
Perkataan Maiko tentang perlunya berdamai dengan masa lalu membuat Andaro mengingat hal yang masih belum terselesaikan.
Andaro menatap Valencia yang tidur dengan nyenyak di dalam pelukannya, perut buncit mulai membatasi jarak kedekatan mereka, sesekali Andaro membelai perut Valencia yang menurutnya sangat indah dan sebuah keajaiban Tuhan.
"Bagaimana bisa perut seramping itu bisa sangat elastis dan tak terasa sudah sebesar ini. Masih menunggu tiga bulan lagi tapi rasanya sudah tak sabar ada suara kecil yang memanggilku daddy, " Andaro bermonolog dengan dirinya sendiri.
Sejenak ada ketakutan dalam dirinya. Bagaimana kalau Valencia tahu bahwa Andaro juga turut serta menjadi penyebab meninggalnya Dion? Sempat Andaro menyesali perbuatannya yang mengutus anak buah papa Kobe untuk mengeksekusi Dion. Tapi di sisi lain Andaro sangat benci dengan kelakuan Dion yang meninggalkan Valencia demi cinta pertamanya, Amanda. Belum lagi ujian dari Daddy Hero, yang tak akan membiarkan Andaro memiliki Valencia sebelum pembereskan Dion.
"Bukankan Dion juga akan meninggal meskipun bukan aku yang melakukannya??? ah tetap saja aku merasa dihantui rasa bersalah dan seolah sudah menipu Valencia. Aku harus segera berikan pengakuan jujur pada Valencia... tak akan kubiarkan kematian Dion menjadi tembikar pecah yang mengganggu kehidupan rumah tangga ku dengan Valencia.... "
"Semoga saja dengan kejujuran yang akan ku ungkapkan, dapat menjadi penyelesai masalah yang memperindah kerusakan yang terjadi.... semoga terselesaikan dengan indah... " harap Dion dalam hati.
Esok paginya Andaro dan Valencia sudah siap untuk menjemput Viktor. Mereka bertiga akan mengajak Viktor ke Rinku premium outlet di Osaka. Bukan sekedar berbelanja tapi Andaro teringat di bagian belakang Rinku terdapat hamparan laut dengan pasir putih yang indah untuk sekedar bersantai menyegarkan mata dari kotoran blue ray gadget. Di sana, Andaro bertekat akan mengakui serpihan kejujuran yang sempat disembunyikan prihal kematian Dion.
Tak butuh waktu lama perjalanan dari rumah Andaro ke apartemen Maiko. Sesampainya disana Maiko sudah pergi, tersisa Viktor yang sudah menunggu. "Kalian mau masuk atau kita berangkat sekarang?"
Valencia tersenyum melihat Viktor seolah pemilik apartemen Maiko, "Kau sangat menjiwai sekali seperti suami yang ditinggal istrinya bekerja."
Viktor yang sebal mendengar celetukan asal segera menjitak kepala Valencia yang menyebabkan tangannya ditangkis dan mendapat gertakan dari Andaro, "Jangan berlaku kasar seperti itu pada Valencia, Viktor... kau akan menyakiti nya! "
Viktor memutar bola matanya dan tersenyum sinis, "Dasar suami posesif!! kau tak tahu.. jitakan itu adalah simbol rasa sayang... tanyakan saja pada Valencia selama dia menikah dengan Dion, pasti dia rindu jitakanku.. "
Kalimat Viktor mendapat penolakan tajam dari Valencia yang segera menggeleng dan berlalu pergi meninggalkan Andaro dan Viktor.
"Bro... aku mau bicara sebentar denganmu, " seru Andaro mencegah Viktor berjalan mengikuti Valencia.
"Hari ini, aku ingin sampaikan kenyataan tentang kematian Dion pada Valencia."
Viktor mengernyit tak setuju, "Kau mabok atau bodoh??? tak usah kau singgung soal kematian Dion. Aku rasa Valencia sudah bisa menerimamu sebagai suaminya dan menganggap Dion hanya masa lalu. Menceritakan kenyataan kau ada di balikaa penyebab kematian Dion akan memperburuk keadaan sekarang."
Andaro berpikir sejenak, "tapi ini seperti bom waktu, aku seolah mengkhianati hubungan dengan tidak jujur pada Valencia."
"Hmmmm.. terserah kau saja Andaro.. kalau memang itu keputusanmu, aku akan undur kepulanganku ke Indonesia, aku khawatir pada kemungkinan yang terjadi setelah pengungkapanmu"
Ponsel Andaro berdering.
📞 And.. masih lamakah kau dan Viktor di atas?? kalian tega membiarkanku di bawah menunggu kalian.
Valencia menutup pembicaraan.
__ADS_1
"Ayo cepat kita turun, wanita tersayang kita sudah menunggu," ajak Andaro pada Viktor.
"Kau membuat rencana belanjaku menjadi tak fokus karena memikirkan tentang kalian!"
Andaro tertawa dan setibanya di bawah segera membukakan pintu untuk Valencia. Mereka berkendara ke Rinku melewati jalanan bebas hambatan.
"Kau sudah memikirkan barang apa yang kau akan beli honey?" tanya Andaro yang melihat semangat belanja sudah terpancar di wajah Valencia.
Mata Valencia berbinar, "entahlah.. sudah beberapa tahun terakhir jiwa foya-foya ku terpasung, entah aku masih menikmati berbelanja atau tidak."
Kedua pria yang mendengar merasa pandangan yang sana bahwa tak mungkin wanita tak bersemangat belanja dengan black card di tangan. Andaro dan Viktor hanya tersenyum setelah saling melirik dari kaca spion.
"Ah.. sudahlah kalian berdua hanya menggodaku... memberikan aku black card berarti sudah siap membawakan kantong belanjaan aku okeee???" Valencia tertawa senang.
"Tapi ingat Honey, kau tak boleh kecapekan berjalan, hampir trimester akhir riskan kontraksi."
Valencia hanya tersenyum, "Tenang saja And.. black card ini akan meredam kontraksi menjadi mood booster buat mommy n baby nya..."
Di bangku belakang, Viktor hanya terdiam memikirkan kemungkinan reaksi Valencia. Kalau Valencia benar-benar sudah mencintai Andaro seharusnya dia sudah dapat merelakan apapun dibalik alasan kemarian Dion.
Mereka bertiga sampai di Rinku, Viktor berpencar ke area outlet terpisah. Besar dan banyak macam outlet tak bisa ditelusuri bersama supaya apa yang dicari Valencia dan Viktor segera bisa di dapatkan. Andaro tidak fokus pada pencarian, benaknya memikirkan cara penyampaian pada Valencia.
Andaro mengajak Valencia singgah ke coffe shop berlogo Siren, duyung mitologi Yunan dengan dua ekori berwarna hijau.
"Sakura latte, less ice less sugar and coffe latte, " Andaro memesan sementara Valencia sudah mengamil tempat di pojok untuk duduk dan mengatur paper bag belanjaannya.
Andaro kembali membawa pesanan dan Valencia yang wajahnya sumringah tampak makin terkesima menatap cantiknya minuman yang dibawa Andaro
Andaro mulai menarik napas, menata duduknya, melihat Valencia yang mulai mengecap sakura latte di hadapnnya.
"Kenapa menatapku seperti itu And? kau tak menyesal memberikan black card mu padaku kan?" Valencia mengucapkannya dengan senyum penuh kemenangan.
Andaro menggeleng, "Apa yang kumiliki adalah milikmu dan anak-anak kita Cia... dan semoga kau bisa lebih bahagia dengan bersamaku."
"And, bukan materi yang membuatku bahagia bersamamu. Ya... meskipun kuakui hari ini aku sangat senang akhirnya setelah sekian purnama bisa shoping time lagi. Tapi.. meskipun tak bisa belanja pun aku tetap bahagia bersamamu," Valencia meraih pipi Andaro dan ibu jarinya membelai bibir Andaro perlahan.
"terimakasih sudah ada saat aku tak tahu harus kemana, kau sudah jadi penolong dan teman hidupku And... you got me.. my heart is belong to you... "
Andaro terpejam dan menunduk.. diciumnya telapak tangan Valencia dan menggenggam tangannya.
__ADS_1
"Valencia istriku... kau tahu aku tak sempurna, kau sudah menerima mantan napi sepertiku juga menjadi keberuntungan bagiku. Tapi ada hal yang perlu kau tahu, aku tulus mencintaimu dan tetap berharap kita bisa terus menghabiskan hidup bersama... "
Valencia menangkap ada hal yang tidak biasa dari Andaro, "And... apa ada sesuatu yang terjadi?? katakan padaku."
"Maukah kau berjanji tak akan meninggalkan aku Cia?" Valencia menjawab dengan anggukan.
"Kita tak dapat menjalani hidup tanpa menghiraukan masa lalu. Tapi aku tak ingin hidup dibayangi masa lalu dan ketidak jujuran padamu.."
"Apa maksudmu And? kau berselingkuh?" hanya itu yang terpikirkan oleh Valencia, ketakutan ada pengulangan orang ketiga kembali pada pernikahannya.
Andaro menggeleng, "No honey, aku bersumpah dan berusaha tetap setia.. "
"Jadi apa yang membuatmu tampak kawatir?"
Tenggorokan Andaro seolah mengering, di teguknya minuman dan mulai berkata, "Ada hal tentang kematian Dion yang aku belum ceritakan padamu Val... "
Valencia mendengus, dia sudah merasa lelah dan tak ingin nama itu mengganggu hubungannya dan Andaro. Sebenarnya bagi Valencia sudah tak penting lagi tapi melihat kegelisahan Andaro membuatnya penasaran, "maksudmu?"
"Hmmmm... ku akui aku salah Cia... meskipun alasan aku melakukannya karena tak terima dengan perlakuannya terhadapmu dan aku ingin mendapatkanmu, tapi tak seharusnya kulakukan itu."
Debar jantung Valencia seketika meningkat, ada ketakutan mantan napi dihadapannya melakukan pembunuhan dengan tangannya. Valencia masih mencoba diam meskipun arah pembicaraan sudah terbaca.
"aku menyuruh orang untuk menambahkan takaran narkoba yang dikonsumsi Dion. Itulah yang menyebabkan dia over dosis dan meregang nyawa... " Andaro menundukkan wajahnya.
Valencia masih tak dapat berkata-kata. Ditariknya tangan yang masih digenggam Andaro. Dalam batin Valencia bergejolak perasaan tak menentu, "Mantan suamiku terbunuh karena suamiku?" batin Valencia.
Andaro menatap was-was pada Valencia yang terdiam tanpa menatapnya, "Valencia... tampar, pukul, atau marahi aku... jangan diam seperti itu honey."
Valencia beranjak keluar dari cafe, Andaro mengikuti sambil membawa paper bag yang ditinggalkan. Dari kejauhan Viktor melihat sepasang sejoli yang seolah tengah berkonflik.
"Sepertinya Andaro sudah mengungkapkannya," batin Viktor dan berjalan mendekati Andaro.
Andaro melihat Viktor dan mengangguk seolah mengatakan bahwa Valencia sudah mengetahuinya.
Valencia berhenti dan menghadap ke dua pria yang berjalan bagai bodyguard di belakangnya.
"Tunggu di sini, aku mau ke toilet wanita!"
Andaro dan Viktor kompak mengangguk bersamaaan.
Andaro : "Kalau dengan kejujuran ku melukai hatimu, kuharap aku dapat menghiasinya dengan penyesalan untuk selalu membahagiakanmu dan selama aku hidup tak akan kubiarkan kau terluka, sayangku... Valencia"
__ADS_1