Dira'S Spy (Mata-mata Dira)

Dira'S Spy (Mata-mata Dira)
Bab 46 DSP


__ADS_3

...-DSP-...


Dira berjalan perlahan menaiki anak tangga. Seperti rencana sebelumnya Dira akan menyusul lelaki yang berbicara dengannya saat di depan toilet tadi. Mereka akan berbicara di roof top.


Di balik pintu roof top Dira dapat melihat lelaki itu yang sedang berdiri menunggu Dira. Dira mengernyit tumben sekali Bellen dan teman-temannya tidak ada di situ. Iya sih beberapa hari ini mereka lebih sering menghabiskan waktu di kelas dan di kantin. Karena bagaimanapun mereka adalah anak sekolah yang harus ulangan.


Sebelum melangkahkan kakinya Dira meraih ponselnya dan membuka grup WhatsApp yang mereka buat khusus untuk membahas tentang misi mereka ini. Yang berisikan 5 orang yaitu Dira, Siti, Sheila, Fiola dan Riski.


Assalamualaikum manteman buru ke roof top. Tadi gue ketemu orang katanya dia tau sesuatu tentang orang itu.


Beberapa detik kemudian pesan di balas oleh Sheila. Sheila menanyakan siapa orang itu.


Gak tau sih tadi tiba-tiba dia nyamperin gue dan bilang kalau dia tau sesuatu. Gak salah gue tadi baca name tag nya nama dia Devan.


Setelah itu Dira langsung menyimpan ponselnya di dalam saku roknya. Karena lelaki itu sudah menyadari keberadaannya dan melambaikan tangannya ke arah Dira.


"Gimana gak ada yang ngikutin lo kan?" tanya lelaki bergaya culun itu.


Dira menggeleng, "Gak ada."


"Syukur lah."


"Jadi lo tau siapa orang yang udah nyelakain Fay?" tanya Dira langsung ke intinya karena iya sudah tidak ada waktu untuk berbasa-basi.


Lelaki itu mengangguk, "Iya gue tau. Dia anak kelas dua belas."


"Siapa namanya?"


"Nama dia....."


Di lain tempat Sheila, Riski dan Fiola terbelalak saat mengetahui orang yang bersama Dira di roof top adalah Devan. Mereka mengirimkan pesan kepada Dira untuk jangan bertemu dengan orang itu, karena orang itu adalah pelakunya. Tapi Dira juga tidak membalas pesan mereka bahkan di telfon juga tidak di angkat. Pasti Dira tidak mendengarnya, karena ia menghidupkan mode senyam jika di sekolah.


"Kita harus cepat-cepat samperin Dira, dia dalam bahaya," ucap Sheila. Perasaannya tak enak, jangan sampai terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.


Riski mengangguk, "Iya ayok!"


"Kalian duluan aja, ada sesuatu yang harus gue urus. Pastiin Dira gak kenapa-napa," ucap Fiola.


"Oke lo tenang aja. Ayo kak kita harus cepat, orang jahat itu pasti ngerencanain sesuatu," ucap Sheila.


Mereka pun bergegas menuju roof top. Mereka harus cepat sebelum orang itu melakukan sesuatu kepada Dira.


...🧕🧕🧕...


"Nama dia.."


"DIRA!"

__ADS_1


Seketika Dira membalikkan tubuhnya saat Sheila meneriakkan namanya.


"Sheila."


"Sini Dir, dia itu orang jahat yang udah ngebunuh Fay."


"Hah?" Dira hendak membalikkan tubuhnya namun tiba-tiba Devan menahan tubuh Dira dan mengarahkan sebuah pisau di leher Dira. Meskipun lehernya tertutupi kain Dira masih bisa merasakannya.


"Dira!"


"Kalian maju, dia mati!" ancam Devan saat Sheila dan Riski hendak mendekat, ia membawa Dira semakin ketepian roof top.


"Lepasin Dira," ucap Riski.


"Kenapa lo suka Dira? Fay kesayangan lo udah mati ya? kasian," ucap Devan.


"Anjing lo!" ucap Riski ia hendak mendekat lagi.


"Beneran mau dia mati ya?" ancam Devan lagi.


Sheila menahan lengan Riski, "Kak Jangan kak! Pikirin Dira."


"Lo masih penasaran kan siapa nama dia," bisik Devan di dekat telinga Dira.


Dira berusaha melepaskan diri dari Devan namun tenaga Devan lebih besar darinya.


Devan terkekeh ia mengeluarkan jam tangan Casio G-Shock warna biru tua miliknya dari saku celananya.


"Lo nyari ini kan? Untuk gue sembunyiin tadi, jadi gak tahuan deh."


"Kenapa lo ngelakuin ini semua sama Fay. Kenapa lo ngelakuin ini semua ke kita?" pekik Sheila, ingin rasanya ia mengajar Devan sekarang juga. Tapi Dira dalam bahaya.


Devan tersenyum dengan senyuman yang menyeramkan, "Karena gue seneng ngeliat lo semua tersiksa hahaha."


"Gue gak suka apa yang seharusnya jadi punya gue di ambil orang lain dan itu semua salah lo Riski. KENAPA LO DEKETIN FAY!?"


"Dan kalian," Devan menatap Sheila kemudian melirik Dira, "KENAPA IKUT CAMPUR URUSAN GUE!?"


Telinga Dira berdengung karena Devan berteriak di dekat telinganya.


"Lo gak bisa maksain perasaan orang dan memaksakan sesuatu harus sesuai keinginan lo," ucap Riski.


Devan menggeleng, "Dari dulu keinginan gue selalu di kabulin dan gue gak suka di bantah."


"Lo gak bisa hidup dengan pemikiran seperti itu," ucap Riski.


"Gue seneng hidup seperti itu dan gue gak butuh komentar kalian."

__ADS_1


"Jangan bergerak!" ucap dua orang polisi yang mengarahkan pistol kearah Devan. Mereka datang bersama Fiola.


Devan terkekeh, "Fiola, Fiola seharusnya lo juga gue bunuh waktu itu. BERANI-BERANINYA LO LAPOR POLISI!"


Devan semakin memundurkan tubuhnya dan Dira saat polisi mulai mendekat.


"Gue bakalan beneran bunuh dia kalau kalian berani maju," ancam Devan semakin menekankan pisau itu di leher Dira.


Sekarang mereka berdua benar-benar sudah berada di bagian paling tepi roof top.


"Letakkan senjata kalian!" ucap Devan.


Dua orang polisi itu saling tatap kemudian mengangguk, mereka meletakkan pistol mereka ke lantai.


"Lo liat sendiri kan Riski polisi aja nurut sama gue. Cuma Fay yang berani ngebantah gue makanya gue hukum dia," ucap Devan terkekeh.


Riski mengepalkan tangannya bisa-bisanya Devan mengatakan hal itu tanpa perasaan bersalah sama sekali.


"Lepasin gue!" ucap Dira.


"Kalau gue gak mau gimana? Di liat-liat lo cantik juga. Gimana kalau lo jadi pacar gue?" bisik Devan yang membuat Dira merinding.


"Diem lo! Mulut lo bau sampah," ketus Dira.


Devan menatap Dira geram, ia semakin menekankan pisau itu di leher Dira walaupun Dira memakai jilbab tapi rasa sakitnya masih terasa. Di tambah lagi pisaunya ini sangatlah tajam.


"Akh."


"Sakit kan? Itu akibatnya karena cari masalah sama gue."


Dira mengepalkan tangannya ia tidak bisa diam saja, ia harus melepaskan diri dari manusia jahat ini. Tangannya beralih memegang mata pisau itu dan merelakan tangannya terluka dan berusaha menjauhkan pisau itu dari lehernya.


Mereka yang melihat Dira melakukan itu terbelalak.


"Dir jangan Dir!" pekik Fiola.


Entah tenaga dari mana tapi rasanya tenaga Dira bertambah kuat. Ia berhasil melepaskan pisau itu dari lehernya dan genggaman tangan Devan. Ia melemparkan pisau itu sejauh mungkin. Melihat kesempatan itu kedua orang polisi itu mengambil kembali pistol mereka dan berlari ke arah Devan dan Dira.


Melihat sudah tidak ada kesempatan lagi Devan menatap Dira dan tersenyum sinis.


"Oke kalau memang itu yang lo mau," ucap Devan yang membuat Dira mengernyitkan dahinya bingung.


Sebelum polisi itu sampai Devan langsung menarik lengan Dira dan melompat dari roof top. Dira yang tak sempat melepaskan diri akhirnya juga ikut terjatuh.


"Kita mati sama-sama aja.


"DIRA!!"

__ADS_1


...-DSP-...


__ADS_2