Dira'S Spy (Mata-mata Dira)

Dira'S Spy (Mata-mata Dira)
Bab 8 DSP


__ADS_3

...-DSP-...


Dengan lesu Sheila berjalan memasuki rumah mewah yang sudah lama menjadi tempatnya membuat banyak kenangan, kenangannya bersama seorang ibu yang kini sudah tidak lagi di sampingnya. Ibu Sheila meninggal dunia saat Sheila masih duduk di bangku kelas 5 SD.


Dulu Sheila sangat bersemangat untuk pulang ke rumah karena ia bisa bertemu dengan ibunya, yang selalu menanti kepulangannya. Sekarang rasanya enggan Sheila untuk pulang, karena yang ada hanya kesepian. Bahkan ayahnya pun jarang ada di rumah.


Semenjak ibunya meninggal, ayahnya selalu sibuk bekerja tak pernah ada waktu untuk mereka saling berbincang dan berbagi cerita. Sekarang Sheila sudah terbiasa untuk menyimpan semuanya sendiri, sulit untuk dirinya membuka diri. Tapi semua itu berubah semenjak Sheila bertemu dia, seorang sahabat yang membuat hidup Sheila mulai berwarna.


Namun disaat Sheila merasa senang, semuanya kembali hilang. Kembali seperti semula bahkan sekarang terasa semakin berat, hanya karena satu tragedi yang bahkan Sheila sendiri bingung harus melakukan apa.


Dengan keadaan pakaian yang sedikit berantakan Sheila terus berjalan dengan lemah, hari-harinya terasa semakin berat. Dan saat Sheila melewati ruang tengah ia masih belum menyadari ada ayahnya yang sedang duduk sambil memperhatikannya.


"Sheila!" Sheila terkejut mendengar suara ayahnya tumben sekali ayahnya ada di rumah.


Sheila membalikkan tubuhnya kearah Arzan, "Papa?"


"Kamu baru pulang?"tanya Arzan basa basi.


"Ga perlu di tanya kan,"jawab Sheila datar, sambil menunjukkan seragamnya.


Arzan langsung salah tingkah, topik pembicaraan apa yang harus dia katakan, "Oh iya, bagaimana sekolah mu?"


"Biasa aja,"Sheila langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan menaiki anak tangga. Karena kamar Sheila berada di lantai dua.


"Sampai kapan kamu akan bersikap seperti itu terus?" mendengar pertanyaan ayahnya seketika langkah Sheila terhenti, ia kembali membalikkan tubuhnya dan menatap Arzan lekat.


"Papa sendiri yang udah ngebuat aku bersikap seperti ini," Arzan terdiam bibirnya terasa kaku tak dapat mengeluarkan sepatah kata pun, perkataan Sheila membuat dadanya terasa sesak.


Sheila tersenyum miring, "Papa ga pernah ada waktu buat aku, papa hanya mencintai pekerjaan papa itu. Saking sibuknya papa, teman-temanku di sekolah ngira kalau aku anak yatim piatu pa!"Arzan tersentak dadanya terasa semakin sesak, sudah jauh itukah ia dan putrinya.


"Terus kenapa sekarang papa tiba-tiba perduli?" tanya Sheila matanya berkaca-kaca sebisa mungkin ia menahan air matanya.


Bagai tersambar petir kalimat demi kalimat yang di katakan Sheila membuatnya merasa telah menjadi orang tua yang gagal, ia telah menyakiti perasaan putrinya.


"papa melakukan ini semua demi kamu nak!"ucap Arzan yang membuat dada Sheila terasa sesak sudah selama ini ternyata ayahnya tidak pernah memanggilnya dengan panggilan nak. Nampak biasa saja memang tapi itu adalah salah satu hal yang Sheila rindukan dari ayahnya.


Sheila menundukkan kepalanya air matanya sudah tak dapat di bendung lagi, "Aku tau kok,"lirih Sheila dan membalikkan tubuhnya untuk berjalan menuju kamar.


"Makasih pa, udah memenuhi kebutuhan materi aku, tapi kebahagiaan gak selamanya tentang uang pa,"Setelah itu Sheila langsung pergi meninggalkan Arzan yang terpaku di tempatnya.

__ADS_1


"Maafkan papa nak,"lirih Arzan dengan terisak. Hati mereka sama-sama saling tersakiti.


...🧕🏻🧕🏻🧕🏻...


"Alhamdulillah akhirnya selesai juga semuanya, berkurang satu beban pikiran gue hehe,"ucap Dira terkekeh, dia habis ngumpulin tugasnya yang banyaknya bukan main itu.


Dan sekarang Dira masih berdiri di depan ruang guru, dia masih mikir mau kemana lagi dia habis ini. Hari ini guru sedang ada rapat jadi murid-murid SMA Cahaya di perbolehkan bersantai ria. Apa gak senang Dira di buatnya.


Setelah beberapa menit berfikir Dira akhirnya melangkahkan kakinya menuju roof top, mumpung cuaca gak terlalu panas Dira mau melihat-lihat pemandangan SMA Cahaya dari atas. Asik gak tuh.


Di tangga menuju roof top, Dira tidak sengaja berpapasan dengan Bellen dan beberapa temannya. Mereka menuruni tangga sambil tertawa-tawa senang dan berhenti sampai mereka menyadari keberadaan Dira.


"Eh Dira, mau ke atas?"tanya Bellen.


Dira tersenyum kecil dan mengangguk,"Iya kak,"


"Oh ya udah, kita-kita mau ke bawah dulu bye Dir,"


"Iya kak,"


Setelah kepergian Bellen dan teman-temannya Dira langsung aja naik ke atas. Dan yang pertama kali di lihat Dira bukannya pemandangan SMA Cahaya tapi satu orang siswi yang sudah berdiri di tepi gedung.


Dira berusaha menenangkan dirinya dan berfikir positif, mungkin aja tu orang cuma mau nyantai aja. Tapi itu terlalu ujung woi, geser dikit udah pasti jatuh.


Dira menyipitkan matanya memastikan siapa siswi yang ada di depannya dan perlahan mendekat.


Siswi itu masih belum sadar akan kehadiran Dira yang ia pikirkan sekarang adalah untuk mengakhiri hidupnya. Ia sudah lelah menjalani hidup ini.


Setelah lumayan dekat Dira kaget bukan main ternyata siswi itu adalah Sheila. Dira menarik nafasnya dan menghembuskannya pelan, dia harus berfikir jernih untuk menghadapi situasi ini.


Dira memberanikan diri untuk memanggil Sheila, "Sheila!"


Sheila menoleh dan terkejut melihat Dira yang sudah berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri, "Ngapain lo di sini?"tanya Sheila datar.


Dira tersenyum"Ngeliat pemandangan lah, lo sendiri?"


"Gue udah pernah bilangkan jangan sok perduli, lo itu hanya penasaran kan gue tau!" ucap Sheila dingin.


"Eh?"Dira terkejut, ia tidak menyangka Sheila berfikiran seperti itu tentangnya.

__ADS_1


Untuk beberapa saat Dira terdiam.


"Gue bener kan?"tanya Sheila lagi.


"Salah, lo salah. Gue benar-benar perduli dengan lo Sheil,"jawab Dira.


Sheila tersenyum sinis, "Gue ga percaya semudah itu."


"Terserah lo mau percaya atau gak, tapi yang pasti gue ga ada niatan seperti yang lo katakan itu," jelas Dira dan perlahan semakin mendekat ke arah Sheila sampai jarak mereka hanya dua langkah dan di saat Sheila lengah, Dira langsung menarik lengan Sheila dan membawanya ke tengah.


"Ngapain lo narik gue?"tanya Sheila kesal.


Dira menatap Sheila dalam, "Gue gak tau lo mau ngapain, tapi kalau lo berniat buat bunuh diri itu salah Sheil,"


"Terus apa yang benar Dir? Gue udah ga sanggup ngejalanin hidup ini lebih baik gue bunuh diri aja dan menghilang dari dunia ini," mata Sheila mulai berkaca-kaca.


"Lo fikir dengan bunuh diri masalah lo bakalan selesai?"


Sheila terdiam dia tidak tahu harus menjawab apa, ia juga tidak tahu pilihannya itu benar atau salah.


"Gak Sheil, dengan bunuh diri lo malah makin nambah masalah. Bunuh diri itu mendahului takdir Allah Sheil, Allah membencinya,"


"Gue ga sanggup menghadapi ujian ini Dir, Tuhan ga adil dengan gue kenapa cuma gue aja yang di perlakukan seperti ini,"


"Astagfirullah Istighfar Sheil, Allah maha adil. Allah ga pernah memberikan hamba-Nya ujian melebihi batas kemampuan hamba-Nya. Gue gak tau seberat apa ujian yang lo hadapi, tapi dengan bunuh diri itu cara yang salah Sheil,"


Sheila jatuh terduduk tubuhnya bergetar butiran butiran air mata mengalir deras dari matanya, "Terus gue harus gimana Dir?"


Dira berjongkok, dia memeluk Sheila erat, "Minta Sheil sama Allah, minta petunjuk dengan-Nya yang maha penolong. Gak ada yang ga bisa Allah lakuin di dunia ini, semakin berat ujian yang di hadapi oleh seorang hamba, berarti semakin Allah mencintainya. Hadiahnya gak main-main Sheil, hadiahnya surga untuk mereka yang selalu sabar dan berserah diri kepada Allah dalam menghadapi segala ujian dalam hidup ini,"Sheila semakin terisak mendengar perkataan Dira ada rasa penyesalan dalam dirinya yang sempat berfikir untuk bunuh diri.


Dira membantu Sheila untuk berdiri dan menghapus air mata Sheila lembut,tersenyum hangat, "Lo ga sendirian Sheil, ada Allah yang selalu bersama lo, ada bokap lo yang sayang sama lo. Dan gue insyaallah juga akan bersama lo. Lo jangan sedih!"


Sheila menggenggam tangan Dira,"Makasih Dir,"


Dira hanya tersenyum lembut dan memeriksa jam di handphonenya yang ternyata sudah menunjukkan pukul setengah dua belas.


Dira langsung menarik lengan Sheila membawanya ke bawah, "Yuk turun, sebentar lagi Zhuhur kita sholat dulu, lo juga bisa curhat sepuasnya sama Allah hehe,"ucap Dira sambil tersenyum lembut.


"Perbaiki Sholat mu maka Allah akan memperbaiki hidup mu,"

__ADS_1


...-DSP-...


__ADS_2