Dira'S Spy (Mata-mata Dira)

Dira'S Spy (Mata-mata Dira)
Bab 43 DSP


__ADS_3

...-DSP-...


"Jadi ciri-ciri orang yang nyelakain Fay itu, pakai jam tangan Casio G-Shock warna biru tua?"


Sheila menoleh ke arah Dira dan mengangguk, "Iya. Jadi kita harus nemuin dia secepatnya."


"Di sekolah yang segede ini dan manusia seramai ini? Mana gue gak tau lagi jam Casio G-Shock itu begimana," ucap Dira lagi, ia menyandarkan tubuhnya di dinding. Sepertinya semakin hari semakin banyak saja misinya.


"Iya mau gimana lagi kan. Kalau lo gak tau nanti cari gambarnya di google."


"Tadi lo bilang, orang itu suka sama Fay kan?" tanya Fiola.


"Dari cerita yang gue denger dari Bellen sih gitu," jawab Sheila.


"Fay gak pernah cerita ke lo gitu, tentang orang yang suka sama dia?"


Sheila menggeleng, "Gak pernah. Gue cuma tau dia deket dengan kak Riski, udah itu doang. Fay gak pernah mau nyeritain kesedihan dan kesusahan yang dia rasain ke orang lain. Yang dia tunjukkin cuma sisi cerianya dia aja."


"Ya udah kalau gitu jam istirahat nanti, kita mulai bergerak buat nyari orang itu. Kita cek satu persatu kelas di sekolah ini," kata Fiola yang di balas anggukan oleh Dira dan Sheila.


"Okay."


"Ngokey."


...🧕🧕🧕...


Jam istirahat pun tiba,mereka bertiga mulai melaksanakan rencana mereka untuk mencari pelaku di balik kecelakaan yang Fay alami. Riski juga ikut membantu untuk mengecek semua jelas. Mereka mulai berpencar dan mengecek kelas sepuluh terlebih dahulu.


"Eh Dira. Ada apa ke kelas gue?" tanya Fadhil sambil tersenyum saat Dira masuk ke dalam kelasnya.


Dira mengedarkan pandangannya keseluruhan kelas kemudian beralih menatap Fadhil yang masih setia menunggu jawabannya.


"Gue lagi nyari orang."


Fadhil mengernyit, "Orang? Siapa?"


"Dia laki-laki, pakai jam tangan Casio G-Shock warna biru tua. Di kelas lo ada gak?" tanya Dira.


Fadhil tampak berpikir mengingat-ingat, apakah ada orang dengan ciri-ciri yang Dira katakan di kelasnya.


"Setahu gue gak ada sih Dir. Di kelas gue rata-rata gak pakai jam tangan. Jadi gue ingat, siapa aja yang pakai jam tangan dan modelnya apa," jawab Fadhil. Dira hanya menganggukkan kepalanya sedikit kecewa.

__ADS_1


"Memang kenapa lo nyari orang itu?" tanya Fadhil penasaran, jujur saja ia masih suka dengan mantannya ini. Dan sekarang Dira sedang mencari seorang lelaki tentu saja Fadhil cemburu.


"Gue ada urusan sama dia, cuma gue gak tau namanya dan kelasnya," jawab Dira.


"Oh gitu semoga cepat ketemu ya."


"Iya aamiin makasih. Kalau gitu gue lanjut nyari lagi deh dah Assalamualaikum."


"Walaikumsalam."


Setelah keluar dari kelas Fadhil, Dira kembali melanjutkan mencari di kelas lain. Tapi sudah beberapa kelas ia masuki belum juga ia menemukan orang itu.


Selang beberapa lama mereka selesai memeriksa semua kelas sepuluh dan hasilnya nihil.


"Berarti pelakunya bukan anak kelas 10," ucap Dira.


"Kalau gitu kita lanjut periksa kelas 11. Kita mencar lagi," ucap Riski.


Dan mereka berempat pun kembali berpencar untuk memeriksa kelas sebelas. Namun baru separuh dari kelas sebelas mereka periksa, jam istirahat telah berakhir. Terpaksa mereka harus menunda rencana mereka.


Dira duduk di kursinya dengan lemah, kemudian maraih air botol yang ia bawa dari rumah dan meneguknya sampai habis.


"Alhamdulillah seger," ucap Dira.


"Curiga apa?" tanya yang langsung merubah posisinya menjadi menghadap Fiola.


"Gue curiga kalau orang itu udah gak pakai jam itu lagi," jawab Fiola yang membuat Dira menarik nafas lemah.


"Iya juga ya. Tapi semoga aja masih di pakai deh. Soalnya itu satu-satunya petunjuk kita."


Dira memiringkan kepalanya sedikit untuk melihat Sheila yang duduk di meja paling depan. Terlihat Sheila yang duduk termenung entah apa yang sedang ia lamun kan. Dira tahu Sheila pasti merasa sangat kesal, sedih, sakit hati dan merasa bersalah. Sheila pasti menyalahkan dirinya sendiri atas semua yang terjadi pada Fay. Selama ini ia hanya menahan semuanya sendiri.


Maka dari itu Dira harus membantu Sheila untuk menyelesaikan semua ini agar tidak ada lagi yang tersakiti. Harus! Dira harus segera menemukan orang itu!


...🧕🧕🧕...


Setelah pulang sekolah Dira dan Siti berkumpul di rumah Dira. Siti ingin mendengarkan kelanjutan tentang misi mereka ini. Karena ia dan Dira beda sekolah tentu sulit baginya untuk membantu.


"Jadi gimana Dir? Udah ketemu?" tanya Siti.


Dira menggeleng lemah, "Belum. Lo tau sendiri kan SMA Cahaya itu segede apa. Gak semudah itu nyari orang itu di antara ribuan murid SMA Cahaya. Jadi kita bakalan nyarinya besok."

__ADS_1


"Semangat ya. Sorry gue gak bisa bantu," ucap Siti menepuk-nepuk bahu Dira.


"Lo itu udah banyak bantu, lo tinggal istirahat aja. Maaf gara-gara gue nyeret lo dalam masalah ini. Lo jadi celaka," Dira menundukkan kepalanya, ia benar-benar merasa bersalah.


"Ey gak gak, ini bukan salah lo. Kita ini sahabat, gue udah nganggap lo seperti saudara gue sendiri. Gak mungkin gue biarin lo dalam masalah sendirian."


Dira mengangkat kepalanya ia menatap Siti dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Makasih banyak ya udah mau jadi sahabat gue Sit," ucap Dira sembari memeluk sahabatnya itu.


"Iya, gue juga makasih karena lo mau jadi sahabat gue."


"Semoga kita bisa jadi sahabat dunia akhirat ya."


"Iya Aamiin."


Dira melepaskan pelukannya dan beralih menatap tumpukan buku di meja belajarnya, "Ya udah yuk belajar. Walaupun kita lagi jadi detektif. Tapi tetap harus belajar,karena lagi ulangan. Bisa rendah nilai kita entar kalau gak belajar."


"Ya udah kuy lah."


Ting


"Eh ada yang ngechat lo tuh Dir," ucap Siti saat mendengar notifikasi WhatsApp dari ponsel Dira.


Saat Dira membuka pesan tersebut seketika ia terbelalak kaget. Karena pesan itu tak lain dan tak bukan adalah dari si peneror itu.


Masih gak mau berhenti? Gimana kalau Fay nya aja yang gue buat mati?.


"Astaghfirullah**."


"Kenapa Dir?" Siti meraih ponsel Dira dan membaca pesan itu, "Astaghfirullah nih orang sehat apa kagak sih? Main-main sama nyawa orang."


Dira mengambil kembali ponselnya dan berdiri, "Gak bisa. Gue harus ke rumah sakit, gue harus mastiin Fay baik-baik aja. Orang ini udah gila, dia gak perduli sama nyawa orang."


"Gue ikut," ucap Siti yang juga ikut berdiri.


Dira menggeleng, "Gak lo di sini aja. Tolong jagain ibu."


"Ya udah lo hati-hati ya," ucap Siti pasrah, ia tahu Dira juga menghawatirkan ibunya. Setidaknya mereka harus berjaga-jaga.


"Ya udah gue mau pamit sama ibu dulu Assalamualaikum."

__ADS_1


"Walaikumsalam."


...🧕🧕🧕...


__ADS_2