
...-DSP-...
Setelah berpisah dengan Fiola, Dira langsung melangkah menuju halte untuk menunggu angkutan umum bersama beberapa murid yang lain. Namun tak seperti biasanya angkutan umum yang di tunggu Dira sedikit lebih lama tiba hari ini.
Dira mendudukkan tubuhnya sembari memperhatikan ujung jalan dimana angkutan umum akan lalui.
"Ini kenapa lama bener dah, tumben banget. Mana perut gue udah laper banget lagi, tapi gapapa sekalian melatih kesabaran ya gays ya,"ucap Dira dengan suara yang lumayan kecil, nanti kalau besar-besar Dira dikira orang gila dengan orang-orang yang ada di halte.
Selang beberapa menit angkutan umum yang tunggu-tunggupun tiba.
Dira berdiri dan tersenyum senang, "Nah Alhamdulillah dateng juga akhirnya,"seru Dira senang.
Namun saat Dira hendak melangkah memasuki angkutan umum, tiba-tiba notifikasi dari ponsel Dira berbunyi terpaksa ia harus menunda langkahnya sejenak dan memeriksa ponselnya.
Saat Dira memeriksa ponselnya terdapat satu pesan WhatsApp dari nomor yang tak dikenal. Karena penasaran Dira pun membuka pesan tersebut.
08582*******
"Dateng ke pabrik tua di dekat sekolah sekarang atau lo akan ngeliat Sheila celaka!"
Dira mengernyit apa maksud dari pesan ini sampai beberapa detik kemudian nomor asing tersebut mengirim sebuah video. Dimana di dalam video tersebut memperlihatkan Sheila yang terduduk lemah dan rambut ditarik oleh seseorang.
Sontak mata Dira terbuka lebar, apa maksud dari pesan ini apa yang mereka lakukan kepada Sheila. Tanpa pikir panjang lagi Dira langsung berlari secepat mungkin menuju pabrik tua yang tak jauh dari sekolahnya.
Sesampainya di pabrik tua Dira memperhatikan di sekitarnya tak ada satupun orang yang ada hanya kesunyian. Dimana sebenarnya mereka Dira tak melihat saru orang pun di sini, apa dirinya sedang di permainkan.
"Sheila!"pekik Dira memastikan tapi tak ada satupun jawaban.
"Shei..."
"Heh miskin!"panggil seseorang, lantas Dira membalikkan badannya.
"Fadhil,"ucap Dira saat melihat Fadhil dan beberapa orang temannya sedang berdiri sambil menyeringai kearahnya.
"Ngapain lo di sini?"tanya Dira.
"Gue di sini mau ngebuat lo ngajak gue balikan sampai sujud-sujud ke gue," ujar Fadhil santai.
"Stres ya lo? Di mana Sheila? Yang chat gue itu lo kan?" Tanya Dira.
Dan setelah itu Nindi dan beberapa orang temannya juga muncul sembari menyeret Sheila yang sudah meringis kesakitan karena Nindi tak juga melepaskan tangannya dari rambut Sheila. Dira tak tahu jika Nindi dan Fadhil adalah teman, atau mereka hanya bekerja sama untuk mencelakai Dira.
"Sheila,"Dira hendak menolong Sheila namun tiba-tiba suara Sindi menghentikannya.
"Berhenti di situ atau gue akan lebih nyakitin dia,"ancam Nindi.
__ADS_1
Mereka semua tertawa melihat Dira yang tak bisa berkutik kali ini mereka menang tak seperti yang terakhir kali.
Dira menatap mereka tajam kali ini mereka benar-benar keterlaluan, "Mau kalian apa sih? Kalau emang punya masalah dengan gue ya udah dengan gue aja, jangan bawa bawa Sheila!"
"Wih sih pahlawan kesiangan, sok jagoan nih gays," ucap Nindi yang dibalas gelak tawa oleh teman-temannya.
"Bukannya kita udah sepakat ya, kalau kalian gak akan ngebully orang lagi," ucap Dira.
"Hahaha lo fikir dengan lo ngancem kita seperti itu kita bakal takut? Hah?"ucap Farhan yang berdiri di samping Nindi.
Dira menggelengkan kepalanya, ia kira masalahnya dan Nindi sudah selesai ternyata Dira salah ini masih sedikit lebih panjang sepertinya.
"Gays,"ucap Nindi memberi kode kepada teman-temannya entah apa yang akan mereka lakukan.
"Mau apa lo?" Ucap Dira saat beberapa orang dari mereka mulai mendekatinya.
Saat salah satu tangan mereka hampir menyentuh Dira, dengan cepat Dira mengeluarkan tendangannya, yang membuat salah satu dari mereka tersungkur. Perlu diingat Dira hanya berusaha membela dirinya.
Untuk sesaat Dira bisa melindungi dirinya, tapi tak bisa dipungkiri bahwa Dira akan tetap kalah melawan mereka yang jumlahnya kurang lebih sepuluh orang. Mana bisa Dira yang hanya seorang gadis melawan mereka seorang diri.
Dira sudah mulai kehabisan tenaganya, setelah membuat beberapa orang dari mereka babak belur. Tiba-tiba Fadhil menendang Dira dari belakang dan membuat Dira tersungkur tepat di hadapan Nindi dan Sheila.
"Dira!"pekik Sheila, Dira mengangkat kepalanya dan terlihatlah wajahnya yang sudah babak belur. Namun di situasi seperti ini gadis itu masih sempat tersenyum kearah Sheila.
Dira sudah tidak bisa bergerak kemana-mana lagi, lengan kanan dan kirinya sudah di pegang oleh dua orang teman Nindi. Mereka menarik kerudung Dira yang membuat kepala Dira mendongak ke atas dimana ia dapat melihat Nindi yang menyeringai kearahnya.
Fadhil langsung mendekati Dira, "Gak sebelum lo turutin kemauan gue dan kakak gue Nindi,"
Dira mengernyit, kakak? Jadi selama ini Nindi adalah kakak Fadhil, pantas saja mereka bekerja sama untuk mencelakai Dira.
"Sorry gue bukan pembantu lo berdua jadi gak bisa!" Tolak Dira yang membuat Nindi dan Fadhil kesal.
"Gue mau lo hapus video kita waktu itu!"ucap Nindi bersuara.
Dira terkekeh, hanya karena video itu mereka melakukan hal memalukan seperti ini, "Cuma gara-gara itu, lo semua ngelakuin hal bodoh seperti ini. Gak habis fikir gue,"
"Tinggal hapus aja apa susahnya sih anj...!" pekik Farhan.
"Videonya udah lama gue hapus, puas lo?" Balas Dira kesal.
"Dhil periksa di handphonenya!"titah Nindi.
Fadhil mengambil tas Dira dan mencari ponsel Dira di dalamnya.
"Di bilangin gak percaya, terserah lo pada dah capek gue," lirih Dira.
__ADS_1
Setelah Fadhil menemukan ponsel Dira ia mencari video disaat Nindi membully Dira waktu itu namun Fadhil menemukannya.
"Gak ada kak," seru Fadhil.
"Lo yakin?" Tanya Nindi yang di balas anggukan dari Fadhil.
"Kan gue udah bilang, udah gue hapus," ucap Dira kesal.
"Gue ingat waktu itu lo bilang, lo udah ngirim video itu ke teman lo. Sekarang telfon teman lo itu dan suruh dia buat hapus video itu!" Ucap Nindi.
"Gak perlu di telfon, gue ada di sini,"ucap seseorang.
Sontak membuat mereka semua berpaling ke sumber suara.
"Siti,"ucap Dira.
Ya orang itu adalah Siti, ia datang bersama ayahnya dan beberapa murid andalan ayahnya dalam bela diri untuk membantu Dira. Dari mana Siti tau Dira di sini? Itu karena dalam perjalanan menuju pabrik tua Dira sempat menelepon Siti dan meminta bantuan karena Dira merasa ada sesuatu yang akan terjadi.
Perlu diketahui jika Siti adalah atlet bela diri maka ayahnya adalah seorang guru bela diri dan Dira adalah salah satu muridnya.
"Dasar anak-anak nakal bisa-bisanya kalian melakukan hal seperti ini kepada teman kalian," ucap ayah Siti yang bernama Lukman.
"Gak usah ikut campur deh om, udah bau tanah juga, malah ikut campur urusan anak muda," ketus Fadhil sangat tidak punya sopan santun.
"Woi mulut tuh di jaga ya upil monyet, lepasin teman gue," ucap Siti kesal.
"Sudah Siti jangan terbawa emosi," ucap Lukman menenangkan putrinya dan kemudian memerintahkan murid-muridnya untuk membantu Dira.
Tak perlu waktu lama Nindi dan teman-temannya akhirnya berhasil dilumpuhkan oleh murid-murid ayah Siti. Mereka semua terduduk lemah dan tidak bisa kabur kemana-mana lagi.
"Saya akan melaporkan perbuatan kalian ini ke pihak sekolah dan orang tua kalian," ucap Lukman yang membuat Nindi dan teman-temannya memasang wajah terkejut.
"Tadinya gue mau ngelaporin kalian semua ke polisi tapi gue urungkan, karena gue masih mikirin gimana perasaan orang tua kalian nanti kalau tau anaknya ngelakuin kejahatan seperti ini," sambung Siti, ia benar-benar kesal karena sahabatnya dibuat babak belur oleh mereka.
"Saya mohon om jangan laporin kita om," ucap Nindi memohon dan di susul dengan teman-temannya yang juga ikut memohon.
Lukman menghela nafas panjang, "Tindakan kalian ini sudah kelewatan batas, jika salah sedikit saja bisa menghilangkan nyawa seseorang. Kalian tahu itu kan?"
"Kami minta maaf om, kami janji tidak akan melakukan itu lagi," mohon Farhan.
"Bukan dengan saya kalian minta maaf, tetapi dengan mereka berdua," ucap Lukman sembari menunjuk Dira dan Sheila yang masih terkulai lemas.
Setelah itu mereka semua meminta maaf kepada Dira dan Sheila yang tentunya di maafkan oleh mereka berdua.
"Sekarang kalian semua boleh pulang dan ingat Allah maha melihat dimana pun kalian berada Allah tahu apa yang kalian lakukan jadi jangan sekali kali kalian ingkar dengan janji kalian!" Ujar Lukman mengingatkan yang dibalas anggukan oleh mereka yang kemudian beranjak pergi.
__ADS_1
...-DSP-...