Dira'S Spy (Mata-mata Dira)

Dira'S Spy (Mata-mata Dira)
Bab 34 DSP


__ADS_3

...-DSP-...


Dira duduk terdiam di dalam kelasnya, ia masih memikirkan siapa orang yang telah memberikannya kotak misterius itu. Pasalnya sehabis dari toilet tadi, Dira menemukan sebuah surat di dalam tas yang berisi ancaman jika ia melanjutkan misinya untuk mencari tahu penyebab celakanya Fay.


Mungkin ini tidak benar, tapi sejak kemarin ada satu nama yang terus Dira pikirkan. Dira merasa orang ini ada sangkut pautnya dengan kotak misterius tersebut. Dira sudah berusaha membuang jauh-jauh pikiran itu, tapi jika di pikir-pikir lagi semuanya tertuju pada orang itu. Orang itu adalah Riski, pasalnya kemarin sebelum menemukan kotak misterius itu kan Dira bertemu dengan Riski yang baru saja keluar dari dalam kelasnya.


Makanya Dira sedikit curiga dengan kakak kelasnya itu.


"Astaghfirullah gak boleh suudzon dulu," ucap Dira menggeleng-gelengkan kepalanya.


Yang pasti sekarang Dira harus memastikan kebenarannya terlebih dahulu. Di tambah lagi Dira masih memikirkan cara agar mendapatkan ponsel Fay, karena kasus ini tidak di laporkan dengan polisi sudah pasti ponsel Bellen dengan orang tuanya. Dira juga tidak habis pikir kenapa orang tua Fay tidak melaporkannya ke polisi, bahkan pihak sekolah juga tutup mulut. Hanya gara-gara takut nama baik sekolah tercemar dengan berbagai rumor.


Padahal kalau di laporkan dengan polisi, pasti masalahnya mudah di selesaikan. Sedang serius berpikir pendengaran Dira tiba-tiba terfokuskan oleh suara teriakan para siswa di luar kelas.


"Ribut-ribut kenapa dah tuh?" gumam Dira heran.


"Iman! Di depan ribut-ribut kenapa?" tanya Dira kepada salah satu temannya yang baru saja masuk kelas.


"Oh itu lagi ada yang tanding basket."


Dira mengangguk-anggukkan kepalanya, "Oh tanding basket rupanya...Eh bentar! Basket? Riski?"


"Oh iya kak Riski kan main basket...Gue liat juga ah," Dira langsung berdiri dan pergi keluar untuk melihat pertandingan basket yang ia yakini Riski juga bermain di situ.


Dan dugaan Dira tepat sekali, Riski juga ada bermain basket. Ia memasuki kerumunan siswi-siswi yang berteriak mendukung dan memuji ketampanan para siswa yang bermain basket. Dira juga mendapati Sheila ternyata juga menonton pertandingan itu, ia pikir Sheila masih di roof top.


Dira menepuk pundak Sheila pelan, "Sheila."


Sheila melirik Dira sedikit kaget, "Eh Dira."


"Lo nonton basket juga ternyata, gue kira lo masih di suruh-suruh sama kak Bellen."


"Dianya aja juga lagi nonton pertandingan ini," ucap Sheila menunjuk Bellen yang berdiri paling depan dan bersorak mendukung mereka yang bermain.


"Wah dia suka nonton basket juga, gue kira cuma suka nyantuy di roof top doang," Dira melirik sinis Bellen, "Sama nyuruh-nyuruh orang."


"Dia bukan suka pertandingan basketnya tapi suka sama orang yang main basketnya."


"Hah? Siapa?"


Sheila menunjuk kearah lapangan dengan dagunya, "Tuh kak Riski."

__ADS_1


Dira sedikit menganga mendengarnya, "Wah wah wah banyak juga ya yang suka dengan kak Riski. Seganteng itu kah dia?" Dira melirik Riski sebentar kemudian kembali menatap Sheila, "Iya sih emang Masya Allah ganteng."



"Iya makanya gue juga suka," batin Sheila. Tapi sayang ia harus merelakan perasaannya demi sahabatnya Fay. Dan juga sekarang dia sedang mencurigai Riski sebagai pelaku utama jadi bisa saja perasaannya berubah jika hal itu memang benar.


"Lo... Gue kira lo gak suka nonton beginian jadi gue gak ngajak lo tadi," ucap Sheila.


"Oh itu..," Dira mendekatkan dirinya ke Sheila, "Kan untuk saat kak Riski tersangka utama jadi kita harus selidiki dia dan ikutin kemanapun dia pergi."


"Sebenarnya tujuan gue nonton juga itu sih."


Dira menyipitkan matanya, "Kalau gitu kenapa lo gak ngajak gue Sheil."


Sheila terkekeh pelan, "Hehe Sorry gue lupa."


"Tapi emangnya dengan nonton dia tanding begini kita bisa dapatin bukti?" tanya Dira setelah terdiam beberapa saat.


"Y..ya gak tau juga sih, pokoknya kita harus ikutin semua gerak-gerik dia. Jangan sampai lolos," balas Sheila.


Dira mengangguk paham, "Okay sekarang kak Riski akan selalu di awasi oleh mata Dira..,"


Setelah beberapa saat akhirnya pertandingan selesai, murid-murid satu persatu mulai meninggalkan lapangan. Ada juga siswi-siswi yang berebut untuk mengelapkan keringat dan memberi air minum untuk para siswa yang baru selesai bertanding.


Sedangkan Dira dan Sheila mata mereka terus saja tertuju pada Riski, pokoknya semua gerak-gerik Riski mereka perhatikan.


"Eh eh udah mau pergi tuh dia. Yuk ikutin!" ucap Dira sambil menarik tangan Sheila.


Mereka menjaga jarak sepuluh langkah dari Riski agar tidak ketahuan.


Dira dan Sheila menghentikan langkahnya saat Riski memasuki toilet untuk mengganti pakaiannya. Setelah Riski keluar mereka kembali mengikutinya, sampai beberapa saat tiba-tiba Riski menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya menatap Dira dan Sheila aneh.


"Dira, Sheila!" panggil Riski saat kedua gadis itu hendak kabur.


"Iya kak," ucap Dira berlagak biasa saja.


Riski berjalan mendekati mereka, "Ngapain dari tadi kalian ngikutin gue terus?"


Mereka langsung gelagapan tidak tahu harus menjawab apa.


Dira dan Sheila saling lirik dan saling tuduh siapa yang akan menjawab pertanyaan Riski.

__ADS_1


Dira menghela nafas pasrah, "Hmm anu kk itu kita..," ucap Dira ia melirik Sheila meminta bantuan.


"Kita itu kak," ucap Sheila berusaha menjawab.


Riski mengernyit, "Itu apa?"


Mereka berdua sama-sama diam, memikirkan jawaban apa yang pas itu mereka berikan kepada Riski.


"Ah iya kita mau minta traktir kak!" ucap Dira sedikit berteriak, yang membuat Sheila melongo.


"Dir lo ngomong apa weh," bisik Sheila.


"Diem aja, udah terlanjur keluar tuh kata-kata kagak bisa di hapus lagi. Kan ini bukan chat," balas Dira berbisik.


Sheila hanya menghela nafasnya pasrah, entah apa yang akan Riski katakan.


"Traktir?" tanya Riski.


"Iya, kan tadi kakak menang tanding basketnya, jadi untuk ngerayain kemenangan kakak. kakak traktir kita dong," jawab Dira. Rasanya ia sangat malu, memangnya dia sedekat apa dengan Riski sampai harus minta traktir segala.


Dira dan Sheila sudah menunduk malu, menantikan jawaban dari Riski. Namun bukannya marah Riski malah tertawa, hal itu membuat mereka berdua mengkerut kan kening heran.


Riski menggeleng-gelengkan kepalanya, "Kalian ini ada-ada aja ya, mau minta traktir sampai ngikutin kayak gitu. Kan bisa langsung bilang."


"E..emang boleh kak?" tanya Sheila ragu.


Riski mengangguk, "Boleh lah. Yuk kita ke kantin! Kalian boleh pesan sepuas kalian nanti kakak yang bayar."


Dira dan Sheila masih diam membisu.


Riski melambai-lambaikan tangannya di depan wajah mereka, "Hey kok diam? Ayo ke kantin! Tadi katanya minta traktir."


"Oh iya kak. Yuk Sheil."


"Iya yuk."


Mereka bertiga pun berjalan menuju kantin tanpa mereka sadari ada dua orang yang menatap Dira dan Sheila tak suka.


"Bisa-bisanya mereka dekatin Riski!"


...-DSP-...

__ADS_1


__ADS_2