
Valencia : "Biar lah setiap tangkai masalalu yang tak dapat terkubur, akan kurangkai untuk menghiasi kehidupan dan menambah keindahan bukan untuk merusak masa depan."
Mencoba berdamai dengan keadaan tentunya bukan perkara sederhana, butuh kekuatan untuk menghancurkan ego dan menerima kondisi yang nyata sebenarnya.
Perjalanan pernikahan Andaro dan Valencia yang masih seumur jagung harus menghadapi berbagai permasalahan silih berganti, menguji hati keduanya apakah mereka memang siap untuk saling memiliki, sehidup semati, bergandeng tangan melewati setiap masalah yang pasti akan selalu ada dalam setiap kehidupan.
Andaro menyayangi Valencia, dia menyukainya bahkan sejak pertama kali bertemu tapi untuk cinta seutuhnya terkadang Andaro masih ragu. Apakah semua tindakannya ini hanyalah bentuk kasihan pada Valencia dan rasa muak dengan tindakan tak bermoral Dion. Hati Andaro berkecambuk. Meskipun wanita yang dia sukai sudah ada dalam dekapannya, hatinya masih ragu, apakah mereka akan bisa melewati semua ini.
Di lain sisi, Valencia yang merasa hubungan dengan Andaro terlalu cepat terjalin, merasa ikatan keduanya belum terlalu kuat. Pernyataan kejujuran Andaro yang terungkap satu demi satu makin menyadarkan Valencia bahwa pengenalannya akan sosok Andaro sangatlah minim dan sangat kurang.
"Pengenalan akan berlangsung selamanya, honey. Bahkan aku pun masih terus memahami diriku sendiri, " ucap Andaro saat Valencia ada dalam dekapannya, obrolan usai bercinta terasa sangat berat jika sudah menyangkut tentang kehidupan pernikahan, perencanaan masa depan, dan ragu akan kepercayaan satu dengan yang lain.
"Kenapa kau perlu memahami diri sendiri And?? bukankah hanya orang lain saja yang perlu memahami kita?"
"Sederhananya memang seperti itu honey, tapi bagaimana kita menuntut untuk orang lain bisa memahami kita, kalau nyatanya kita pun tidak begitu memahami diri kita sendiri."
Emosional Quotient (EQ) atau kecerdasan emosional Andaro memang tergolong sangat baik, sebaik IQ nya. Dengan anugrah kecerdasan yang dia miliki, Andaro dapat melalui masa kecilnya lepas dari depresi karena kehilangan jati diri selepaa ditinggal orang tuanya. Semua juga tidak lepas dari pendampingan Papa Kobe, ayah angkat Andaro.
Valencia memainkan anak rambut yang mulai tumbuh di dagu Andaro yang seringkali memberikan sensasi geli saat Andaro mengusapkan sentuhan berupa kecupan dan dagunya tak sengaja turut menggores lembut tubuh Valencia.
"Menurutmu, apakah aku sudah cukup mengenal diriku sendiri And?"
Andaro menatap wanita di dekapannya, "Hanya kau yang tahu honey... seharusnya kau lebih memahami dirimu sendiri dibandingkan oranglain."
Dengan malu Valencia berucap, "tapi aku justru merasa kau lebih mengenalku And... kau lebih tahu bagaimana harus menghadapiku."
"Contohnya?"
Terdengar detak jantung Andaro di telinga Valencia yang menempel pada dada Andaro.
"Minggu lalu, saat aku terkejut pada pengakuanmu tentang Dion... ah... aku pun tak paham apa dan bagaimana perasaanku sebenarnya."
__ADS_1
"Kau marah padaku sayang... menghindariku bagai laba-laba yang bagimu terlalu menjijikkan bahkan untuk dilihat, " Andaro pedih mengingatnya.. baru kali itu dia merasakan moment kehilangan dan rasa rindu dengan Valencia yang masih bisa dia pandang dari kejauhan.
"Aku menghindarimu karena aku tak tahu harus seperti apa menyikapi pengakuanmu And.. sampai akhirnya Viktor datang dan akupun paham bahwa yang kurasakan adalah rasa bersalah pada kau dan Dion. Aku merasa payah dan semua masalah ini bersumber padaku."
Andaro mengecup puncak kepala Valencia, "No honey.. bukan kau sumber masalahnya tapi sebaliknya kau adalah korban dari semua yang terjadi dan jangan merasa payah lagi ya... banyak orang yang menyayangimu dan siap menopangmu.. "
Tangan Andaro memijit punggung Valencia, "Apa punggungmu baik-baik saja? ku lihat perutmu mulai membesar tapi badanmu tampak tak ada perubahan selain mereka yang semakin berisi menggemaskan." Tangan lain Andaro mencolek buah dada Valencia yang memang tampak semakin penuh berisi.
Valencia menatap Andaro dengan tatapan tajam, "Jangan macam-macam dengan sentuhanmu And, kita baru saja selesai melakukannya, jangan memancing lagi.. hmm.. "
Andaro tergelak, "Aku siap melayanimu kapanpun istriku sayang.. " kecup Andaro, "bagaimana? apa ada keluhan yang kau rasakan selama kehamilan? aku merasa kau jarang mengeluh, apakah baby sudah mulai melakukan pergerakan?"
Valencia menggeser posisi menjadi terlentang, dibelainya perut buncit nya, tangan Andaro mengikuti, "Entahlah And, meskipun dokter kemarin bilang dia sehat tapi aku masih merasa tidak terlalu kuat ikatan dengannya, apa karena dia tahu kalau aku masih merasa kecewa dengan ayahnya?"
Sebagian besar seorang Ibu akan sangat memperhatikan kehamilannya apalagi pada kehamilan yang pertama tapi Andaro menyadari bahwa sepertinya Valencia terlalu cuek dan tidak peduli pada kehamilannya. Jarang Andaro melihat Valencia membelai perut dan mengajak bicara bayi dalam perutnya.
Pada kondisi bersantai pun Andaro melihat tangan Valencia lebih asik membersihkan kuku, melakukan pijatan pada jemari, wajah, atau bermain dengan rambut dibanding meletakkan tangan pada perutnya.
Andaro menutup bibir Valencia dengan telunjuknya, "Jangan berkata macam-macam Cia.. baby bisa mendengarnya dan aku adalah ayahnya... apa kau merasa kecewa kepadaku?"
Valencia menggeleng, karena memang tidak ada kekecewaan yang dia rasakan untuk Andaro, penerimaan dan mulai tumbuh rasa lain, rasa sayang sudah mulai bermetamorfosis menjadi cinta.
Andaro bergeser dan mencium perut buncit Valencia yang dia kagumi, "keajaiban yang indah," ucap lirih Andaro.
"Hai baby.... ingat suaraku, ini papa... kita akan sering ngobrol.. tiap hari aku akan menyapamu, sehat-sehat ya baby.. papa love you... baby anak pintar ya.. tidak merepotkan mama, anak baik, " Andaro memeluk perut Valencia seolah seperti seorang anak yang sedang memeluk bola. Valencia menitikkan airmata melihatnya. Tak sekalipun Andaro berkata bahwa janin di perutnya bukan anaknya.
Entah dorongan dari mana tapi Valencia merasa ada sesuatu yang mengganjal, kecemburuan. Ya.. Valencia tiba-tiba merasa cemburu dengan rasa sayang Andaro pada janin yang di kandungnya.
"And... " panggil Valencia
"Hm.. " Andaro menoleh masih mendekap perut Valencia, menempelkan telinga seolah ingin mendengar jawaban dari baby.
__ADS_1
"Kemarin dokter bilang kemungkinan anak kita baby girl... mana yang akan lebih kau sayangi?? aku atau dia?" Valencia menunjuk perut dengan lirikan cemburu.
Andaro tertawa, nalarnya tergelitik, baru kali ini Valencia menunjukkan rasa cemburu padanya dan itu karena baby, calon anak mereka.
"Kau menggemaskan.. " Andaro menyentil Valencia dan kembali mendekapnya.
"You are my priority. And she is my lovely child. Aku tetap akan menyayangi anak kita Cia.. tapi kamu tetap yang terutama. Karena saat anak-anak kita dewasa mereka akan punya kehidupan sendiri, berbeda dengan kita yang akan tetap bersama, menua bersama, hanya kematian yang bisa memisahkan kita."
Hati Valencia terasa berbunga dan tak dapat berkata-kata, seperti ada banyak kembang api meletup di dalam dirinya, kebahagiaan, dan bagai gulungan kitab putusan terbuka bahwa Andaro adalah suami yang dia cintai.
Valencia menatap Andaro, "Aishiteru Andarokun."
Andaro tergelak tak menyangka Valencia mengucapkannya, bagi orang Jepang kata Aishiteru memiliki makna yang sangat dalam dan tak dapat asal diucapkan bagi sembarang orang.
Umumnya mereka mengungkapkan rasa sayang sukanya dengan kata daisuki.
Semula Andaro hanya merasa hatinya untuk Valencia sebatas daisuki, rasa sayang. Namun genjatan senjata minggu lalu menyadarkan kalau keberadaan Valencia jauh berarti dan sudah tidak ragu lagi untuk Andaro berikrar,
"Hontoni aishiteruyo Valencia... watashi no kokoro ga anata no desu (aku sangat mencintaimu Valencia, hatiku adalah milikmu)"
Kelegaan dan terasa lengkap sudah, tembok pertahanan pada hati masing-masing seolah sudah runtuh dan tergantikan dengan connecting untuk saling terhubung mencintai tanpa syarat dan penerimaan tak berujung.
Malam berlalu, penuh kehangatan dan ketenangan. Valencia bangun lebih bagi meninggalkan Andaro yang masih memiliki waktu sebelum harus bersiap berangkat kerja.
Valencia menyiapkan sarapan sederhana berupa miso soup dengan beef katsu dan salad wakame.
Saat Valencia hendak membangunkan Andaro, pintu kamar terbuka. Andaro sudah rapi menggunakan outfit rapi, senyumnya terkembang kebahagiaan dan suasana penuh cinta memenuhi ruang hati Valencia
Keduanya berjalan menuju meja makan dan menyantap sarapan bersama. Valencia mulai memulai obrolan dengan baby sebelum memasukkan suapan katsu ke mulutnya, "Makan bareng papa yuk dek.. pinter yaa... "
Tak ada rasa bahagia yang dapat melampaui apa yang Andaro rasakan, hidupnya terasa lengkap dan akhirnya seolah akan menuju kesempurnaan memiliki istri dan kehadiran anak.
__ADS_1
"Aku akan membuatmu bahagia Valencia, aku akan menjaga dan memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita," janji Andaro dalam hati.