Dira'S Spy (Mata-mata Dira)

Dira'S Spy (Mata-mata Dira)
Bab 40 DSP


__ADS_3

...-DSP-...


"Fiola?" ucap Dira saat melihat Fiola berdiri di depan kamarnya.


"Dira, ini temen kamu katanya mau belajar bareng," Diana mempersilahkan Fiola masuk ke dalam kamar Dira dan ia kembali ke depan untuk menjaga warung miliknya.


"Gue kenapa?" tanya Fiola heran karena ia mendengar Dira menyebut namanya tadi.


Mereka bertiga saling diam, hanya berbicara melalui tatapan mata. Mereka benar-benar merasa kecewa, karena orang yang bersama Fay di roof top malam itu adalah Fiola.


Dira mendekati Fiola dan menunjukkan video itu kepadanya.


Fiola mengernyit, "Apa sih?"


Saat Dira memutar video itu, seketika Fiola terbelalak. Ia menutup mulutnya yang sedikit ternganga, kenapa video ini bisa ada dengan mereka. Bukan kah Bellen telah berjanji padanya tidak akan menyebarkan video itu, jika ia menuruti semua permintaan Bellen.


"Ke.. kenapa video itu bisa dengan kalian?" tanya Fiola terbata.


"Apa yang lo lakukan kepada Fay malam itu Fio?" tanya Sheila ia berusaha menahan amarahnya.


Fiola menggeleng lemah, "Gue gak ngelakuin apa-apa sama Fay."


Sheila merampas ponsel Bellen dari tangan Dira, ia mendekatkan ponsel itu ke wajah Fiola.


"Terus ini apa? Lo udah gak bisa ngelak lagi Fio. Mending lo jujur aja sama kita. Lo kan pelakunya?" ucap Sheila mulai kesal.


"Gue beneran gak ngelakuin apa-apa dengan Fay. Bukan gue pelakunya," ucap Fiola menjelaskan.


Dira menatap Fiola dengan tatapan kecewa, "Fio sekarang lo jujur dengan kita. Apa yang lo lakukan dengan Fay malam itu? Kalau memang lo gak ngelakuin apa-apa dengan Fay, cerita yang sejujur-jujurnya supaya kita percaya kalau lo bukan pelakunya."


Fiola menyurai rambutnya ke belakang dan menghela nafas pasrah, "Oke gue ceritain semuanya biar lo semua percaya kalau gue bukan pelakunya."


Fiola pun mulai menceritakan kejadian di hari ia bersama Fay malam itu.


...🧕🧕🧕...


Beberapa jam sebelum kejadian Fay jatuh dari roof top. Fiola keluar dari dalam kelasnya dengan wajah yang sedikit masam. Hatinya terasa panas saat mendengar bahwa laki-laki pujaannya berkirim pesan dengan Fay. Ia melangkah dengan gusar sampai berhenti di depan gerbang sekolah.


Ia benar-benar tidak habis pikir, kenapa ia harus kalah dari Fay dalam semua hal. Mulai dari pelajaran, penampilan, bahkan sekarang orang yang ia sukai juga terpikat dengan Fay. Tidak bisakah Fay mengalah darinya sekali saja.


Setelah beberapa menit akhirnya mobil jemputan nya sampai. Segera Fiola memasuki mobil dan duduk di kursi penumpang di samping pengemudi. Di mana sudah ada ibunya yang tersenyum hangat ke arahnya.

__ADS_1


"Gimana lesnya, lancar?" tanya Tania dan mulai menjalankan mobilnya.


"Lancar kok mah," jawab Fiola.


Tania menoleh menatap putrinya yang menatap kosong ke arah luar jendela di.


"Kamu ingat kan, sebentar lagi mau UTS?"


Fiola mengangguk, "Iya ma inget."


"Belajar yang serius, jangan sampai kamu gak dapat peringkat satu lagi Mama dengar Fay, satu sekolah lagi dengan kamu."


Fiola menghela nafasnya jengah, lagi dan lagi yang selalu di bahas mamanya selalu saja nilai, nilai, nilai. Ia benar-benar merasa tertekan, padahal Fiola sudah berusaha sekuat tenaganya. Tapi orang tuanya masih saja menganggap hal itu kurang.


"Iya, aku juga sekelas sama Fay," jawab Fiola.


Tania melirik putrinya, "Kamu gak boleh kalah lagi dari Fay. Kamu harus peringkat satu, mau itu ulangan harian ataupun ulangan umum," Tania menggenggam tangan Fiola, "Kamu gak mau kan, di pukul sama papa kamu lagi?"


Mendengar hal itu Fiola menggelengkan kepalanya cepat, ia benar-benar tidak mau di pukul lagi oleh ayahnya. Bahkan bekas pukulan waktu itu saja masih terasa di punggungnya. Fiola harus bagaimana ia sudah berusaha semampunya, tapi tetap saja ia tidak bisa. Bahkan mamanya juga tidak bisa membantunya terbebas dari pukulan papanya.


Iya dia harus memohon kepada Fay agar mengalah darinya sekali ini saja. Fay benar-benar tidak ingin di pukuli lagi.


Tania menepikan mobilnya, "Jadi kamu mau balik ke sekolah lagi?"


Fiola mengangguk cepat, "Iya ma, soalnya ada pr aku di situ. Besok udah mau di kumpulin."


"Tapi mama sebentar lagi ada acara dengan teman-teman mama, jadi gak bisa nganterin kamu ke sekolah lagi," ucap Tania sembari melihat jam tangannya.


"Gapapa aku sendiri aja ma, nanti aku naik taksi."


Tania terdiam sebentar sebelum kembali membuka suara, "Ya udah, tapi hati-hati ya."


"Iya ma. Mama tenang aja."


Setelah itu Fiola turun dari mobilnya, saat mobil mamanya sudah menjauh. Ia langsung memesan taksi dan tak lupa mengirimkan pesan ke pada Fay untuk mengajaknya berbicara di sekolah. Dan untungnya Fay belum pulang.


Saat sudah di dalam taksi, ponsel Fiola berdering ia mendapatkan telepon dari Fay.


"Halo Fio, lo bilang mau ngomongin hal penting kan? Kalau gitu gue tunggu lo di roof top. Cepetan keburu malem ntar."


"Iya sebentar lagi gue ke sana, tunggu aja."

__ADS_1


Setelah sampai di sekolah cepat-cepat Fiola berjalan menuju roof top, karena hari sudah mulai malam. Ketika sampai di roof top, di situ sudah ada Fay yang menunggunya.


"Sorry lama," ucap Fiola dengan sedikit ngos-ngosan.


"Iya gapapa. Jadi lo mau ngomongin hal penting apa?" tanya Fay.


Fiola berusaha memberanikan dirinya untuk mengatakan tujuannya, "Gue, gue mau minta tolong sama lo."


Fay mengernyit, "Tolong apa?"


"Gue mau minta tolong sama lo, supaya ulangan kali ini lo ngalah dari gue," Fiola harap-harap cemas, takut Fay menolaknya.


Fay terdiam mencoba mencerna maksud dari kata-kata Fiola. Fiola yang tidak mendapatkan jawaban kembali berbicara untuk meyakinkan.


"Kalau kali ini gue gak dapat peringkat satu, gue bakalan di pukulin lagi sama bokap gue," jelas Fiola.


"Maaf Fiola gue gak bisa," ucap Fay yang membuat harapan di wajah Fiola sirna. Tapi ia takkan menyerah, Fiola akan terus mencoba sampai Fay mau membantunya.


"Gue mohon Fay bantuin gue."


"Udah gue bilang, gue gak bisa ngelakuin hal itu" ucap Fay, bukan ia tak ingin membantu Fiola. Tapi ia benar-benar tak bisa.


Fiola bersimpuh di hadapan Fiola, ia rela melakukan apapun agar Fay mau membantunya, "Gue mohon kali aja tolongin gue."


"Gue bener-bener gak bisa Fio," ucap Fay untuk yang kesekian kalinya, jika nilainya turun beasiswa nya akan di cabut. Fay tidak ingin hal itu terjadi.


Fiola yang semula tertunduk mengangkat kepalanya dan menatap Fay geram. Ia kembali berdiri.


"Mau lo apa sih Fay? Gue udah mohon-mohon sama lo, tapi lo masih gak mau bantuin gue," pekik Fiola.


"Gue ada alasannya Fio," jelas Fay.


"Apa? Kalau dari awal gue gak ketemu lo pasti gak gini jadinya. Dan sekarang kenapa gue harus satu sekolah lagi dengan lo, yang udah pasti gue kalah lagi. Kenapa lo harus menang dari gue dalam segala hal," Fiola mengeluarkan segala isi hatinya.


"Bahkan lo juga deketin kak Riski, orang yang gue suka. Setidaknya gak bisa apa lo ngalah dari gue untuk salah satunya?" ucap Fiola lagi.


Fay mendekat ke arah Fiola berusaha untuk menenangkannya, "Gue gak bermaksu..."


"Emang orang kayak lo itu pantas mati!" potong Fiola dan pergi meninggalkan Fay yang masih tercengang menatap kepergiannya.


...-DSP-...

__ADS_1


__ADS_2