Dinikahi Mantan Napi

Dinikahi Mantan Napi
Berdebar


__ADS_3

Andaro terdiam menatap Valencia,


"Kau yang menantang ku Lady... sudah tak ada kesempatan untuk memintaku berhenti."


Valencia tersenyum dan memasukkan telunjuk Andaro ke mulutnya, menghisapnya, "lanjutkan sayang"


Seperti lampu hijau yang mendadak menyala, Andaro segera menerjang dan jemarinya menjelajah ke inti yang sudah mulai basah..


knok.. knok...


Ketukan terdengar.... Ketukan itu semakin lama semakin keras terdengar, bayangan panasnya pergulatan dengan gadis di depannya seolah memudar. Hingga tepukan di bahunya terasa semakin kuat...


"Maaf Mr... maaf mengganggu tapi sepertinya panggilan boarding untuk flight anda sudah terdengar... mohon dapat mempersiapkan diri, " ucap wanita muda di depannya, yang pasti bukan Valencia, mengakhiri informasi dan sebelum beranjak pergi gadis itu menundukkan badan sembilan puluh derajat tanda kesopanan.


"Oh.. ya... arigatou," Andaro mengacak rambutnya dan mulai menepuk pipi untuk mengembalikan kesadaran dan menidurkan artur yang mulai terbangun.

__ADS_1


Syukurlah tertidur di lounge... tak terbayang kalau Andaro tertinggal pesawat karena tertidur...bisa jadi Maiko akan tertawa sejadi-jadinya.


Andaro duduk di kursi first class, menerima bantal, selimut, dan seharusnya siap beristirahat (dan melanjutkan mimpi indah?? bisa sajaa) tapi pikirannya masih terasa berenergi dan menolak terlelap.


Sudah tiga jam dan anak buahnya masih belum dapat melacak keberadaan Dion. Apakah Dion baik-baik saja? atau sekarang Dion tengah menikmati hasil pembalasan dendam untuk mertuanya?


Masih tak habis pikir dengan jalan yang diambil Dion, tapi masih tak dapat dimengerti juga apakah cinta mereka tidak begitu kuat hingga sakit hati memenangkan Dion untuk bertindak?


Andaro, kau datang bukan karena istri Dion adalah Valencia. Misi ke Indonesia adalah membereskan kekacauan yang dibuat Dion. Aku tetap bertanggung jawab setidaknya start up itu berdiri karena ada support yang ku berikan... ya benar seperti itu. Yakin Andaro pada dirinya, masih terganggu dengan sekelebat mimpi yang cukup membuatnya terbakar dan berdebar.


Aku harus segera istirahat, esok akan jadi hari yang melelahkan. Audit buku besar, cek dokumen, lacak setiap investor dah debitur terdaftar, dan memastikan Valencia baik-baik saja.


Berharap fermentasi anggur yang menghangatkan dapat membuat tertidur.


Di sisi lain kota Jakarta, dua orang pria dewasa sedang berbicara dengan sangat serius. Bukan soal pertandingan bulu tangkis yang dimenangkan Indonesia, bukan Kevin & Markus yang masih bergerak gesit membuat lawan kalah telak tapi kedua nya membicarakan wanita tersayang mereka.

__ADS_1


"Daddy akan jemput Valencia pulang."


Viktor yang mendengarnya segera menggelengkan kepala, "Daddy, Valencia sudah dewasa, dia bukan putri kecilmu lagi. Aura manja sudah hilang digantikan kedewasaan, itu yang aku rasakan. "


"Lalu kau mau aku diam saja lihat putriku mengalami kesulitan???"


"Tentu tidak Dad, aku pun sudah bergerak cari info lebih lanjut kemana dan ada apa dengan Dion. Aku tetap akan awasi Cia, Dad. Percayalah padaku."


"Baik kalau itu yang kau pikir baik Viktor. Tetap kabari Daddy perkembangan beritanya dan cepat bawa Valencia kalau keadaan memungkinkan dia kembali ke rumah ini."


"Tentu saja.. aku juga sudah rindu omelan dan tawanya di rumah ini. Tapi akan sangat melukai harga dirinya kalau kita tiba-tiba muncul membuka hal yang dia sembunyikan. Sementara kita dibalik layar dulu Dad, kita lihat apa yang Cia kita akan lakukan."


Keduanya sepakat dan mendentingkan gelas berisi wine dan espresso.


"Dasar anak aneh, tengah malam minum espresso.. kau tak takut insomnia??"

__ADS_1


"Aku seaneh kau Dad hahaha... hanya saja beda tipe keanehan..."


Jauh di lubuk hati mereka, pikiran tentang Valencia sangat menyita. Tapi apa guna banyak bicara... tindakan dan perhatian dengan pengawasan lebih utama untuk sementara ini.


__ADS_2