
Perjalanan menuju ke restoran langganan Valencia di lalui dalam keheningan. Andaro bukan tak mau merubah ketegangan suasana tapi memang masih ada hal yang harus segera diurus dengan melakukan tele instruksi kepada beberapa asisten pribadinya di Jepang juga kolega terpercaya yang ada di Indonesia dan siap membantu masalahnya.
"Dasar menyebalkan" celetuk Valencia tanpa disadari keduanya berhasil memecahkan keheningan. Andaro menunggu kelanjutan kata-kata Valencia menjadi kalimat panjang berikutnya. Satu menit, dua menit tak ada kelanjutan.
Valencia membenci situasi ini. Bukan karena merindukan Dion tapi dia terbiasa menjadi pusat perhatian dan tidak pernah merasa terabaikan seperti saat ini bersama Andaro. Jelas-jelas ada kemarahan yang dia tunjukkan tapi pria disebelahnya sama sekali tak ada usaha membujuk bicara, menjelaskan, atau mencoba mencari tahu apa yang diinginkan Valencia. Benar-benar sepertinya Andaro yang dilihatnya berbicara begitu supel dan sangat detail dihadapan pengacara sudah pergi, tersisa Andaro yang hanya bicara seadanya dan tak mau berbagi pemikiran.
"Val, aku menunggu kelanjutan kata-katamu." ucap Andaro yang melihat Valencia mendenguskan napas meniup poninya dan mengepalkan tangan di atas setir.
"Oh.. jadi kau mendengarku??? kupikir aku hanya wanita bodoh yang kau anggap driver dan tak perlu tahu rencanamu."
"Hmmm bukan begitu Val.. semua masih belum matang, jadi aku pun tak bisa memprediksi ke depannya apakah akan ada perubahan rencana."
"Mewakiliku untuk bertanggung jawab atas perbuatan Dion apakah termasuk perubahan rencana???"
"Aku tak yakin untuk itu Val, memang sempat terbersit tapi aku juga tak menyangka akan secepat ini mengakui bahwa aku yang akan bertanggungjawab."
"Astaga Andaro... aku merasa yang paling hina dan boneka di sini... ternyata kau tak berbeda dibanding Daddy dan Viktor. Kau memutuskan tanpa berdiskusi denganku. Apa memang aku terlihat sangat tidak kompeten di hadapan kalian??? "
"Woo.. tidak seperti itu Val.. noo... aku merasa paham dengan apa yang kau katakan tentang Daddy Hero dan Viktor. Mereka bukan menganggapmu tidak kompeten tapi mereka sangat menyayangimu dan menjagamu seperti guci yang tak boleh terbentur sedikitpun."
"Jadi kau juga menganggapku sebagai guci pajangan yang fungsinya tak lebih hanya pelengkap dekorasi rumah saja??? "
"Tidak tepat seperti itu Val.. entah lah mungkin terlalu cepat tapi aku menganggapmu adalah rumah yang akan aku tinggali jadi tak akan ku biarkan perampok merusak atau menghancurkan rumahku."
Keduanya terdiam, Valencia merasa ada percikan getaran tak terduga diantara mereka. Tapi terlalu awal untuk menyimpulkan toh dia belum terlalu dalam mengenal Andaro dan bisa saja ini akal Andaro untuk membawanya melambung dan tidak protes karena kurang dilibatkan.
"Val, tak usah kau khawatirkan tentang kemungkinan aku di bui menggantikanmu atau Dion. Selain aku merasa ikut bertanggungjawab karena lepas pengawasan dan ikut mendukung Dion tanpa mendalami tujuannya... juga sebenarnya bui bukan tempat yang asing untukku."
Valencia hampir menginjak rem mendadak di area parkir restoran.
"It's not the right time for making a joke, Andaro."
"Thats true Val, not just a joke."
"Jadi kamu pernah dipenjara??" Andaro memberi jawaban dengan anggukan.
"Berapa lama?"
__ADS_1
"Kau ketakutan Val?? bersama dengan mantan napi? "
"Masih belum muncul ketakutanku. Jawab saja."
"Enam"
"Enam bulan?"
Andaro menggeleng, "Enam tahun Val. Dakwaan kejahatan yang serius."
Mereka sudah tiba di parking area dan siap untuk masuk restoran. Tapi pembicaraan ini terlalu pribadi untuk dibicarakan di public space.
"Apa kau keberatan kalau aku memintamu bercerita prihal penyebab kau dijatuhi hukuman"
"Tentu aku tak keberatan. Aku dijatuhi dakwaan pemerkosaan dan penganiayaan Val."
Valencia bergidik ngeri, Andaro mengamati dari kursi penumpang melihat ekspresi ketakutan dan ragu.
"kurasa aku mulai membuatmu ketakutan... "
"Aku masih tak percaya... "
"Yang kukatakan itu adalah kenyataan Val.. tapi hal lain yang perlu kau tau adalah aku menjalani hukuman yang tak seharusnya aku dapatkan. Sampai saat ini pun aku masih tak habis pikir. Wanita yang ku selamatkan justru menjebloskan ku ke penjara dengan cara keji seperti itu."
"Jadi kau dijebak?"
"Ya.. "
"Oleh wanita itu?"
"Tidak secara langsung... karena aku masih merasa dalang sesungguhnya bukanlah dia."
"Baiklah Andaro.. aku percaya padamu dan kisahmu tak membangkitkan rasa takutku tapi rasa lapar ku haha.. ayo kita turun."
Secepat itu dia berubah?? karena lapar semua penuturanku tak menjadi pertimbangan untuk dia menjaga jarak dariku? Andaro masih heran dengan sikap Valencia.
"Awaaas" teriak Andaro menarik Valencia yang asal menyebrang ke arah pintu restoran. Beruntung Andaro mendengar suara motor kecepatan tinggi dari kejauhan. Valencia aman dalam dekapan Andaro yang mengamati motor RX King tanpa plat nomor.
__ADS_1
Sedetik Valencia merasa terkaget, detik berikutnya merasa nyaman dalam dekapan perlindungan Andaro, dan detik selanjutnya dia melepaskan diri, "Wooiiii... kurang ajar itu motor.. Hati-hati!!! mana ada kendaraan ngebut di lokasi area parkir begini sih... "
Valencia yang masih mencak-mencak menurut berjalan di samping Andaro tanpa menyadari tangan mereka tertaut.
Kejanggalan terendus oleh Andaro, kejadian barusan bukanlah tanpa motif kesengajaan. Ada yang tengah mengincar Valencia.. Andaro yakin.
Mereka duduk di sudut restoran seafood Andaro duduk menghadap arah pintu masuk restoran dan dapat melihat keluar di mana letak mobil mereka berada. Valencia duduk menghadap Andaro dan hanya dapat melihat tembok restoran dengan ornamen air mengalir dan hiasan laut yang ditambahkan untuk membangkitkan nuansa asri.
"Aku bisa makan apa saja jadi tolong pesan kan untukku, aku permisi sebentar."
Valencia mengangguk mengira Andaro akan ke restroom.
Andaro bergegas lari keluar restoran menuju ke mobil Valencia yang terparkir. Nampak di sana motor RX King yang terparkir di area blind spot CCTV tapi bukan blind spot dari tempat Andaro tadi mengamati. Tanpa berlama-lama, Andaro menyekal bagian belakang kerah jaket pria yang sedang menunduk di dekat ban mobil.
"Apa yang kau lakukan brengseeekk??? bruugg" Andaro melayangkan tinjunya. Serangan tiba-tiba membuat lawan limbung. Masih jelas bagi Andaro pria ini adalah orang yang hampir menabrak Valencia.
"Katakan siapa yang menyuruhmu??" pria di hadapannya hanya tersenyum dan mengayunkan pisau lipat yang sebelumnya akan digunakan untuk merusak ban mobil.
Dalam sekali tebas, Andaro yang tidak melihat pisau lipat kecil di tangan lawan terkena luka gores yang cukup dalam. Si pengganggu memanfaatkan momen keterkejutan Andaro dengan melarikan diri.
Andaro menutup luka dengan sapu tangannya dan kembali masuk ke dalam restoran.
Meja sudah penuh makanan dan Valencia sudah mulai makan tanpa menunggunya. Antara sudah kelaparan atau masih merasa marah pada Andaro.
Andaro duduk dan mulai menyantap makanan dalam diam. Pikirannya berkecambuk memikir kan bahwa saat ini Valencia membutuhkan perlindungan extra.
Valencia yang sudah menyelesaikan santap siangnya menyadari sesuatu, "Sejak kapan kau pakai saputangan jadi gelang di lenganmu itu Andaro??"
"Sejak kau sibuk makan dan tak menghiraukan aku datang haha.. sebentar lagi aku selesai, tunggu dan aku akan ceritakan."
Mengetahui bahwa tangan Andaro terluka, Valencia hendak mengajaknya ke rumah sakit, kawatir ada infeksi tapi Andaro menolak.
"Kita ke apotik saja beli alkohol itu akan lebih cepat dibanding antrian di rumah sakit."
Sesampainya di rumah, Valencia menyuruh Andaro duduk, diambilnya obat dan pembersih luka. Meskipun darah luka gores sudah terlihat kering dan membeku karena kerja alkohol tapi tetap saja luka harus dirawat agar segera sembuh. Itu analogi yang juga Valencia ketahui untuk menyelamatkan hatinya yang sempat terluka dan sembuh atas perawatan Andaro.
Keduanya duduk berhadapan, Valencia memeriksa lengan Andaro, dibawanya lengan ramping berotot ke pangkuannya, di bersihkan setiap inchi luka dan dioles oleh obat. Valencia begitu hati-hati sedang Andaro tak merasakan sakit atau nyeri tapi semakin menyadari bahwa saat ini dia sedang jatuh hati....
__ADS_1