Dinikahi Mantan Napi

Dinikahi Mantan Napi
Kintsugi


__ADS_3

Andaro dan Valencia duduk berhadapan di sebuah restoran suki, berbagai condiment makanan sudah tersedia dan panci suki yang nampak siap menampung kesegaran menu yang sudah terpikirkan oleh Valencia sejak berangkat dari rumah.


Isi panci semula kering dan hanya terlihat banyak kubis dengan udang, kerang, potongan daging ikan segar, cumi. Valencia menatapnya dengan enggan, meskipun aroma amis sudah tidak mengganggu gejolak dalam lambungnya tapi menatap makanan yang tampak mentah dan kering seolah seleranya hilang.


“Apa kau baik-baik saja honey? Berasa begah di perut lihat seafood?” tanya Andaro sambil menggenggam jemari Valencia yang menggeleng tapi tetap menatap isi panci.


“Hanya saja di luar bayanganku And, aku mengira kita akan makan suki dengan kuah gurih segar hangat dan itu sudah membuatku lapar… tapi sekarang… kenapa dengan kubis-kubis itu And? Kita mau makan seafood panggang kubis?”


Valencia menatap makanan di hadapannya dengan tatapan enggan.


Mendengar Valencia yang seolah merajuk membuat Andaro tertawa memperlihatkan gurat tawa yang menurut Valencia akan semakin macho seiring bertambahnya usia Andaro.


Andaro menggeleng, “Nanti akan ada kuahnya honey, dan pastikan kau akan makan banyak nanti…"


"I'm not sure... selera makanku tiba-tiba menguap tanpa bekas."


Andaro menggeleng, "tunggu dulu honey, jangan terlalu cepat menyimpulkan. Beri kesempatan baby kita mencicipi menu sehat ini. Aku yakin kalian tak akan kecewa dan aku sudah siap menggendong kalian kalau ternyata kau tak mampu berjalan karena kekenyangan.”


Valencia masih mencebikkan bibirnya. Terdengar suara panas yang membakar kubis dari dalam panci, seolah memeras semua kandungan kadar air dalam panci. Seorang pramusaji datang dan mengaduk panci, meratakan kubis yang seolah proses magic sedang berlangsung, semua kubis kempes tergantikan air yang sudah berwarna semu merah muda merendam setiap seafood di dalamnya. Udang sudah memerah seperti pipi Valencia yang mulai menghangat senang melihat segarnya kuah dan kepulan asap yang membumbung.


Pramusaji sudah meninggalkan mereka berdua, Andaro membuka tutup mangkok nasi mereka, menyerahkan sumpit pada Valencia dan menuangkan kuah suki pada mangkok Valencia yang lainnya.


“Mau ikan?” tanya Andaro yang hanya dijawab anggukan Valencia yang tampak terpesona memandang hidangan dihadapannya sambil menggigit ujung sumpit.


“Aku kupaskan udangnya dulu ya, ini cicip kuahnya, kalau kurang akan ku minta bonito tambahan pada pramusaji,” Valencia mencicip sendok berisi kuah yang disodorkan Andaro.


Indra pengecap Valencia seolah menemukan sensasi unik yang baru kali ini dia rasakan.


“Hmmmm… enaaaaak segaaar And…” mata Valencia seorah seperti puppy eyes yang menggemaskan karena sangat senang dengan hidangan di hadapannya.


Andaro tersenyum sambil mengupas udang dengan sumpit, tanpa mengotori tangan, dan meletakkan udang di mangkok nasi Valencia, “makan yang banyak ya sayang, jangan takut gemuk..”


Valencia memang sangat menjaga makanan dan merasa insecure karena berat badan yang seolah sangat mudah bertambah. Meskipun senang dan menerima kehamilannya tapi rasa khawatir masih ada pada Valencia, khawatir kalau Andaro akan berpaling karena dia akan menjadi Wanita hamil yang tambun tak menarik.


“You are so sexy what ever you are… I don’t care with your body shape, I just care about your lovely heart and care. Ingat, kau sedang berbadan dua, setidaknya biarkan baby menggembul dan lahir dengan sehat hm..??” Andaro Kembali mengingatkan dan menambahkan kaldu beserta potongan tuna ke dalam mangkok Valencia.

__ADS_1


Waktu makan mereka lewati dengan penuh ketenangan, tak ada kata. Hanya saling memandang sesekali, tersenyum sambil mengecap hidangan di depannya. Valencia sesekali mengangguk dan menggeleng seolah rasa laparnya terobati dengan bahagia, “This is the best taste suki ever..”


“Mereka tidak menambahkan air untuk menjadi kaldu. Semua bahan yang dimasukkan ke dalam panci ini sudah menjadi kaldu dan bumbu otentik tersendiri, rasa segar yang beradu dan sangat ringan tapi umami. Dulu papa sering mengajakku kesini saat beliau masih sehat. Tapi sekarang tidak lagi.”


Andaro mulai teringat papanya, orang yang sudah mengangkatnya menjadi anak dan merawat Andaro dengan setiap kelimpahan yang ada, meskipun bukan kelimpahan kasih sayang yang wajar untuk anak seusianya. Papa Kobe adalah ketua Yakusa saat itu, didikannya sangat keras dan meskipun menyayangi Andaro, tak jarang ketegasan diberikan dengan cara pukulan atau hukuman yang tampak terlalu kejam.


Valencia tak kuasa menahan pertanyaannya, “Apakah kau sempat membenci papa Kobe?”


Andaro menggeleng, “Papa selalu mengajakku ke sini setelah hukuman yang diberikan. Meskipun badan memar dan bibir perih saat terbuka tapi rasa segarnya suki ini seolah mengembalikan kesadaranku bahwa semua yang papa lakukan adalah untuk kebaikanku, mendisiplinku menjadi orang yang lebih baik.”


“And, mendisiplin tidak melulu harus dengan kekerasan, ingatlah… kau bisa mengajakku dan anak-anak kita kemari tanpa harus melakukan kekerasan sebelumnya.” Valencia mengucapkan dengan penuh ketegasan dan mengecap kuah terakhir dalam mangkuknya dilanjut dengan menyesap hot ocha.


Andaro tersenyum memotong ubi panggang dan menyuapkannya pada Valencia,”Aku tak pernah suka makan ubi di Indonesia, tapi ubee di sini terasa sangat enak untuk di lewatkan…. Ya Tuhan…. And… aku sudah kenyang tapi masih bisa mengunyah ubee…”


Keduanya tertawa, Valencia mengelus perut yang sudah membuncit. Kemudian masuk dua orang yang tanpa permisi duduk di sebelah Andaro dan Valencia.


Suara pria terdengar, “Melihat kalian tertawa dan perut Valencia yang tampak siap meletus, aku yakin kalian lupa kalau aku masih ada di sini dan kalian belum pernah mengajakku makan di luar… hmm??”


Andaro mengambil potongan ubee lain dan memasukkannya ke mulut Viktor membuat Viktor terdiam sembari mengunyah tenang dan tawa Valencia serta Maiko yang tak tertahankan.


Valencia agak terkaget mendengar Viktor yang akan pulang, “Kenapa kau tak tinggal lebih lama Viktor? Seperti katamu, kita belum sempat pergi bersama.”


Viktor melirik dingin, menuangkan sake pada setiap gelas selain gelas Valencia.


“Tak perlu berbasa-basi adikku. Aku sudah bukan menjadi pria yang kau perhatikan sejak kita melangkahkan kaki di Jepang. Andaro sudah mencurimu dariku.”


Andaro tertawa dan meneguk sakenya. “Besok kita pergi bro, setidaknya sebelum kau pulang kita harus hang out bersama. Dan aku tak yakin kalau selama kau berada di sini merasakan kesepian” lirik Andaro penuh arti pada Maiko yang dibalas dengan pelototan.


"Aku bukan pengangguran Andarosan, aku baru bisa menemani Viktor sepulang kerja, itupun kalau dia belum tertidur," gerutu Maiko.


Viktor hanya mendengus kencang sebelum melakukan protes balik, "Kau pikir aku juga seorang pengangguran yang hanya bertugas siaga ditempat adikku berada? sepanjang hari aku juga bekerja Maiko, bekerja online jarak jauh terasa lebih melelahkan terutama mataku jadi mudah lelah menatap layar laptop seharian."


Valencia memahami, Viktor lebih suka melakukan pekerjaan secara langsung bertemu klien atau karyawannya dibandingkan harus melakukan pekerjaan administratif.


"Baiklah Viktor, besok kita berempat berjalan-jalan bagaimana? Sabtu kalian bertiga tidak ada kerjaan bukan? " tanya Valencia yang dijawab anggukan Andaro dan Viktor.

__ADS_1


“Aku ada kursus Kintsugi. Kalian saja pergi bertiga,” jawab Maiko mantap.


Valencia tampak tertarik, “Kintsugi? Apa itu Maiko?"


“Hal yang menyenangkan Valencia, kusarankan kau bisa ikut kursus denganku. Kintsugi termasuk kesenian Jepang, seni memperbaiki tembikar yang sudah rusak dengan menyusunnya kembali dan menutup pecahannya dengan menggunakan bubuk emas, perak, atau platinum. Bisa melatih kesabaran, kekreatifan dan tanpa sadar aku jadi orang yang memandang bahwa sesuatu yang rusak dapat dibentuk kembali dan tampak lebih indah,” Maiko menjelaskan tapi tanpa sadar tatapannya mengarah ke Viktor.


Andaro masih saja tertawa dan berucap, “kenapa kau menatap Viktor saat kau bilang sesuatu yang rusak dapat dibentuk kembali dan tampak lebih indah? Jadi maksudmu, Viktor termasuk yang rusak dan perlu diperbaiki atau..”


“Tak usah malu Maiko, aku tahu kalau maksudmu aku adalah bagian yang indah untuk di pandang,” ucap Viktor dengan kepercayaan diri yang tinggi.


Maiko tersenyum dan menyesap sake sebelum menjawab, "Kau akan lebih indah saat berdamai dengan tembikar-tembikar hidupmu yang pecah Viktor. permasalahan masalalu bukan untuk disingkirkan tanpa penyelesaian. Meskipun nampak rusak dan harus di lupakan, setidaknya diselesaikan dulu dengan indah sebelum disimpan menjadi masalalu. Seperti seni Kintsugi."



Semua mata menatap Viktor, yang mendapat perhatian hanya menggeleng tak dapat memberikan komentar.


"Sepertinya hubungan kalian sangat dekat, jadi Viktor sudah cerita tentang apa saja Maiko? " tanya Valencia penuh arti seolah berharap wanita di hadapannya akan menjadi kakak ipar yang menarik Viktor dari lubang trauma masalalu.


"Kalau bukan rasa penasarannya pada botol Everclear yang kupajang, mungkin dia tak akan bercerita banyak soal 'tembikar pecah dalam hidupnya' yang dia biarkan dan malah menjadi kerikil trauma"


Andaro terkaget, "What??? kau biarkan dia minum Everclear??? sudah kukatakan padamu Maiko lebih baik koleksi botolnya tapi buang saja isinya, terlalu beresiko."


"Dia sudah mengencerkan sebelum mencoba satu teguk dan langsung meracau, beruntung tak ada efek berbahaya lainnya."


Viktor hanya mendengarkan dan merasa malu bercampur sebal karena dua orang di depannya bertukar cerita seolah tak ada dia di sana.


"Syukurlah kalau kau tak apa bro. Aku sudah tak suka melihat botol pembawa masalah itu!!"


Maiko tahu makna tersirat dari perkataan Andaro, dia menatap Valencia dan berbisik, "Valencia, sebaiknya kau sesekali ikut aku ke kursus Kintsugi karena suamimu pun memiliki tembikar pecah di masa lalunya yang perlu dibereskan."


Valencia tersenyum dan mengangguk. Tembikar pecah masalalu, Maiko mengingatkan akan masa lalunya. Valencia pun memiliki 'tembikar pecah' yang sangat ingin dua hancurkan, buang, dan lupakan. Tapi semakin dia ingin hancurkan dengan kebencian, semakin sulit proses melupakan dan malah menimbulkan ledakan emosi tak karuan


Dion adalah tembikar pecah masa lalunya, sangat sulit untuk merangkai dan berdamai dengan masalah yang pernah menimpanya. Dion masih menjadi tembikar pecah yang ingin dia buang dan hapus dari hidupnya, tapi tetap tak mungkin bisa. Valencia membelai perut buncit nya, tembikar indah yang akan terbentuk dengan lahirnya bayi ini, semoga bisa membuatku berdamai dengan masalah Dion dan tak ada lagi kebencian hanya penerimaan.


Valencia menatap Andaro yang sedang bercanda dengan Viktor. Kalau dalam Kintsugi dibutuhkan emas ataupun platina yang dapat memperindah perbaikan tembikar yang rusak... Andaro adalah bagian berharga yang membuat masalah yang terjadi menjadi suatu anugrah keindahan.

__ADS_1



__ADS_2