
...-DSP-...
_________________________________________
Cailah detektif ๐ง
Sheila ๐ผ, Sitiuu๐ dan...
_________________________________________
^^^Sheil|^^^
^^^Gue sama Siti gagal buat dapetin hp Fay|^^^
Sitiuu๐
|Iya kali ini gue gagal.
Sheila ๐ผ
|Tadi gue juga gagal buat dapetin hp Bellen
|Password yang lo kasih ke gue salah Dir.
^^^Lah kok bisa?|^^^
Sheila ๐ผ
|Gue juga gak tau.
Sitiuu๐
|Apa mungkin dia ganti password baru?
Sheila ๐ผ
|Bisa jadi sih
|Berarti nanti gue harus cari tau password hp dia dulu.
^^^Nah iya gitu aja|^^^
Sitiuu ๐
|Ya udah atuh incces mau botik dulu udah malem soalnya ๐.
Sheila ๐ผ
|Iya incces Siti bobo atuh๐
|Have a good night
^^^Iyain dah incces botak sekalian sono๐|^^^
__ADS_1
Sitiuu ๐
|Lo aja sana yang botak๐
Sheila ๐ผ
|๐คฃ๐คฃ
^^^เฒกโ ย อโ ย โ สโ ย โ เฒก|^^^
Sitiuu ๐
|Ya udah gue tidur dulu ya *assalamualaikum.
Sheila ๐ผ*
|Walaikumsalam.
^^^Walaikumsalam|^^^
________________________________________
Dira meletakkan ponselnya di atas nakas kemudian merebahkan tubuhnya di kasur. Hari ini cukup melelahkan, banyak kejadian yang ia alami. Hari ini misi mereka semuanya gagal, ia tidak boleh berputus asa dan harus mencobanya lagi nanti. Selang beberapa menit akhirnya ia tertidur lelap karena matanya sudah sangat mengantuk sekali.
Have a good night Dira.
...๐ง๐ง๐ง...
Dira sudah berada di sekolahnya, ia berjalan gontai menelusuri lorong sekolah. Memperhatikan murid-murid yang kesana-kemari dan pemandangan SMA Cahaya yang indah. Saat hampir sampai ke kelasnya Dira melihat Riski baru saja keluar dari dalam Dira. Dira mengernyit heran apa yang di lakukan kk kelasnya itu di kelasnya.
"Eh Dira!" ucap Riski saat mereka berdua berpapasan.
Dira menundukkan kepalanya, "Assalamualaikum kak."
"Walaikumsalam. Lo baru dateng?" tanya Riski basa-basi.
"Iya kak baru sampai tadi."
Riski mengangguk-anggukkan kepalanya ia bingung harus berbicara apa lagi, "Ya udah kalau gitu gue ke kelas dulu deh Dir, udah mau Bell soalnya."
Dira mengangguk, "Iya kak."
Setelah kepergian Riski, Dira kembali melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam kelas. Ia melihat meja Sheila dan Fiola yang masih kosong, sepertinya mereka belum datang. Murid-murid yang lain juga baru setengahnya yang datang.
Saat Dira sudah duduk di kursinya dan berniat menyimpan bukunya di dalam laci meja, Dira menemukan satu kotak berukuran sedang di dalam laci mejanya.
"Apaan nih?" ucap Dira bingung sembari mencoba membuka kotak tersebut.
"Astaghfirullah," ucap Dira terperanjat kaget saat melihat isi kotak tersebut yang mana adalah boneka yang sudah berlumuran cairan berwarna merah.
Dira menutup hidungnya ketika mencium bau amis yang berasal dari boneka itu, "Darah?"
Entah siapa yang berani menjahilinya seperti ini. Dira benar-benar tidak habis pikir, siapa yang mengirimkannya kotak tersebut dan bermain-main nya. Karena sudah tidak tahan dengan bau amis yang semakin menyengat, Dira berniat untuk menutup kembali kotak itu sebelum anak-anak yang lain sadar akan hal ini. Namu pergerakannya terhenti saat melihat selembar kertas yang terlipat di belakang boneka itu.
__ADS_1
Karena penasaran Dira memutuskan untuk mengambil kertas itu dan membukanya. Setelah membuka kertas itu, Dira sontak melebarkan matanya kaget. Di dalam kertas itu berisi tulisan berwarna merah.
"Berhenti cari tahu penyebab Fay celaka! Atau lo akan bernasib sama dengan Fay!" ucap Dira membaca tulisan yang ada di kertas itu.
Apa maksud dari ini semua, siapa yang mengirimkan kotak ini. Kenapa dia menyuruh Dira untuk berhenti dan mengancam Dira.
Dira mengangkat kepalanya memandang meja Sheila yang masih kosong, "Sheila!"
Dira langsung berdiri dan berjalan menuju meja Sheila, ia memeriksa laci meja Sheila dan ya dugaannya benar di situ juga ada sebuah kotak yang sama persis dengan yang ia temukan di laci mejanya. Bahkan dari kotak itu juga tak jauh berbeda dari yang ia temukan. Kemudian Dira memeriksa meja milik Fiola ia takut Fiola juga mendapatkan kotak ini. Dan untungnya tidak ada, Dira sangat bersyukur.
Cepat-cepat Dira membuang kotak-kotak itu, sebelum Sheila datang. Dira tidak ingin Sheila terkejut melihat hal ini, jadi lebih baik ia tidak memberitahukan hal ini kepada Sheila. Entah siapa yang sudah berani mengancam Dira dan Sheila, yang pasti orang itu ada sangkut pautnya dengan celaka yang di alami oleh Fay. Sekarang Dira juga memikirkan Siti, ia takut Siti juga mendapatkan sesuatu yang sama dengannya karena mereka melakukan misi ini bersama-sama.
Di sekolah Siti.
Dugaan Dira memang benar adanya, Siti juga menemukan sebuah kotak di laci mejanya. Dan sekarang gadis itu sedang terdiam menatap boneka dan kertas yang ada di tangannya. Ia meremas kertas itu dengan kesal, memikirkan siapa yang berani mengirim benda seperti ini kepadanya.
Siti tersenyum menyeringai, "**W**ow is amazing," kemudian ia memasukkan lagi boneka dan kertas itu kedalam kotak dan membuangnya, "Orang gila."
...๐ง๐ง๐ง...
Jam istirahat Sheila sudah berada di roof top, seperti biasa ia harus melayani Bellen dan teman-temannya. Setidaknya ia harus bertahan sampai mendapatkan video Fay yang ada di ponsel Bellen. Dan sekarang misinya adalah mencari tahu dulu apa password ponsel Bellen.
Sembari memijit bahu Bellen, ia berusaha curi-curi pandang ke arah ponsel Bellen. Sedari tadi ia sudah melihat Bellen menekan password ponselnya, tapi Sheila belum mendapatkannya karena jari Bellen lebih cepat dari matanya saat mengetikkan password ponselnya.
Bellen kembali meletakkan ponselnya di atas meja dan kemudian mengambilnya lagi saat ada notifikasi terus saja seperti itu. Hal ini membuat Sheila hampir frustasi karena belum juga mendapatkan password ponsel Bellen.
"5 0 terus apalagi woi astaghfirullah cepet banget tuh tangan," batin Sheila kesal yang tanpa ia sadari, dia memijit bahu Bellen sedikit kuat.
"Aw sakit bego. Ya bener bisa gak sih," ucap Bellen kesal.
"Hehe iya iya sorry sorry."
"Udah nyuruh marah-marah lagi lo," batin Sheila.
Kirana melihat Sheila yang menatap Bellen sinis, "Woi ngapain lo ngeliat Bellen kek gitu?"
Sheila langsung merubah ekspresinya dan tersenyum, "Ah gak. Gapapa."
"Awas aja lo macem-macem!"
Untuk kesekian kalinya Bellen mengetikkan password ponselnya lagi. Tidak ingin kehilangan kesempatan Sheila terus menatap ponsel Bellen dengan semangat, bahkan ia rela tidak berkedip untuk beberapa saat hanya untuk mendapatkan password ponsel Bellen.
Beberapa saat kemudian Sheila tersenyum senang, ya ia mendapatkan password ponsel milik Bellen.
"Alhamdulillah akhirnya dapet juga tuh password hp. Ingat harus di ingat jangan sampe lupa," batin Sheila.
Bellen menengadah ke atas menatap Sheila yang juga tertunduk menatapnya, "Sekarang pijit kaki gue. Pegel nih."
"Baik tuan putri," ucap Sheila dan bergerak untuk memijit kaki Bellen.
"Sabar Sheila insya Allah sebentar lagi semua ini akan berakhir."
...-DSP-...
__ADS_1