Dinikahi Mantan Napi

Dinikahi Mantan Napi
Be Mine


__ADS_3

Peringatan terakhir dari Amanda terus terngiang di telinga Andaro, tak dapat terbayangkan jika dia harus kehilangan Valencia dan janin yang sudah berhasil memiliki hatinya. Geram tak dapat dihindarkan karena merasa semua pusara kejahatan Amanda bermula dari kejahatan yang dia lakukan.


Dinginnya angin malam tak berhasil meredam panas yang sudah mendidih di kepala Andaro, jalanan gelap yang semula asing mulai dapat dia kenali, lahan terbengkalai yang mulai ditumbuhi ilalang tak jauh dari rumahnya tinggal, pedal gas diinjak tanpa ampun dan lupakan rem karena waktu tidak dapat mentoleransi keadaan dan detik tak dapat berhenti untuk berdetak.


Tiba di depan pintu rumahnya, Andaro segera masuk dengan hentakan kuat menggebu berharap dia tidak terlambat , keringat berkucuran bukan karena lelah tapi kekawatiran.


Ruangan di depannya tampak gelap dan bau anyir darah sudah tercium. Andaro mengitari setiap ruang di dalam rumah dengan kalut, suaranya meneriakkan nama Amanda dan Valencia, gemuruh di dada terasa akan meledak kuat.


"Amandaaa... keluaar...!!!"


Langkah Andaro terhenti, terlihat Valencia sudah terkapar di lantai dengan lengan dan kaki penuh dengan luka, matanya terpejam dan entah dari mana darah mengalir bagai mengitari tubuh Valencia.


"Honey...sayangku...." Andaro mendekati tubuh Valencia dan bersimpuh di sampinynya, mengangkat punggung dan meletakkan kepala Valencia dipangkuannya. Rambut Valencia terasa basah dan lengket.


"Astaga.... Ayo kita ke rumah sakit... kepalamu terluka."


Tak ada jawaban dari Valencia, hanya menggeleng perlahan, mulutnya terbuka namun tak ada suara yang keluar, hanya air mata yang nampak mengalir dari ujung mata sebelum akhirnya terkulai tak berdaya.


"Valenciaaaaaaa.....", Teriakan suara Andaro menggema memenuhi ruangan... tangisnya terpecah dan dipeluknya tubuh yang sudah tak bernyawa dengan sangat erat. Tak kuasa dia harus meninggalkan wanita yang sudah memiliki sepenuh hatinya. Terasa perih dan panas di dada dan pipinya. Tubuh Andaro terguncang, bergetar.


Bagai tak dapat menguasai diri lagi, Andaro tergeletak di samping Valencia. Dengan penuh peluh dan napas yang menderu. Valencia terduduk dan membangunkan Andaro yang sedari tadi sudah terasa gelisah dalam tidurnya.


"And... And... bangun lah sayang..." saat suaranya seperti tak dapat terdengar oleh Andaro, Valencia menepuk ringan pipi dan menggoncang bahu Andaro. Ternyata masih tak ada reaksi.


"And...kau bermimpi...bangunlah, aku di sini," bisik Valencia tepat pada telinga Andaro sembari memeluk Andaro erat.

__ADS_1


Tubuh Andaro bereaksi, tangannya mendekap tubuh Valencia erat, "Jangan pergi... jangan pernah tinggalkan aku, kumohon..."


"Sssttt... kau bermimpi sayang, aku di sini."


Valencia mengusap wajah Andaro yang masih setengah terpejam dan penuh dengan keringat dingin. Di kecupnya bibir Andaro singkat dan dilihatnya mata Andaro terbuka, seperti kisah pangeran yang berhasil membangunkan putri tidur ternyata kecupan singkat Valencia dapat membangunkan Andaro dari mimpi buruknya.


Dekapan Andaro semakin erat, dia sembunyikan kepalanya di lekuk leher Valencia merasakan kehangatan dan keberadaan istri tercintanya.


"I love you Valencia Davidzon... I love you with all of my soul..." kecupan-kecupan ringan di arahkan ke leher Valencia.


"I love you too my husband Andaro Kobe... I'll try my best to loving you till the end of my life," jawaban Valencia sambil menyisir rambut dan menepuk punggung Andaro berusaha menenangkan. Tubuh berisi yang memeluknya terasa panas, Valencia berniat memberikan air untuk menenangkan dan barangkali dapat mengembalikan suhu Andaro.


"Aku ambilkan air dulu ya sayang, sepertinya bunga tidur yang buruk baru saja menghampirimu," Andaro mencegah Valencia beranjak lepas dari pelukannya terasa tak ingin terpisah jarak dan ingin meyakinkan kesadarannya bahwa bayangan buruk tadi adalah benar mimpi bukan kenyataan. Bahwa Valencia masih ada di dekatnya untuk dapat dilindungi dan dicintai.


"Aku lebih membutuhkanmu honey, biarkan seperti ini dulu untuk sesaat."


Tak ada kata yang terucap dari keduanya, hanya deru napas Andaro yang perlahan semakin tenang, dan suara kecupan sesekali terdengar saat Andaro mengecup leher Valencia.


"Syukurlah itu hanya mimpi Val, aku tak ingin itu terjadi... " tanpa disadari, jemari Andaro membelai Valencia menelusuri lengan, perut dan sempat menyenggol puncak dada Valencia yang seketika terasa meremang. "Aku akan menjagamu dan anak-anak kita.. tak akan kubiarkan siapapun menyakiti kalian.. " kembali Andaro mengecup lembut leher Valencia dan mendekap erat dengan tangan yang menyentuh tubuh Valencia seolah meyakinkan dirinya bahwa mimpinya sudah usai dan di hadapannya adalah istrinya yang sangat nyata bukan sekedar ilusi.


Merasa tak tahan, akhirnya Valencia membuka suara, "And... apa kau tahu?"


"Hmm??"


Valencia mencoba memilih kata agar tidak terlalu vulgar atau merusak suasana malam ini,

__ADS_1


"yang kau lakukan agak membuatku... mmm... tak nyaman..."


Mendengar bahwa Valencia tak nyaman dengan yang dilakukannya, Andaro melepas pelukan dan menciptakan jarak antara mereka.


"Sorry Val..aku terbawa suasana dan mendekapmu terlalu erat...maaf membuatmu tidak nyaman."


Melihat Andaro kembali menjadi canggung, Valencia menghampur masuk ke dalam dekapan Andaro, mendengarkan suara jantung yang berdentum masih terlalu cepat untuk orang yang seharusnya sudah mendapatkan ketenangan.


"Bukan dekapanmu And... tapi seperti ini," Valencia mengecup leher Andaro di beberapa tempat, membuat Andaro merasakan sesuatu di bawah perutnya bereaksi.


Valencia tersenyum melihat Andaro yang menatapnya dengan sorot menyala penuh cinta dengan senyuman sayangnya.


"Bukan salahmu And, tapi mungkin karena aku tak terbiasa dengan sentuhanmu yang lebih intim. Mungkin tanpa kita sadari, dekapan dan kedekatan kita sudah cukup dan membuat nyaman satu dengan yang lain.. tapi ternyata, ada hal yang kita lupakan."


Andaro membelai rambut Valencia, berusaha menenangkan dirinya,


"Terimakasih sudah menjelaskan secara tepat Val.. dan aku langsung mengerti apa yang tadi membuatmu tak nyaman... tapi aku sudah berjanji akan melindungi bayi ini, tak akan mengganggunya sampai dia dilahirkan.. "


Valencia tersenyum, "Kau biasa menahannya?" Valencia meniru gerakan yang sebelumnya dia dapatkan dari Andaro, menyusuri lengan, menyentuh sekilas puncak dada, membelai perut Andaro.


Andaro tersenyum iseng, menghelenh dan menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua, "Sangat munafik kalau aku jawab dapat menahannya, ku anggap kau mengijinkan ku membatalkan janjiku ha?"


Anggukan Valencia seperti letusan pistol pada perlombaan lari maraton, sel-sel Andaro merasakan euforia pembebasan dan siap untuk berpesta pora melepaskan setiap belenggu janji yang membatasi.


Terdengar pekik teriak Valencia karena Andaro memulai serangan dengan menyentuh area sensitif istrinya dilanjutkan mengulum bibir penuh Valencia dan berlanjut pada serangan - serangan intim yang selama ini sudah mereka tahan untuk dilakukan setelah bayi mereka lahir.

__ADS_1


Ternyata bertahan dengan tetap berdekatan dengan godaan sangat tidak mudah. Malam ini, mereka mengawali hubungan suami istri yang sebenarnya, dengan keterbukaan dan saling memiliki, saling mengisi, dan merasakan satu dengan yang lain. Tidak ada lagi jarak dan penghalang karena semua terasa transparan dan bersatu bagai melebur dalam adonan dengan cream lembut segar manis penuh cinta.


__ADS_2