Dira'S Spy (Mata-mata Dira)

Dira'S Spy (Mata-mata Dira)
Bab 6 DSP


__ADS_3

...-DSP-...


"Astaga Dir, jadi lo berantem sama Nindi dikantin?" Ucap Fiola terkejut setelah mendengarkan penjelasan Dira.


"Bukan berantem, gue nolongin Sheila,"ucap Dira tenang.


Fiola memutar bola matanya jengah, "Kenapa lo malah ikut campur sih Dir, nanti lo malah kena imbasnya,"


"Ya masa gue diem aja, kalau gitu patut dipertanyakan perikemanusiaan gue. Apa salahnya menolong teman yang sedang kesusahan?" Ucap Dira sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.


"Ya ga salah emang, tapi kalau lo juga di bully kayak Sheila gimana? Nindi itu kalau ngebully orang suka main keroyokan. Gue yakin setelah masalah ini dia pasti ga akan ngebiarin lo,"


Dira hanya mendengarkan penjelasan Fiola dengan tenang selagi dia tidak berbuat salah untuk apa dia takut, tapi yang tidak tenang malah Fiola karena dia tahu betul bagaimana Nindi membully orang.


"Lo kok tenang-tenang aja sih Dir?"


Dira mengangkat kedua alisnya, "Ya terus gue kudu otoke? Oh iya ngomong-ngomong Nindi itu anak kelas mana?"


"Dia anak kelas XII IPS 4 kakak kelas kita Dir,"jawab Fiola.


Dira sedikit terkejut mendengar jawaban Fiola, ia fikir Nindi satu angkatan dengan dirinya tapi ternyata kakak seniornya.


"Serius? Gue kira seangkatan dengan kita loh haha," kekeh Dira.


Kringgggg~


Bell tanda masuk kelas sudah berbunyi tapi Sheila belum juga menampakkan batang hidungnya, Dira jadi penasaran apa yang Sheila dan Bellen lakukan.


"Sheila kok belum masuk ya?"lirih Dira pelan sambil sesekali melihat pintu masuk kelas.


Setelah beberapa saat senyum terukir di wajah Dira, dia melihat Sheila yang sedang berjalan menuju bangkunya untung saja guru belum masuk. Tapi ada yang aneh dengan gadis itu, rambut dan seragam Sheila sedikit acak-acakan entah apa yang telah dilakukannya.


"Entah apa yang telah terjadi dengan lo Sheil, kenapa lo menutupinya?"batin Dira masih menatap Sheila sendu.


...🧕🏻🧕🏻🧕🏻...


Pukul 13:05


Jam sekolah telah usai, sekarang Dira dan dua orang teman kelasnya sedang membersihkan kelas karena hari ini giliran Dira untuk melaksanakan piket kelas.


"Dir bagian gue udah selesai nih, gue pulang duluan ya,"ucap siswa bertubuh jangkung bernama Iman, ia mendapatkan bagian mengangkat bangku ke atas meja.


"Gue juga nih, udh selesai nyapu,"ucap siswi bernama Nisa.


"Iya pulang duluan aja,"jawab Dira sambil bersiap-siap untuk mengepel lantai.

__ADS_1


"Ya udah kita berdua pulang dulu ya dah,"


"Iya,"


Dira pun memulai kegiatannya mengepel lantai kelas yang lumayan luas, namun beberapa saat kemudian Dira berhenti dan mengambil handphonenya dari dalam tas.


Dira tersenyum lebar menatap layar ponselnya, "Hehe rekam ah, habis itu kirim ke si Siti," Siti adalah sahabat Dira dan dulu mereka bersekolah di SMP yang sama.


Dira meletakkan ponselnya di salah satu meja dan mulai merekam. "Nah Siti harus lihat betapa rajinnya sahabatnya ini hehe," seru Dira senang dan kembali mengepel lantai.


Setelah beberapa menit Dira mengepel tiba-tiba Nindi dan dua orang teman perempuannya dan tiga orang laki-laki masuk ke dalam kelas Dira, dan langsung mengunci pintu. Hal ini membuat Dira sedikit terkejut dengan kedatangan mereka.


"Ngapain ni bocil-bocil?"batin Dira yang tidak sadar diri kalau dia lebih bocil.


Tanpa memperdulikan Nindi dan teman-temannya Dira memilih tetap fokus melakukan kegiatannya sampai tiba-tiba Nindi menendang pengepel yang di pegang Dira hingga terpelanting.


"Oh ini by, cewek sok jadi pahlawan yang kamu bilang tadi?" Tanya anak laki-laki yang berdiri di sebelah Nindi, namanya Farhan dia adalah pacar Nindi.


"Iya by dia juga nyakitin tangan aku tadi," ucap Nindi manja sok paling tersakiti.


Dira masihh berusaha untuk tidak memperdulikan mereka dan kembali melanjutkan tugasnya, yang ia pikirkan sekarang adalah menyelesaikan tugasnya dan pulang. Walaupun Dira tahu Nindi pasti akan melakukan sesuatu yang akan mencelakainya apalagi dengan membawa pasukan sebanyak itu untuk menghajar Dira.


Jujur saja pemandangan seperti ini sudah sering Dira lihat. Karena saat Dira SMP, Dira juga korban bullying tapi sekarang Dira tidak akan membiarkan satu orang pun melakukan hal itu kepadanya atau pun orang lain.


Farhan berjalan mendekati Dira dan menginjak pengepel yang Dira pegang, "Berani-beraninya lo ga perduliin kita. Buta mata lo?"


"Berani-beraninya lo ngatain cowok gue buta!" Ucap Nindi kesal yang langsung berjalan kearah Dira dan menampar wajah Dira kasar, hal ini tidak dapat Dira hindari karena terlalu tiba-tiba.


Dan satu hal lagi yang tidak bisa Dira hindari dua orang teman Nindi yang tiba-tiba menyiramkan air bekas pel keseluruh tubuh Dira. Basah sudah seluruh tubuh Dira, Nindi dan teman-temannya tertawa puas.


Sedangkan Farhan dia langsung mencekram lengan Dira kasar, "Tangan ini kan yang udah nyakitin tangan cewek gue?" Tanya Farhan sambil tersenyum sinis kearah Dira.


Karena tiba-tiba di pegang oleh Farhan Dira langsung menghempaskan tubuh Farhan ke lantai, untuk masalah ditampar dan di siram air bekas pel Dira masih bisa diam tapi jika ada laki-laki yang bukan mahramnya menyentuh Dira dengan seenaknya, Dira tidak akan tinggal diam.


"Maaf bukan muhrim," ucap Dira sambil membersihkan wajah dan pakaiannya.


"Berani-beraninya lo akh"Farhan merasakan tulang-tulangnya serasa akan patah dia tidak habis pikir ternyata gadis seperti Dira bisa membanting tubuhnya yang jelas-jelas memiliki tubuh lebih besar dari gadis itu.


Farhan tidak tahu saja bahwa Dira selalu ikut latihan bela diri yang ada di dekat rumah Dira.


"By kamu gapapa kan?" Tanya Nindi dan membantu Farhan berdiri.


"Bro lo gapapa kan bro?"tanya teman Farhan yang bernama Ucup dan juga membantu Farhan untuk berdiri.


Farhan memutar bola matanya jengah , "Buta mata lo pada? Masih nanya gue gapapa. Tulang mau patah rasanya ogeb."

__ADS_1


"Lo!" Nindi menunjuk wajah Dira, "Gue laporin lo ke kepala sekolah!"lanjutnya.


Dira hanya tersenyum mendengar perkataan Nindi, dia berjalan mengambil ponselnya yang masih merekam sedari tadi yang secara tidak langsung merekam semua yang telah Nindi dan teman-temannya lakukan kepada Dira.


"Laporin aja, yang gue lakuin adalah pembelaan diri jadi gue ga salah dan gue ga takut,"ucap Dira yang membuat mereka yang mendengarnya merasa semakin kesal.


"Dan gue juga akan ngelaporin apa yang telah kalian lakuin ke gue,"lanjut Dira.


Nindi tersenyum sinis, "Emang lo punya bukti? Ga akan ada yang percaya dengan Lo,"


Dira menunjukkan video yang telah direkamnya, "Punya ni dan ini udah gue kirim ke teman gue jadi kalaupun kalian menghapus videonya atau pun ngerusak handphone gue tetep ga ngaruh."


Mereka semua terkejut melihat rekaman video yang ada di ponsel Dira, sejak kapan gadis itu merekamnya. Jika video itu sampai kepada kepala sekolah habislah mereka apalagi sekarang mereka sudah kelas XII, hal ini berpengaruh pada nilai mereka dan jika sudah begitu orang tua mereka tentu saja akan marah. Nakal-nakal begini mereka juga masih punya cita-cita.


"Jangan laporin kita!" Lirih Nindi tiba-tiba yang hampir tidak terdengar oleh Dira.


"Ha?"Tanya Dira.


"Gue mohon jangan laporin kita!" Ucap Nindi sedikit keras.


"Iya kita mohon jangan laporin kita," ucap yang lainnya tiba-tiba.


Dira berfikir sejenak sampai menimbulkan senyum di bibirnya, "Oke gue ga akan laporin kalian tapi ada satu syarat,"


"Apa?"tanya Nindi.


"Kalian harus janji ga akan pernah ngebully anak-anak yang lain lagi dan menjadi murid yang baik,"jelas Dira.


Nindi dan teman-temannya saling bertukar tatap meminta persetujuan atas persyaratan yang di berikan Dira.


"Oke,"Satu kata yang membuat Dira tersenyum senang.


"Oke jadi kalian udah janji ya, kalau kalian ngingkarin janji kalian gue akan beneran ngelaporin kalian,"


"Kita janji ga akan ngebully orang lagi,"ucap Nindi, "Gue juga minta maaf udah ngebully lo," lanjutnya.


"Iya kita juga minta maaf,"sambung yang lainnya.


"Iya, gue juga minta maaf kak dengan kalian semua,"balas Dira.


"Iya gapapa dari awal ini memang salah gue kok, kalau gitu kita-kita pulang dulu ya,"


"Iya kak."


Setelah kepergian Nindi dan teman-temannya Dira cepat-cepat menyelesaikan tugasnya yang sempat terhenti, Dira ingin cepat pulang dan membersihkan tubuhnya yang sudah basah kuyup dan bau.

__ADS_1


Awalnya ia merasa sangat kesal tapi sekarang rasa kesalnya sudah hilang dan digantikan dengan rasa senang Dira berharap semoga saja mereka benar-benar menepati janjinya.


...-DSP-...


__ADS_2