
...Adakah batas waktu untuk memberi waktu pada kesedihan?...
...Bolehkah kita tetap bertahan ditengah keterpurukan dan menjadikannya alasan untuk tidak bergerak untuk melangkah maju ke depan?...
...Akankah kesedihan yang sudah menjelma menjadi keterpurukan akan karma menjadi tato yang melekat berbekas tak terhapuskan?...
...Hidup harus terus berjalan...
...Bahkan terlalu bahagia pun jangan, karena akan membuat kita lengah dan lalai bahwa bumi ini selalu berputar, begitu pula dengan perasaan...
...Jangan terlalu bersedih terlalu lama, karena poros bumi terus bergerak tak dapat menunggu kita yang mengaitkan hati pada kesedihan...
...Saat duka dan kesedihan menjadi bayangan dalam melangkah,...
...entah disadari atau tidak akan mengekang kita pada kondisi statis yang akan menjadi kehancuran...
"Aku memilih untuk bangkit dan memulai kembali segala sesuatu yang sudah terjadi... biar setiap kesedihan, kehilangan menjadi pengalaman, dan pembelajaran."
Valencia menuliskan memo pada tabletnya, self reminder yang sering dia lakukan saat seorang diri.
Tak ingin cepat melupakan bayangan dan rasa genggaman jemari Sakura, tapi tak ada guna juga terus menangisi yang tak mungkin akan hidup kembali.
"Kerelaan, aku akan merelakanmu Sakura sayangku... Ijinkan aku meneruskan kehidupanmu melalui hidupku yang sudah berjalan ini, tak akan aku melupakanmu kecilku.... saat sakura bermekaran, saat itulah aku akan merasakan rindu yang tak terbendung dan berharap kau pun sudah bahagia disana atau bereinkarnasi menjadi segala sesuai yang indah di dekatku."
Andaro mengamati Valencia yang meringkuk di sudut daun jendela sembari menatap keluar jendela dan sesekali menuliskan sesuatu di tabnya.
Rumah yang mereka tempati sudah kembali sunyi. Daddy Hero dan Viktor sudah kembali ke Indonesia.
...💐💐💐...
Wajah masam Viktor masih teringat dan membuatnya terpingkal saat mendengar bahwa iparnya itu sudah tertolak secara telak oleh Maiko.
Tawa pertama hari itu setelah minggu suram melepas kepergian Sakura. Apakah mungkin ada semacam barter perasaan ataukah memang sudah manusiawi untuk bahagia di atas penderitaan orang lain, Viktor yang menatap Andaro dan Valencia seolah terhibur dengan cerita putus cintanya membuat hatinya sedikit terhibur meskipun seharusnya dia marah karena sepasang suami istri yang habis berduka justru menertawakan cintanya yang tertolak.
Daddy Hero hanya dapat menambahkan bumbu agar tawa Andaro dan Valencia sedikit bertahan lama, "Dasar kau Viktor, apa kau tak bisa sedikit saya mencontoh pesonaku?"
Valencia dan Andaro seperti mendapatkan hiburan dari keduanya yang berselisih paham, pertengkaran ayah dan anak yang tanpa disadari dilakukan demi membuat penonton mereka terhibur.
Daddy Hero mendekati Valencia dan memeluknya, "Terimakasih sudah dapat tersenyum lagi anakku, kau harus tetap tegar dan melanjutkan hidup dengan suami tercintamu. Berkunjunglah ke rumah saat kau bosan dan ingin berlibur.. atau kalau suamimu buat ulah.. jangan takut kau harus segera menghubungiku.. hm... you're my little girl and always be like that to me... "
Viktor melihat kasih Daddy yang tercurah limpah pada adik satu-satunya, mendekati Andaro dan berbisik, "Konon katanya bagi anak perempuannya her daddy is her first love.. jadi siap-siap saja selalu ada di bawah bayang-bayang first love Valencia yang sesungguhnya... "
Melihat wajah Andaro yang memberengut, Viktor kembali merasakan posisi di atas angin dan memang sangat menyenangkan bisa menertawakan orang lain... meskipun dalam kondisi umum terhadap orang lain tentunya itu bukan hal yang etis dan patut di lestarikan.
Koper - koper yang akan dibawa Daddy Hero dan Viktor sudah di masukkan ke dalam mobil, pamitan yang akan membawa kerinduan untuk ingin segera bertemu kembali diujung haru.
Viktor yang beres meminta sopir untuk menunggu menghampiri Andaro, "Jaga adikku...kau tahu..dia sangat berharga bagiku dan Daddy,"
__ADS_1
Yang diajak bicara hanya dapat mengangguk dan menepuk pundak Viktor. "Jangan biarkan rasa bersalah terus menghancurkanmu Andaro."
Perkataan Viktor menarik perhatian Valencia, "Apa maksudmu Viktor?"
Andaro dan Viktor saling berpandangan memutuskan apakah sudah waktunya Valencia mengetahui hal yang baru saja terungkap.
Suara bariton memecahkan keheningan, merasa paham arah kalimat Viktor tertuju, "Bukan Andaro yang bersalah akan kematian Dion... Daddy lah yang menantangnya untuk melakukan siasat jahat itu...jadi..kalau ini karma..."
Belum selesai Daddy Hero berbicara, Viktor segera memutus kata-kata Daddy Hero yang melantur dan semakin tidak tepat.
"Hentikanlah Dad... ada kenyataan yang semalam terungkap. Saat aku dan Maiko.... ah kenapa menyebut namanya terasa menyakitkan... ehm... intinya...dia mendengar saat semalam di cafe dan menungguku...oh my God..aku teringat penolakan itu... aaahhh And...baiknya kau saja yang jelaskan."
Andaro berjalan mendekati Valencia,
"Honey... aku merasa kepergian Sakura karena karma ku merencanakan kematian Dion... tapi ternyata...orang suruhanku belum sempat melakukan rencana busuk kami karena Dion yang sudah membuka pintu kematiannya sendiri. Dion meninggal akibat overdosis tanpa campur tanganku ataupun Daddy Hero."
Mereka berpelukan, seolah beban dan rasa bersalah yang sempat tertanam tiba-tiba tercabut.
Mungkin kepergian Sakura juga yang terbaik untuk mereka, setidaknya sudah saatnya mereka lepas dari bayang-bayang masa lalu yang berhubungan dengan Dion. Mengubur Dion dengan rasa maaf, dan merelakan Sakura dengan rasa sayang.
"Aduh," Teriak Viktor yang mendapatkan toyoran tangan di kepalanya dari Daddy Hero.
"Kenapa semalam tak langsung kau ceritakan padaku???? info ini lebih penting dibandingkan cerita sedih tertolaknya cintamu!!!"
Tak ada kata alasan terucap, ke empatnya tertawa dan melihat Harumi berlari masuk menyampaikan driver meminta segera berangkat karena ada info kemacetan di arah bandara.
...💐💐💐...
Kembali pada pemandangan terindah hari ini, sinar cahaya dari luar kaca membuat gerai rambut Valencia menyala, dress yang digunakan terjuntai menutupi kakinya yang menggantung di tepian jendela. Bidadari tersayangnya sudah memulai kehidupan barunya, siap menjalani kehidupan melepaskan diri dari cangkang kesedihan.
Andaro memeluk Valencia, mendekapnya erat. Paksa kepergian Sakura, tanpa disadari ada yang berubah. Kedewasaan Valencia baik dalam emosi maupun berpikir, tubuh Valencia masih terlihat berisi karena produksi kelenjar dan hormonnya secara alami mempersiapkan tubuh untuk masa menyusui. Tangis Valencia susah mengering, lelah dan lemas menghadapi kehilangan ditengah masa nifas yang belum juga usai.
Sudah banyak hal dilewati oleh Valencia, tanpa berucap Andaro pun sudah turut merasakan goncangan batin yang istrinya alami. Pria adalah kepala keluarga dan istri adalah penolong.. Andaro tetap membutuhkan Valencia sebagai penolong yang dapat memperlengkapi setiap kekurangannya.
Meski kepergian Sakura seolah menutup impian Andaro memiliki anak (karena Andaro sempat mengalami gangguan pada organ intimnya), paling tidak Andaro merasa bahwa dapat menghabiskan hidup bersama Valencia sudah merupakan berkah dan kebahagiaan baginya.
"I love you...Aishiteru...Valencia..."
Angin yang terhembus lembut di dekat daun telinga, membuat Valencia meremang dan tengkuknya merasa geli saat Andaro mulai mengecupnya.
"I Do, I love you too my husband...Mr Andaro Kobe..." di dekapnya erat Andaro yang segera menggendong Valencia masuk ke dalam kamarnya. Sudah sekian lama kerinduan ini terendam.
Rasa cinta yang seolah terlalu cepat datang dan beban kesalahan yang mengambing hitamkan waktu dan karma, semua itu sudah terjawab tanpa alasan yang pasti.
Takdir, mungkin itu yang paling dapat menjelaskan kenapa mereka di sini, kenapa mereka dapat bersama dan mencinta, dan bilapun nantinya mereka tetap harus berdua tanpa hadirnya keturunan, itu bukan lah satu soal yang harus menjadi alasan untuk cinta mereka terpisahkan.
"Kalaupun kondisimu tak memungkinkan untuk kita memiliki keturunan, kita masih bisa merawat anak-anak yang terlantar yang ditinggalkan orang tua yang tak bertanggungjawab, And"
__ADS_1
Andaro tak dapat membalas kata-kata Valencia yang penuh dengan ketulusan. Meskipun Andaro tahu bahwa memiliki buah hati dari darah dagingnya akan lebih menyempurnakan kebahagiaan mereka.
...💐💐💐...
...EPILOG...
Kedua pria dewasa memainkan kartu di tangannya. Permainan kartu tak melulu soal judi ataupun hoki tapi juga soal insting dan strategi.
"Jadi Pa... apa kau akan sampaikan pada Andaro?" si anak bertanya sambil mencoba mengamati langkah selanjutnya untuk memenangkan permainan.
"Poker! ... untuk apa ku beritahu dia? toh dia sudah bahagia"
Ingin membenarkan jawaban ayahnya tapi si anak tetap bersikeras karena bukankah kebusukan yang tersimpan akan tercium juga?
"Menurutku Pa, daripada dia dengar dari orang lain dan bertambah runyam."
Mr Kotaro hanya tersenyum tipis, mengambil cerutu dan mulai menyalakannya, "Andaro akan berterimakasih kalau tahu akulah dalang dibalik kematian Dion.. temannya yang brengsek itu"
"Aku masih tak paham... kenapa dia harus berterimakasih? dan meskipun kau kebal hukum tapi yang kau lakukan adalah kejahatan Pa.. "
Ditatapnya anak lelaki calon penerus usahanya, menjadi penakluk wanita ternyata tak membuat cara berpikirnya lebih maju untuk hal selain cara memikat lawan jenis. Mr Kotaro merasa pembelajaran intens dengan menghabiskan waktu bersama akan sangat penting supaya Kaneshiro anaknya dapat mulai belajar pola pikir yang sama.
"Kanekun... kau tak lihat apa yang terjadi pada Andaro sekarang? dia berbahagia dengan wanita baik-baik. Bajingan yang kubunuh terlalu bodoh menghianati sahabatnya dan meninggalkan wanita sebaik itu. Jadi yang kulakukan bukan kebusukan nak... tapi membunuh tikus yang akan mengerat merusak banyak hal berharga... "
Valencia dan Andaro pindah ke Sapporo, mereka memiliki rumah singgah untuk anak-anak. Awalnya mereka ingin mengadopsi anak-anak yang terbuang dan membangun panti asuhan, tapi ternyata perijinan tidak disetujui oleh pemerintah. Jadilah tak putus asa, Valencia melihat kesibukan masyarakat Jepang dan keluhan biaya asisten rumah tangga yang tinggi dan rentan kekerasan terhadap anak.
Seolah mengajukan proposal pada Andaro, Valencia menyidorkan draft pendirian rumah singgah atau daycare penitipan anak yang orang tuanya bekerja. Ide briliant Valencia sangat diterima baik oleh Andaro. Selain mengisi waktu, Valencia juga bisa mulai menjalankan usaha, dan di malam hari tetap dapat menikmati istirahat quality time bersama. Hasrat memiliki anak sudah tersalurkan dengan memiliki banyak anak yang ikut kelas bermain di tempatnya, "Sakura Daycare".
Duduk bersebelahan melihat chanel favorit mereka, lebih kepada drama Korea favorit Valencia yang sudah mempengaruhi kesukaan Andaro, mereka saling berpelukan berbagi rasa lelah, rindu, dan cinta. Sepanjang hari terpisah dengan aktifitas masing-masing, di tengah malam mereka bagai magnet kutub positif dan negatif yang saling tarik menarik tak perpisahan.
"Harimu melelahkan honey? " tanya Andaro sambil membelai rambut dan mengecup puncak kepala Valencia.
Valencia menggeleng dan mengeratkan pelukan pada Andaro, "Hariku selalu menyenangkan And... melihat tingkah lucu anak-anak dan tiap malam dapat memelukmu.. ini sudah sangat membahagiakan bagiku."
Valencia mendongakkan kepala dan mengecup dagu Andaro, "Aishiteru Andarosan... terimakasih sudah mau menikahiku, hai mantan napi yang tampan dan baik hati"
Keduanya tertawa, Andaro menggapai remote TV dan mematikannya, membalas pernyataan Valencia dengan sentuhan dan kecupan membara penuh cinta.
...💐💐💐...
^^^Pernikahan bukan untuk menghasilkan keturunan^^^
^^^Pernikahan adalah janji suci untuk saling mencinta dan berbagi hidup sampai mati^^^
^^^Meskipun kau mantan napi, tapi hati baikmu selalu buatku jatuh hati^^^
^^^I love you Mr. Andaro Kobe^^^
__ADS_1
^^^-Valencia Kobe-^^^