
...-DSP-...
Beberapa jam sebelum tragedi jatuhnya Fay dari roof top.
Fay menghampiri Riski yang baru saja selesai mengikuti ekstrakurikuler basket. Menyadari kedatangan Fay, Riski yang sedang berbincang dengan teman-temannya langsung bergegas menghampiri Fay.
"Hai," ucap Riski dengan senyum sumringah. Ia senang di saat dirinya merasa lelah karena bermain basket, gadis yang ia sukai datang membuat lelahnya seketika menghilang.
Fay tersenyum malu, "Hai."
Mereka berdua saling diam, bingung harus membicarakan apa. Sekarang jantung mereka sama-sama berdegup tidak karuan. Padahal tadi di chat lancar-lancar aja ngobrolnya.
"Kamu udah mau pulang?" tanya Riski memulai pembicaraan.
Fay yang semula tertunduk mengangkat kepalanya menatap lelaki tampan di depannya dengan gugup.
"Iya aku udah mau pulang. Oh iya," Fay menyodorkan sebotol air dingin ke arah Riski, "Nih tadi aku beliin untuk kak Riski. Kakak pasti haus kan, habis main basket."
Riski menerima botol itu dengan senang, ia tertawa kecil saat melihat tangan Fay bergetar memberikannya botol itu.
Riski tersenyum manis, ia melangkah maju mendekati Fay. Hanya menyisakan satu langkah jarak antara mereka, ia mengusap kepala Fay gemas.
"Makasih banyak ya."
Fay membeku, dadanya semakin berdegup kencang. Perlakukan Riski sangat membuat hatinya senang. Ia memegang puncak kepalanya sambil tersenyum malu.
"Sama-sama. Hhm kalau gitu aku pulang dulu ya kak, takut ke sorean pulangnya."
"Gak mau bareng aja, kakak juga udah mau pulang nih," ucap Riski menawarkan kemudian meminum air yang di berikan Fay.
"Gak usah kak, rumah kita kan beda arah. Lagian aku juga mau ketemu sama temen dulu sebentar baru pulang," tolak Fay.
Riski menutup tutup botol minumnya, dan menatap Fay dengan senyuman yang membuat nya semakin tampan, "Oh ya udah. Hati-hati ya."
Untuk sejenak Fay terpesona dengan ketampanan yang di miliki Riski. Di tambah lagi rambutnya yang sedikit basah karena keringat membuatnya semakin tampan.
"Fay," ucap Riski melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Fay.
Fay menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha untuk menyadarkan diri dari pesona ketampanan Riski, "Oh iya, kalau gitu aku pulang dulu ya bye."
"Iya hati-hati," ucap Riski.
__ADS_1
Setelah kepergian Fay, ia kembali berkumpul bersama teman-temannya. Di mana teman-temannya saling bersorak mengejek Riski karena di datangi oleh orang yang di sukainya.
"Cie cie di bawain air sama ayang nih," ucap Dion mengejek.
Sedangkan Riski memilih tak memperdulikan temannya dan menatap air minum yang di berikan Fay sambil tersenyum kecil. Tiba-tiba salah satu temannya menyambar air minum itu dari tangan Riski.
"Bagi ya, haus gue," ucap temannya dan bersiap untuk meminumnya.
Belum juga ia meminumnya, air itu langsung di ambil dengan Riski. Ia menatap temannya garang dan langsung meneguk air itu sampai habis.
"Belum juga gue minum Ki. Pelit amat." ucap temannya yang bernama Wahyu dengan wajah sedih.
"Ya kan dari ayang, gimana dah," ucap Dion.
Riski mencampakkan satu botol air minum yang ia ambil dari dalam tasnya.
"Minum yang itu aja."
"Thank you Brody," ucap temannya yang bernama Wahyu dan meneguk air itu dengan senang.
"Bukannya itu dari Bellen ya?"
...🧕🧕🧕...
Tak lama dari jauh Riski melihat Fiola yang sedang berjalan dengan terburu-buru menaiki anak tangga. Riski mengernyit ada urusan apa Fiola ke lantai tiga, karena posisinya Riski sedang berada di lantai dua. Riski hendak memanggil Fiola tapi tak sempat karena Fiola sudah keburu pergi. Jadi Riski memutuskan untuk melanjutkan langkahnya, namun saat akan melangkah Riski kembali berhenti dan kali ini ia bersembunyi di balik tembok.
Ia melihat Bellen yang juga berjalan dengan terburu-buru menaiki anak tangga. Riski bersembunyi karena Bellen selalu saja mengikuti dan mengganggunya. Setelah Bellen menghilang dari pandangannya, ia kembali melanjutkan langkahnya dan pulang.
...🧕🧕🧕...
Setelah mendengarkan semua penjelasan dan cerita dari Riski. Sheila dan Dira terdiam, banyak hal yang mereka pikirkan dan mereka salah menuduh orang.
"Maafin kita kak, udah sembarangan fitnah lo," ucap Dira merasa bersalah dan malu.
"Sorry kak, gue marah-marah sama lo tadi," Sheila menundukkan kepalanya, "Maaf."
Riski tersenyum ramah, "Gapapa kok santai aja. Wajar aja kalian curiga dengan gue."
"Jadi.. kalian lagi nyari tau kebenaran tentang celakanya Fay ini?" tanya Riski.
Mereka berdua mengangguk.
__ADS_1
"Iya kak. Kalau gak begitu pasti semuanya bakalan selalu berpikir kalau Sheila yang udah nyelakain Fay," jelas Dira.
"Sebenarnya gue juga lagi nyari tau tentang masalah ini, karena gue yakin semua ini bukan salah Sheila," ucap Riski sambil menatap Sheila yang masih tertunduk.
"Nah gue juga berpikiran seperti itu, tapi sampai sekarang kita masih belum dapet petunjuk. Dan orang yang harus kita cari itu adalah orang yang beberapa hari ini neror kita," ucap Dira, ia masih memikirkan siapa gerangan yang mengirimkan pesan teror itu.
Riski mengernyit, "Teror? Jadi beneran ada orang yang neror kalian?"
Dira mengangguk, "Iya bahkan dia juga udah nyelakain teman kita sampai masuk rumah sakit. Dia marah karena kita gak mau berhenti buat nyari tau kebenaran tentang celakanya Fay."
"Hah? Bisa-bisanya dia ngelakuin itu. Ini gak bisa di biarin, kita harus cari tau siapa dalang di balik semua ini," ucap Riski geram.
Sheila mengangkat kepalanya menatap Riski, "Tapi gimana caranya supaya kita bisa nemuin orang itu."
Riski membenarkan posisi duduknya, "Gini gini, gue mau tanya. Di sekolah siapa aja yang tau tentang tujuan kalian ini?"
Mereka saling diam, Dira dan Sheila memikirkan dan mengingat-ingat siapa saja orang yang tahu tentang misi mereka ini.
"Gak ada sih setau gue," jawab Sheila.
Riski beralih menatap Dira yang masih berpikir, "Lo Dir, gak ada yang lo kasih tau?"
"Oh iya ada-ada. Fiola tau tentang misi kita," jawab Dira.
"Fiola? Fiola teman kelas lo kan?"
"Iya bener."
Riski mengangguk-anggukkan kepalanya sepertinya ia mendapatkan jawaban, "Kalian ingat kan semua yang gue ceritain tadi?
Dira dan Sheila mengangguk.
"Saat gue ngeliat Fiola dan Bellen jalan terburu-buru ke lantai tiga. Bisa jadi tujuan Fiola yang sebenarnya adalah ke roof top. Fay juga waktu itu bilang dia mau ketemu sama temen," lanjut Riski menjelaskan.
Dira dan Sheila saling pandang kemudian menatap Riski.
"Jadi menurut kalian gimana?" tanya Riski.
"Maksud lo..." mereka berdua menjeda ucapannya.
"Fiola pelakunya?"
__ADS_1
...-DSP-...