
Sinar mentari menerobos masuk melalui sela-sela kain penutup jendela. Kedua insan masih terlelap berdekapan di balik selimut yang menutupi kepolosan tubuh keduanya. Berbagi kehangatan sepanjang malam seolah berhasil menghancurkan benteng pertahanan masing-masing untuk saling menerima sebagai sepasang suami istri.
Dengan kelembutan dan kehati-hatian sepanjang malam dan penyatuan dilakukan dengan perlahan, bukan pengalaman bercinta kali pertama untuk Andaro dan Valencia namun kali pertama untuk mereka berdua melakukan bersama ditambah ada janin yang dikhawatirkan terkaget pada pengenalan langsung daddy barunya
Kenyamanan, saling memiliki, dan merasa sangat utuh, itu yang dirasakan Valencia. Meskipun seringkali merasa hubungannya dengan Andaro terlalu cepat tapi hati ini seperti beradaptasi dengan penerimaan dan merasakan ketulusan cinta perhatian Andaro.
Panca indra Valencia juga tidak dapat berbohong kalau penampilan Andaro termasuk di atas rata-rata bagi seorang pria, bahkan secara pahatan wajah dan perawakan yang Tuhan sudah berikan, Andaro memiliki nilai lebih tinggi di atas Dion.
Valencia baru menyadarinya, selama ini mata dan hatinya hanya tertuju pada Dion, seolah sudah menggunakan kacamata kuda.. Valencia tak dapat melihat ke arah lain kecuali Dion.
Andaro memiliki tubuh atletia, tinggi badan mungkin 5 cm lebihnya dibanding Dion.
Valencia yang sudah terbangun karena masuknya cahaya matahari pagi, bisa melihat pria yang berada disebelahnya merelakan satu lengan untuk menjadi bantal bagi Valencia. Mata yang terpejam tenang, kulit yang lebih putih dibanding Dion, bulu mata yang tak sepajang Dion justru membuat Andaro tampak lebih maskulin.
Valencia teringat saat bersama Dion dan momen pagi hari melihat suami masih terpejam dengan bulu mata lentik tapi jambang tipis yang menghiasi wajah sawo coklat, sempat terpikir mungkin anaknya akan cantik dengan bulu mata lentik atau maskulin dengan rahang tegas berjambang.
Entah seperti apa janin yang ada di perutnya, tapi saat ini kekagumannya pada pria yang ada di hadapannya, Andaro. Lesung pipit tipis yang samar terlihat saat berbicara tapi akan sangat jelas saat tertawa, mata khas Asia dengan sorot tajam tapi sebenarnya ada sisi tengil dari Andaro yang terpendam dan perlu di gali.
Hati Valencia terasa hangat dan berbunga-bunga, kulit mereka masih bersentuhan dan merasakan kehangatan satu dengan yang lain, kulitnya meremang teringat apa yang terjadi semalam, terlalu beralasan kalau bercinta hanya untuk menenangkan Andaro dari mimpi buruknya karena Valencia sudah merasakan hasrat bercinta bahkan semenjak awal-awal kehamilannya, entah hormon kehamilan atau memang kondisi psikisnya yang rapuh dan merasa perlu penerimaan dari pasangannya.
Jemari Valencia menelusuri wajah Andaro yang masih terlihat deep sleep dengan dengkur halus pelan penuh kedamaian. Valencia sama sekali tak terganggu karena suara dengkur Dion jauh lebih keras bahkan di awal pernikahan Valencia tidak bisa tertidur karena suara dengkur Dion yang terlalu kencang.
Dibelainya alis Andaro yang tampak sangat rapi seolah sengaja dirapikan, "Alis yang cantik," batin Valencia dalam hati dan tersenyum karena dirinya yang wanita justru harus melakukan sulam alis untuk punya alis rapi cantik seperti ini, tapi Andaro mendapat berkah asli dari lahir.
Bentuk wajah yang oval dengan lengkung garis senyum menghiasi wajah Andaro, sesuatu detail yang baru Valencia sadari. Jadi tanpa effort, dalam diam pun Andaro tampak seperti sedang tersenyum, berbeda dengan Dion yang garis bibirnya tebal dan tegas jika diam terkesan sedang marah dan tak ramah meskipun saat tersenyum pesona Dion seperti nektar yang menarik lebah untuk datang.
__ADS_1
Mata Andaro mulai bergerak, Valencia menutup mata dan menarik tangannya dari wajah Andaro dan mengeratkan pelukan di dada Andaro.
Andaro yang melihat istri cantiknya masih terlelap turut melanjutkan tidur setelah memberikan kecupan ringan pada kening Valencia. Olahraga malam mereka ternyata memang membakar ribuan kalori hingga pagi menjelang merasa enggan untuk beranjak dari peraduan ranjang.
Andaro mendengkur pelan, Valencia kembali membuka mata dan tersenyum. Kecupan singkat Andaro sangat menghangatkan hatinya, hanya sesimple itu dapat membuat kupu-kupu di perutnya berterbangan. Lagi ditemukan pembeda antara Dion dan Andaro.
Dion pria penuh gairah dan hasrat, terlalu panas dan menggelora serta terkesan penuh dengan emosional. Andaro jelas jauh berbeda seolah berkelas penuh pertimbangan dan etika, setiap pergerakannya, sentuhannya tak terasa seperti pelampiasan napsu. Valencia baru menyadari bahwa cinta tak harus melulu soal napsu dan bercinta.
Bersama Andaro, Valencia dapat tidur bersama dengan nyaman tenang hanya dalam dekapan. Berbeda dengan Dion, setiap sentuhan yang terjadi hampir semuanya berakhir pada penyatuan hasrat.
Valencia yang semula merasa Dion sangat tergila-gila karena selalu berhasrat setiap mereka bersama, kini justru Valencia merasa Dion hanya membutuhkan dia sekedar pemuas birahi saja.
Semoga kau berbeda And. Aku tak mau terluka lagi. Aku ingin kau menjadi pria terakhirku, aku ingin kita tetap bisa bersama saling setia hingga tua dan ajal memisahkan. Seru Valencia dalam hati sembari mengamati Andaro yang kembali terlelap.
"Apa kau geli jijik takut dengan luka ku Val?"
Valencia menengadah dan melihat Andaro sudah menatapnya tajam seolah memasang benteng perlindungan diri atas setiap kata penolakan yang mungkin terdengar.
Valencia mengggeleng, kembali meraba luka pada dada Andaro dan mengecupnya. "Tak ada yang salah dengan luka ini And... tak akan kubiarkan kau terluka lagi."
Andaro mempererat pelukannya, "Terimakasih sudah menerimaku."
Respon Valencia justru tak terduga dan bertanya-tanya karena tanggapan Andaro, "Apa ada yang pernah menolakmu karena luka ini?"
"Hm... ya... seorang geisha yang sempat menemaniku, lari meninggalkanku.."
__ADS_1
"Jadi sudah berapa wanita yang sudah melihat dan menyentuh luka ini?" nada suara Valencia berubah ketus.
Andari tersenyum sambil membelai rambut panjang Valencia, "apa kau mulai cemburu honey?"
"Jawab saja!!"
Valencia masih mendekap Andaro merasa siap mendengar jumlah yang banyak dan memikirkan kalau dia yang pernah berhubungan dengan seorang pria dapat melakukan perbandingan, bagaimana kalau Andaro memiliki banyak kekasih sebelumnya... Valencia tak siap dibanding- bandingkan.
"Dua, geisha itu dan kau"
Senyum terkembang si bibir Valencia merasa dialah pemenangnya karena geisha itu meninggalkan Andaro sedang dia masih tetap bertahan.
"Luka ini kudapatkan saat di penjara Val, aku seperti memasuki arena pertandingan gladiator. Entahlah kenapa orang itu selalu mengincarku, dari pemukulan sampai akhirnya melukaiku dengan pecahan gelas, di perkelahian pertama aku bisa bertahan tapi napi senior sudah memiliki kawanan, berbeda dengan napi baru yang ternyata tidak diperbolehkan memenangkan pertarungan."
Valencia merasa trenyuh meskipun masih ada yang mengganjal di hatinya, "apa pengalaman itu yang memancing mimpi burukmu?"
"Sekarang sudah tidak lagi, cukup sampai satu tahun paska kebebasanku saja aku mengalami trauma tapi sekarang sama sekali tak ada bekas trauma kekeraaan lagi."
Valencia terdiam, Andaro melihat alis Valencia berkerut, "apa yang kau pikirkan honey?"
"Lalu, sebelum kau jadi napi, berapa kekasih yang pernah singgah dan merasakan kehangatan mu And??"
Andaro tergelak dan memeluk Valencia, "Tak perlu dihitung sayangku... tak perlu cemburu pada masa laluku, dapat ku pastikan kau tak akan ku bandingkan karena kau satu-satunya istriku. You are not my first woman in my life, but I you are my lasting love."
Andaro mengecup panjang Valencia dan keduanya berpagut lama merasakan ada hasrat cinta yang kembali harus diredam. Selimut masih menutupi keduanya yang sudah bermanuver melakukan pergerakan hingga sinar mentari berbondong-bondong masuk semakin menghangatkan kamar tidur mereka.
__ADS_1