Dinikahi Mantan Napi

Dinikahi Mantan Napi
Rest in Peace


__ADS_3

...Senandung rindu ditengah rasa enggan untuk berpisah...


...Menatap gugurnya bunga saat berharap bahwa mereka tengah bermekaran...


...Mencoba untuk bertahan disaat rasa sesak di dada mendorong untuk meledakkan bulir kesedihan...


...Berpegang erat pada keyakinan bahwa yang terjadi masih dalam kendali diri dan dapat dihadapi...


Tepukan lembut pada pundak menyadarkannya, "Honey, ayo kita pulang..." suara Andaro tak kalah parau dan berat.


Pusara sudah sepi tak ada lagi pengunjung, tersisa Daddy Hero, Viktor, Valencia, Andaro, dan Harumi.


Mata Valencia masih menatap tanah lembab yang bertabur bunga, dia sudah berjanji pada genggaman tangan mungil Sakura yang untuk dapat melepaskannya dengan penuh kerelaan agar Sakura dapat lepas dari penderitaan rasa sakitnya.


"Cia... kalau memang kau ingin menangis, jangan ditahan.. keluarkan saja, " ucap Daddy Hero seraya mendekati Valencia yang tampak tak baik-baik saja.


Valencia menggeleng kuat.


Perlahan Harumi menarik mundur kursi roda yang diduduki Valencia dan mengikuti langkah Andaro yang masih saja tangannya tak mau lepas dari bahu Valencia.


...Selamat jalan anakku Sakura... kau indah cantik namun sama seperti bunga sakura yang memiliki waktu untuk mekar dan kemudian gugur. Sakura, kami mungkin bukan orangtua terbaik yang dapat memilikimu, mungkin bukan saat ini masa terbaik untuk kita bertemu, semoga dikehidupan mendatang.. kita dapat memiliki kesempatan untuk merasakan bahagia, melewati kesedihan bersama dalam cinta kasih... kami akan selalu mengingatmu.. aishiteru Sakurachan......


...>.<...


"Apakah Valencia sudah tertidur?"


Andaro mengangguk menjawab pertanyaan mertuanya dan beranjak menyerahkan sake hangat.


"Untuk menghangatkan hari ini yang terasa sunyi, dingin, dan menyedihkan Dad.. "


Masing-masing tangan menggenggam kaleng arak beras, pikiran menewarang ke arah pandang yang berbeda, sedih dengan hal yang tak sepenuhnya sama.


Daddy Hero kembali meneguk sake, "Percayalah Valencia wanita yang kuat.. dia tak akan melupakan kesedihannya karena kehilangan Sakura, tapi Valencia pasti akan bangkit dan menjalani kehidupan normalnya.. percayalah, karena dia anakku... "


Andaro tersenyum dan mengangguk, rasa bersalah dan merasa karma ini terlalu berat untuknya.. "mungkinkah kalau aku tak membunuh Dion.. Sakura masih mungkin bersamaku?" renung Andaro dalam hati.


Tatapan tajam Daddy Hero mengamati ibu jari Andaro yang mulai berdarah karena kikiran kuku jari telunjuknya sendiri.

__ADS_1


"Apa yang kau pikirkan Nak?? Apa kau selalu menyakiti diri saat merasakan kesedihan seperti saat ini?"


Andaro baru tersadar saat Daddy Hero mulai memisahkan ujung jari telunjuk dari ibu jari Andaro dengan kapas.


"Oh maaf Dad.. aku tak sadar.. sudah lama aku tak melakukan ini."


"Apa yang kau pikirkan?"


Tegukan air sake mengalir membasahi kerongkongan, "Aku merasa mungkin kematian Sakura adalah karma bagiku karena sudah mendalangi kematian ayah kandungnya."


Terhenyak Daddy Hero meletakkan kaleng, "Jangan berpikir seperti itu, karena dalang dari semua ini adalah aku. Sudahlah.. jangan bersedih, mungkin ada baiknya Sakura pergi lebih cepat karena semakin lama memiliki, rasa kehilangan akan semakin besar.."


"Pupus sudah impianku memiliki keluarga kecil dengan riuhnya suara bayi Dad,"


Tawa pertama hari ini terdengar dari mulut Daddy Hero, "Konyol... jangan katakan pupus karena masih banyak kesempatan. Kau dan Valencia masih muda.. rajinlah berusaha.. berikan cucu-cucu pintar, tampan, dan cantik untukku."


Andaro hanya dapat tersenyum masam, rasa nyeri merambati bagian perut bagian bawah, teringat akan pemeriksaan yang dia lakukan usai menjadi korban pengeroyokan di dalam bui. Entah apa penyebabnya kondisi lapas tiba-tiba kacau dan Andaro yang baru saja dijebloskan menerima hukuman tak tahu menahu harus berbuat apa. Saat sadar dia sudah masuk dalam lautan pria yang saling adu jotos.


"Terjadi varikokel, mungkin karena anda sempat mengalami benturan keras jadi pembuluh darah vena pada skrotum mengalami pembengkakan," dokter menjelaskan bahwa kondisinya harus segera mendapatkan treatment supaya tidak berakibat pada penurunan reproduksi atau infertilitas.


Rasa sakit menghalangi konsentrasi untuk mendengarkan penjelasan dokter tak ada treatment lanjutan paska kondisi kesehatan dirasa lebih baik dan kembali masuk bui menyelesaikan waktu hukuman, hukuman yang sebenarnya tak layak untuk dia jalani.


"Sepertinya ada yang merindukanmu, Nak" lirik dan senyum Daddy Andaro setelah menatap nama 'My Waifu' pada layar ponsel Andaro.


Tak sempat berpamitan dan mengangkat telepon, Andaro spontan menyambar ponsel dan berlari ke arah kamar mereka. Godaan dari Daddy Hero tak mempan karena kekhawatiran akan Valencia lebih besar.


Ketukan mendahului suara gerendel pintu terbuka,


"And... " ucap Valencia pelan dengan tatapan sendunya.


"Apa yang kau butuhkan Honey?"


Valencia menggeleng dan menepuk tempat di sebelahnya. Tanpa perlu waktu Andaro sudah menempatkan diri di kamar nyaman mereka, desain minimalis dengan perpaduan warna beige dan furnitur berwarna coklat. Bantal abu-abu menyangga kepala mereka dan selimut berwarna beige menutupi tubuh Valencia yang merasa dingin meski pemanaa ruangan sudah dinyalakan.


Dengan perlahan disisir rambut Valencia dan perlahan Andaro mengecup dahi, mata, pipi, hidung, dan berakhir pada kecupan singkat pada bibir ranum Valencia.


"Aku di sini sayangku... ku pikir kau sudah terlelap. Apa kau lapar?"

__ADS_1


Gelengan halus terlihat, dan wajah Valencia yang sedikit mengernyit kesakitan saat berusaha memiringkan tubuhnya memeluk Andaro, "Temani aku And.. aku merasa kedinginan dan kesepian."


Dekapannya berbalas, dengan penuh kelembutan Andaro membelai punggung Valencia dan diselingi memberikan kecupan pada puncak kepala Valencia.


"Aku akan memelukmu dan menemanimu seumur hidupku honey.. you are my precious woman and I won't let you alone... "


Isakan tangis perlahan terdengar, dada Andaro merasa lembab, suara bergetar Valencia terdengar suram dan pelan, "tangannya mungil And.. wajahnya merekah cantik... dia... dia..... Sakura pernah ada dalam perutku... tapi.. tapi kini dia pergi... "


Tak semua kata harus mendapat balasan kata, terkadang seseorang bercerita hanya untuk di dengar dan untuk mengeluarkan suara hati demi mengurangi gumpalan beban yang menyesakkan di dada.


"And.. aku bukan ibu yang baik... mungkin.. mungkin Sakura merasakan itu... aku.. merasa belum dapat sepenuhnya menerimanya... beberapa kali dalam kehamilan ku... ada rasa takut kalau dia mengingatkan ku pada Dion... Aku mencintaimu And dan tak mau ada sisa rasa yang... yang mengingatkanku pada Dion"


Mata Andaro terpejam pedih.. kepergian Sakura yang teramat cepat meninggalkan luka dan rasa bersalah bagi mereka semua. Andaro masih terdiam tak berucap hanya telinga yang setia mendengar dan sentuhan menenangkan pada punggung Valencia dan dekapan yang terasa semakin erat menenangkan.


"Saat tanganku bersentuh dengannya, aku menyadari bahwa Sakura yang sudah menjadi penyatu kita And... Sakura adalah bukti cinta kita meskipun bukan buah hati kita... tapi semua terlambat, Sakura bagai berucap berpamitan meninggalkan kita dengan tubuh mungil tanpa perlawanan... aku bukan ibu yang baik And... "


Mereka berdekapan.. Valencia sudah berhenti bergetar mengeluarkan tangis, menyisakan isakan-isakan kecil.


Perlahan Andaro mencoba bersuara, meskipun dia juga merasa bersalah bahwa mungkin kepergian Sakura juga disebabkan dirinya, "Honey... selalu ada yang pertama.. bagiku Sakura adalah anak pertama kita, bukti dan buah hati kita.. pertama kali kita merasakan keajaiban dan tanggungjwb sebagai orangtua... kita penuh kekuarangan Val... bukan hanya kau... aku pun penuh kekurangan...


Biarkan Sakura pergi dengan tenang, kalau Tuhan mengijinkan.. biarkan Sakura terlahir kembali menjadi anak kita.. entah di kehidupan ini atau kehidupan kita selanjutnya... "


Semoga harapan kita didengar dan aku dapat memberikan benih terbaikku untuk anak-anak kita Val. Ucap Andaro dalam hati penuh harap dan doa.


...>.<...


Di sudut gelap kafe, dua orang pria berkemeja hitam rapi dengan kaca mata hitam bertengger pada puncak kemeja.


Keduanya menyesap minuman, seorang diantaranya sudah tipsy (menunjukkan tanda pengaruh alkohol)


"Haruskan aku mengungkapkan kejujuranku.. bahwa sebelum aku melakukan perintah Tuan Andaro, keparat itu sudah terkapar??"


Pria lain hanya mendengarkan dan masih enggan menanggapi.


"Kau tahu, aku merasa tak punya muka saat tahu bahwa Tuan merasa bersalah atas putrinya yang tiada.... Harumi memberitahuku.. dia mendengar bahwa Tuan merasa bahwa kematian anaknya karena karma atas siasat menghabisi nyawa brengsek yang sudah menelantarkan istri Tuan Andaro.


Kepulan asap vape yang membumbung pekat kemudian menghilang, seorang wanita yang ada di balik punggung mereka sepintas menoleh dan melihat dua orang yang tampak tak asing. Kalau bukan karena permintaan tak jelas dari Viktor yang memaksa bertemu di sini, pasti dia tak akan pernah punya kesempatan mendengar kejujuran yang disampaikan ajudan Andaro.

__ADS_1


Tangan wanita itu mengetikkan pesan ke Andaro, entah apa yang akan terjadi setelah Andaro membacanya, mungkin dua orang ajudan itu akan bernasib malang mengingat Andaro bukanlah orang yang suka dikhianati.


__ADS_2