
Waktu Indonesia masih 03.00 bahkan ayam saja masih enggan membuka mata dan berkokok. Andaro sudah terbangun, melakukan pesan singkat pada beberapa kolega dan mengambil sepatu kets, hoodie untuk bersiap jogging sebelum Valencia bangun.
Sudah beberapa hari badannya berasa kaku karena melewatkan olahraga dan merasa waktu terlalu padat tanpa jeda. Misi Andaro pagi ini tidak hanya untuk memberi kebugaran pada otot-ototnya namun juga mempelajari lingkungan di sekeliling rumah Valencia.
Sebelum meninggalkan rumah, Andaro mengunci pintu dari luar, tak akan dibiarkan orang asing mengambil kesempatan untuk masuk tanpa permisi. Celana pendek putih, kets abu-abu dan hoodie berwarna hitam yang dalam kegelapan akan nampak seperti celana putih berayun tanpa badan. Andaro menyalakan GPS pada smart watch nya dengan berlari kecil dan mata tetap mengawasi sekeliling dimulailah kegiatan observasi Andaro.
Sejauh pengamatannya tidak ada CCTV yang mengarah ke rumah Valencia jadi rumah Valencia menjadi blank spot yang sangat empuk untuk dilakukan kejahatan tanpa termonitor. Di ujung jalan terdapat Coffee shop 24 jam yang terlihat sudah memiliki pengunjung meskipun hanya dua orang saja duduk di meja yang terpisah.
Andaro kembali menyusuri jalanan yang masih sepi, sesekali terlihat ojol yang sudah mulai mengais rizky, loper koran dan pengantar susu segar yang sudah mulai berkeliling dengan sepeda lipatnya sudah tak ada sepeda ontel reyot tapi berganti sepeda lipat dan pengantarnya pun sudah bukan bapak - bapak tua tapi pemuda yang biasanya mahasiswa yang mencari part time pekerjaan menambah uang saku.
Sudah dua putaran Andaro berlari dan kembali melewati Coffee shop yang sudah kosong. Melihat list produk diputuskan membeli Almond milk untuk calon ibu muda yang tengah terlelap dan capuccino extra shoot. Minimarket di seberang Coffee Shop juga buka 24 jam Andaro berlari membeli satu krat wheat bread dengan butter oles.
Berjalan kembali ke rumah dengan pengamatan seadanya, paling tidak masih belum melihat adanya hal yang mencurigakan, hingga nampak motor RX king terparkir di depan rumah Valencia, motor yang sangat tidak asing.
Andaro berlari dan pengendara yang sadar bahwa ada yang menyadari keberadaannya segera menancapkan gas cukup menimbulkan raung sekejap yang memekakkan telinga di antara sunyinya pagi buta.
"Ternyata benar... si penguntit sudah teramat dekat dengan Valencia." serapah Andaro sambil membuka pintu rumah perlahan.
Suasana rumah masih temaram dan sunyi. Andaro berjalan ke meja dapur meletakkan belanjaannya berasa emak - emak dari pasar yang habis belanja tapi beda dengan Andaro kedua cup minuman dan roti serta butter di tata rapi. Kantong plastik dilipatnya rapi.
Setelah membersihkan diri mandi dan merasa semakin segar, Andaro membuka laptop dan membereskan setiap berkas dan pekerjaan yang sempat terbengkalai, tak memerlukan banyak waktu sebelum air mineral dalam botol 600ml habis terteguk pekerjaannya sudah terselesaikan. Maiko dan asistennya sangat pengertian dan sudah melakukan finishing sebelum mengirimkan pada Andaro untuk final check.
05.00 merasa tanggung untuk kembali terlelap, Andaro memutuskan untuk membuat simple breakfast. Diambilnya 3 buah telor dari kulkas, mulai dipanaskan butter di atas pan dan satu telor di pecahkan di atas penggorengan sedang dua yang lain sedang dimix bersama dengan fresh milk untuk dijadikan srumble egg berisikan sosis dan keju. Aroma gurih wangi memenuhi ruangan.
Cekreek...
Valencia dengan rambut tergerai, langkah gontai, dan kali ini menggunakan dress tidur panjang tanpa lengan.
"Bikkuri..." , Andaro terkaget melihat penampakan Valencia yang sekilas nampak seperti sodako.
Valencia mengucek mata dan menyibakkan rambutnya. "Aaahhhh aroma ini sangat harum dan menggelitik perutku"
Kata-kata Valencia terdengar serak dan manja di tengah rasa kantuk yang masih belum rela mengijinkannya kesadarannya kembali.
__ADS_1
Andaro tersenyum dan berbisik,
"Kanojo wa totemo kawaīdesu (dia imut sekali)" Sambil tetap meneruskan aktifitas memasaknya hingga terasa ada tubuh sintal yang memeluknya dari belakang. Tangan Valencia mendekap perutnya erat dan tubuhnya menempel erat pada punggung Andaro.
Tak dapat mengelak dan menikmati suasana ini, Andaro menyelesaikan sentuhan terakhir roti tawar yang sudah selesai di pan diatas pemanggang.
Tangan Andaro memegang jemari Valencia, merasakan sentuhan skin to skin yang sangat ringan namun bisa menerbangkan setiap kupu - kupu di bawah pusarnya.
"Val...", Panggil Andaro sembari melepas kaitan tangan Valencia. Andaro memutar tubuhnya dan berhadapan dengan Valencia yang masih terlihat malas untuk membuka mata, tubuhnya masih bersandar pada Andaro dengan mata terpejam. Kepalanya menengadah, bola mata indahnya melirik Andaro dan kembali terpejam.
"Kalau masih mengantuk kembalilah ke kamarmu ..."
"Apa yang kau masak?" Valencia masih belum menjawab Andaro dan malah mendekap Andaro.
Berpelukan di dapur yang dipenuhi aroma butter dan gurihnya telur menjadi sarapan yang mengenyangkan untuk Andaro.
"Egg sandwich"
"Hm..." Andaro mengikuti, tangannya perlahan membalas pelukan Valencia, dagu Andaro menempel pada kepala Valencia dan rasa ini tampak tepat dan pas. Hangat dan lembut seperti sandwich egg yang selesai dibuatnya dan masih menyisakan kepulan asap.
Dekapan Valencia terlepas...
Andaro mengamati wanita dalam pelukannya melemas dan sedikit mendengkur, tawa hening Andaro melihat sadako cantik dihadapannya yang perlu untuk segera di rescue.
Perlahan Andaro meletakkan kepala Valencia di lengannya dan lengan satunya mulai mengambil alih beban dari paha Valencia.
Spontan dengan perubahan posisi, Valencia melingkarkan lengannya ke leher Andaro. Sempat ragu harus meletakkan Valencia di sofa atau masuk ke dalam kamar, akhirnya Andaro melangkah memasuki kamar Valencia yang masih temaram dan beraroma sakura bloom dari diffuser kecil yang menyala.
Andaro meletakkan Valencia di atas kasur dan menyelimutinya kembali. Hari ini tidak ada tamu dan persiapan untuk berpindah rumah ke tempat Daddy Hero tidak memiliki deadline waktu yang harus dilakukan buru - buru jadi extra time untuk kembali terlelap tidaklah masalah.
"Jangan pergi please..." Valencia menanggap jari Andaro yang selesai menata selimut di tubuhnya. "Temani aku... aku tak minta lebih, cukup dekap aku And..."
"Aku lelaki normal Val.. kau harus berpikir jernih sebelum memintamu menghangatkan ranjangmu."
__ADS_1
"I know And... dan aku juga wanita normal, aku merasa butuh dekapan hangat aku merasa kualitas tidurku di dapur tadi sangat menenangkan menggantikan puluhan malam yang lalu."
Andaro menyadarinya, lingkaran hitam di bawah mata Valencia adalah bukti kurang tidur dan tangisan.
Tanpa mendebat kembali, Andaro merebahkan tubuhnya di samping Valencia dengan rasa debaran yang cukup untuk membangunkan si kecil yang memiliki pertahanan kuat.
Valencia bergeser menggunakan lengan Andaro sebagai bantal dan memeluk pinggang Andaro. Dengan canggung satu tangan Andaro yang terbebas menepuk bahu dan merapikan rambut Valencia.
Hanya Valencia yang dapat melanjutkan tidurnya, tidak dengan Andaro yang memiliki banyak pertimbangana tentang wanita yang sudah mampu merebut perhatian dan saat ini mampu membuat hatinya berdebar.
08.00 Valencia meregangkan tubuhnya dan menyadari tubuhnya masih berhimpitan dengan Andaro. Tatapan mereka bertemu, Andaro memberikan senyum tulus terasa penuh sayang dan menyibakkan anak rambut Valencia.
"Ohayo.."
"Ohayo And... terimakasih aku akhirnya bisa merasakan badan yang segar setelah tertidur."
Valencia bangkit dari tidurnya, Andaro masih mengamati dan memutuskan untuk kembali berucap,
"Val, menikahlah denganku... aku tak dapat berjanji kau selalu bahagia tapi yang pasti aku tak akan meninggalkanmu."
Valencia menghentikan langkahnya, menatap Andaro dan tersenyum, "Hanya wanita bodoh yang menolak untuk menjadi pendampingmu And... tapi aku punya beban yang mungkin tidak dapat kubagi denganmu."
Andaro hanya terdiam dan keluar melangkah ke dapur dengan ringan setidaknya dia tidak merasa tertolak karena tahu beban yang dimaksud oleh Valencia.
"Kutunggu kau di dapur, almond milk dan egg sandwich seharusnya cukup untuk mengganjal perut bukan?"
Valencia mengangguk.
Harusnya dia merasa bahagia masih ada pria yang bersedia meminangnya tapi Valencia tak mungkin bisa menerima kalau pasangannya meminta untuk janin di perutnya harus digugurkan.
Bukankah tak mudah bagi pria untuk dapat menerima anak yang bukan buah hatinya. Masih saja overthingking dan tak berani menerapkan langkah bahkan untuk memastikan ke dokter pun Valencia merasa enggan.
Di luar kamar, Andaro bertekad menjadikan Valencia wanitanya.
__ADS_1