
...-DSP-...
Di dalam kamarnya Dira termenung di atas tempat tidur menatap kosong ke arah langit-langit kamar. Otaknya masih terus memikirkan kejadian di rooftop sekolah, saat Sheila ingin mencoba mengakhiri hidupnya.
Dira bertanya-tanya siapa yang teganya selalu menyakiti gadis lugu itu sehingga ia merasa tidak tahan untuk hidup lagi. Sejenak Dira terfikir akan Bellen yang saat itu juga baru turun dari rooftop.
"Apa kak Bellen?"lirih Dira.
Cepat-cepat Dira menggelengkan kepalanya membuang jauh-jauh prasangka buruk terhadap Bellen.
"Astagfirullah, gak gue gak boleh nuduh orang sembarangan seperti itu. Harus ada bukti, ingat Dira harus ada bukti!" Tegas Dira pada dirinya.
Karena malam sudah larut perlahan Dira memejamkan matanya dan memasuki dunia mimpi.
...🧕🏻🧕🏻🧕🏻...
Dira berjalan gontai di lorong sekolah menuju kelas, hari ini ia berangkat ke sekolah tidak terlalu awal seperti biasanya, keadaan sekolah juga sudah ramai, karena sebentar lagi jam pelajaran akan di mulai.
Sedang santai melangkah tiba-tiba ada bola dari lapangan basket melayang ke arah Dira. Dira yang tidak sempat menghindar hanya pasrah merasakan sakit, saat bola basket menghantam wajahnya.
Dira langsung tertunduk mengusap wajahnya sambil meringis, "Astagfirullah sakit euy," Dira masih menunduk sampai tiba-tiba seorang lelaki menghampiri Dira dan mengambil bola basket yang menghantam wajah Dira tadi.
"Lo gak papa?" Tanya lelaki itu berusaha melihat wajah Dira.
Dira langsung mengangkat kepalanya dan tersenyum lebar, "Gak papa kok,"
Lelaki itu mengernyit padahal jelas-jelas gadis di depannya ini sedang apa-apa. Karena kerudungnya yang berantakan wajah yang merah karena terkena bola basket, tapi dengan mudahnya ia tersenyum dan mengatakan bahwa dirinya tidak apa-apa.
"Sorry banget ya, gue bener bener gak sengaja,"ucapnya merasa bersalah.
Dira masih tersenyum dan menggoyang-goyangkan jari telunjuknya, "No no, santuy gue gak papa bro. Kalau begitu gue kekelas dulu assalamualaikum,"tanpa fikir panjang Dira langsung berjalan dengan cepat menuju kelas. Sejujurnya ia sangat malu karena di perhatikan dengan murid-murid yang lain.
Sedangkan anak lelaki yang di tinggalkan oleh Dira hanya mengerjap-ngerjapkan matanya, sedikit terkejut dengan jawaban yang di berikan Dira sedikit aneh tapi lumayan keren menurutnya. Ia belum pernah bertemu dengan orang seperti itu.
Lelaki itu masih terdiam sampai salah seorang temannya yang berada di lapangan basket memanggilnya.
"Woi Riski" refleks yang di panggil pun langsung menoleh ke sumber suara, "Lanjut main," lanjut temannya.
Lelaki bernama Riski itupun langsung berlari menghampiri teman-temannya dan melanjutkan permainan basket mereka.
Di sela-sela permainan salah satu teman Riski yang bernama Dion memanggilnya.
"Ki,"
__ADS_1
"Apa?"
"Cewek yang kena bola tadi, cewek gila yang kita lihat waktu itu kan?"tanya Dion.
Tiba-tiba Riski langsung teringat kejadian beberapa Minggu yang lalu dimana ia dan Dion melihat Dira tertawa-tawa sendiri saat pulang sekolah.
Riski hanya mengangkat bahunya tak acuh, "Maybe."
...🧕🏻🧕🏻🧕🏻...
Di kelas Fiola menatap Dira yang sedang berusaha merapikan kerudungnya.
"Itu muka lo gak papa udah merah begitu?"tanya Fiola sambil menyentuh wajah Dira.
"Gak papa kok, cuma sakit sedikit aja,"balas Dira sambil tersenyum.
"Gak mau ke UKS?" Tanya Fiola lagi ia rasa wajah Dira perlu di obati.
Dira menarik tangan Fiola yang masih menyentuh wajahnya dan menggenggamnya, "Gak papa Fiola, cuma kena bola basket doang,"
Fiola menatap Dira jengkel bisa-bisanya dia bilang 'cuma kena bola basket doang' setahu Fiola bola basket itu cukup besar dan keras.
"Lo juga sih ga hati-hati,"omel Fiola.
"Namanya juga udah takdir,"
Dira yang melihatnya mengernyit,"Basket kenapa?"
"Orang yang gue suka salah satu anak basket,"jawab Fiola malu-malu.
Dira memutar bola matanya," Yaaa pantesan tiba-tiba langsung malu-malu, mau ngomongin orang yang yang di suka ternyata,"
Fiola hanya terkekeh mendengar perkataan Dira.
Selang beberapa menit jam pelajaran akhirnya di mulai dan kelas Dira di mulai dengan pelajaran bahasa Inggris. Pelajaran yang sangat sulit bagi Dira di bandingkan matematika. Ya Dira tahu hanyalah 'Iam fine and you, thank you'.
...🧕🏻🧕🏻🧕🏻...
Dira sedang membereskan buku-bukunya bersiap-siap untuk pulang, bel pulang sekolah sudah berbunyi satu menit yang lalu.
Dengan semangat Dira menggendong tasnya, saat melihat kedepan tak sengaja netranya bertemu pandang dengan Sheila. Dira melempar senyum kepada Sheila, tak disangka ternyata Sheila juga tersenyum ke arah Dira dan kemudian langsung melangkah keluar kelas.
Dira merasa sangat senang karena Sheila sudah tidak menghindarinya lagi sekarang.Dira masih berdiri sambil tersenyum-senyum senang yang membuat Fiola yang ada didekatnya mengernyit bingung.
__ADS_1
"Hoi Dir!"panggil Fiola yang membuat Dira tersadar dari lamunannya.
"Eh kenapa?"tanya Dira linglung.
"Kenapa, kenapa, lo tu yang kenapa senyum senyum sendiri kek orang gila,"ucap Fiola.
Dira mendelik tidak terima, "Enak aja bidadari kek gue dibilang orang gila,"
"Iyain, bidadari jatuh dari kloset,"
"Hahaha ada aja lu ah, ya udin hayuk pulang!"
Sesampainya di gerbang sekolah sudah ada ibu Fiola yang menjemputnya menggunakan mobil.
"Eh itu nyokap gue udah jemput,"seru Fiola sambil menunjuk mobil ibunya yang terparkir tak jauh dari tempatnya dan Dira berdiri.
"Ya udah pulang Sono,"ucap Dira.
Fiola berfikir sejenak," Lo gak mau ikut? Ntar gue bilang nyokap gue buat ngantar lo dulu, sekalian gue mau tau rumah lo dimana," ucap Fiola semangat.
Dengan cepat Dira menggelengkan kepalanya,"Eh gak usah, gak papa gue naik angkutan umum aja. Lagian rumah kita berlawanan arah, gak enak sama nyokap lo,"
"Gak papa kok, nyokap gue pasti mau. Ya mau ya? Gue pengen pulang bareng dengan lo," ucap Fiola meyakinkan.
Dira melihat ibu Fiola yang sedari tadi menatap mereka berdua, "Lain kali aja ya, nanti kalau ada kesempatan kita pulang bareng deh. Sekarang lo pulang dulu, tuh lihat tuh nyokap lo udah nunggu dari tadi. Nanti lo dimarahin lagi,"
"Hm ya udah deh gue pulang ya," balas Fiola pasrah dan melangkah menuju mobil ibunya. Usahanya untuk mengajak Dira pulang bersama gagal, dia akan mencobanya lagi nanti.
Fiola memasuki mobil dan duduk di kursi samping pengemudi dan mendapati ibunya yang sudah menatapnya tajam.
"Siapa anak perempuan itu?"tanya ibu Fiola yang bernama Tania.
"Temanku,"jawab Fiola singkat.
"Mama belum pernah melihat dia,"ucap Tania.
"Murid baru,"balas Fiola malas dan menatap lurus ke depan.
"Bagaimana dengan nilainya apa dia murid pintar? jika tidak jangan berteman dengan dia lagi. Dan dilihat dari penampilannya sepertinya dia memang tidak cocok berteman dengan kamu,"
Fiola berpaling ke arah Tania dan menatapnya tidak percaya, "Maksud mama apa?"
"Mama gak mau kamu sembarangan berteman dengan orang lain, mama gak mau nilai dan peringkat kamu turun hanya karena banyak bermain dengan orang-orang yang salah," jelas Tania yang membuat Fiola tidak bisa berkata-kata lagi, sedari dulu ibunya selalu seperti ini. Selalu melarang Fiola untuk melakukan hal yang Fiola sukai, yang ibunya ingin Fiola lakukan hanyalah belajar, belajar dan belajar.
__ADS_1
"Dan ingat mama gak mau punya anak bodoh."
......-DSP-......