
...-DSP-...
"Sekarang kalian semua boleh pulang dan ingat Allah maha melihat dimana pun kalian berada Allah tahu apa yang kalian lakukan jadi jangan sekali kali kalian ingkar dengan janji kalian!" Ujar Lukman mengingatkan yang dibalas anggukan oleh mereka yang kemudian beranjak pergi.
"Tunggu!"panggil Dira yang membuat langkah mereka terhenti.
Mereka berbalik dan menatap Dira menunggu apa yang dikatakan gadis itu.
"Bukan karena gue udah maafin kalian, kalian bisa ngebully sesuka hati kalian lagi. Ingat video kalian masih ada di temen gue, jadi gue bisa kapanpun ngelaporin kalian ke pihak sekolah. Gue akan terus ngawasin kalian ingat itu!" Ucap Dira kali ini ia harus benar-benar memastikan bahwa Nindi dan teman-temannya tidak melakukan pembullyan lagi.
Setelah mengangguk singkat mereka kembali melanjutkan langkah mereka dan pergi. Mereka benar-benar tidak ingin berurusan dengan Dira dan Sheila atau sesuatu yang berhubungan dengan Dira.
Setelah Nindi dan teman-temannya sudah benar-benar hilang, Siti mendekati Dira dan membantu Dira untuk bangkit. Melihat sahabatnya yang babak belur seperti ini benar-benar membuatnya kesal dan ingin menghajar Nindi dan teman-temannya, namun semua itu ia urungkan karena Dira pasti tidak suka jika Siti tidak bisa menahan amarahnya.
"Kalian gak mau di bawa ke rumah sakit dulu?"tanya Siti dan kemudian beralih membantu Sheila untuk berdiri.
Dengan cepat Dira menggelengkan kepalanya, "Gue gak papa kok," ucap Dira dan berpaling ke arah Sheila, "Sheila lo gak papa? Atau mau ke rumah sakit dulu?"tanya Dira.
"Gue gak papa,"jawab Sheila.
"Yakin?"tanya Siti memastikan yang dibalas anggukan oleh mereka berdua.
"Ya udah berarti kita pulang ya,"lanjut Siti.
"Kalian berdua pulang ke rumah abi dulu ya, biar di obati sama ummi," ucap Lukman.
"Iya abi, Dira juga gak mau pulang dulu. Dira takut ibu khawatir,"
Lukman tersenyum ramah"Iya abi ngerti,"
"Saya pulang aja om," ucap Sheila menolak.
Dira menggenggam tangan Sheila erat, "Tapi lo harus di obati dulu, kali ini please dengerin gue ya,"pinta Dira.
Sheila terdiam beberapa saat haruskah ia mengikuti perkataan Dira atau pulang kerumahnya. Namun akhirnya Sheila mengangguk setelah melihat tatapan penuh harap yang terpancar dari mata Dira.
Dira pun tersenyum senang, "Ya udin kuy pulang!"
...🧕🏻🧕🏻🧕🏻...
Di rumah Siti
"Astagfirullah, Dira kenapa kamu jadi begini?"tanya ibu Siti yang bernama Aisyah. Ia membantu Dira dan Sheila untuk duduk di kursi ruang tamu.
"Hehe habis di gebukin orang tadi ummi," jawab Dira sambil terkekeh pelan.
__ADS_1
Aisyah geleng-geleng mendengar jawaban Dira, " Astagfirullah,Kamu berantem lagi? tanya Aisyah.
Sheila mengernyit heran, lagi? Berarti Dira memang sering berkelahi seperti ini.
"Dira cuma ngebela diri kok ummi, mereka aja yang duluan nyerang Dira," ucap Dira.
"Ya udah sini ummi obati dulu, di wajah kamu ada luka dan memarnya," ucap Asiyah yang kemudian mengeluarkan kotak P3K untuk mengobati wajah Dira.
Dira meringis saat Aisyah membersihkan luka yang ada di sudut bibirnya, padahal sebelumnya tidak terasa sakit sama sekali.
Siti melihat Sheila terdiam sambil menatap Dira yang sedang diobati, walaupun tidak separah Dira, di di pipi sebelah kiri gadis itu juga terdapat memar akibat tamparan yang dilakukan Nindi.
Siti mendekat ke arah Sheila, ia berniat untuk membantu Sheila mengobati wajahnya.
"Hhm gue bantu kompresin memar yang di wajah lo ya," ucap Siti. Sheila hanya diam dan membiarkan Siti mengobati lukanya.
Setelah mengobati luka yang ada di wajah Dira, Asiyah beralih ke luka yang berada di tangan Dira. Aisyah menatap Dira prihatin, entah orang gila mana yang tega melukai gadis baik di depannya ini.
"Alhamdulillah udah selesai,"ucap Aisyah setelah menempelkan hansaplast pada luka di lengan Dira.
"Alhamdulillah, makasih ummi," ucap Dira.
Aisyah tersenyum lembut dan mengusap kepala Dira, "Iya sama-sama,"ucap Aisyah yang kemudian menoleh ke arah Sheila dan Siti, "Kamu namanya siapa?" Tanya Aisyah sedari tadi ia belum sempat menanyakan nama gadis yang sedari tadi terdiam menatapnya.
"Oh Sheila, Siti sudah selesaikan mengobati Sheila?"tanya Aisyah.
"Udah dong ummi, Siti gitu loh,"jawab Siti bangga.
Aisyah menatap jam didinding rumah yang menunjukkan pukul setengah tiga, dan beralih menatap anak-anak gadis di hadapannya.
"Kalau gitu kita makan dulu, kalian pasti lapar kan, setelah itu kita sholat ashar berjamaah,"ajak Aisyah.
"Gak usah tante, saya langsung pulang aja tante,"ujar Sheila, ia benar-benar tidak enak sudah menyusahkan orang yang bahkan tidak dikenalnya.
"Gak papa kok Sheila, jangan malu anggap aja rumah sendiri," ucap Siti meyakinkan.
"Iya Sheil," ucap Dira ikut meyakinkan.
"Dira aja gak tau malu,"
"Eh kok malah gue, wah ngajak berantem ni,"ucap Dira dan bersiap-siap memasang kuda-kuda.
"Ayo sini maju dulua lo!"balas Siti yang juga memasang kuda-kuda.
Sheila yang berada diantara mereka berdua bingung harus melakukan apa.
__ADS_1
Sheila yang berada diantara mereka berdua bingung harus melakukan apa.
Di saat Dira dan Siti saling adu bacot, diam-diam Aisyah menarik lengan Sheila dan membawanya ke dapur.
"Udah jangan di hiraukan, emang gitu kalau udah ketemu,"ucap Aisyah yang hanya dibalas senyuman oleh Sheila.
...🧕🏻🧕🏻🧕🏻...
Setelah selesai sholat ashar Dira, Sheila, Siti dan kedua orangtuanya bersantai di ruang tamu dan berbincang-bincang ringan.
"Makasih ya Siti, abi, umi. Dira selalu ngerepotin kalian terus," ucap Dira.
"Saya juga, terimakasih om,tante, Siti. Sudah menolong saya," ucap Sheila yang duduk di sebelah Dira.
"Iya,itu kan sudah kewajiban kita sebagai makhluk sosial untuk saling tolong menolong,"ucap Lukman yang kemudian meminum air kopi buatan Siti beberapa menit yang lalu.
"Lagian Dira kan sudah kami anggap seperti anak sendiri, jadi Dira jangan sungkan, Sheila juga jangan sungkan,"ucap Aisyah.
"Oh iya Dir, hari ini lo gak perlu latihan bela diri. Kan kondisi lo lagi gak baik-baik aja,"ujar Siti. Mereka selalu latihan bela diri setiap jam empat sore. Walaupun tidak rutin setiap hari karena mereka juga banyak kesibukan masing-masing.
"Gak gue gak papa, gue mau latihan hari ini,"balas Dira. Ia merasa kondisinya baik-baik saja setelah di obati oleh Aisyah tadi. Jadi tidak perlu untuk menunda-nunda latihannya.
"Yaelah, muka udah kayak zombie kek gitu masih lo bilang gak papa. Pokoknya lo hari ini libur latihannya," ucap Siti kemudian menggoyang-goyangkan lengan Lukman, "Abi, Dira gak boleh latihan kan hari ini bi? Iya kan?"
"Gak bi, Dira bisa kok latihan hari ini bi,"ucap Dira tak mau kalah.
Lukman dan Aisyah hanya tersenyum melihat Dira dan Siti, mereka merasa seperti memiliki dua orang putri.
"Untuk hari ini Dira jangan latihan dulu ya nak,"ucap Lukman lembut.
"Yess,"ucap Siti senang, ia menatap Dira sambil menaik-turunkan alisnya merasa menang.
"Ya abi mah gitu," ucap Dira cemberut.
Sheila yang berada di sebelah Dira tersenyum kecil melihat tingkah Dira dan Siti, ia merasa iri dengan persahabatan dua orang ini.
Setelah itu Sheila menatap Lukman, ada sesuatu yang ingin ia katakan.
"Hm anu om!"panggil Sheila.
"Iya ada apa nak?"tanya Lukman.
"Saya mau belajar bela diri, boleh om?"
...-DSP-...
__ADS_1