Dinikahi Mantan Napi

Dinikahi Mantan Napi
Support Sistem


__ADS_3

Ada yang bilang waktu itu bagai mahkluk yang memiliki rambut di bagian depan kepalanya, badannya licin, dan tak bisa berjalan namun berlari kencang. Jadi waktu sukar untuk ditangkap, kalaupun dia lari melewati kita mustahil untuk mencengkeram atau menjambak waktu.


Mahkluk bernama waktu tak dapat berkomunikasi ataupun berkompromi, tidak ada fokus, dan empati. Dia selalu bergerak cepat tanpa henti.


Seperti penggambaran makhluk waktu itulah pergerakan waktu dalam hidup manusia. Tak dapat diminta untuk lebih lambat atau pun mengulang saat yang telah terlewati. Hanya penyesalan dan mencoba untuk menghargai waktu yang akan dilewati, tak ada pilihan lain.


Valencia sedang mengamati kalender dari ponselnya, dia mulai berhitung, enam bulan lagi kemungkinan bayinya akan lahir. Dielusnya perut yang sudah mulai membulat tapi tetap tidak begitu ketara saat Valencia menggunakan dress longgar. Hatinya terasa kosong, entah karena hormon kehamilan atau sepi yang di rasanya begitu menyayat. Terkadang tanpa terasa air berlinang tanpa permisi dari mata indahnya, terkadang ingin rasa berteriak kencang dan melempar sesuatu yang akan mengeluarkan suara nyaring.


Pernah suatu sore di akhir minggu, Valencia masuk ke dalam cottagenya mengamati rasa sepi dan sunyi. Di meja ruang santai sudah terasa mangkuk bubur kacang hijau dan almond milk. Rasa marah tiba-tiba muncul, teringat Andaro yang sangat rajin menyediakan almond milk atau soya milk yang katanya baik untuk kehamilan. Jika dipikirkan kembali, mungkin bukan rasa marah yang di rasakan Valencia tapi rasa rindu yang membuncah dan harus hancur berkeping-keping karena jarak sama seperti gelas almond milk yang dia lemparkan ke arah pintu memunculkan bunyi berdentum diakhiri suara gelas kristal yang tercerai berai di lantai.


Daddy Hero dan Viktor tak lama membuka pintu cottage dan melihat ceceran tumpahan susu dan pecahan kristal kaca di lantai, "Apa kau baik-baik saja Cia?" tanya mereka hampir bersamaan.


Valencia hanya mengangguk kosong dan masuk ke kamarnya. Tak lama pelayan datang membereskan lukisan artistik ciptaan Valencia di atas lantai, cipratan-cipratan cairan almond milk yang membentuk splash tak beraturan nampak berkilau di hiasi kristal.


Daddy Hero dan Viktor saling memandang dan menunggu lantai bersih sebelum mereka memasuki cottage.


"Apakah lebih baik Andaro di penjara saja atau wajib lapor dan tetap di Indonesia ya Dad?" tanya Viktor.


"Belum tentu tentang Andaro Nak... Jangan-jangan janin si bedebah Dion sedang buat Valencia uring-uringan, " Daddy Hero masih belum dapat menerima keputusan Valencia untuk mempertahankan buah hatinya, masih ada kebencian di benak Daddy Hero jika mengangkut Dion.


Viktor menggeleng tak setuju dengan Daddy Hero, "Jangan kau salahkan janin kecil tak berdosa di perut Valencia Dad, bagaimanapun itu adalah calon cucumu. Dan bukan lah kita bersama sudah sepakat bahwa tak akan menyebut nama Dion lagi? Andaro pun setuju jika kita semua sepakat bahwa bayi Valencia adalah anak Andaro, fakta itu pula yang perlu kita ingat hingga cucu pertamamu itu dewasa Dad."


Daddy Hero berpaling melangkah duduk di teras depan cottage Valencia, ternyata butuh waktu untuk memastikan tak ada serpihan kaca yang tertinggal di lantai atau perabotan.


"Aku tak tega lihat Valencia nampak tertekan satu bulan terakhir ini Nak..."


"Tak selalu tertekan Dad... saat video call dengan Andaro kita bisa lihat sumringah dan binar di wajahnya"


Keduanya mengangguk sepakat. Sudah sebulan Valencia tak bertemu Andaro secara langsung karena tepat satu minggu setelah peresmian pernikahan mereka sidang perdata di gelar dan dengan setiap usaha Andaro juga tak lepas campur tangan Daddy Hero dan Viktor, akhirnya putusan majelis Hakim bukanlah kurungan penjara untuk Andaro selalu penanggung jawab.

__ADS_1


Kebijakan putusan yang diberikan oleh pengadilan adalah Andaro di deportasi dari Indonesia dan tak dapat mengunjungi Indonesia selama 3 tahun. Biaya kerugian tetap harus dibayarkan dengan nominal lebih kecil dari seharusnya dan dapat dilakukan per termin pembayaran, Daddy Hero dan Viktor yang menanganinya.


Valencia kembali merasa seperti pecundang yang tak dapat banyak andil menyelesaikan masalah yang dihadapi, meskipun Daddy Hero, Viktor, dan Andaro meyakinkannya bahwa kesehatan, keberadaan, dan keselamatan Valencia sudah merupakan bagian terpenting bagi mereka.


Meski Andaro belum mendapatkan cinta Valencia seutuhnya, sebesar yang pernah diberikan untuk Dion, tapi keberadaan Andaro sudah menjadi candu yang dapat menenangkan Valencia.


Daddy Hero mengeluarkan ponselnya.


📞 Halo.. sedang apa kau Nak? bisa aku bicara?


...


📞 Oke, aku hanya mau katakan kalau idemu tempo hari akan ku ijinkan.


...


📞 Ya, aku juga pikir psikisnya akan lebih baik kalau bersamamu, biarlah rindu ini kupendam dan siksa yang terasa kutanggungnya (Daddy Hero mulai lebay)


...


...


📞 Harusnya sudah lebih aman karena sudah trimester 3, nanti kita lihat saran dokter.


...


📞 Baiklah, aku mau menemui putri manjaku dulu. Ohayo Andarosan.


Viktor menatap Daddy nya dengan tajam dan galak, mendengar namanya disebut dan seolah berhati-hati akan permintaan yang akan Daddy katakan.

__ADS_1


"Tak usah melihatku seperti itu Nak. Di mataku kau tetap tampan dan menggemaskan seperti masa muda ku," canda Daddy bangkit berdiri melihat kondisi cottage Valencia yang sudah lebih bersih.


Viktor mulai memijat-mijat daun telinga yang tak terasa pegal, kebiasaannya kalau merasa sebal, "Aku tak bercanda Dad, apa rencanamu? telingaku masih sehat untuk mendengar ada namaku disebut."


Daddy Hero hanya tersenyum penuh kelegaan dan canda, "Bahkan disetiap doaku nama setiap anakku selalu kusebut..."


Viktor mencebik sebal, merasa seolah usianya yang sudah menginjak pertengahan kepala 3, tapi Daddy masih saja menganggapnua seperti bocah.


"Andaro pernah meminta ijinku untuk mengirimkan Valencia ke Jepang.. sudah ku tolak, tapi melihat Valencia akhir-akhir ini sepertinya egoku tak berimbas baik untuknya."


Viktor mengangguk setuju, toh Valencia dan Andaro sudah resmi menikah secara hukum Indonesia. Meskipun belum pernah menikah atau berhasil menjalin hubungan tapi Viktor mengerti dengan pasti apa itu hasrat manusiawi antara pasangan yang saling mencintai. Mendadak wajahnya berubah lesu, tak dapat dipungkiri diapun ingin memiliki seseorang yang mengandalkannya, menjadikannya tempat bersandar nyaman, menyambutnya dengan kerinduan setiap pulang kerja.


"Ada apa dengan wajahmu? sedih berasa jomblo bahagia tapi tak bisa bercinta?" tegur Daddy Hero yang sangat menohok dan langsung berlalu masuk ke dalam cottage mengetuk kamar Valencia.


Viktor hanya mengekor dan menghembuskan napas pasrah berharap tetap bersabar tidak melakukan tantangan gulat dengan Daddy.


knock.. knock..


cekreeek...


Pintu kamar tak terkunci, dilihatnya Valencia sedang meringkuk bersembunyi di balik selimut. Sebelum Daddy berbicara yang membuat mood buruk, Viktor mendahului duduk di samping kasur dan menepuk punggung adiknya.


"Hei... terakhir aku ingat kau labil seperti ini waktu PMS di masa SMA. Sekarang kau calon Ibu Cia... emosimu akan berpengaruh pada ponakanku... mau pergi cari angin segar?"


Valencia menjawab pertanyaan Viktor dengan menggeleng. Daddy Hero yang geram melihat kedua anaknya bermanis-manis basa basi yang terlalu lamban membuang waktu.


"Valencia, bangun atau Daddy membatalkan tiketmu untuk pergi ke Jepang!"


Seketika Valencia menyibakkan selimut, duduk, tersenyum manis sekali dengan binar bahagia menatap Daddy dan Viktor bergantian dan mendapat jawaban berupa anggukan keduanya.

__ADS_1


"I Love youuu Dad... and love you more my brother... trimakasih sudah meyakinkan Daddy untuk aku boleh ke Jepang."


Viktor tergelak tawa mendapatkan cinta Valencia kepadanya lebih besar dibanding Daddy karena hal yang bahkan tidak dia lakukan. Daddy yang mendengar melirik tak suka pada Viktor tapi enggan berucap karena dia yakin ucapannya tak akan penting untuk putrinya yang sudah sangaat ceria...


__ADS_2