
Kalau mencintai memerlukan alasan detail, maka Aurora tak segera terbangun setelah ciuman lembut dari seorang pangeran.
Kalau menyayangi butuh balasan, maka tak ada alasan ikan hiu membiarkan ikan remora mengikutinya dan mengambil setiap remah sisa makannya.
Dan kalau mencintai harus memiliki, maka seseorang tak akan memahami arti terdalam dari kata cinta yang penuh dengan ketulusan yang tanpa alasan dan menuntut balas.
"I Love you... Aishiteru...", ucap perlahan Andaro sambil membelai puncak kepala Valencia yang tertidur lelap disampingnya sementara Andaro melajukan mobil ke tempat yang sangat dibutuhkan Valencia dan janinnya.
\*\*\*
Valencia masih menatap Andaro dengan mulut menganga saat Andaro mengatakan bahwa dia harus segera melakukan kontrol kandungan. Valencia tak menyangka bahwa rahasia yang akan dia pendam (entah sampai kapan) ternyata sudah terbuka.
"Ayo Val, turunlah...aku akan menemanimu," Andaro menawarkan tanggannya untuk membantu Valencia keluar dari mobil.
Valencia masih ragu dan terdiam, "Katakan And...kapan kau tahu? bahkan perutku pun masih terlihat rata."
Andaro tersenyum dan berlutut hingga kepalanya sejajar dengan perut Valencia yang masih terduduk di dalam mobil.
"Sejak aku jadi penanggap spider Val. Aku menemukan testpack di kamarmu. Tak mungkin itu milik pegawaimu kan?"
Valencia menunduk bingung, tak akan ada tangisan karena airmatanya sudah mengering dan dalam hatinya dia sudah berjanji untuk menjadi wanita kuat yang tak akan melemah dengan keadaan.
"Kenapa kau ragu? ayo kita ke dalam," Andaro menyentuh dagu Valencia dan mata mereka bertatapan.
"Aku masih tak tahu harus bereaksi bagaimana And... dan aku tak siap kalau dokter menyadari bahwa anak ini akan lahir tanpa ayah."
Andaro menggeleng, berdiri dan menarik Valencia segera keluar dari mobil. Di tutupnya pintu mobil hingga Valencia dapat berdiri bersandar pada mobil dan berhadapan dengan Andaro.
"Anak itu akan memiliki ayah, kau tak usah kawatir,"
Valencia masih belum menjawab.. Andaro menariknya dalam pelukan hangatnya.. Valencia masih terdiam, "kalau kau mengijinkan, aku sangat bersedia menjadi ayah anak itu Val. Aku bersedia menjadi suamimu dan ayah dari anak-anakmu Val. Aku serius."
Tubuh Valencia bergetar, tangisnya pecah...tangannya berpegangan pada punggung Andaro dan kepalanya bersandar pada dada bidang Andaro.
"Ssssttt... sudah cukup kau menangis, ingat?? Kau tau ini bukan lamaran pertamaku dan kalau kau menolakku lagi.. bersiaplah untuk menerima lamaranku kembali. Aku bukan pria yang mudah menyerah Val." ucap Andaro sembari mengusap rambut Valencia dan tangan yang satu mendekap pinggang wanita yang dia harapkan segera mau menerima cintanya.
Valencia memisahkan jarak mereka, menatap mata Andaro, tangan mereka bertautan.
"Thank you Andaro... benarkah kamu akan dapat menerima anak ini seperti anakmu sendiri? aku tak ingin kau menerimanya hanya karena aku."
Andaro mengusap perut Valencia dengan lembut, "Dia tak bersalah Val dan setelah kita menikah aku akan mendampingimu bahkan saat kau merasakan perjuangan hidup dan mati saat melahirkannya, aku akan bersama denganmu, menggendong dia, membisikkan kalimat doa. Hingga diapun tak akan tahu bahwa aku bukan ayah kandungnya."
Valencia menghabur ke pelukan Andaro, kali ini tanpa tangis hanya dekapan erat dan ucapan terimakasih.
"So... apakah ini artinya aku sudah tak perlu melakukan lamaran lagi?"
"Lamaranmu selalu payah And... tak ada romantis, bunga, cincin.... tapi ya...aku mau menikah denganmu."
Mereka tetap berpelukan tak peduli ada tatapan tukang parkir dari kejauhan yang memandang heran.
__ADS_1
"Aku bukan orang romantis Val, aku orang yang logis dan realistis. Tapi kalau kau suka hal romantis, aku akan belajar supaya bisa membahagiakanmu dengan hal-hal yang romantis."
Valencia menggeleng, "Aku rasa aku sudah kenyang dengan hal romantis And, aku menerimamu apa adanya seperti kau yang mau menerimaku apa adanya. Dan... And... ajari aku untuk mencintaimu..."
Andaro mengangguk, mengecup puncak kepala Valencia.
Mereka bergandeng tangan memasuki rumah sakit, melakukan pendaftaran ke bagian Obgyn. Andaro langsung menyebutkan nama dokter yang akan dituju, membuat Valencia mengernyit bingung bagaimana pria WNA disebelahnya bisa lebih paham dibanding dirinya.
"Apa dokter yang kau pilih itu temanmu, And?"
Andaro tersenyum, tangan Valencia masih saja berada digenggamannya, ibu jari Andaro mengusap lembut, "Kau jangan kaget aku sudah banyak belajar tentang kehamilan dan mencari artikel tentang obgyn terbaik untuk kalian," bisik Andaro dekat dengan telinga Valencia yang membuatnya bergetar.
Mereka berdua tersenyum, duduk bersebelahan menunggu saat antrian mereka tiba.
Sesekali Valencia menyandarkan kepalanya pada bahu Andaro, tangan mereka selalu bertaut.
"Kuamati sepertinya kau aman dari morning sick, Val?"
Valencia mengangguk, otak dan hatinya masih mencerna keberuntungan yang tiba-tiba ada digenggamannya.
"Hanya saja makan siang tadi terasa sangat tak bersahabat And.. terimakasih untuk buah yang kau sodorkan."
"Hm... aku tak akan membiarkanmu terlihat mual di depan Daddy."
Valencia terduduk memandang Andaro dan melepaskan ikatan tangan mereka.
Dipandangi Andaro dengan tatapan tajam namun senyum terkembang di wajah ayu Valencia, kini gurat sumringah tampak jelas mempercantik kulit halus bersinarnya.
"Aku hanya ingin memandang anak baru Daddy Hero yang akan menikah denganku," ucap Valencia perlahan mengingat di ruang umum dan ada beberapa pasangan suami istri yang hendak memeriksakan calon anak mereka.
Andaro tertawa ringan dan memeluk bahu Andaro, "Tak hanya anak baru Val, Daddy Hero sudah memberi restu untuk aku memiliki status ganda... menjadi anak mantunya."
"Ckckck ternyata kalian sudah membahasnya sejauh itu.."
Melihat interaksi Andaro dan Valencia yang terlihat sangat hangat, seorang pasien yang sedang mengantri tak kuasa lagi untuk berkomentar,
"Kalian pasti pengantin baru ya?? Aku senang melihat kalian sangat bahagia"
Andaro dan Valencia terkaget dengan komentar tiba-tiba yang mereka dapatkan. Valencia hanya tersenyum, Andaro mengangguk dan menjawab "Benar kami pengantin baru.."
Wanita separo baya yang mengantarkan anak gadisnya tersenyum dan mendoakan, "Semoga kalian selalu hangat dan penuh cinta nak... tidak hanya saat awal pernikahan."
"Nyonya Valencia", seru suster yang menandakan sudah saatnya Andaro dan Valencia masuk.
"Terimakasih Tante, kami permisi," ucap sopan Valencia pada wanita yang mendoakannya.
Di dalam ruang sudah seorang dokter wanita menyambut dengan hangat.
"Selamat datang, baru pertama kali kemari ya?"
__ADS_1
Andaro dan Valencia mengangguk.
"Baik, Ibu kapan terakhir kali haid?"
Valencia mengingat, "2 atau 3 bulan lalu Dokter"
"Oh baiklah, kita cek dulu yuk... silahkan Ibu rebahan di hospital bed ya, silahkan Bapak ikut temani kita USG dulu."
Valencia merebahkan badannya dan bagian perut di buka oleh suster. Andaro berdiri di samping Valencia mengamati Dokter yang sedang memberikan pasta pada alat USG dan siap meletakkannya di perut Valencia.
"Untuk kehamilan 8-12 minggu, perut ibu ramping juga ya," ucap Dokter Fransiska ramah sembari memutar-mutarkan alat di atas perut.
Di layar nampak kantong dengan titik di dalamnya. Valencia hanya tersenyum, nampak ketegangan di wajahnya.
"Tidak usah cemas Ibu, ini janin Ibu sudah terlihat. Ini kantongnya dan yang di dalam adalah janin Ibu, perkiraan usianya adalah 9 minggu."
Andaro mengecup dahi Valencia, siapapun yang melihatnya pasti mengira bahwa mereka adalah pasangan pengantin yang menunggu buah cinta mereka. "Dia sebesar buah anggur, Val"
Dokter takjub mendengar Andaro berkata, "Waah bapak sudah sangat paham ya, pasti tidak sangat bahagia akan punya anak dari Ibu yang cantik. Kita dengarkan suara baby ya."
Dokter menyalakan speaker dan terdengar keras bunyi dentuman - dentuman berirama indah.
"Suara apa ini dokter?" tanya Valencia bingung.
"Detak jantung janin Ibu. Sehat sekali, tidak ada yang perlu di khawatirkan. Pemeriksaan hari ini cukup, saya buatkan resep vitamin ya."
Dokter bangkit kembali ke kursi. Andaro menunggu Valencia yang perutnya tengah dibersihkan oleh suster karena terkena krim. Mereka berjalan bersama menuju kursi dihadapan meja dokter.
"Ini foto hasil USG baby kalian. Bulan depan kontrol kembali ya. Saya hanya resepkan vitamin saja folic acid, untuk pembentukan otak. Tidak ada penguat kandungan karena saya lihat janin Ibu sehat. Kalau ada keluhan atau bercak darah dapat kontrol meskipun belum jadwalnya ya."
Andaro menerima amplop kecil berisi foto hasil USG dan menyimpannya di saku kemeja. Valencia mendengarkan pengarahan Dokter dengan seksama dan membelai perut dengan rasa perlindungan dan bahagia.
"Ibu banyak makan bergizi, seafood, buah, sayur bagus untuk janin kalau Ibu tidak merasa mual. Kalau memang mual ya tetap diusahan ada asupan demi kesehatan janin dan ibunya. Mmm ada yang ditanyakan Pak Bu??"
Andaro dan Valencia menggeleng. Dokter hanya tersenyum.
"Sepertinya ini adalah kehamilan pertama dan sebagai info Bapak dan Ibu tetap dapat berhubungan badan tapi mungkin dapat lebih hati - hati karena di beberapa kehamilan, berhubungan badan dapat menimbulkan kontraksi yang membahayan janin. Tapi sejauh pengamatan saya, harusnya tidak ada masalah dengan Ibu, kandungan Ibu sangat sehat. Sampai ketemu bulan depan."
Mereka berdua melangkah keluar dengan diam dan tersenyum. Tangan bertaut, langkah berjajar, dan merasa semilir angin yang dirasakan saat keluar dari rumah sakit bagaikan desiran janji lembaran baru untuk mereka berdua.
Saat Andaro akan melajukan mobilnya, Valencia menggenggam tangan Andaro dan duduk menghadap Andaro,
"Terimakasih And... terimakasih sudah mengajakku ke sini dan bertemu dengan dia..."
Valencia mengecup bibir Andaro singkat.
Andaro merasa kecupan yang dia tunggu untuk waktu yang lama terasa terlalu singkat dan tak mewakili kebahagiaan yang mereka rasakan saat ini.
"Most welcome honey," Andaro menarik dagu Valencia dan mulai mengecup dalam bibir Valencia, mengecap rasa manis sensual dan berisi bibir merah Valencia, menelusuri tekstur lembut dan saling bertemu merasakan seolah lidah mereka saling berkenalan merindu.
__ADS_1
"I Love you Val... kita pulang sekarang dan aku akan meminta ijin Daddy untuk menikahimu"
Valencia mengangguk dengan linangan airmata bahagia, tak lupa menggunakan seat belt sebelum mobil mulai melaju.