Dinikahi Mantan Napi

Dinikahi Mantan Napi
Serpihan Fakta


__ADS_3

Waktu sudah hampir pukul 22.00 waktu Jepang saat Andaro dan Valencia tiba di apartemen. Pintu apartemen terbuka dan terlihat Viktor masih duduk di depan TV dengan hanya melirik kedatangan tuan rumah tanpa menyapa ramah.


Valencia yang melihat gelagat sang kakak sedang marah, dia pun menghampiri, "Kenapa kau tampak merajuk Viktor? apa ada masalah dengan perusahaan? kau sudah makan?" ucapnya setelah meletakkan jaket ke laundry bag dan duduk di sebelah Viktor.


Yang di tanya hanya melirik. Melihat jam yang tergantung di atas pintu masuk. "Lebih dari 12 jam kalian mengabaikanku. Seolah tuan rumah lupa kalau ada kakak iparnya berkunjung. Aku hampir saja terserang busung lapar kalau saja tadi asisten Andaro tak datang dan mengajakku ke restoran sushi di depan apartemen."


Valencia memutar matanya, hafal benar bahwa Viktor sedang dalam mode badmood, hingga bisa banyak kata keluhan keluar.


"Wah beruntung sekali kau bisa makan dengan Maiko di sana Viktor... aku bahkan belum pernah ketemu dengan Maiko.., " bermaksud mencairkan suasana tapi ternyata jawaban Valencia salah dan makin membuat Viktor mencebikkan mulut.


"Bagaimana kau bisa bertemu dengannya kalau seharian di hari pertama kita di sini kalian langsung saja berkencan seolah kalian hanya hidup di dunia ini berdua tanpa saudara.. ah sudahlah," Valencia menarik napas panjang mendengarkan gerutuan Viktor.


Andaro menghentikan Viktor yang akan melangkah masuk ke dalam kamar, "Bro, maaf aku terlewat tentangmu karena waktu kami pergi kau masih tertidur dan mungkin Maiko ada alasan mendesak sampai dia tak bisa kemari sejak siang untuk ajak kau jalan. Tangkap, ini hot sake yang cocok untuk meredakan emosi." Andaro seperti tak mau tahu sindiran Viktor sedari awal dia melangkahkan kaki masuk ke dalam apartemen. Andaro hanya nyengir dan mendorong Viktor untuk duduk kembali.


Valencia menatap keduanya, menunggu abang dan suaminya akan berdebat seperti apa. Meskipun tak ingin tapi ada sisi diri Valencia yang penasaran bagaimana Andaro akan memilih cara berdamai dengan Viktor. Kalau memilih kekerasan tentu Viktor adalah lawan yang patut dipertimbangkan, menguasai taekwondo meskipun bukan grade tertinggi membuat Viktor memiliki gerak pertahanan yang lincah dan gesit.


Sekilas kedua pria dihadapan Valencia tampak setipe, tak banyak bicara yang tak perlu, tak banyak janji atau membual dengan kata-kata manis, terkesan cuek tapi dia tahu bahwa keduanya memiliki rasa sayang yang tulus, setidaknya itu yang dia rasakan. Valencia hampir saja membandingkan mereka dengan Dion yang sangat proaktif saat berkomunikasi, banyak kata-kata manis yang terdengar membuat lawan bicara, terutama wanita, akan merasa nyaman dan senang.


"Kita duduk di sini bro.. menyenangkan minum sake bersama daripada di dalam kamar sendirian," Andaro sudah mulai membuka kaleng miliknya, "Val, kau bisa mandi dulu dan bergabung dengan kami tapi tidak untuk minum sake, atau kau mau langsung istirahat.. silahkan," sambung Andaro memberi kebebasan untuk Valencia.


Viktor duduk berhadapan dengan Andaro dan mulai membuka kaleng sake yang sudah dihangatkan terlebih dahulu oleh Andaro. "Apa kau akan tidur di sofa lagi malam ini And? kalian sudah menikah seharusnya tak masalah kalian tidur bersama," kata-kata Viktor menghentikan langkah Valencia untuk masuk dalam kamar.


Tidak ada jawaban dari Andaro, hanya bunyi kaleng kosong yang diremas dan diikuti suara kaleng kedua yang dibuka Andaro.

__ADS_1


"Benar semalam kau tidur di sofa And?" Valencia yang tak sabar menunggu tanggapan Andaro turut bersuara. "Em.. ya Val aku tidur di sofa setelah mengantarkanmu."


Tatapan bingung dan menuntut jawaban lebih dari Valencia membuat Andaro kembali berkata, "Aku hanya tak ingin asal berbagi ranjang tanpa ijin darimu Val, aku pria normal tapi tetap menjunjung etika. Aku tak mau menjadi bajingan yang memanfaatkan kesempatan tanpa ijin darimu." Meskipun sebelumnya mereka pernah tidur bersama, benar-benar hanya tidur bersama, semua itu atas permintaan dan ijin Valencia. Hal kecil yang baru Valencia sadari.


Valencia melangkah mendekati Andaro, dikecupnya pipi sang suami ringan, "Mulai sekarang And, kau tak butuh ijinku untuk menemaniku tidur dan berbagi ranjang bersama."


Adegan singkat yang terjadi di depannya membuat Viktor memutar bola matanya sebal, "Seharusnya kalian tetap memperhatikan etika saat ada jomblo yang mulai frustasi di sini."


Ketiganya tertawa, suasana yang semula tegang menjadi cair. Valencia masuk ke kamar untuk mandi dan beristirahat, bukan untuk menghindari berjalan bersama Andaro memasuki kamar tapi karena tubuhnya sudah terasa lelah seharian berjalan dan menikmati indahnya Kobe.


Sementara di ruang tamu, Viktor masih melanjutkan kaleng sake ke dua nya sedang Andaro sudah berhenti di kaleng ke tiga. "Andaro, sepertinya hati Valencia sudah menjadi milikmu. Tak perlu takut pada bayang-bayang masa lalunya dengan Dion," Andaro terdiam mendengarkan Viktor.


"Kau tak perlu canggung dan terlalu menjunjung etika kesopanan yang rasanya terlalu berlebihan, maksudku bukankah wajar suami istri berbagi kehangatan.. jadi kau harus lebih berani maju untuk dapat mengklaim hati Valencia mutlak hanya ada kamu." Andaro terkekeh mendengarkan petuah kakak iparnya. Terlihat bahwa Viktor bukanlah ahli dalam masalah hati.


Batin Andaro yang tak diungkapkan ke Viktor. Usai membersihkan bungkus kacang dan kaleng kosong di atas meja, Andaro masuk ke kamar, meninggalkan Viktor yang masih memiliki kesempatan melanjutkan minum hingga kaleng kesepuluhnya. Tangan Viktor mulai mengetikkan sesuatu di ponselnya.


📤 Maiko, besok temani aku seharian. Lusa aku akan pulang dan tak rela kemari hanya untuk dihidup dalam Apartemen.


Hanya membutuhkan waktu lima menit untuk jawaban masuk diterima.


📥 Baik Viktor, jam 10.00 aku sampai di apartemen.


Sementara itu, kamar Andaro sudah remang-remang, Valencia sengaja membawa lampu tidurnya karena dia tak bisa tidur dengan kondisi terang atau pun gelap. Di ranjang king size, Valencia sudah bergelung menggunakan dress baju tidur dengan lengan setali, meskipun menutupi tubuhnya dengan selimut, tetapi bahu terbukanya tetap dapat terlihat dan tampak begitu indah dengan temaram redupnya lampu kamar.

__ADS_1


Andaro selesai mandi dan keluar hanya menggunakan boxer dan telanjang dada, dia masih mengeringkan rambut dan memilih baju saat Valencia membuka mata dan samar-samar melihat luka-luka gores pada punggung telanjang Andaro. Yang diamati sadar ada sepasang mata mengikuti pergerakannya.


Setelah diletakkan handuk basah ke dalam toilet, Andaro mendekati sisi kasur yang sudah disiapkan Valencia. Andaro sudah menggunakan atasan berupa kemeja piyama nyaman. Direbahkannya tubuh perlahan agar tak membangunkan Valencia.


"Suami... terimakasih sudah mau menghampiri."


Andaro tercekat mendengar suara Valencia, dipikirnya Valencia mengigau atau mengira dirinya adalah Dion.


Andaro menghadap ke arah istrinya yang juga sudah memposisikan diri tidur berhadapan, di elusnya rambut Valencia perlahan, mata Valencia sudah terpejam, di kecupnya kening selamat malam. "Semoga kau mulai dapat terbiasa kalau suamimu sekarang adalah aku honey, " bisik harap Andaro perlahan tanpa berharap ada yang mendengarkan.


"Aku masih sadar sepenuhnya And, bahwa aku adalah istrimu," mata Valencia terbuka bertemu dengan tatapan Andaro, "aku belum bisa tertidur, aku ingin mendengarkan fakta tentang Dion, bukan untuk mengingatnya tapi untuk bisa membebaskan hatiku dari bayangannya."


Andaro mengangguk, membawa kepala Valencia dalam dekapannya, Andaro mulai menceritakan fakta tentang Dion yang ditemukan oleh detektif sewaannya.


Seperti sedang bercerita dongeng sebelum tidur, Andaro mengungkapkan fakta Dion bertemu kembali dengan cinta pertamanya, menjalin hubungan, dan hidup bersama di Jepang sambil menepuk-nepuk punggung Valencia yang sudah dalam dekapannya. Valencia mendengarkan suara berat Andaro dan samar detak jantung yang memberikan ritme intrumen pengantar tidur, aroma lembut Andaro turut menenangkan panca indranya.


Hati yang harusnya sakit mendengar penghianatan Dion, terasa hambar dan seolah tersisa kepuasan sudah mengetahui penyebab Dion berubah menjadi sangat tega dan tak bercinta kasih terhadapnya. Meninggal dengan overdosis narkoba dan indikasi setiap dana yang di dapatkan Dion dari penggelapan digunakan untuk membeli sebidang ruko untuk pacar dan dirinya tinggal sekaligus secara rutin beli barang haram obat-obatan terlarang.


"Setidaknya itu yang bisa kuceritakan Val, apa kau baik-baik saja?" ucap Andaro sambil melirik wajah di bawahnya.


Valencia semakin merapatkan tubuh ke Andaro, mendekap dada bidang di hadapannya membiarkan setiap pikir dan panca indranya merekam kembali bahwa sekarang Andaro lah suami yang akan menemani hari-harinya.


"Aku sangat baik sayangku dan sepertinya perlahan aku sudah dapat melepaskan dia yang sudah mewarnai masa laluku dan mempersilahkanmu untuk memasuki hatiku."

__ADS_1


Valencia mendongak mengecup dagu bersih Andaro yang habis di cukur. Mereka berdekapan menghabiskan malam bersama berbagi sayang dan kehangatan, sementara hal ini sudah cukup dan sesuai untuk hubungan pengenalan bertahap untuk mereka. Tak ada ketergesaan atau penyerahan terhadap nafsu birahi untuk merebut hati.


__ADS_2