
Sadar ku tak berhak untuk terus memaksamu
Memaksamu mencintaiku sepenuh hati
Aku 'kan berusaha untuk melupakanmu
Tapi terimalah permintaan terakhirku
Genggam tanganku, sayang
Dekat denganku, peluk diriku
Berdiri tegak di depan aku
Cium keningku 'tuk yang terakhir
Ku 'kan menghilang jauh darimu
Tak terlihat sehelai rambut pun
Tapi di mana nanti kau terluka
Cari aku, ku ada untukmu
lagu Lyodra terdengar lirih dari balik pintu kamar Valencia. Merasa kesepian dan serasa insomnia menyeranh Valencia padahal waktu sudah hampir tengah malam.
Sementara Andaro masih menyelesaikan berkas kelengkapan untuk menghadapi kelima pengacara yang harusnya akan menjadi tamu mereka esok. Jika ditanya apakah persiapan sudah matang, dapat dipastikan jawabannya adalah tidak. Karena sejauh yang Andaro lihat semua manipulasi dan akun bodong peminjam sudah diatur oleh Dion dengan sangat rapi. Siang tadi anak buah Andaro menemukan bahwa semua dana yang didapatkan oleh investor diterima oleh nama - nama akun namun semua tak bertahan lama untuk berlabuh ke satu penerima Dion Tanuwijaya. Tak Heran saat ini Dion dapat berkelana mengingat saldo rekening gendut yang sudah dimilikinya.
Masih tak habis pikir, kenapa harga diri, materi dapat membuat seorang Dion yang Bucin menjadi dingin dan tega menyakiti yang terkasih, Valencia. Kalau upaya damai tidak dapat dilakukan maka yang akan menggantikan Dion masuk dalam jeruji besi adalah Valencia. .
Tanpa sepengetahuan Valencia, Andaro menerima pesan dari Daddy Hero dan Viktor dengan pesan sama. Mereka berdua mengkhawatirkan Valencia sekaligus ragu bahwa Andaro dapat menyelesaikan masalah ini tanpa menyakiti Valencia.
"Valencia tidak baik-baik saja" setidaknya itulah yang dirasakan oleh Andaro, Daddy Hero dan Viktor. Sikap kuat dan teguhnya bagaikan cangkang telur yang hendak melindungi kerapuhan hati terdalamnya. Tak akan mudah untuk seorang wanita seperti Valencia berubah menjadi kuat tegar dalam waktu kurang dari tiga hari. Semua terlalu mendadak, meski dua bulan tak berjumpa dengan Dion tapi penipuan yang dilakukan masih menjadi kejutan tak terkira.
Andaro meregangkan tubuhnya dan merebahkan diri di sofa ruang tamu, bukan karena tidak ada kamar tamu yang untuk dapat menampungnya tapi karena dari ruangan ini dia dapat lebih memastikan bahwa Valencia baik - baik saja dibalik tembok kamarnya.
Lirih terdengar suara sesenggukan, Andaro yang hampir memasuki alam mimpi kembali membuka mata dengan tetap merebahkan badannya. Memastikan suara yang didengarnya berasal dari luar rumah atau kamar Valencia. Suara yang sempat terhenti kembali terdengar dengan isak yang lebih intens terdengar. Sempat ragu untuk mendekati kamar Valencia. Tangisan bukanlah hal yang buruk untuk dapat melegakan hati tapi tangis yang berlebihan dan tanpa penopang beresiko merusak gambar diri dan emosi.
Knok...knok....
"Val... are you okey?"
__ADS_1
Masih tidak terdengar jawaban hanya isak tangis yang semakin menggebu. Tak yakin namun Andaro mencoba mengecek gerendel pintu apakah dapat dibuka.
Cekreeeek...
Di atas kasur yang masih rapi tak nampak Valencia. Lampu tidur yang sudah menyala membuat kamar semakin remang dan mata Andaro harus menyesuaikan agar dapat melihat dimana Valencia.
"Permisi Val... maaf aku masuk, apa kamu baik - baik saja??"
Terlihat samar Valencia duduk di sudut kamar dekat dengan nakas, memeluk lutut dengan kepala tertunduk, rambut panjangnya terurai menutupi lengan telanjang yang memeluk kaki jenjang terbalut celana satin tipis.
Andaro mendekati dengan perlahan dan berjongkok di depan Valencia. Diamatinya tubuh wanita di hadapannya nampak rapuh dan sesekali bergetar karena isak tangis. Andaro menahan tangannya untuk tidak terulur merengkuh dan mendekap meredam kesedihan dan memberikan kekuatan.
"Val... kalau memang terasa berat, lepaskan saja... jangan tahan tangismu. Menangis bukan hal yang memalukan kalau memang ada alasan wajar dibaliknya."
Isak tangis Valencia tidak terhenti namun dekapan pada kakinya semakin kuat dan seketika tangisnya meledak....
"Huaaaa... dia jahaaaat...jahaat....hiks..hiks...tegaaaaaa"
Tak dapat ditahan lg, Andaro menarih tubuh Valencia dan terjatuh dalam pelukan Andaro. Sejenak Valencia terkaget akan kehangatan yang diarasakan. Namun kembali teringat Dion membuat tangis kembali mengalir di dalam pelukan Andaro. Baju Andaro sudah menjadi tadah airmata yang mengalir. Keduanya duduk di lantai entah untuk berapa lama dengan posisi berpelukan. Andaro dengan diam mendekap dan mendengarkan tiap isak tangisan Valencia dengan sesekali membelai puncak kepala Valencia berusaha memberikan ketenangan dan ketegaran.
Lelah menangis, Valencia masih bertahan di dalam dekapan Andaro.. teman lama yang baru saja ditemui. Meski awalnya canggung karena baru kali ini mereka berdua tanpa Dion namun tak disangka kurang dari 24 jam sudah saling berbagi beban lewat pelukan.
"Sssst... sudah Val, cukup kau tangisi Dion. Tangisan perlu tapi segala sesuatu yang berlebihan tidak baik."
"Aku memang pantas disakiti ya??"
"No Val... kau tak pantas disakiti, hanya orang tolol yang tega melakukannya"
Valencia mengatur napas dan mengusap sisa air matanya. Andaro manangkap dagu Valencia dan berusaha menatap mata indah yang sudah bengkak itu dalam remangan cahaya.
"Kamu sangat layak dan pantas disayangi, dilindungi, dicintai. Ingatlah Val, kamu masih punya Daddy Hero, Viktor yang ada untukmu dan aku pun di sini jadi jangan merasa ditinggalkan."
Seperti mendapatkan transfer energi, Valencia mengangguk, entah apa yang membuat perutnya terasa tergelitik indah dan hatinya berdesir dengan kata - kata Andaro.
"Sekarang ayo bangun bereskan dirimu dan tidur, esok akan menguras energi." Andaro menarik Valencia berdiri dan membuka bedcover untuk menyuruh Valencia masuk ke dalamnya bersiap tidur.
Tepat berdiri dihadapannya, "Andaro.... bajumu basaah..." tanpa rasa bersalah Valencia kaget dengan apa yang dilakukannya...tangannya menyentuk dada Andaro yang sudah terasa lembab karena air matanya.
"Tak apa... yang penting sekarang kau sudah lega dan kau lihat sudah banyak air mata yang sudah kau keluarkan untuk Dion jadi sudah cukup Val untuk merasa lemah dan tercampakkan."
Valencia tak segera merebahkan diri,
__ADS_1
"Aku haus Andaro... aku mau minum.. dan sepertinya kau perlu ganti baju agar tak kena flu."
Andaro mengikuti Valencia keluar kamar sembari melirik baju nya yang sudah basah dan tersenyum. Andaro melangkah ke arah sofa dan membuka koper baju.
"Kenapa kau taruh di sana Andaro?? dan apa itu bantal di sofa? jangan tidur d ruang tamu, masuklah ke kamar sebrang.. biarpun jangan dipakai tapi aku jamin bersih."
Andaro membuka baju dan mengganti dengan yang kering, nampak otot bisep, trisep terbentuk namun tak berlebihan dengan dada bidang dan perut yang terletak seperti adonan tahu keluar dari cetakan pemotong... Tanpa maksud menggoda tapi Valencia yang melihat tidak mungkin bisa munafik bahwa itu indah.
aaaaaaakkkkk...
Mengagetkan Valencia menjerit dan berjingkat ke atas meja dapur... Andaro yang sudah selesai memakai baju kering mengernyit bingung.. karena dikira itu adalah reaksi menakutkan melihat pria lain ganti baju.
"Semenakutkan itukah aku Val?? haha.. "
Valencia menggeleng dan wajahnya memucat.
"Ini minum dulu.. tarik napas, dan katakan apa yang membuatmu pucat pasi seperti ini?"
Valencia bergidik dan menunjuk ke arah kamarnya,
"Spider.... grrrr... aaah.. itu masuk kamarku."
Tak mungkin malam ini heboh cari seekor spider dan tak perlu berteriak se mengagetkan itu, pikir Andaro.
"Tolong tutup pintu kamarku, Andaro.. jangan sampai dia keluar... besok aku akan panggil pest control... "
Andaro menuruti dan masih heran dengan wanita dihadapannya yang nampak jijik ketakutan dan bergidik. Rasa ngantuknya menyurutkan sifat sabar Andaro.
"Aku tak paham Val... kenapa kau begini?? sudah turun dari sana.. pintu kamarmu sudah kututup."
"Arachnophobia.. ", Valencia berjalan menuju sofa dan tenggelam dalam selimut. Merebahkan diri tanpa berpikir siapa berniat yang menata singgasana sofa ini."
Masih merasa takjub dengan perubahan atmosfer rumah dari sendu, kaget, menjadi sunyi acuh.
"Aku tidur di sini Andaro. Kau menurut pada tuan rumah... tidurlah di kamar tamu.. goodnight.. aku benar-benar lelah... aaahhh ternyata sofa ini nyaman sekali.. padahal Dion beli saat diskon... "
Andaro tertawa kecil mendengar ocehan Valencia... Di bukanya kamar tamu dan mengambil bantal satu lagi, di tata nya peraduan pada sisi sofa lainnya. Valencia sepertinya sudah terbang dengan awan kinton ke negeri awan...
Dari tempatnya meletakkan kepala, Andaro dapat melihat Valencia....
"Goodnight girl .. sleep tight... I will keep you save... "
__ADS_1