usaha yang belum maksimal, maka tetap perlu untuk terus mencoba.


Mendengar Valencia sudah pindah ke rumah Daddy Hero dan susah tinggal dengan lelaki lain, membuatnya semakin geram. Surat hinaan, ancaman, luapan emosi sudah dia tuliskan dan berharap Valencia segera terganggu ketenangannya.


Saat Laura hendak melangkah memasuki teras rumah tipe cluster tanpa pagar, dia mendengar laju motor sport yang melambat di belakangnya, tak ingin gegabah, Laura memasukkan surat ke dalam tas, menunggu.


"Permisi, anda siapa? " tegur seorang pria berjaket kulit hitam. Persis seperti cerita Pak Roni tukang roti.


"Oh Saya Rara.. apa benar ini rumah non Valencia?"


"Betul"


"Saya dari bank mau menawarkan kartu kredit," kebiasaan dari pengalaman bekerja terdahulu entah kenapa alasan itu yang terucap di benaknya.


"Yang bersangkutan tidak di rumah dan sepertinya beliau tidak perlu kartu kredit, maaf kalau tidak ada urusan lain mungkin tidak perlu menunggu di sini."


Laura tak menjawab, wajahnya berubah tanpa senyum dan menahan diri untuk tidak mengumpat. Dia berjalan pergi dan masih mencari cara lain untuk bisa segera berhasil melemparkan anak panah ke target.

__ADS_1


__ADS_2