Dira'S Spy (Mata-mata Dira)

Dira'S Spy (Mata-mata Dira)
Bab 47 DSP End


__ADS_3

...-DSP-...


Hampir sebulan berlalu semenjak kejadian di roof top hari itu. Setelah libur beberapa minggu murid-murid SMA Cahaya kembali masuk sekolah untuk memulai semester baru.


"Sheila!" Fiola berlari menghampiri Sheila yang baru saja keluar dari dalam mobilnya.


"Eh Fiola Assalamualaikum."


"Walaikumsalam."


Mereka berdua berjalan bersama menuju kelas mereka.


"Gimana liburan lo?" tanya Fiola.


Sheila menoleh, "Gue di rumah aja sih."


"Gak ada pergi liburan ke mana-mana gitu?" tanya Fiola.


"Bokap gue ada sih ngajak liburan ke luar kota. Tapi gue lagi males, mau di rumah aja," jawab Sheila.


"Lo liburan ke mana Fio?" tanya Sheila.


"Gue liburan ke kampung nenek gue. Seru banget, walaupun gue tetep harus belajar sih," Fiola menunduk lemah, pasalnya kedua orangtuanya masih saja belum berubah. Selalu memaksanya agar selalu jadi yang terpintar.


"Nanti kapan-kapan gue ajak lo mau gak?" ucap Fiola antusias.


Sheila mengangguk terus tersenyum, "Boleh."


Saat sampai di kelas mereka, Sheila menuju bangku yang dulunya di pakai oleh Dira yaitu di belakang Fiola.


"Lo mau duduk di sini?" tanya Fiola sembari duduk di kursinya.


Sheila mengangguk, "Iya. Dulu kan ini tempat duduk Fay terus Dira. Gue kangen banget sama mereka."


"Sama gue juga kangen," ucap Fiola sedih.


"Kira-kira mereka lagi ngapain ya sekarang?" ucap Sheila seraya menyandarkan kepalanya di atas meja.


"Gue jadi ingat kejadian hari itu."


...🧕🧕🧕...


"DIRA!!"


"Aaaaa."


Bruk


Mereka semua berlari ke tepi roof top dengan perasaan yang mulai tak tenang dan mengintip ke bawah untuk melihat Dira dan Devan.

__ADS_1


Setelah melihat keadaan Dira, wajah mereka yang tadinya panik berubah menjadi tenang.


Sheila dan Fiola saling bertatapan kemudian mereka berpelukan sambil menangis kencang.


"Alhamdulillah Fio hiks," ucap Sheila.


"Iya Alhamdulillah Sheil hiks," balas Fiola.


Riski dan kedua orang polisi itu juga menarik nafas legah. Pasalnya Devan dan Dira jatuh tepat di bantalan yang sudah di siapkan oleh para polisi di bawah sana. Untung mereka sudah menyiapkannya untuk antisipasi. Untungnya Dira dan Devan tidak kenapa-kenapa. Sekarang di bawah sana sudah di ramai dengan polisi dan warga SMA Cahaya yang terkejut melihat kejadian itu.


Mereka yang berada di roof top bergegas turun kebawah untuk memastikan keadaan Dira. Di situ Devan langsung di amankan oleh polisi dan Dira di bantu oleh polisi wanita untuk di obati tangannya yang luka karena pisau milik Devan.


"Dira!" panggil Sheila.


Sheila dan Fiola langsung berlari menghampiri Dira dan memeluknya, dengan air mata yang masih mengalir di pipi mereka.


"Hiks Dir lo gapapa kan?" tanya Fiola.


"Gue takut lo ninggalin gue hiks," ucap Sheila.


Dira memeluk kedua temannya itu erat, mengelus punggung mereka.


"Cup cup cup jangan nangis lagi, gue gapapa kok," ucap Dira menenangkan.


Sheila meraih tangan Dira yang terluka dan tangisnya semakin pecah, yang membuat Dira panik.


"Tangan lo lukaaa."


*Dan untungnya mereka berdua berhenti menangis dan menghapus air mata di pipi mereka. *


Dira melirik Riski yang berjalan ke arah mereka bertiga. Riski tersenyum legah karena Dira tidak kenapa-kenapa.


"Alhamdulillah lo gak kenapa-kenapa," ucap Riski.


Dira tersenyum, "Alhamdulillah gue masih di kasih kesempatan untuk hidup."


Setelah itu Devan di tangani dengan pihak yang berwajib dan mereka berempat di mintai kesaksian tentang semua kejahatan yang dilakukan oleh Devan. Mereka juga sudah memiliki semua bukti dari kejahatan yang dilakukan Devan. Di ponsel Fay ada rekaman suara saat, Devan dan Fay di roof top malam itu hingga ia mendorongnya. Dan semua pesan teror yang di lakukan Devan, serta kejahatan-kejahatan lainnya.


Beberapa hari kemudian setelah semua masalah selesai dan semua kebenaran telah terungkap. Murid-murid SMA Cahaya juga sudah selesai melaksanakan ujian mereka dan melalui free class. Akhirnya hari yang di tunggu-tunggu pun tiba, yaitu pembagian raport.


Para murid berdatangan yang di dampingi oleh orang tua mereka. Dira juga datang bersama ibunya dan Sheila bersama ayahnya. Tampak senyum bahagia terus terpatri di wajah Arzan dan Sheila. Arzan merasa bahagia karena bisa mendampingi putrinya ke sekolah dan Sheila bahagia bukan orang suruhan ayahnya lagi yang menemaninya ke sekolah melainkan ayahnya sendiri.


"Lo gak bisa, gak usah pindah aja Dir?" tanya Sheila saat sudah selesai pembagian raport. Wajahnya tampak sedih karena Dira akan pindah.


Dira melirik Sheila dan tersenyum, "Gue udah janji sama Siti. Lagian surat-suratnya udah di urus semua."


Sheila dan Fiola hanya diam dengan wajah yang sedih.


"Jangan sedih gitu dong, kita masih bisa ketemuan di luar sekolah. Kan kita masih satu kota," ucap Dira menghibur.

__ADS_1


"Iya deh, lo hati-hati ya di sekolah baru nanti," ucap Fiola seraya memeluk Dira. Sheila juga ikut memeluk mereka berdua.


"Iya tenang aja, kalian juga hati-hati di sini."


...🧕🧕🧕...


"Lo mau ketemu Dira gak?" tanya Sheila.


"Mau dong, tapi kan akhir-akhir dia kan sibuk jadi kita jarang komunikasi sama dia," ucap Fiola lesu.


Sheila tersenyum penuh arti, "Gue punya ide."


"Apa?"


Sheila mendekatkan bibirnya ke telinga Fiola dan membisikkan sesuatu yang membuat bibir Fiola seketika tersenyum.


"Gimana setuju gak?" tanya Sheila.


Fiola mengangguk penuh antusias, "Oke gue setuju."


...🧕🧕🧕...


Dira dan Siti memasuki SMA Nusa Bangsa dengan senyuman lebar. Sudah satu minggu semenjak Dira pindah ke SMA Nusa Bangsa. Siti merasa sangat senang karena bisa satu sekolah dengan sahabatnya. Dira sangat senang di sekolah barunya, karena murid-muridnya ramah-ramah dan baik.


"Eh kita gak ada pr kan Sit?" tanya Dira saat mereka sudah duduk di kursi mereka masing-masing.


Siti duduk dan meletakkan tasnya di atas meja, "Hari ini gak ada, kalau besok ada."


"Hu Alhamdulillah, gue kira ada pr dan gue lupa ngerjainnya. Bisa-bisa habis gue di marahin, baru pindah udah malas-malasan ngerjain pr," ucap Dira seraya mengelus dadanya.


"Lo tenang aja," Siti menepuk-nepuk dadanya, "Sahabat lo yang Masya Allah baik hati dan tidak sombong ini akan mengingatkan lo kalau ada pr."


Dira terkekeh, "Terserah lo dah terserah."


Ting Ting Ting


Setelah bell berbunyi semua murid masuk ke dalam kelas mereka. Kelas Dira yang semula ramai seketika sunyi saat seorang guru perempuan dengan menggunakan hijab bernama Nisa masuk ke dalam kelas mereka.


"Assalamualaikum anak-anak, selamat pagi," ucap bu Nisa.


"Walaikumsalam pagi buuu."


"Hari ini kita kedatangan teman baru lagi," Nisa melirik ke arah pintu, "Silahkan masuk."


Dua orang siswa berhijab masuk ke dalam kelas dengan kepala yang tertunduk malu.


Dira menyipitkan matanya untuk melihat wajah dua orang itu, saat mereka berdua mengangkat kepalanya dan menatap Dira. Seketika mata Dira melebar setelah mengetahui siapa mereka. Kedua orang siswi itu tersenyum ke arahnya dan Siti.


"Sheila, Fiola."

__ADS_1


...-DSP-...


__ADS_2