
...-DSP-...
Sheila berdiri di depan pintu salah satu kamar pasien di rumah sakit, ia berusaha mengumpulkan keberanian untuk memasuki ruangan itu.
Perlahan tangannya menyentuh gagang pintu namun belum sempat ia menyentuhnya, pintu tersebut seketika terbuka. Saat pintu terbuka lebar netra Sheila bertemu pandang dengan seorang wanita paruh baya. Sheila tahu pasti wanita yang sedang berdiri di hadapannya ini adalah ibunya dari Fay Heleina yang bernama Paula.
Raut wajah tak suka terpampang jelas di wajah wanita itu ia lantas menatap Sheila tajam hal tersebut membuat Sheila sedikit bergetar.
Sheila berusaha mengembangkan senyumnya, "Assalamualaikum tante,"ucap Sheila ramah.
"Mau apa kamu ke sini?"tanya Diana ketus.
"Sa saya mau jenguk Fay tante,"ucap Sheila masih dengan senyum terpatri di wajahnya.
"Ini tante,"lanjut Sheila sembari memberikan buah-buahan yang di bawanya.
Diana menatap geram buah yang di berikan Sheila dan Sheila bergantian, tangannya bergerak mengambil dan menghempaskan buah-buahan itu dengan kasar. Hal tersebut membuat Sheila terperanjat, tubuhnya menegang ketakutan.
"Sudah berapa kali saya bilang jangan pernah datang ke sini lagi, kamu pikir dengan kamu datang Fay bisa sembuh? Hah? Fay bisa bangun? Semua ini gara-gara kamu. Kamu itu penjahat, penjahat," Diana berteriak histeris, ia mendorong-dorong tubuh Sheila kasar.
Sheila hanya diam dengan air mata yang sudah mengalir deras sembari menggumamkan kata maaf berkali-kali.
"Penjahat, dasar penjahat."
Kejadian ini terlihat jelas di mata Dira dan Siti yang berdiri tak jauh dari ruangan Fay di rawat, menatap tak percaya dengan apa mereka lihat. Situasi seperti apa ini?
Tanpa fikir panjang Dira dan Sheila hendak melangkah untuk menghentikan kegilaan Diana namun langkah mereka terhenti saat seorang pria paruh baya keluar dari ruangan yang sama dan kemudian berusaha untuk menenangkan Diana. Dia adalah ayah Fay, yang bernama Gibran.
"Ma tenang ma, jangan seperti ini ma," Gibran berusaha menenangkan istrinya yang masih meronta-ronta.
"Dia penjahat pa! Dia yang udah ngebuat Fay jadi seperti ini! Aku harus membuat dia merasakan apa yang Fay rasakan," Diana masih terus mendorong-dorong tubuh Sheila yang hanya bisa menangis.
"Astagfirullah ma, istighfar ma," Gibran berusaha menarik Diana untuk masuk kedalam ruangan dan matanya mengisyaratkan agar Sheila lekas pergi dari tempat itu sebelum situasi semakin runyam.
__ADS_1
"Awas kamu!"seru Diana, itulah kata-kata terakhir yang di dengar Sheila sebelum pintu ruangan itu di tutup.
Sheila sangat sedih, ia fikir hari ini ia bisa berjumpa dengan sahabatnya itu. Tapi ternyata kali ini usahanya gagal lagi, ia sangat merindukan gadis itu.
Diana dan bahkan semua orang selalu mengatakan bahwa Sheila lah penyebab Fay celaka, sedangkan Sheila sendiri juga tidak tahu apa penyebab dari semua kejadian yang menimpa Fay. Ia dianggap orang yang membuat semua kesialan ini terjadi.Sheila ingin membuktikan kepada semua orang bahwa ia tidak bersalah tapi ia tidak bagaimana caranya, hah ia merasa dunia ini sedikit tidak adil.
Setelah menghapus air matanya Sheila memilih untuk pulang sudah tidak ada gunanya lagi ia berada di situ. Sedangkan Dira dan Siti hanya terdiam menatap kepergian Sheila tanpa tahu harus melakukan apa, Dira berusaha mencerna kejadian yang baru saja terjadi di depan matanya dan perkataan dari Diana apa maksud dari semua ini.
Dira memang sudah tahu bahwa orang-orang mengatakan jika Sheila lah penyebab Fay celaka, tapi Dira tidak sampai berfikir bahwa orang tua Fay ternyata juga berfikir Sheila juga salah. Tidak tahu kenapa Dira merasa bahwa Sheila tidak bersalah pasti semua ini hanyalah sebuah kesalahpahaman dan ia akan berusaha untuk meluruskannya.
Dira dan Siti terus mengikuti Sheila tanpa sepengetahuan Sheila hingga berada di depan rumah sakit, gadis itu terus berjalan ke tepi jalan dan memasuki taksi yang di berhentikan nya.
"Sheila nya udah pulang tuh, sekarang kita gimana?" tanya Siti.
"Kita pulang juga deh, waktunya sekarang kurang tepat buat kita menjenguk Fay,"jawab Dira.
"Ya udah hayuk!"
...🧕🏻🧕🏻🧕🏻...
"EH EH ASTAGFIRULLAH KENAPE LU? OLENG NI!" teriak Siti, ia kaget akibat teriakan dari Dira yang ada di belakangnya, motornya jadi olengkan dasar Dira.
"Gue baru ingat hari ini kan kita latihan beladiri, berarti ada Sheila dong, sekarang udah jam empat, jangan bilang dia udah ada di rumah lo. Terus kalau dia nanya ummi, kita kemana gimana? kalau dia curiga gimana? Habislaaahhh," Dira udah panik aja goyang-goyangin bahu Siti yang udah kesel karena fikiran Dira udah kemana-mana.
"Eh eh marpuah ini gue lagi nyetir ya bisa diem kagak,"Siti masih berusaha fokus mengendarai motor dari pada jatuhkan bahaya.
"Terus gimana dong?" Si Dira ini masih aja panik.
"Sejak kapan sih lo jadi mudah negatif thinking begini, santai Dir insyaallah dia gak bakalan curiga serahin semuanya kepada sang maha kuasa okay. Ya udah diem jangan goyang-goyangin bahu gue mulu ntar jatuh!"
"Okay," Setelah mendengar ucapan Siti barulah Dira tenang, ia juga sejak kapan dia jadi suka negatif thinking begini astagfirullah Dira, Dira.
Setelah beberapa menit akhirnya mereka sampai di rumah Siti setelah sempat ke rumah Dira dulu sebentar karena Dira mau berganti pakaian.
__ADS_1
Seperti yang Dira duga sudah ada Sheila duduk manis di kursi depan rumah Siti bersama dengan Aisyah.
"Assalamu'alaikum," ucap Dira dan Siti kemudian mencium punggung tangan Aisyah.
"Waalaikumsalam, akhirnya pulang juga anak-anak gadis ummi. Tuh udah di tungguin dengan Sheila dari tadi loh,"ucap Aisyah.
"Sheila sorry ya, udah lama ya nunggunya?"tanya Siti.
"Eh gak papa kok, latihannya kan belum mulai gue nya aja yang ke kecepatan datangnya,"ujar Sheila, memang iya Sheila datang kecepatan, sekitar jam tiga lewat ia sudah berada di rumah Siti, karena dari rumah sakit di tidak kemana-mana lagi selain ke rumah Siti. Sedangkan Siti dan Dira di jam tiga lewat baru selesai sholat di masjid tak jauh dari rumah sakit.
"Sheila lo ada bawa baju latihan yang waktu itu di kasih Siti kan?"tanya Dira, karena ia sendiri sudah mengenakan baju latihan miliknya.
Sheila berdiri dan mengangkat tasnya, "Oh ada kok,"
"Kalau gitu lo ganti baju dulu habis itu kita langsung latihan anak-anak yang lain juga udah pada datang," ucap Siti sembari melirik sekumpulan anak-anak perempuan yang sudah siap untuk berlatih.
Sheila mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru, ia mencari Lukman dimana orang yang akan melatihnya itu sedari tadi tidak terlihat oleh Sheila.
"Kamu lagi nyari siapa Sheila?" tanya Aisyah yang menyadari Sheila sedang mencari seseorang.
"Oh itu ummi, om Lukman kemana ummi?"tanya Sheila.
"Oh kamu ada urusan sama abi?"tanya Aisyah.
"Eh gak kok ummi, itu bukannya yang ngelatih bela diri om Lukman ya?"
"Iya itu untuk anak laki-laki tapi kalau anak perempuan bukan abi,"
Sheila beroh ria ia fikir Lukman yang akan melatihnya ternyata bukan, " Terus yang ngelatih anak perempuan siapa ummi?"
"Tuh di samping kamu,"
Sheila memalingkan wajahnya kesamping dan mendapati Siti yang sudah terkekeh.
__ADS_1
"Hehe gue ✋," ucap Siti sambil mengangkat tangan kanannya.
...-DSP-...