Dira'S Spy (Mata-mata Dira)

Dira'S Spy (Mata-mata Dira)
Bab 44 DSP


__ADS_3

...-DSP-...


Dira mengendarai motor Siti dengan kecepatan yang cukup tinggi. Pikirannya sudah tidak fokus, yang ia pikirkan sekarang adalah harus cepat-cepat sampai ke rumah sakit. Dira tidak boleh membiarkan orang jahat itu menyakiti Fay untuk yang kedua kalinya.


Ckittt


Dira mengerem motornya, hampir saja ia menabrak mobil yang ada di depannya. Dira sampai tidak memperhatikan bahwa lampu merah telah menyala.


Dira menarik nafasnya, berusaha untuk menenangkan diri.


"Astaghfirullah. Kenapa lo gini sih Dir," lirih Dira.


Segera setelah lampu berubah menjadi hijau, Dira langsung melajukan motornya secepat mungkin. Beberapa saat kemudian ia pun sampai ke rumah sakit dan langsung memarkirkan motornya.


Dira berlari memasuki rumah sakit dengan tergesa-gesa, sampai ia menabrak seorang berpakaian seperti dokter dan menggunakan masker. Dan tanpa Dira sadari orang itu menggunakan jam tangan Casio G-Shock warna biru tua.


"Eh maaf dok," ucap Dira.


"Iya tidak apa-apa," balas orang itu.


Dira pun kembali berlari dan saat ia membuka pintu ruangan Fay. Di situ sudah ada kedua orang tua Fay yang sedang menangis haru, beserta seorang dokter dan suster yang juga menundukkan kepalanya karena merasa bersalah dan kecewa.


"Maafkan kami. Kami sudah berusaha sebisa mungkin," ucap sang dokter.


"Fay!" Paula menangis histeris sembari memeluk tubuh putrinya yang sudah tidak ada lagi alat-alat yang menempel di tubuhnya.


"Sabar ma, Fay pasti sudah tenang di alam sana," ucap Gibran menguatkan istrinya.


Dira yang masih berdiri di ambang pintu menjatuhkan tubuhnya di lantai. Kakinya tiba-tiba terasa lemah, tak mampu untuk menopang tubuhnya. Dira menundukkan kepalanya air mata mulai menetes dari matanya. Ia mengepalkan tangannya kuat, rasanya sekarang juga ia ingin mengajar orang jahat itu.


Dira benar-benar merasa tidak berguna. Apa yang harus Dira katakan kepada Sheila dia pasti akan sangat sedih mendengar kabar ini. Tidak bisa mau bagaimanpun Dira harus tetap mengabarkannya kepada teman-temannya. Dira mulai mengambil ponselnya dan menelepon teman-temannya.


"Halo Sheil."


...🧕🧕🧕...


Sheila memasuki rumah Fay yang sudah di penuhi dengan orang. Air matanya tidak berhenti-henti mengalir, sejak ia mendapatkan telepon dari Dira yang mengatakan bahwa Fay sudah tidak ada.


"Sheil," ucap Dira yang langsung berdiri menghampiri Sheila, yang juga di ikuti oleh Siti dan Fiola.

__ADS_1


"Dir. Fay hiks," Dira langsung memeluk Sheila berusaha memberi ketenangan.


Sheila melepas pelukannya dan kem melangkah sampai ia berada di samping jenazah Fay, yang sudah tertutup kain. Sheila bersimpuh dan membuka kain di bagian kepala Fay perlahan. Tangisnya semakin pecah, saat melihat wajah pucat Fay bibirnya tersenyum manis yang menandakan ia telah pergi dengan damai.


Sheila mengelap air matanya, "Bahkan sekarang pun lo masih cantik Fay," ia menutup kembali wajah Fay dan bergabung dengan Dira.


Teman-teman kelasnya juga banyak yang datang bahkan Riski juga ada. Mereka ikut berduka atas kepergian Fay. Sebenarnya sedari tadi ibu Fay sudah menatap tajam Sheila, ia ingin memaki dan menghajar Sheila, untungnya Gibran menahannya. Paula masih berpikir bahwa Sheila lah pelakunya.


Fiola terdiam mengingat semua kata-katanya yang telah menyakiti Fay. Ia benar-benar merasa bukan teman yang baik. Sedangkan Riski tentu saja ia sangat sedih, gadis yang di cintai nya telah pergi meninggalkannya untuk selamanya.


"Belum juga kita ketemu ya Fay? Lo udah pergi aja," batin Dira.


Siti memperhatikan Dira yang termenung.


"Dir," panggil Siti.


Dira hanya menoleh menatap Siti tanpa berniat untuk menyahut. Rasanya tenaganya menghilang bahkan untuk berbicara pun tak sanggup.


"Ini semua udah takdir Allah SWT. Dir, kita gak bisa berlarut-larut dalam kesedihan begini," Siti menoleh ke arah Sheila dan Fiola, "Sheil, Fio. Kita harus kuat, Fay pasti gak suka kalau kita sedih terus."


Mereka ber genggaman tangan untuk saling menguatkan. Ya Mereka tidak boleh bersedih, biarkan Fay pergi dengan tenang.


...🧕🧕🧕...


"Kamu yang tenang di sana ya nak," ucap Paula seraya mengelus nisan putrinya.


"Papa sama Mama sayang sama kamu, kita akan sering-sering ke sini," ucap Gibran.


"Mama sama papa pulang dulu sayang," enggan rasanya mereka untuk meninggalkan putrinya, tapi mereka tidak boleh terus bersedih.


"Ngapain kamu masih di sini?" ucap Paula ketus, saat ia melihat Sheila.


"Ma udah ma," ucap Gibran menahan istrinya yang hendak mendekati Sheila.


"Kamu udah bunuh anak saya dan kamu masih berani ke sini. Tidak tahu malu Kamu!"


Deg


Kata-kata yang cukup menyayat di hati Sheila, walaupun ia bukan pelakunya. Tetap saja ia merasa bersalah.

__ADS_1


"Cukup ma! Ini bukan salah Sheila," ucap Gibran.


Paula melepaskan tangan Gibran dari lengannya, "Papa lebih bela dia? Dia itu pembunuh pa."


"Kita gak bisa sembarangan nuduh orang ma. Itu namanya fitnah."


"Oke terserah papa, mama gak perduli," Paula berlari meninggalkan Gibran dengan perasaan kesal yang membara.


"Mama!"


Gibran mengacak-acak rambutnya frustasi, ia beralih menatap Sheila dan teman-temannya yang tertunduk diam.


"Maafin tante ya Sheila. Kamu tau sendiri kan tante seperti apa. Sekarang dia benar-benar terpukul karena kepergian Fay."


"Iya om Sheila ngerti kok. Saya minta maaf om," ucap Sheila.


"Ini bukan salah kamu. Kamu tidak perlu minta maaf."


Gibran teringat akan sesuatu matanya tertuju pada Dira, "Oh iya Dira, waktu itu om ada ke sekolah kamu untuk memberikan hp Fay. Tapi kamu tidak ada, jadi om titipkan ke teman sekolah kamu. Apa dia ada ngasih ke kamu?"


Dira mengernyitkan dahinya bingung, "Gak ada om, gak ada yang ngasih saya hp punya Fay."


"Apa? Kamu serius?" tanya Gibran kaget.


Dira mengangguk yakin, "Iya om gak ada."


"Hhm om kalau boleh tau, om tau siapa orang yang om titipkan hp Fay itu?" tanya Fiola.


"Om tidak tau namanya, tapi dia siswa laki-laki," jawab Gibran.


Mereka semua terdiam memikirkan siapa orang yang telah di berikan Gibran ponsel Fay. Kenapa sampai sekarang dia tidak memberikan ponsel Fay kepada Dira. Ini cukup mencurigakan.


"Kira-kira ciri-cirinya gimana om? Dia pakai tas apa, atau ada pakai kalung atau jam gitu om?" tanya Siti beruntun.


"Sebentar om ingat-ingat dulu," balas Gibran berusaha untuk mengingat ciri-ciri siswa itu.


"Badannya tinggi cuma itu yang om ingat. Dan ah ada satu lagi."


"Apa om?" tanya Dira.

__ADS_1


"Om ingat, dia pakai jam tangan warna biru tua."


...-DSP-...


__ADS_2