
"Di sana Val, tempat aku di tinggalkan oleh wanita yang harusnya adalah ibu kandungku, usia ku mungkin kisaran 5tahun, beruntung ada seorang pria yang sangat baik dan merawatku.. dia sudah seperti ayah untukku. Itulah alasan kenapa aku merindukan memiliki keluarga dan tak ingin anak dalam kandunganmu tumbuh tanpa merasakan kasih sayang orang tua lengkap seperti yang kurasakan."
Tatapan Andaro tampak menerawang, hatinya getir jika teringat bayangan dirinya yang kesepian dan pastinya menangis menunggu orangtua yang tak kunjung datang. Bayangan kesedihan yang mulai pudar terkikis waktu 30 tahun hidup yang dilalui tanpa dapat mengerti kenapa dia ditinggalkan.
Valencia menggenggam tangan Andaro, memberikan kekuatan dan membawa Andaro mengalihkan pandangan dari titik lokasi pengingat luka masa lalu kepada dirinya, "And... terimakasih kau sudah sangat peduli dan menyadarkanku bahwa hidup yang kupilih bukan sekedar untuk diriku sendiri, tapi sekarang ada anak ini juga yang harus ku pikirkan. Terimakasih sudah mau menjadi ayah untuknya dan menerimaku seutuhnya. Tak perlu kau pikirkan lagi masalalu yang pahit And, tak ada yang salah tentangmu dan alasan kenapa orang tuamu pergi menghilang biarkan itu menjadi misteri yang mengantarkanmu ke lembar kehidupan berberbeda.. mengenal ayah yang sudah merawat, membesarkan, dan memprosesmu menjadi seorang Andaro Kobe yang ku kenal." Valencia mendekap Andaro, mereka berbagi kehangatan dan semangat.
Dalam pelukan, Andaro membisikkan kata yang tak terduga sebelumnya, "Tak perlu banyak berterimakasih padaku Val, karena aku bukan pria yang sempurna, semoga di waktu ke depan kau tak terlalu kaget atau kecewa terhadapku.. yang pasti akan kulakukan semua yang terbaik untukmu dan anak-anak kita."
Senja datang seolah tak menyapa namun tiba-tiba, langit sudah menggelap dan dihiasi lampu yang menyala disekeliling jalan menerangi kota. Pasangan suami istri baru berjalan tetap dengan bergandengan tangan, angin musim gugur berlalu lalang meniup dedauan dan sesekali bunga sakura tampak berjatuhan.
Andaro mengambil bunga sakura yang tersangkut di rambut panjang Valencia. Ada ketakutan yang dia rasakan kalau Valencia tidak bisa menerima sisi gelap dirinya. Dia teringat akan kata-kata Daddy Hero, "Aku bisa menerima mu dan untuk hal yang kau lakukan aku bisa memahaminya, tapi mungkin tidak untuk Valencia. Hatinya terlalu polos, pikirannya masih terlalu lugu dan murni jadi buat dia memahami bahwa yang kau lakukan adalah juga untuk kebaikannya."
Rasa ragu namun tak ingin kalah dengan keraguan, setidaknya pagi ini Andaro merasakan bahwa Valencia sudah mulai membuka hati untuk dirinya. Andaro tak ingin memaksa, meskipun hubungan mereka sudah sah sebagai suami istri, Andaro terlalu beretika untuk tidak memaksakan Valencia melakukan kewajibannya sebagai istri yang menghangatkan ranjang suami. Bagi Andaro kebersamaan, penerimaan, dan kasih sayang tulus harus menjadi pondasi kuat sebelum mereka melangkah menjadi suami istri seutuhnya.
Valencia menatap kedai ramen yang ada di sebrang jalan, kemudian menatap Andaro, "And.. aku sudah lapar lagi... mungkin berjalan membuat kaloriku cepat terkuras... atau aroma ramen yang tertiup angin seolah mencubit hidungku dan menariknya untuk datang ke sana." Valencia tersenyum malu menyadari bahwa perutnya sudah mulai bergemuruh meminta ditenangkan.
Andaro mengecup punggung tangan Valencia yang sedari tadi dia genggam dan masukkan ke dalam kantong jaketnya, "Oke honey.. mungkin anak kita sudah lapar dan mau merasakan ramen asli dari asalnya, ayo kita ke sana.."
Tiba di kedai ramen, mereka melakukan pemesanan dan pembayaran melalui mesin otomatis, duduk di kursi sesuai dengan nomor meja yang sudah tertulis pada nota pemesanan. Valencia terdiam melihat bayangan punggung pria di sudut kedai. Postur tubuh, warna rambut, gaya rambut semuanya sangat identik dengan Dion.
Andaro yang melihat Valencia mematung, segera mengikuti arah pandang istrinya. Mengerti apa yang membuat Valencia tercengang, pasti pria itu dikira adalah Dion. Kalau sebelumnya Andaro tidak memastikan bahwa Dion benar-benar telah menghembuskan napas terakhir, pasti dia juga akan sama terkejutnya dengan Valencia. Bayangan pengunjung kedai itu memang sama seperti penampakan Dion dari belakang.
__ADS_1
Andaro menyentuh tangan Valencia, menepuknya pelan, "Honey.. are you okey?"
Valencia tergagap dan mengalihkan pandang pada Andaro, "Ah.. itu.. ya And.. I'm oke.. tapi kau lihat And? dia terlalu mirip.. kau tau siapa yang ku maksud, " tak ingin menyebut nama pria yang masih sempat singgah dalam mimpi malamnya dan juga menjaga hati Andaro. Rasa keterkejutan Valencia tak dapat dibendung terasa rasa rindu itu bersambut dan dadanya terasa menghangat seolah dinginnya hati tersapu terbitnya matahari.
Valencia berusaha berpikir jernih, Dion sudah meninggalkannya tanpa pamit, menyusakan masalah yang hampir membuatnya merasakan kehidupan di balik jeruji besi dan pria di depannya adalah Ksatria tanpa baju jirah yang rela menjadi tameng untuknya. Kenyataan lain adalah bahwa Dion sudah dinyatakan meninggal membuat bayangan pengunjung yang sangat mirip tampilan belakangnya pastilah bukan Dion.
Andaro mengangguk, menyerahkan segelas ocha pada Valencia, "I know Val, memang sangat mirip... tapi pasti bukan Dion," bersamaan dengan perkataan Andaro.. pengunjung yang dimaksud berbalik dan berjalan keluar dari kedai. Valencia menghembuskan napas yang sempat tercekat. Mata khas orang Asia Timur, bibir tipis tanpa lesung pipit, alis yang berbentuk sempurna seperti dengan perawatan, dan wajah yang berkerut, penampilan depan yang sudah sangat berbeda dari Dion.
"Sorry Andaro... aku terasa seperti sedang berselingkuh di depanmu." Andaro menggeleng dan menepuk punggunh tangan Valencia. "Jangan merasa begitu Val, aku tahu kau butuh waktu untuk bisa melepaskannya."
Suasana sekejap terasa canggung, mereka memiliki pemikiran masing-masing yang tersimpan dalam hati. Andaro dengan rasa cemburu yang tiba-tiba hadir tanpa permisi, perasaan yang dari awal sudah berusaha dia redam karena menyadari situasi Valencia yang belum siap kehilangan Dion dan menerima dia sebagai ayah pengganti janinnya.
Sementara Valencia, tak dapat lagi menyembunyikan rasa penasaran yang mengganjal, "Aku hanya masih tidak habis pikir dengan yang terjadi dengan Dion, And... kenapa dia meninggal dan alasan kenapa dia tiba-tiba meninggalkanku juga ibu dan saudaranya. Terlalu aneh dan spekulasi pemikiran ku tak ada yang dapat sesuai dengan alasan yang mungkin dia miliki."
Mengambil napas panjang, berdoa untuk bersiap makan, mengaduk ramen untuk mengeluarkan uap panas yang terpenjara dalam kuah kaldu, "Hm.... aku berpikir, dia mungkin sudah menyerah dan bosan dengan aku. Atau ada alasan kenapa dia kembali ke Jepang mungkin ingin mengembangkan bisnis tapi ternyata gagal jadi harga dirinya enggan untuk mengakui kegagalan dan kembali ke Indonesia. Dia meninggal karena stress atau mungkin.... bunuh diri??? ah aku gak tahu lagi And... Daddy tak ijinkan aku baca laporan resmi alasan dan penyebab Dion meninggal."
Andaro mengangguk, meletakkan setiap kondimen bumbu ramen di tengah meja, menyeruput. ocha dan berusaha tetap tenang untuk menjelaskan. "Pemikiranmu tak semuanya keliru Val. Bahkan aku pun merasa tak habis pikir kenapa Dion meninggalkan mu dengan buntut masalah hukum. Terlalu licik dan pengecut dengan melukaimu, menggelapkan dana perusahaan dan lari. Aku akan menjelaskan apa yang aku ketahui Val. Sekarang kita makan dulu ya... kasian debayo sudah kelaparan."
Valencia mengangguk dan memakan ramen dengan lahap, Sesekali Andari membasuh kuah ramen yang tersisa di ujung bibir Valencia sembari pikirannya bekerja memikirkan cara untuk menjelaskan pada Valencia kenyataan tentang semua alasan yang terjadi pada Dion.
Andaro tak ingin Valencia terluka tapi juga menutupi kenyataan tak dapat dilakukan selamanya. Bukankah pahitnya kejujuran masih lebih baik dibanding manisnya kebohongan?? Maka, malam ini Andaro akan jujur mengungkapkan hal yang perlu Valencia ketahui...
__ADS_1
Apakah Valencia akan bisa menerima dengan baik? Atau dia akan kehilangan Valencia setelah membuka kenyataan tentang kematian Dion yang memiliki kaitan dengan dirinya??
\*\*\*
📤 Daddy, besok aku pulang. Jangan bermimpi untuk melihatku pulang dengan membawa calon mantu perempuan untukmu
Viktor mengetikkan pesan kepada Daddy Hero. Tiga hari ini dia merasa terabaikan, Andaro berfokus pada Valencia dan juga sebaliknya. Mereka seolah lupa kalau Valencia datang tak sendiri. Viktor sedang bersiap keluar untuk mencari makan saat bunyi bel aparty terdengar.
"Maaf, kau Viktor kakak Valencia?" seru wanita cantik berponi pipi chubby dengan aksen Tokyo. Belum Viktor menjawab, wanita itu sudah masuk menerobos pintu dan masuk ke dapur.
"Aku Maiko, sepupu Andaro sekaligus asistennya di kantor. Aku sudah bawakan bahan makan malam kecuali kalau kau lebih memilih makan di luar dan menikmati Jepang."
Maiko sangat supel dan mudah berteman dengan siapapun, bawaannya yang sangat ramah membuatnya tak canggung dengan orang asing. Berbeda dengan Viktor yang masih canggung dan bingung harus menjawab apa.
Krucuuuukkkkkkk.....
Bukan jawaban dari mulut Viktor yang terdengar tp justru dari perutnya. Maiko tertawa dan segera dia masukkan semua bahan yang di belinya ke dalam kulkas. "Spertinya kau sudah sangat lapar ya Viktor.. tak akan baik kalau kau menungguku memasak. Baiklah kita makan malam di luar di seberang apartemen ada restoran sushi, kita ke sana."
Viktor yang merasa malu karena suara perutnya justru memiliki keberanian untuk menyuarakan kemarahannya pada tuan rumah.
"Baiklah ayo kita keluar. Aku bertamu di tempat yang salah, kau tahu?? Andaro dan Valencia sudah tak ada di rumah saat aku bangun dan mereka hanya menyisakan kopi dan sekerat roti. Seharian aku juga penuh jadwal online meeting membuatku tak bisa keluar dari tempat ini... ayo kita keluar segera... "
__ADS_1
Mereka melangkah bersama, Maiko mendengarkan gerutuan Viktor dengan tawa yang renyah tak disangka pria yang semula tampak pendiam ternyata adalah orang yang dapat mengeluarkan banyak kata gerutuan. Maiko tak perlu tahu kalau yang dihadapinya saat ini adalah Viktor dalam mode merajuk dan canggung.