
...-DSP-...
Hari sudah mulai sore Dira dan Sheila berpamitan kepada Siti dan kedua orangtuanya. Sekarang Dira dan Sheila sedang melangkah menuju depan gang, karena di situlah Sheila akan menemukan angkutan umum. Kenapa ia tidak menelepon supirnya dan minta di jemput? Entah lah Sheila terlalu susah di tebak.
"Jadi lo gak mau mampir dulu nih ke rumah gue?"tanya Dira basa basi.
Sheila menoleh ke arah Dira dan menggeleng pelan, "Kapan-kapan aja, udah sore. Takut pulangnya kemalaman,"
Dira mengangguk-anggukkan kepalanya, "Oh iya juga, nanti lo di cariin lagi sama keluarga lo"
Sheila tersenyum kecut, "Gue mati juga gak bakalan di cariin,"gumam Sheila. Padahal ia tidak tahu saja ayahnya sedang khawatir menunggunya di rumah.
"Hah? Lo bilang apa barusan?"tanya Dira.
"Gak ada," jawab Sheila.
"Oh."
Tak terasa langkah mereka telah sampai di depan gang dan pas sekali angkutan umum yang harus di tumpangi Sheila lewat. Cepat-cepat Dira menghentikannya sebelum kelewatan.
"Gue pulang dulu ya, makasih banyak udah bantuin gue,"ucap Sheila sembari menunjukkan senyum manis di bibirnya.
"Iya, santai aja kita kan teman,"balas Dira senang.
"Sampai jumpa besok, bye,"
Setelah melambaikan tangannya Sheila langsung memasuki angkutan umum dan meninggalkan Dira yang masih tersenyum sembari melambaikan tangannya hingga angkutan umum yang di tumpangi Sheila tak terlihat lagi.
"Sampai jumpa besok juga, calon sahabat."
......🧕🏻🧕🏻🧕🏻......
Arzan sedang berdiri cemas di depan rumah, putrinya sedari tadi masih belum menunjukkan batang hidungnya. Padahal sebentar lagi pukul enam sore, kemana saja ia pergi. Tadi saat supir menjemputnya, gadis itu beralasan masih ada urusan dan akan pulang sendiri, namun sampai sekarang ia masih belum pulang.
Padahal rencananya tidak bekerja hari ini adalah agar bisa menghabiskan waktu bersama putrinya. Ya memang akhir-akhir ini Arzan sering berada di rumah, tapi Sheila sama sekali tidak memperdulikannya. Mereka hanya melakukan kegiatan mereka masing-masing, ya Arzan memang harus berusaha lagi untuk mendapatkan kembali hati putrinya.
Tak lama dari kejauhan Arzan melihat putrinya yang baru turun dari angkutan umum. Senyum Arzan pun merekah hatinya merasa lega setelah melihat putrinya.
"Sheila, akhirnya kamu pulang juga,"seru Arzan saat Sheila sudah berada di teras rumah.
__ADS_1
"Kamu dari mana saja, kenapa baru pulang sekarang?"tanya Arzan.
"Dari rumah teman,"jawab Sheila seadanya dan melanjutkan langkahnya memasuki rumah.
Arzan berjalan di samping Sheila, "Ya sudah kalau begitu, kamu mandi dulu setelah itu turun kebawah kita makan malam bersama,"ucap Arzan sudah lama sejak ia makan bersama dengan Sheila.
Sheila menghentikan langkahnya dan menatap Arzan lekat. Ayah yang dulunya jarang memberi senyum kepadanya sekarang sedang tersenyum manis di hadapannya. Sejenak Sheila merasa senang namun sakit hatinya menutupi rasa senang itu, sehingga masih sulit untuknya menerima semua ini.
Allahu Akbar Allahu Akbar
Suara azan magrib berkumandang.
"Aku mau sholat Magrib dulu, papa makan duluan aja. Gak perlu nungguin aku, lakukan seperti biasanya yang papa lakukan," setelah mengucapkan kalimat yang cukup menusuk hati Arzan, Sheila langsung berjalan menuju kamarnya. Meninggalkan Arzan yang terdiam sembari memegangi dadanya.
"Sakitnya tuh di sini Sheil."
......🧕🏻🧕🏻🧕🏻......
"Makasih banyak om, kalau gitu saya tutup teleponnya om Assalamualaikum"
"Iya, waalaikumsalam,"
"Baiklah, mari kita cek," segera Dira membuka aplikasi WhatsApp karena Arzan mengirim daftar informasi Fay melalui WhatsApp.
Setelah membuka chat roomnya dan Arzan terlihat informasi yang dikirim Arzan. Perlu diingat informasi yang dikirim Arzan bukanlah informasi pribadi yang tidak boleh diketahui oleh orang lain.
Dengan teliti Dira membaca informasi mengenai Fay.
Nama : Fay Heleina
Umur : 16 tahun
Sekolah : SMA Cahaya kelas 10
Selalu peringkat satu di sekolah sejak SMP.
Masuk SMA melalui jalur beasiswa.
Banyak memenangkan perlombaan.
__ADS_1
Tepat tiga bulan yang Fay terjatuh dari rooftop sekolah dan mengalami koma hingga sekarang dan di rawat di rumah sakit umum daerah xxxx.
Dira cukup terkejut setelah tahu ternyata penyebab orang bernama Fay itu koma ternyata karena jatuh dari rooftop sekolah. Gedung yang tingginya puluhan meter itu? Dira merasa bersyukur karena Fay masih bisa di selamatkan dan semoga ia bisa lekas sembuh.
Untungnya Dira mendapatkan alamat rumah sakit dimana Fay di rawat, ia ingin menjenguk Fay. Mereka kan satu sekolah berarti secara tidak langsung mereka adalah teman. Jadi tidak ada alasan Dira untuk tidak menjenguknya
Tapi ada satu hal yang mengganjal di pikiran Dira, sebenarnya apa penyebab Fay jatuh dari rooftop?
Mereka di sekolah selalu mengatakan bahwa Sheila lah penyebabnya, tapi menurut informasi yang Dira dapatkan Sheila dan Fay adalah teman dekat. Dan semua ini membuat Dira semakin bertanya-tanya, ia ingin menemukan kebenaran sehingga tidak ada yang merasa tersakiti hanya karena sesuatu yang tidak benar.
Karena yang tidak bersalah tidak seharusnya menanggung kesalahan yang di lakukan orang lain. Jika Fay mengalami kecelakaan itu, karena ketidaksengajaan hal itu juga harus di luruskan jadi tidak ada saling tuduh menuduh.
......🧕🏻🧕🏻🧕🏻......
Keesokan harinya setelah pulang sekolah Dira telah berencana menjenguk Fay di rumah sakit. Dan ia pergi tidak sendiri, Dira pergi bersama Siti. Sekarang mereka sudah sampai di parkiran rumah sakit.
"Beneran di rumah sakit ini Dir?" tanya Siti.
"Iya bener, hayuk lah kita masuk!" ajak Dira sembari menarik lengan Siti.
Namun saat hendak memasuki rumah sakit, netra Dira menangkap satu sosok yang akhir-akhir ini sering ia pikirkan.
Orang itu adalah Sheila, ia sedang berjalan tak jauh dari tempat Dira dan Siti berdiri. Dengan membawa beberapa jenis buah ditangannya Sheila terus berjalan dan memasuki rumah sakit tanpa menyadari kehadiran Dira.
"Itu Sheila kan yak? Kayaknya dia mau jenguk orang juga,"ucap Siti.
"Iya, kayaknya orang yang mau dia jenguk sama dengan yang mau kita jenguk," balas Dira. Pasti Sheila juga mau menjenguk Fay pikirnya.
"Ya udah kalau gitu kita ajak bareng aja kuy," Baru juga Siti mau mengejar Sheila, cepat-cepat Dira menariknya kembali.
"Et et tunggu Maemunah, entar yang ada dia curiga dengan kita. Kalau gue ketahuan mata-matain dia gimana,"ucap Dira mengingatkan hampir saja ia ketahuan akibat sahabatnya yang satu ini.
Siti hanya terkekeh sambil menggaruk pipinya, "Oh iya juga, lupa gue sorry sorry hehe,"
"Ha he ha he lu, ya udah kita ikutin dari belakang aja. Entar kalau dia udah pulang baru giliran kita yang jenguk ngokey,"
"Ngokey."
......-DSP-......
__ADS_1