
Pintu ruang operasi terbuka dan terlihat dua orang perawat mendampingi Valencia yang masih terlihat lemah di atas ranjang beroda.
Mata Valencia mengerjap dan bersuara lemah,
"Bagaimana anak kita And?"
Andaro mengusap anak rambut Valencia dan mengecup keningnya, "Aku belum melihatnya Val, tapi jeritan kecilnya terdengar seolah ingin segera bertemu. Kau ingin aku menunggunya atau mengantarkanmu ke kamar perawatan?"
Dengan suara parau dan lemah Valencia menjawab, "Kau harus memastikan dia baik-baik saja And, temui aku setelahnya di kamar perawatan." usai berbicara mata Valencia terpejam dan terlelap.
Perawat melajukan kembali ranjang ke arah kamar perawatan, meninggalkan Andaro yang masih menanti si kecil anaknya keluar dari balik pintu masuk ruang operasi.
Lima belas menit masih belum ada tanda-tanda kemudian ada perawat yang berlari keluar dan masuk kembali membawa kantong infus dan kotak besi kecil entah apa yang terjadi di dalam.
Waktu terasa sangat lambat berjalan, hembusan sepoi angin terasa seperti tiupan angin kutub yang terasa dingin membuat tubuh menggigil. Ada ketakutan yang tersimpan dan enggan untuk diakui karena masih ingin tetap berharap si kecil baik-baik saja.
Suara pintu terbuka dan Andaro bangkit berdiri melihat Dokter wanita muda dengan senyuman sekadarnya berada disamping inkubator kecil ditemani seorang perawat yang membantu mendorong inkubator secara perlahan.
Tampak di dalam inkubator seorang bayi sangat mungil, Andaro terpana melihat jari tangan dan jari kaki yang menyembul, diapers kecil menutupi ******** bayi entah laki-laki atau perempuan tapi bayinya nampak begitu cantik meski terlihat lemah. Hanya ada gerakan jemari sesekali dan pergeseran kepala. Pada dadanya terpasang banyak sekali kabel untuk memantau denyut jantung dan paru-paru supaya jika ada henti napas maka alat akan segera berbunyi, pada bagian mulut terpasang selang yang akan membantu pernapasan dan satu selang lagi untuk mengalirkan cairan. Tubuh itu masih terlalu kecil untuk terpasang infus.
Sungguh gamang rasa di hati, antara bahagia dan juga tak tega melihat si munggil harus ditemani dengan berbagai alat, kabel, dan selang.
"Ehm... Mr Andaro, saya dokter anak yang menangani bayi anda. Sebelumnya selamat sudah menjadi seorang ayah tapi seperti yang anda lihat kondisi baby masih harus dalam pengawasan dan ijinkan saya meminta waktu anda untuk bicara di ruangan saya, sedangkan perawat akan membawa bayi ke NICU, anda dan istri dapat menjenguk baby nanti."
Andaro mengangguk dan menatap inkubator yang berjalan melaluinya, ada gelanyar firasat tak enak dalam hatinya.
"Dokter, apakah dia dapat berumur panjang?"
Sendu suara Andaro yang nampak pasrah. Dokter wanita disampingnya hanya tersenyum dan mengulurkan tangan mempersilahkan Andaro berjalan menuju ke ruangannya.
Berjalan menelusuri lorong rumah sakit dengan pikiran yang berkecambuk. Dokter spesialis anak membukakan pintu salah satu ruangan dan mempersilahkan Andaro untuk masuk, rumah sakit tampak sepi tanpa antrian pasien karena memang waktu sudah menunjukkan tengah malam.
"Silahkan duduk Mr Andaro," Ucap Dokter sembari memutari meja dan duduk diseberang Andaro.
Keheningan tercipta sang dokter menarik napas dan mulai mencoba menjelaskan kondisi bayi yang baru saja lahir,
"Begini Mr Andaro, setelah penelusuran dan informasi rekam medis yang saya baca, istri anda mengalami pre eklamsia yang menyebabkan berbagai efek salah satunya adalah bayi Bapak lahir karena solusio plasenta ini adalah kondisi plasenta yang lepas dari tempat implantasi normal dalam rahim sebelum kelahiran dan itu salah satu penyebab kenapa istri anda mengalami pendarahan. Beruntung pertolongan segera dilakukan sehingga istri dan anak anda dapat diselamatkan. Tapi ternyata usia kandungan masih kurang dari seharusnya jadi meskipun berat dan ukuran bayi anda sangat baik di atas 2 kg namun tetap saja lahir kurang dari 39 minggu termasuk kelahiran prematur dan beberapa fungsi organ masih belum sempurna,"
Tidak ada kata yang keluar dari Andaro, dia menyimak dan berusaha untuk menangkap setiap informasi yang disampaikan dokter.
"Jadi anak perempuan anda masih perlu observasi dan perawatan, boleh dikatakan 2x24 jam ke depan adalah masa kritis karena dari hasil pengecekan diketahui bahwa bilirubin anak anda sangat tinggi."
__ADS_1
Hati Andaro melecos, masih belum bisa untuk berusaha tenang, "Jadi maksud Dokter ada kemungkinan buruk yang terjadi? apakah pengobatan dan peralatan hebat yang ada di negara ini dapat membantunya selamat melewati masa kritis? saya dapat mengupayakan setiap biaya yang dibutuhkan."
Dokter menggeleng, "Pengobatan dan peralatan tetap menunjang proses penyelamatan yang terbaik Tuan, tapi semua kita tetap tidak dapat memastikan karena kehidupan adalah milik pencipta."
"Jadi dokter, dengan tingginya bilirubin apa kemungkinan yang terjadi? apakah livernya akan rusak? kalau memerlukan donorpun saya siap." Andaro mulai meracau dengan hal yang kurang masuk akal karena tak pungkin bayi semungil itu harus mengalami transplantasi.
Dokter memutar kursi dan berbalik mengambil air mineral dan menyerahkan pada Andaro, "Silahkan diminum dulu Tuan, anda harus tetap mencoba kuat dan berharap terlebis istri anda juga pasti memerlukan kekuatan untuk cepat pulih. Jadi ada kemungkinan yang dapat dialami bayi anda karena tinggi nya bilirubin seperti beresiko tuli, lumpuh otak (cerebral plasy), kerusakan otak (kernikterus) bahkan...kematian"
"Oh Tuhaaaan.... bayi sekecil itu.... apa yang bisa kulakukan Dokter?" tangis Andaro terpecah.
Dengan bijak sana Dokter menganjurkan Andaro untuk menenangkan diri dan menemani Valencia beristirahat dan esok pagi setelah kondisi Valencia memungkinkan untuk duduk di kursi roda mereka dapat menghampiri anak mereka.
Keluar dari ruangan dokter dengan langkah gontai, beberapa pasang mata perawat yang tengah berjaga mengamati dan merasa iba. Sebelum menghampiri Valencia di kamar perawatan, Andaro masuk ke rest room untuk membasuh wajahnya dan mencoba menghilangkan bekas tangis kesedihan.
"Kau bisa And... sekarang kau adalah kepala keluarga, kau harus mampu berdiri kuat untuk istri dan anakmu," Andaro bermonolog.
...>.<...
"Honey..." panggil Andaro perlahan sambil membelai puncak kepala Valencia dan mengecupnya. Valencia masih terpejam, Andaro menggeser sofa bed yang tersedia di ruangan itu untuk berjejer di sebelah ranjang pasien.
Sesaat merebahkan tubuhnya dan memandang langit-langit ruangan Andaro baru merasakan lelahnya tubuh dan hatinya. Dia berharap ini semua adalah mimpi, dia berharap saat ini masih ada di rumahnya dan tidak ada yang terjadi pada Valencia. Apakah mungkin ini karma, aku melakukan kejahatan pada Dion dan kini anaknya berusaha untuk menyusul ayah kandungnya yang tiada... mungkinkah dia tak rela aku menjadi ayah pengganti.
Bulir bening mengalir dari sudut mata Andaro. Tangan Andaro terasa hangat seperti ada yang menyentuhnya.
"Ya honey, apa aku membangunkanmu?"
Valencia menggeleng, "Apa kau baik-baik saya And? maaf aku merasa lelah sekali dan perutku masih terasa nyeri untuk menghadapmu."
Andaro bangkit duduk menghadap Valencia, " Tak apa honey, aku baik-baik saja dan kau bersabarlah kalau nyeri itu tak dapat tertahan aku akan panggil perawat untuk berikan obat pengurang rasa sakit."
Valencia mengangguk dan Andaro menekan tombol darurat untuk berbicara dengan perawat dari intercom, "Istriku kesakitan tolong berikan obat"
Tak lama perawat datang dengan sigap dan ramah menyuntikkan obat pereda nyeri, "Tunggu lima menit dan nyeri akan berkurang, Nyonya kalau merasa haus boleh minum sedikit. Apakah anda sudah buang angin Nyonya?"
Valencia mengangguk, "kalau begitu anda sudah boleh minum atau sekedar memakan kudapan jika ingin, saya pamit permisi"
Sepeninggal perawat dari ruangan, Andaro menceritakan bagaimana cantiknya anak mereka.
"Aku ingin melihat putri kita And.. seberapa cantik dan mungilnya dia?"
"Sangat mungil honey, beratnya 2 kg panjang sekitar ini..47cm...mungkin kita masih bisa menggendongnya dengan satu tangan tapi tetap saja sepertinya harus kita dekap erat karena dia tampak rapuh."
__ADS_1
"Aku ingin menemuinya And"
"Kau tidak lelah? ini masih tengah malam Val, hmmm pukul 2 pagi apa nyerimu sudah hilang?"
Valencia mengangguk, tak ada alasan untuk melarangnya menemui bayi kecilnya, tak dapat lagi dia membendung rasa rindu akan janin yang selama ini bergerak dalam perutnya.
Perawat datang dan membantu Valencia untuk duduk di kursi roda dengan perlahan. Andaro berjalan disamping Valencia, tangan mereka berpegangan. Perawat yang sedang mendorong kursi roda merasa pemandangan ini sangat mengharukan ditambah dia tahu bagaimana kondisi bayi pasangan yang ada di hadapannya.
Ruang NICU terbuka, Andaro dan Valencia melewati ruangan steril dan menggunakan jubah hijau, perawat lain menyambut dan menunjukkan letak bayi mereka.
"Hi Girl....welcome to the world nak..." bisik Valencia, tangannya masuk ke dalam inkubator menyentuh tubuh mungil yang terlihat rapuh. Telunjuk Valencia menyusuri jemari bayi nya dan grab... jemari itu terbuka dan seolah berusaha menangkap dengan penuh kerinduan.
"Apakah baru saja aku melihat dia tersenyum, honey?" Andaro sangat haru melihat pemandangan indah di depannya. Tanpa berkata mereka tahu bahwa si bayi menantikan mereka dan senang akan kehadiran mereka.
"Baby... sehat-sehat ya... papa mama menyayangimu..."
"And, kita perlu memberinya nama..." Andaro mengangguk dan menyadari bahwa bayi mereka belum bernama.
"Kau sudah punya nama untuknya honey?"
Valencia melihat jemari mungil dan kulit bayinya yang merah kekuningan, semua nampak indah meskipun warna kuning itu cukup mengkhawatirkan.
"Sakura Kobe, kita panggil dia Sakura... bagaimana And?"
Andaro mengangguk dan mencium puncak kepala Valencia dan menatap Sakura, "Haii Sakura... namamu indah dan kau cantik seperti mamamu... papa menyayangimu nak.."
Air mata bergulir tanpa permisi dari mata Valencia, ada rasa mendalam ingin memeluk Sakura, buah cintanya meski bukan dengan orang yang saat ini bersamanya tapi Sakura juga sudah mempersatukan Valencia dengan Andaro.
Mungkin kalau saat itu Sakura belum tumbuh diperut Valencia, saat ini Andaro dan Valencia belum terjalin ikatan pernikahan atau bahkan sudah terpisah dua negara dan putus hubungan.
"Kau yang mempersatukan kami Nak... terimakasih Sakura sudah hadir dalam hidup mama dan mempersatukan mama dan papa...kami mencintaimu Sakura"
Di akhir ucapan Valencia terdengar bunyi yang memanggil perawat untuk mendekat.
Tit...tit...tit...
Perawat menginstruksikan untuk Valencia dan Andaro menjauh dari inkubator.
"Bayi mengalami henti napas," ucap seorang perawat sambil melakukan pengecekan pada selang dan kabel yang berada pada badan Valencia dan perawat yang lain menatap monitor di depannya.
"Kita panggil Dokter, bayi mengalami gagal jantung"
__ADS_1
Andaro dan Valencia di antarkan keluar dari ruang NICU. Keduanya keluar dengan penuh kesedihan, Valencia tak kuasa menahan tangis. Andaro memeluk Valencia, keduanya berusaha saling menguatkan dan tak ada kata yang dapat terucap hanya tangis dan harap.
Dokter berlari masuk menatap sepasang suami istri yang sedang dilanda kesedihan mendalam, pun sang dokter tak dapat yakin apakah Sakura dapat di selamatkan atau kah harus direlakan.