
Suara lagu jingle tukang roti yang menjajakan dagangannya dengan sepeda sayup terdengar pagi itu.
07.00 WIB, di luar rumah aktifitas jalan sudah mulai ramai. Mobil dan motor penghuni perumahan mulai bersliweran seakan berebut memulai rute hari dan berlomba dengan matahari.
Tak cuma tukang roti yang terasa olahraga pagi sambil mengayuh sepeda mencari rizki Ilahi, demi sesuap nasi beserta lauk dan juga memenuhi kebutuhan keluarga. Sesuap nasi sudah tidak begitu berarti saat ini karena kebutuhan kuota sudah lebih mendominasi.
Sesekali penjaja roti menerima panggilan dari ponselnya dengan tetap bersepeda dia menjawab panggilan, "Ya Bu Qoni.. siaaap saya sudah perjalanan ke sana Bu... ini drop penanan neng Valencia dulu ya Bu..... oh ya siap Bu..ditunggu ya Bu."
Tukang roti turun dari sepeda dan mengambil salah satu dari banyak bungkusan di keranjang belakang, setiap plastik sudah diberi label supaya tidak tertukar. Untuk Valencia ada tambahan khusus, minta dibelikan susu segar hari ini dan cukup meletakkan pesanan di kursi teras.
Pak Roni, nama penjaja roti sudah cukup kenal Valencia sejak 2 tahun lalu awal Valencia dan Dion menempati rumah. Masalah yang kini dihadapi Valencia juga Pak Roni turut bersimpati karena beliau tau betapa baiknya Valencia terlebih Laksmi keponakannya sempat kerja disana, setidaknya hingga dua hari lalu.
"Semoga masalah non Valen cepat selesai.. heran sama suaminya kok kesambet.. istri cantik baik kok di tinggal.. " Pak Roni tanpa sadar melakukan keramahan pada pelanggan dengan berbagi empati cerita Valencia ke tetangga sekitar.
"Owalah Pak.. ternyata gitu to... tapi kemarin ada mobil mewah dua yang parkir di luar... Laki-laki smua Pak kemarin tamunya... apa si Neng di sekap ya Pak?? duh serem."
"Ndak Bu Qoni, itu dua mobil punya bapak sama Mas nya Mbak Valen... saya tau soalnya kan dulu suami pernah kerja sama mereka... baik sih tapi nak wes keno masalah itu bapak e Mbak Valen gualaaaak e poool... " sambung Ibu berdaster dengan rol rambut di atasnya tak mau ketinggalan bermonolog.. "cuma yang ada Aden bagus satu lagi saya ndak tau siapa, turun dari mobil Mbak Valen... sssstttt kayanya nginep sini juga"
Pak Roni yang mendengar berita fresh from the oven of bibir ibu-ibu komplek hanya nyengir dan berencana tanya lebih lanjut ke ponakannya Laksmi barangkali ada kabar lain. Mengingat waktu kejar setoran dan antar pesanan, Pak Roni bagai wasit yang neniup peluit tanda pertandingan usai... "Udah Bu Ibu, ngobrol nya sambil diborong mangga ini rotinya, kalau sudah saya musti lanjut ke kompleks sebelah... "
Di dalam rumah Valencia, kesunyian masih menyergap seolah kebisingan di luar terhambat kekuatan tak kasad mata. Cahaya matahari sudah mengetok masuk tapi masih tak mampu terhalang gorden warna yang tertutup tanpa celah. Ruang tamu yang terasa sejuk turut berkolaborasi menina bobok kan dua manusia yang kelelahan karena drama tengah malam penuh tangis dan iklan serangga Laba-laba.
__ADS_1
Smart watch Andaro bergetar tanda panggilan telepon masuk di mode senyap. Getaran itu menjadi alarm yang menyadarkan Andaro hari sudah pagi, diliriknya sinar matahari yang mulai berhasil mengintip dibalik celah bawah pintu.
Andaro duduk dari pembaringannya, melakukan peregangan tubuh dan leher lalu menatap wajah tenang di depannya yang masih tertidur pulas. Bulu mata lentik, pipi berisi dengan lesung pipit manis, mata lebar berbinar yang sedang terpejam tenang, tak dapat dibohongi bahwa paket kecantikan Valencia lengkap ditambah sepertinya kepribadiannya juga menawan.
Hati Andaro mulai tergelitik, ada rasa ingin melindungi yang begitu dalam tapi terganti dengan rasa ingin memiliki setelah momen basah yang mereka alami semalam. Basah karena air mata Valencia tumpah di dada nya, menumbuhkan rasa baru bagi Andaro, lebih dari sekedar kepedulian terhadap teman tapi melihat Valencia sebagai wanita yang memang tepat mendapatkan cinta perhatian dan perlindungan.
Tanpa membangunkan Valencia yang nampak masih lelap, Andaro melangkah masuk ke kamar tamu dan mulai mandi. Keluar dari kamar ternyata Valencia belum menunjukkan pergerakan. Andaro melangkah ke dapur, melakukan pencarian bahan makanan yang mungkin dapat di olah tapi hasilnya nihil.. bahkan telor saja tidak ada di sana. Kulkas hanya terisi snack, biskuit, coklat, dan acar bawang putih.
Menyerah tak bisa menyiapkan sarapan, Andaro melangkah menuju ke coffee maker dan mulai menyiapkan seduhan untuk kopi jenis robusta yang tersedia di samping teh dan gula.
Bau harum kopi mengisi ruangan dan seperti mengisi caffein dalam indra penciuman Valencia.
Setelah melakukan peregangan mengerjapkan mata, baru Valencia ingat bahwa saat ini ada tamu di rumahnya. Tergesa dia duduk dan melihat Andaro sedang dibalik meja dapur.
"Hehe iya sudah dua bulan ini aku tak pernah masak, tinggal sendiri lebih praktis beli makan di luar. Ow ya hari ini aku tak mau kopi dan sebentar aku siapkan sarapan."
Bukan melangkah menuju dapur sesuai dengan penawaran membuat sarapan tapi Valencia malah melangkah menuju pintu luar.. dibukanya pintu luar dan korden, matahari terasa bersorak hangat dan berbondong-bondong memasukkan sinarnya.
Andaro menikmati hangatnya matahari sambil mengecek ponsel dan menyesap kopi yang sudah siap dinikmati.
"Taraaa... ", sapa Valencia penuh kemenangan memasuki rumah dengan tentengan tas isi susu dan roti.
__ADS_1
Andaro yang sedang serius menerima report dari Jepang teralih dan tanpa sadar tertawa.
"Lucu? atau senang akhirnya kopi mu memiliki teman untuk dinikmati?? "
"haha bukan, tapi aku senang melihatmu girang dengan bungkusan kantong roti, rambut berantakan, piyama yang kusut... rasanya seperti melihat anak kecil bahagia dapat permen... "
"Hissss.. Andarosan kau kelewatan...", Valencia pura-pura marah dan mau masuk ke kamarnya untuk gosok gigi dan berbenah tapi teringat masih ada si Laba-laba jelek yang bersembunyi di dalam.
Valencia yang berdiam diri di depan pintu memancung rasa penasaran Andaro..
"Kenapa Val?"
"Mau gosok gigi, tapi masih ada Laba-laba", entah kenapa kesedihan dan ketakutan Valencia justru terdengar menggemaskan untuk Andaro.
Andaro mendorong tubuh Valencia, berputar dan masuk kamar tamu, sana mandi dan gosok gigi di dalam.. ku lihat masih ada sikat gigi baru bisa dipakai, aku sudah bawa sendiri.
Selagi Valencia berbenah di kamar mandi, Andaro membuka kantong roti yang ternyata berisi susu segar rasa coklat setengah liter, sangat mengenyangkan untuk sarapan gadis seperti Valencia.
10.00 WIB Pengacara dari klien Dion seharusnya hadir tapi ternyata Valencia dan Andaro yang sudah sangat siap dengan materi penyambutan harus menunggu lebih dari 30menit.
Lima orang pengacara kembali hadir dan di sambut di ruang kerja kantor Dion. Kelimanya masih terlihat tenang dan lebih merasa diterima dengan hidangan roti dan kopi yang sudah ada di meja.
__ADS_1
"Silahkan duduk dan kita bicarakan dengan santai, saya Andaro rekan Ibu Valencia yang akan mewakili Bp Dion untuk menyelesaikan masalah bapak-bapak semua."
Andaro menjabat tangan satu persatu pengacara. Profile mereka sudah Andaro pelajari tadi pagi. Tak sia-sia dia memiliki beberapa unit usaha dan salah satunya securitas yang memiliki akses confidential yang terkadang dimanfaatkan untuk informasi kepentingan pribadi Andaro yang dirasa tidak merugikan orang lain...