
...-DSP-...
"Nih sesuai dengan yang lo minta," ucap seseorang memberikan amplop berisi uang ke Bellen.
Bellen mengambil amplop tersebut dan memeriksanya kemudian tersenyum menatap orang itu, "Okay, thank you,"
"Gue harap ini terakhir kalinya lo meras gue."
Bellen tersenyum sinis menatap orang itu, "Yakin lo?" Bellen memajukan langkahnya, "Atau lo mau gue sebarin video itu?"
"Lo gak bisa terus-terusan begini. Gue gak bisa selalu menuhin permintaan lo," ucap orang itu sedikit teriak.
Bellen mendekatkan wajahnya ke telinga orang itu, "Itu derita lo."
...🧕🧕🧕...
"Siap Dir?"
Dira melirik Siti di sampingnya, "Insya Allah siap."
Mereka berdua yang sekarang sedang berdiri di depan ruangan tempat Fay di rawat sedang mengumpulkan keberanian untuk mencoba masuk ke dalam. Mereka teringat kejadian saat Sheila di marahkan oleh ibu Fay, itu cukup membuat mereka sedikit takut.
"Bismillahirrahmanirrahim."
"Yok bisa yok."
Perlahan mereka mengetuk pintu ruangan tersebut, beberapa saat kemudian ada seorang pria paruh baya yang membuka pintunya. Dia adalah Gibran ayah Fay.
"Assalamualaikum om," ucap Dira sopan.
"Assalamualaikum," ucap Siti.
"Walaikumsalam," Gibran menatap dua orang gadis di depannya heran, "Ada apa ya?"
"Saya teman kelasnya Fay om. Kita berdua mau jenguk Fay. Boleh om?" tanya Dira.
"Oh teman Fay boleh-boleh silahkan masuk!" ucap Gibran tersenyum dan memberikan mereka berdua ruang untuk lewat.
Setelah masuk ke dalam akhirnya Dira bisa melihat Fay secara langsung, walaupun ya dalam keadaan tidak sadarkan diri. Dira dan Siti berdoa semoga Fay cepat sadarkan diri, agar bisa bersekolah lagi dan yang paling penting bisa memberi tahu mereka sebenarnya yang terjadi agar tidak ada lagi yang salah paham.
Gibran berdiri di samping Dira dan Siti, ia menatap putrinya nanar, "Sudah hampir dua bulan Fay belum juga sadarkan diri. Kami hampir frustasi dan kehilangan harapan."
"Om tenang aja dengan berdoa dan usaha insya Allah Fay bisa sembuh, kita tinggal serahkan semuanya kepada yang di atas. Dan ikhlas dengan apa yang di takdir kan Nya," ucap Dira menenangkan.
"Iya om jangan khawatir dan sedih kami juga akan mendoakan Fay agar cepat sembuh," tambah Siti.
Gibran tersenyum, "Terimakasih ya nak sudah mau menjenguk Fay."
"Iya om sama-sama," jawab mereka bersamaan.
__ADS_1
Siti menyenggol lengan Dira memberikan kode untuk segera mengatakan tujuan mereka ke sini.
"Hhm itu saya mau nanya sesuatu," ucap Dira ragu.
Gibran mengangkat alisnya, "Iya silahkan. mau nanya apa?"
Dira menatap Siti untuk beberapa saat sebelum mendapatkan anggukan dari Siti, kemudian kembali menatap Gibran.
"Anu om, saya boleh pinjam hp nya Fay gak om?" tanya Dira.
Gibran mengernyit, "Hp Fay? Untuk apa?"
"Ada sesuatu yang harus kami pastikan om. Dan itu bersangkutan dengan musibah yang Fay alami ini om," jelas Dira.
"Saya masih kurang mengerti, bisa kalian jelaskan sebenarnya tujuan kalian," ucap Gibran butuh penjelasan.
"Jadi gini om, kami sedang mencari tahu penyebab Fay bisa jatuh dari roof top waktu itu om. Karena saat ini banyak yang berpikir kalau Sheila yang menyebabkan Fay celaka. Jadi untuk mencari tahu kebenarannya, salah satunya kami membutuhkan hp Fay untuk mencari bukti om," jelas Dira panjang lebar.
Gibran mengangguk-anggukkan kepalanya paham, "Jadi maksud kalian sekarang ini kalian sedang berusaha mencari tahu penyebab Fay celaka dan membutuhkan hp Fay untuk mencari bukti?"
"Iya om."
"Saya juga tidak percaya kalau Sheila yang melakukan ini kepada Fay. Dia anak yang baik dan juga dia teman baik Fay tidak mungkin dia sejahat itu," ucap Gibran mengingat Sheila yang menurutnya adalah seorang yang baik.
"Maka dari itu kami ingin mencari tahu kebenarannya om," ucap Siti.
"Tidak di sengaja? Ikhlas papa bilang?" ucap Paula tiba-tiba, ia baru saja membuka pintu dan mendapati suaminya hal yang sama sekali tidak ia sukai.
Mereka bertiga membalik tubuh menghadap Paula yang berjalan ke arah mereka dengan wajah yang masam.
"Jelas jelas Sheila yang menyebabkan ini semua. Tapi papa bilang ikhlas? Mama sama sekali gak ikhlas," ucap Paula menatap suaminya tajam.
"Sheila gak salah ma, ini semua hanya kecelakaan. Mama gak bisa terus-terusan begini," ucap Gibran, istrinya selalu saja begini semenjak Fay sakit ia jadi mudah marah dan selalu menyalahkan Sheila atas semuanya.
"Gak! Mama gak ikhlas, mama gak terima dia harus tanggung jawab, dia harus ngerasain apa yang Fay rasain," teriak Paula mulai histeris, jika sudah mendengar nama Sheila ia akan seperti ini.
"Astaghfirullah ma, tenang ma lihat anak kita ma kasihan Fay," ucap Gibran, memeluk istrinya berusaha untuk menenangkan.
"Anakku yang malang, Fay," ucap Paula air mata sudah mengalir deras di pipinya.
Dira dan Siti saling bertatapan mereka sama sekali tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Keadaan sedang tidak mendukung untuk mereka melanjutkan misi mereka.
"hhm om tante kalau gitu kita berdua pamit dulu," ucap Dira berpamitan.
Gibran mengangguk masih dalam keadaan mendekap istirnya yang berderai air mata, "Iya. Terimakasih sudah mau menjenguk Fay."
"Iya om kalau gitu kami pulang dulu om tante assalamualaikum," ucap Dira.
"Pamit om tante Assalamualaikum," ucap Siti.
__ADS_1
Setelah berpamitan cepat-cepat mereka meninggalkan ruangan itu.
Dira mengarahkan tangannya ke arah Siti, "Liat nih tangan gue. Gemeter."
Siti memegang tangan Dira, "Nih pegang tangan gue. Keringat dingin."
"Rencana kita gagal nih. Kasian ibunya Fay pasti dia sedih banget," ucap Dira menatap lurus lorong rumah sakit.
"Udah pasti, orang tua mana yang gak sedih anaknya sakit." balas Siti.
"Iya sih."
"Nanti kita coba lagi buat dapatin hp punya Fay, semoga aja Sheila berhasil dapatin hp punya Bellen."
"Aamiin paling banyak dah gue," ucap Dira.
"Jadi habis ini kemana kita?" tanya Siti.
"Ya pulang kan mau latihan bela diri kita," jawab Dira.
"Oh iya lupa gue."
Dira memutar bola matanya, "Cailah lu. Lo gurunya lo yang lupa."
Siti tertawa kecil, "Ya habisnya gue keasikan jadi detektif, jadi lupa dah."
"Ada ada aja lo tuyul."
"Gue gak botak ya," sinis Siti.
"Sini gue botakin," ucap Dira berusaha untuk memegang kepala Siti.
"Enak aja, sini lo biar lo duluan yang gue botakin."
Kini mereka berdua saling tarik-tarikan kerudung hampir gulat, sampai ada seorang dokter yang menegur mereka karena ribut.
"Kan di marahin lo si ah," ucap Siti.
"Lo juga," ucap Dira tak terima.
"Lo yang mulai ya."
"Lo."
"Gak lo."
"Lo pokoknya lo bodo amat tuyul."
...-DSP-...
__ADS_1