
...-DSP-...
"Assalamualaikum. Shei ASTAGHFIRULLAH SHEILA! WOI INI KENAPA LO BABAK BELUR BEGINI WEH!?" pekik Dira saat ia baru memasuki kamar Sheila, sama halnya dengan Siti yang juga kaget. Sheila sama sekali tidak memberitahukan hal ini kepada mereka.
"INI LO KENAPA BISA BEGINI SHEIL, CERITA KE KITA!" ucap Siti tak kalah hebohnya.
"Iya iya sabar nanti gue ceritain, tapi lo berdua duduk dulu. Jangan salto salto begitu," kata Sheila sembari menarik kedua temannya itu agar duduk di sampingnya.
Dira menggaruk tengkuknya yang memang gatal, "Hehe sorry Sheil, kita emang kalau lagi kaget tuh suka tiba-tiba salto gitu."
"Iya kadang kita langsung parkour gitu," tambah Siti mendukung ucapan Dira yang mengada-ada.
Sheila memutar bola matanya, "Ada-ada aja lo pada."
"Jadi ini lo kenapa bisa begini? Siapa yang udah buat lo begini? Bellen?" tanya Dira beruntun.
Sheila menarik nafasnya dan mulai menceritakan semua yang terjadi saat ia di roof top tadi siang.
"Walaupun gue babak belur begini, tapi gue lega udah bisa ngehajar Bellen sampai babak belur. Walaupun ujung-ujungnya di keroyok sih," ucap Sheila.
"Gak asik ah main keroyokan," ujar Siti kesal.
Dira menatap wajah Sheila yang lebam, "Coba aja gue samperin lo ke roof top tadi siang, pasti gak gini jadinya."
"Gue gapapa kok. Dari pada itu gue punya kabar baik buat kalian," ucap Sheila dengan senyum lebar.
Siti mengangkat alisnya, "Hah? Apaan?"
"Kabar apaan?" tanya Dira penasaran.
Sheila mengambil tas sekolahnya dan mengeluarkan sebuah ponsel dari dalam tasnya.
"Gue dapet hp Bellen," ucap Sheila sambil menggoyang-goyangkan ponsel di tangannya.
Dira mengambil ponsel Bellen dari tangan Sheila, "Wah, gimana caranya lo dapetinnya?"
"Waktu berantem tadi gue sempetin buat ngambil tuh hp."
"Uuu keren keren," ucap Siti sambil mengacungkan kedua jempol nya.
Dira membolak-balikkan ponsel Bellen yang sudah retak akibat perkelahian yang terjadi antara Sheila dan Bellen.
"Kayaknya nih hp rusak deh, gak mau hidup."
Sheila menghela nafas lemah, "Iya, sayang nya hpnya rusak. Jadi harus kita masukin ke konter dulu."
"Ya udah. Jadi kapan mau di masukkin ke konternya?" tanya Siti.
"Sekarang aja kalau bisa," balas Sheila yang langsung berdiri.
__ADS_1
Dira menarik tangan Sheila agar kembali duduk, "Lo di rumah aja, biar gue sama Siti yang pergi."
Siti mengangguk-angguk setuju, "Iya, biar kita berdua aja. Lo istirahat aja di rumah."
Sheila menggeleng, "Gue gapapa kok."
"Gak gak, lo di rumah aja istirahat," Dira menarik Siti agar berdiri, "Yuk Sit kita pergi!"
"Ya udah yuk. Kita pergi dulu ya Sheil Assalamualaikum." ucap Siti.
"Gue pergi dulu Sheil Assalamualaikum," ucap Dira.
"Walaikumsalam. Hati-hati ya," ucap Sheila menunduk lemah, padahal ia ingin pergi juga.
Setelah kepergian Dira dan Siti, Sheila memilih merebahkan tubuhnya di kasur. Ya sebenarnya badannya lumayan sakit sih, ia memang butuh istirahat. Baru saja Sheila akan memejamkan matanya, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka membuat ia mengurungkan niatnya.
Kriet
"Assalamualaikum Sheila papa udah pul.. ASTAGHFIRULLAH SHEILA INI KENAPA KAMU BABAK BELUR BEGINI?"
...🧕🧕🧕...
Dira dan Siti baru saja keluar dari super market yang berada di seberang jalan konter tempat mereka memasukkan ponsel Bellen untuk di servis. Mereka membeli beberapa cemilan dan air minum karena merasa sedikit haus.
"Gak ada yang mau di beli lagi kan ya?" tanya Siti sambil memeriksa kantong belanjaan mereka.
Dira menggeleng, "Gak ada sih."
Baru saja mereka maju beberapa langkah tiba-tiba ada satu motor melaju dengan kencang menuju ke arah mereka. Saking lajunya mereka tidak sempat menghindar. Siti hanya sempat mendorong Dira ke tepi, yang membuat ia akhirnya tertabrak motor dan terpental beberapa meter.
BRAK
"SITIIIIIII!"
Cepat-cepat Dira menghampiri Siti yang sudah terkulai di jalan, tangan dan kakinya penuh luka akibat terseret aspal. Sedangkan orang yang menabrak Siti, ia juga terjatuh namun cepat-cepat dia menghidupkan motornya dan pergi meninggalkan Dira dan Siti tanpa berniat untuk bertanggung jawab. Sialnya lagi Dira tidak sempat melihat wajah orang itu karena ia menutup wajahnya dengan helm.
Orang-orang mulai berdatangan mengerumuni mereka. Ada yang datang hanya karena penasaran, ada yang juga menawarkan bantuan.
"Sit bangun Sit, gue mohon bangun," ucap Dira dengan air mata yang sudah mengalir deras.
"Ayo dek saya antarkan temannya ke rumah sakit," tawar seseorang.
Setelah itu mereka langsung membawa Siti ke rumah sakit terdekat. Dira terus menangis dan berdoa agar sahabatnya itu tidak kenapa-napa. Saat sudah di rumah sakit dan Siti di masukkan ke UGD, Dira langsung menghubungi keluarga Siti dan juga ibunya agar segera datang.
Dengan berlinangan air mata mereka menunggu dokter menangani Siti.
"Siti," lirih Aisyah dengan air mata yang terus mengalir di pipinya tadi setelah mendapat kabar dari Dira ia langsung bergegas menuju rumah sakit dengan perasaan yang campur aduk.
Lukman memeluk istrinya, "Umi tenang aja serahkan semua ini kepada Allah. Siti kan anak yang kuat, Insya Allah dia gak kenapa-napa."
__ADS_1
Sedangkan Dira terduduk di kursi sambil memeluk ibunya.
"I..ini salah Dira bu, Si..Siti kecelakaan gara-gara Dira," ucap Dira tersedu-sedu, ia benar-benar merasa bersalah karena dirinya Siti jadi kecelakaan.
Diana mengusap kepala Dira pelan, "Sst gak boleh ngomong begitu, jangan nyalahin diri kamu terus. Siti pasti gak suka kalau kamu ngomong begitu."
Dira menatap ibunya sendu, "Ta..tapi."
Diana semakin mengeratkan pelukannya, "Sst udah udah."
Tak lama seorang dokter perempuan dan seorang suster keluar dari ruangan tempat Siti di periksa. Cepat-cepat mereka menghampiri dokter itu untuk menanyakan kabar Siti.
"Dokter gimana kabar anak saya dok?" tanya Aisyah sambil mengelap air matanya.
"Ibu dan bapak tenang saja keadaan pasien Siti tidak terlalu serius. Dia hanya mengalami luka-luka ringan di tangan dan kakinya. Dan sekarang dia sedang tidur," ucap dokter itu yang membuat mereka semua menarik nafas lega.
"Kalau begitu saya pamit dulu bu pak," ucap dokter itu dan beranjak pergi.
"Iya dok, terimakasih banyak dok," ucap Lukman.
...🧕🧕🧕...
"Udah kali Dir nangis nya. Gue gapapa elah," ucap Siti yang masih terbaring lemah. Menatap Dira yang sedari tadi ia baru bangun tidur sampai sekarang masih menangis.
Bukanya berhenti Dira malah makin menangis, "Gapapa apanya lo luka-luka begitu. Pasti sakit kan? Mana besar lagi lukanya."
Siti tersenyum menatap Dira yang duduk di kursi samping ranjangnya, ia menggenggam tangan Dira erat.
"Gue gapapa kok Dir. Udah lo jangan nangis lagi, jelek ntar mukanya," ucap Siti mengelap air mata Dira.
"Dan jangan nyalahin diri lo lagi. Lo gak salah," lanjut Siti.
Ting
Terdengar suara notifikasi WhatsApp dari ponsel Dira, saat ia mengeceknya ada pesan dari nomor yang tak di kenal.
Siti mengernyit heran saat melihat ekspresi Dira yang tiba-tiba berubah saat menatap layar ponselnya.
"Kenapa Dir?"
Dira melirik Siti dan kemudian mengembangkan senyumnya, "Hah? gapapa kok. Biasa ada sms dari operator nawar-nawarin promo paket murah."
Siti mengangguk-anggukkan kepalanya, "Ohh."
Dira kembali menatap layar ponselnya dan ia membaca pesan yang dikirim nomor tak di kenal itu dengan geram.
085885....
"Gimana hadiahnya? Ini akibatnya karena gak mau nurutin kemauan gue, gue bakalan buat orang terdekat lo celaka. kalau lo masih gak mau berhenti buat nyari tau tentang Fay."
__ADS_1
...-DSP-...