Dira'S Spy (Mata-mata Dira)

Dira'S Spy (Mata-mata Dira)
Bab 41 DSP


__ADS_3

...-DSP-...


"Jadi setelah itu gue pergi ninggalin Fay di roof top. Dan gak tau apa yang terjadi setelah itu," ucap Fiola menjelaskan, sekarang mereka berempat sedang duduk melingkar di lantai kamar Dira.


"Dan setelah Fay masuk ke rumah sakit. Bellen nunjukin gue video itu, dia ngancem gue. Kalau gue gak nurutin kemauan dia, dia bakalan nyebarin video itu. Dan gue gak mau itu terjadi," ucap Fiola menundukkan kepalanya.


Kedua alis Dira bertautan, "Kenapa? Kan kan bukan lo yang nyelakain Fay."


Fiola mengangkat kepalanya menatap ketiga gadis yang sedari tadi mendengar ceritanya dengan serius.


"Gue gak mau ada yang salah paham, buktinya kalian aja bisa ngira gue pelakunya kan? Karena ngeliat video itu. Di tambah lagi gue gak mau orang tua gue tau."


Mereka bertiga menatap Fiola prihatin, merasa kasihan dengan temannya itu. Fiola yang selalu tampak ceria ternyata juga menyimpan luka di hatinya.


"Lo pada gak perlu natap gue dengan tatapan kasian begitu," ucap Fiola.


Mereka bertiga tetap diam kemudian memeluk Fiola. Mereka ingin membagikan kekuatan untuk gadis itu. Fiola hampir meneteskan air matanya tapi ia tahan. Karena sekarang bukan waktunya untuk menangis.


Fiola melepaskan pelukannya, "Makasih ya udah mau jadi temen gue," ucap Fiola yang dibalas senyuman oleh mereka.


"Gue denger-denger tadi, kalian bilang pesan teror. Maksudnya kalian di teror sama orang yang udah nyelakain Fay?" tanya Fiola.


Sheila mengangguk, "Iya, bahkan dia udah nyelakain Siti sampai masuk rumah sakit."


Fiola terbelalak ia menatap luka-luka yang ada di tubuh Siti, "Ini semua ulah orang itu? Kok dia jahat banget sih."


Fiola beralih menatap wajah Sheila yang masih lebam akibat perkelahiannya dengan Bellen, "Berarti lebam di muka lo juga ulah orang itu?"


"Oh bukan. Beberapa hari yang lalu gue sempet berantem dengan Bellen. Jadi gue di keroyok deh sama mereka hehe," jawab Sheila.


"Wah keren juga lo udah berani ngelawan dia," ucap Fiola takjub.


"Gimana lagi gue udah gak tahan di bully dia terus," balas Sheila.

__ADS_1


"Sekarang dia juga udah gak bisa ngancem lo lagi. Kan hp nya ada di kita, tinggal kita hapus videonya," ucap Dira.


"Iya Alhamdulillah gue bersyukur banget. Selama ini gue merasa tertekan di ancem dia terus," ucap Fiola.


"Eh ngomong-ngomong soal Bellen. Karena Fiola juga bukan pelakunya, sekarang yang harus kita selidiki itu dia kan?" ucap Siti.


Dira mengangguk, "Iya juga, karena dia juga berada di sana malam itu. Kita harus pastiin apakah dia pelakunya atau bukan."


"Kenapa gak periksa aja di hp nya dia, siapa tahu ada petunjuk," timpal Fiola.


"Ya udah kita cek dulu hp nya, kalau gak ada petunjuk besok kita langsung samperin dia," ucap Sheila yang di balas anggukan dari teman-temannya.


...🧕🧕🧕...


Keesokan harinya karena tidak menemukan petunjuk sama sekali dari ponsel Bellen. Dira dan Sheila bahkan Fiola berniat untuk mendatangi Bellen setelah selesai ulangan.


"Wah tumben nih anjing-anjing gue dateng barengan," ucap Bellen saat melihat kedatangan mereka bertiga.


"Nih hp lo, udah gue benerin," ucap Sheila sembari menyodorkan ponsel Bellen.


Bellen hendak mengambil ponselnya itu, tapi Sheila kembali menarik tangannya.


"Jadi lo yang nyuri hp gue. Balikin!"


"Gue bakal balikin kalau lo nyeritain apa yang lo lakukan di malam sebelum Fay celaka waktu itu," ucap Sheila. Ia kembali menyimpan ponsel Bellen ke dalam sakunya.


Bellen terdiam sesaat, "Maksud lo apa?"


"Kita tau lo ada di roof top malam itu. Lo juga yang merekam percakapan Fiola dan Fay. Jadi mending lo cerita ke kita kalau mau hp lo balik," ucap Dira.


Bellen menatap Fiola kemudian beralih menatap Sheila dan Dira, "Oh jadi lo pada obrak abrik hp gue."


Bellen membuang puntung rokoknya sembarang arah, "Emang kenapa kalau gue ada di sana? Kalian ngira gue yang nyelakain Fay?"

__ADS_1


Sheila mengedik kan bahunya, "May be. Lo kan benci sama Fay karena dia deket dengan kak Riski."


"Gue gak sebego dan setolol itu. Cuma gara-gara cowok, sampai mau bunuh orang," ucap Bellen kesal.


"Kalau emang bukan lo. Terus ngapain lo ke roof top malam itu?" tanya Fiola.


Bellen merotasi kan boleh matanya sebal, "Ha sebenarnya ini buang-buang waktu gue aja. Tapi kalian dengar nih. Gue ceritain dengan jelas dan ringkas..."


"Malam itu gue pergi ke roof top karena mau ngambil tas gue yang ketinggalan. Eh gak taunya ada dua orang bego yang lagi berantem. Karena gue seneng ngeliat pertengkaran itu, jadi gue rekam. Udah gitu aja. Puas lo pada?" jelas Bellen dengan kesal. Karena ia sama sekali tidak ingin mengurusi hal-hal yang bersangkutan dengan mereka.


Dira mengerutkan keningnya, "Itu aja? Setelah itu? Lo yakin gak ada ngeliat sesuatu? Lo pasti tau kan kenapa Fay bisa celaka?"


Bellen memiringkan senyumnya, "Emang kalau gue kasih tau, gue bisa dapat apa? Gue males ngasih tau kalau gak ada untungnya sama sekali untuk gue."


Dira menggeleng-gelengkan kepalanya tidak habis pikir, bisa-bisanya Bellen masih ingin mencari untung dalam keadaan seperti ini.


"Insya Allah lo bisa dapat pahala kalau lo kasih tau ke kita," ucap Dira kesal.


Bellen memutar bola matanya dan menatap Dira sinis. Ia mengambil sebatang rokok dan menghidupkannya.


"Gue bakalan kasih lo uang beberapa pun yang lo mau, asalkan lo kasih tau kita siapa pelakunya," sontak Dira dan Fiola menoleh menatap Sheila. Apa gadis itu serius akan memberikan Bellen uang berapapun yang Bellen mau.


"Wah akhirnya lo gunain juga kekayaan lo itu," Bellen berdiri dan mendekati Sheila, "Kalau gitu, gue mau lo kasih gue uang 50 juta. Bisa kan? Informasi penting kan gak murah."


Dira dan Fiola terbelalak mendengar permintaan Bellen yang kelewatan batas. Berbeda dengan Sheila, gadis itu menyetujuinya dengan santai.


"Okay gue setujui. Tapi gue harus siapin dulu uang itu," ucap Sheila.


"Gue gak bisa nunggu lama. Nanti sore jam 3 kita ketemuan di kafe gak jauh dari sekolah. Dan saat itu uangnya udah harus ada, baru gue kasih tau lo apa yang gue liat di malam itu."


Setelah saling sepakat dengan Bellen, mereka bertiga pergi meninggalkan Bellen yang tersenyum senang karena sebentar lagi akan mendapatkan uang yang lumayan banyak. Karena ia bukanlah anak yang berasal dari keluarga kaya raya, makanya dia suka memalak orang. Ia bisa terlihat kaya, karena rata-rata temannya adalah orang kaya.


"Lo yakin mau ngasih Bellen uang sebanyak itu?" tanya Dira sambil menuruni anak tangga.

__ADS_1


"Iya, karena cuma itu satu-satunya cara kita buat dapetin informasi itu."


...-DSP-...


__ADS_2