Dinikahi Mantan Napi

Dinikahi Mantan Napi
Intimacy


__ADS_3

Seolah malam berlalu begitu cepat, tak ada mimpi yang menghampiri, dan terasa ada hal yang terlewat namun semua tertutupi kehangatan yang nyaman membawa lelap dan kedamaian.


Seolah telah lama Valencia terjaga setiap malam dan setelah sekian malam akhirnya dapat menemukan peraduan yang sangat nyaman. Entah kapan dia mulai tertidur, terakhir yang dia ingat adalah berada di ruang TV bersama dengan Viktor dan Andaro melihat pertandingan olahraga Bulutangkis Tommy Sugiarto dari Indonesia melawan Jepang yang diwakili Kento Momota.


Biasanya Valencia tak akan melewatkan pertandingan bulutangkis apalagi jika ada Viktor yang menemani, adu mulut atau pun teriakan seruan konyol akan bersautan. Tapi entah terlalu lelah karena jetlag paska perjalanan atau kah karena tidak ada Daddy yang turut ramai membuat keributan saat ada bola masuk atau operan smash dari pemain yang menggemaskan, sepertinya ada hal lain yang lebih menarik perhatian Valencia.


Masih meregangkan tubuhnya di atas ranjang bulu angsa yang sangat lembut, berselimut bedcover yang menutup tubuhnya. Valencia melihat ke dalam selimut, badannya masih tertutup piyama model kimono. Valencia masih menguap enggan bangun, berusaha mengingat kapan dia melangkah ke kamar ini dan apakah semalam dia tidur sendirian karena saat ini tidak ada siapapun di sebelahnya yang mengucapkan selamat pagi saat matanya terbuka. Mungkinkah Andaro sudah berangkat kerja dan Valencia terlewat untuk melakukan kewajiban sebagai istri untuk mempersiapkan keperluan suami di pagi hari?


Valencia gemas pada dirinya sendiri, segera dia bangkit dari ranjang dan menuju ke kamar mandi membersihkan tubuhnya dengan segera, beralih ke walk in closet memakai dress rumahan yang sudah di sediakan oleh Andaro dan ternyata sangat sesuai di tubuhnya motif sakura putih di dasar kain berwarna peach.


"Aaahhh apalah aku ini... suami sebaik dan sepengertian Andaro sudah persiapkan smua kebutuhanku sedetail ini, tapi aku malah bangun kesiangan, " omel Valencia pada dirinya sendiri sambil menyisir dan menguncir cepol rambutnya.


Valencia keluar dari kamar dan termenung melihat Andaro sedang berjalan dari dapur membawa dua piring sarapan dan meletakkannya ke atas meja. Ada rasa lega karena Andaro tidak pergi meninggalkannya tanpa pamit. Ada rasa malu lagi-lagi suaminya yang menyiapkan sarapan untuknya.


Andaro melihat Valencia di depan pintu kamar dan tersenyum sambil berjalan menghampiri Valencia,


"Kau sudah bangun honey... ah kau bahkan sudah mandi," Andaro masih mendekapnya dan memberikan morning kiss di dahi Valencia. Tak ada ketergesaan untuk memaksakan pemenuhan hasrat rindu yang menggebu. Rasa cinta sejatinya tak hanya sekedar nafsu birahi tapi yang terpenting bagaimana membuat pasangan merasa nyaman dan menekan ego demi kebaikan bersama. Setidaknya itulah yang Andaro yakini.


"Aku kira kau sudah berangkat bekerja dan aku melewatkan kewajiban untuk persiapkan semua kebutuhanmu di pagi hari. Maaf sudah bangun kesiangan... " sesal Valencia.


Andaro menarik Valencia ke meja makan, menarik kursi untuk Valencia duduk, "Aku tak pernah menuntutmu untuk persiapkan kebutuhanku di pagi hari Val... menjadi seorang istri bukan berarti jadi pembantu untuk suami.. no... kita partner dalam menjalani dan melalui sisa hidup kita bersama. Kalau kau kelelahan aku bisa persiapkan semuanya sendiri, jangan buat hubungan kita tertekan hanya karena kewajiban.. oke??"


Valencia mengangguk. Dia pernah teringat dalam masa lalu kehidupan pernikahannya dengan Dion, Kakak iparnya datang berkunjung dan saat Dion pergi meninggalkan mereka, Laura secara tegas menasihati Valencia,


"Aku tahu kau adalah putri seorang pengusaha yang tak pernah menderita tapi setidaknya belajarlah melayani suamimu paling tidak siapkan dia sarapan, tidak sebaliknya kau enak-enakkan bangun siang dan selalu Dion yang siapkan kau makan."


Kata-kata Laura masih sangat berbekas di telinga Valencia dan itu sudah menjadi pembelajaran baginya. Bagaimanapun Andaro seolah menjadi kesempatan keduanya untuk menjadi istri yang lebih baik.


"And... mungkin aku bukan Chef atau wanita yang bisa menaklukkan dapur, tapi ijinkan aku paling tidak berusaha untuk menyiapkan sarapan untukmu... tolong bangunkan aku saat kamu terbangun di pagi hari... aku ingin saat kau berangkat bekerja, aku dapat mengantarkan mu sampai di depan pintu rumah melambaikan tangan dan menatap punggungmu hingga tak terlihat dari pandanganku lagi."


Andaro tersenyum menatap Valencia penuh makna dan mengelus punggung tangan Valencia seraya menganggukkan kepala, "Buat dirimu nyaman honey.. tiap pagi aku akan membangunkanmu, meski sebenarnya kau yang membuatku bangun lebih dulu."

__ADS_1


Valencia tak begitu menangkap maksud Andaro karena perutnya mulai terasa lapar dan di lihatnya sarapan simple namun penuh gizi dihadapannya.


Beragam varian makanan tersedia dari nato (fermentasi kacang kedelai), nasi putih, makarel oven, kuah miso, omelet telur, dan almond milk. Valencia memulai dengan mengambil nasi putih dan meletakkan nato dengan tambahan kecap ikan lalu mengaduknya dengan sumpit dan mulai menikmati sarapan pertamanya di Jepang.


"Honey, kau tak masalah sarapan dengan nato?"


"Hmmm?? kenapa harus masalah And.. ini enak dan protein tinggi, " jawab Valencia sambil mengambil omelet telur yang tampak menggoda.


"Aku hanya kawatir kehamilan membuatmu sensitif terhadap makanan."


"Sepertinya anak kita pintar beradaptasi And, tak pernah aku merasa mual atau ngidam makanan tertentu."


"Ya...anak kita pandai Val..tapi apa itu Ngidam?"


"Ya di Indonesia Ibu hamil di percaya memiliki saat ngidam... keinginan melakukan sesuatu atau makan sesuatu yang harus dipenuhi kalau tidak nanti saat lahir mitosnya anak akan berliur."


"Hmmm, aku baru tahu istilah itu, di sini tak ada bahasan soal ngidam."


"Anggap saja kebudayaanku membantu wanita memiliki alasan untuk dapat meminta sesuatu atau dimanjakan saat menjadi calon Ibu."


Valencia berpikir, "Sepertinya aku memang mengalami ngidam And... tapi sudah terpenuhi tanpa sadar."


"Hm? apa itu?" tanya Andaro penasaran sambil memasukkan potongan makarel ke mulutnya dan mengambil potongan besar diletakkan di atas piring Valencia.


"Spertinya aku inginkan kehangatan dan dekapanmu itulah yang sangat ku butuhkan."


Valencia tersipu untuk jujur, berbeda dengan Andaro yang sangat senang mendengarnya, ditangkapnya jemari Valencia dan mengecupnya, "Tak akan bosan kulakukan honey, meski anak kita sudah lahir nanti."


Usai sarapan Valencia membereskan meja makan dan membawanya ke mesin cuci piring. Andaro sudah masuk ke kamar setelah berkata bahwa tak perlu dibereskan karena tiap hari akan ada asisten rumah tangga yang datang. Tapi Valencia sudah bertekad untuk dapat melakukan perubahan setidaknya selagi mampu dia akan melakukan kewajiban rumah tangga seorang wanita.


Andaro keluar dari kamar dengan menggunakan

__ADS_1


kaos hijau army dengan jaket jeans, topi, dan kacamata. Bukan tampilan yang diharapkan Valencia akan dilihat bagi seseorang yang akan berangkat bekerja.


"And.. apa kau selalu seperti ini saat akan ke kantor?? tampilanmu lebih seperti bujang yang siap memikat gadis." ucap Valencia dengan nada cemburu tersirat.


Andaro tergelak tawa, "Hari ini aku tak ke kantor sayang... dan ya aku ingin memikat wanita... kau.. aku mau memikatmu sambil kita city tour mengitari Kobe."


Andaro mengerlingkan matanya dan mengarahkan Valencia ke walk in closet untuk berganti baju couple yang sudah di siapkan Andaro.


Valencia masih tertawa tak percaya melihat detail yang disiapkan Andaro. Gemas melihat istrinya tak segera bergerak, Andaro menarik Valencia ke pelukannya dan menarik resleting dress pada bagian punggung Valencia.


Valencia terkaget dengan tindakan Andaro segera memisahkan jarak dan menatap Andaro dengan mengangkat satu alisnya.


"Aku membantumu berganti baju," jawaban singkat Andaro dibarengi dengan meluncurnya dress yang dikenakan Valencia.


Dada yang penuh menyembul dari balik bra berwarna maroon, perut sedikit buncit namun nampak sexy untuk Andaro yang menyadari bahwa itu adalah kali pertama melihat Valencia hanya memakai underwear (pakaian dalam).


Valencia yang di tatap intens justru berkacak pinggang menampilkan bentuk tubuhnya, "Bagaimana? sangat tidak menarik bukan? aku harap kau tak menyesal sudah memperistri aku And."


Andaro menggeleng cepat, "Bukan itu yang kusesali Val... Kau tahu.. aku pria normal dan yang kusesali adalah harus menahan bagian dari tubuhku yang ingin mengenal kedalaman tubuhmu... tapi tak bisa sekarang Val.. aku mau menunjukkan puncak musim gugur hari ini... kita akan lihat bunga sakura yang berguguran dan harus segera sebelum siang dan kau bisa kepanasan."


Andaro masih tetap terlihat profesional memakaikan outfit pada badan Valencia dan dengan sedikit kesengajaan membiarkan jemarinya menyentuh tubuh Valencia saat proses 'membantu berpakaian'.


Valencia hanya tertawa dan sesekali merasakan geli saat 'seolah tak sengaja' jari Andaro menelusuri kaki jenjangnya, melewati bagian depan tubuhnya, juga lekuk punggungnya.


"And.. trimakasih sudah membantuku berpakaian, aku suka outfit couple kita hari ini... dan ijinkan aku membalas kebaikanmu."


Tak menunggu jawaban dari Andaro, Valencia menaruh tangannya ke pundak Andaro dan berjinjit, memberikan sapuan basah pada bibir Andaro yang perlahan membuka menikmati pengenalan lidah Valencia pada rongga mulutnya. Kecupan dalam Valencia menuntut balas. Andaro memeluk pinggang Valencia dengan satu lengan dan tangan lainnya memegang tengkuk istrinya mengimbangi balasan kebaikan yang diberikan istrinya. Berlangsung tak sebentar tapi masih terasa belum memuaskan dahaga, Andaro mengakhirinya.


"Kalau diteruskan kita akan berakhir seharian di ranjang Val... dan aku tak ingin melewatkan acara kencan pertama kita di sini. Ayo istriku kita pacaran dulu.. "


Mereka tertawa dan bergandeng tangan keluar dari kamar. Valencia masih bergelayut manja pada lengan Andaro saat mereka keluar dari rumah.

__ADS_1


Rasa ini tak asing, getaran ini pernah ada, dan terasa kembali dengan kekuatan yang lebih besar. Perasaan ingin memiliki, berbagi, dan tak ingin berpisah sangat kuat dirasakan Valencia...


Andaro, rasanya kau sudah berhasil membuatku mulai mencintaimu. Seru batin Valencia..


__ADS_2