
...-DSP-...
Setelah selesai sholat zhuhur Dira dan Sheila memilih untuk duduk di bangku taman sekolah. Sudah beberapa menit mereka berada di taman, tapi tidak ada satupun obrolan yang keluar.
Sheila hanya berdiam diri dan menatap kosong ke arah depan sedangkan Dira berusaha memikirkan hal apa yang harus di katakannya. Akhirnya setelah sekian lama berdiam diri Dira memberanikan diri untuk memulai percakapan.
"Sheil!"Panggil Dira
"Hm,"jawab Sheila tanpa menoleh ke arah Dira.
Dira tampak berfikir sejenak.
"Gue tau pasti tadi lo habis di bully lagi kan?"tanya Dira memberanikan diri.
Sheila hanya diam tak berniat menjawab pertanyaan dari Dira.
"Lo bisa cerita ke gue kalau lo mau atau setidaknya bilang ke gue siapa yang udah ngejahatin lo,"ucap Dira ada sedikit rasa kesal di hatinya saat melihat luka memar di dagu dan tangan Sheila rasanya ingin Dira hajar para pembully itu.
Setelah diam beberapa saat Sheila menoleh dan menatap Dira dengan tatapan yang penuh kesedihan di dalam sana, "Lo ga perlu tau Dir, ini urusan gue biar gue yang hadapi. Gue gak mau lo ikutan terkena masalah hanya karena gue,"balas Sheila yang membuat Dira tertegun.
"Yang bisa lo lakuin hanya satu Dir,"lanjut Sheila.
"Apa?"
Sheila kembali menatap lurus ke depan, "Diam! hanya itu yang bisa lo lakuin, diamlah seperti mereka semua yang ada di sini!"
"Sorry Sheil tapi gue gak bisa karena gue bukan mereka,"ucap Dira.
Setelah itu mereka berdua sama-sama terdiam.
"Gue ke kelas,"ucap Sheila tiba-tiba dan langsung berdiri namun saat ingin melangkahkan kakinya Dira langsung menahan lengan Sheila.
"Dengerin gue baik-baik Sheil, jangan pernah takut dengan mereka lo harus berani, kasih tau mereka kalau lo ga suka di perlakukan seperti itu dan lo bisa ngelaporin mereka ke guru Sheil. Dan ingat lo ga sendiri Sheil," ucap Dira sedikit berteriak rasanya ia ingin mengeluarkan semua isi hatinya.
Sheila tersenyum miring, "Hm gue udah pernah ngelakuin itu semua, percuma," setelah itu Sheila berjalan pergi meninggalkan Dira sendirian di taman.
Dira menghela nafas berat, "Gue harus ngapain untuk ngebantuin lo Sheil?"lirih Dira.
Sekarang Dira merasa walaupun om Arzan tidak membayarnya, ia akan tetap berusaha untuk membantu Sheila. Karena Dira sangat membenci tindakan perundangan, ia akan berusaha untuk menolong Sheila.
...🧕🏻🧕🏻🧕🏻...
Dira dengan santai menelusuri lorong sekolah, keadaan sekolah sekarang sudah mulai sepi karena jam sekolah telah usai beberapa menit yang lalu.
__ADS_1
Tibalah saat Dira melewati beberapa orang siswa yang masih bersantai ria dan berlari lari di depan kelas mereka, padahal murid yang lain sudah pulang entah apa yang dilakukan mereka.
Tiba-tiba manik mata Dira bertemu dengan seorang laki-laki yang juga sedang menatapnya. Laki-laki itu menyeringai kemudian bangkit dari duduknya dan menghampiri Dira.
"Ey ini gue gak salah lihat kan? Si cewek miskin sekolah di sini,"ucap laki-laki itu sambil menghadang jalan Dira.
Dira berusaha untuk tidak memperdulikan laki-laki di depannya dan kembali meneruskan jalannya.
"Eits mau kemana? Sombong amat jadi mantan,"ujar lelaki itu lagi yang membuat Dira sedikit terganggu mendengar kata mantan.
"Apa? Dia mantan lo Dhil?"tanya salah seorang temannya yang juga ikut menghampiri Dira.
"Iya mantan gue yang ga tau diri itu, udah miskin sok alim lagi,"
"Oh iya iya ingat gue lo pernah cerita,"
Ya tidak bisa di pungkiri memang laki-laki di depan Dira, yang bernama lengkap Fadhil Liansya adalah mantan pacar Dira semasa SMP. Fadhil adalah satu-satunya orang yang pernah menjadi pacar Dira.
Berpacaran itu adalah hal yang sangat Dira sesali, padahal berpacaran itu adalah perbuatan dosa tapi Dira melakukannya. Dan sekarang Dira berusaha untuk memperbaiki dirinya dan menjauhi hubungan seperti itu.
Dan saat Dira ingin memperbaiki diri dan mengakhiri hubungan yang salah itu, Fadhil malah marah dan mengata-ngatainya sebagai gadis miskin dan sok alim.
Dira menatap Fadhil sekilas dan menundukkan pandangannya lagi, "Bisa minggir ga, gue mau pulang,"
"Alhamdulillah ga salah,"balas Dira santai.
"Emang lo punya uang dari mana bisa bayar sekolah semahal ini? Ngepet lo?"
Dira hanya geleng-geleng mendengar pertanyaan Fadhil, lelaki di depannya ini sama sekali belum berubah, "Alhamdulillah uang yang gue pakai halal, sekarang bisa minggir? gue mau pulang,"
Fadhil mendekat ke arah Dira dan berbisik,"Atau..lo jual diri?"
Mendengar perkataan Fadhil sontak mata Dira terbuka lebar, ia berusaha untuk beristighfar dan sabar.
"Astagfirullah sabar Dira, ingat Allah bersama orang yang sabar,"
"Lo bisa munduran dikit ga,"ujar Dira.
"Kenapa? Takut terpesona dengan kegantengan gue untuk yang kedua kalinya lo?" Tanya Fadhil penuh percaya diri.
Ingin rasanya Dira tertawa, lelaki di hadapannya ini sungguh percaya diri.
"Napas lo bau sampah.. minggir lo!"tanpa memperdulikan Fadhil dan teman-temannya Dira langsung melangkah menjauh dari mereka.
__ADS_1
Fadhil yang di tinggalkan hanya melongo dan teman-temannya berusaha menahan tawa karena melihat ekspresi Fadhil yang menurut mereka sangatlah lucu.
"Lihat aja Dir, gue bakal buat lo sujud sujud minta balikan sama gue,"geram Fadhil.
...🧕🏻🧕🏻🧕🏻...
Dira berjalan keluar sekolah dengan perasaan yang sedikit kesal, akibat perkataan dari Fadhil tadi bisa-bisanya lelaki itu mengatakan dirinya telah menjual diri.
"Astagfirullah sabar Dira, ringan bener tu congor ngatain gue jual diri. Dasar Fadhil dari dulu ga pernah berubah. Semoga aja dia cepat sadar aamiin," ucap Dira terus mengelus dadanya sembari berjalan menuju halte untuk menunggu angkutan umum.
...🧕🏻🧕🏻🧕🏻...
"Baik om, saya akan berusaha mengawasi Sheila di sekolah agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan lagi om. Maaf tadi hampir lengah om," ucap Dira merasa bersalah, sekarang ia sedang bertelepon dengan om Arzan untuk melaporkan hal yang terjadi dengan Sheila di sekolah.
"*Tidak apa-apa Dira ini bukan salah kamu seharusnya tugas menjaga Sheila itu adalah tugas saya. Tapi saya tidak becus sebagai seorang ayah, sehingga membuat Sheila berniat untuk bunuh diri," ucap Arzan dari sebrang telepon, ia merasa sangat gagal sebagai seorang ayah.
"Terimakasih Dira, karena sudah mau membantu saya. Kamu anak yang baik,"lanjut Arzan*.
"Ga om seharusnya saya yang berterimakasih berkat om saya bisa melanjutkan sekolah saya om. Terimakasih banyak om,"
"Sebagai manusia kita memang harus saling tolong menolong, jika kamu butuh sesuatu kamu bisa bilang ke saya. Oh iya saya dengar dari anak buah saya kamu tidak ada kendaraan untuk pergi ke sekolah, apa kamu mau saya belikan sepeda motor?"tanya Arzan yang membuat Dira sedikit terkejut, sudah bisa masuk sekolah saja dia sangat bersyukur sekarang om Arzan malah ingin membelikannya motor.
"Ga usah om makasih, Dira lebih suka naik angkutan umum aja om,"balas Dira.
Arzan mengerutkan keningnya, "Kamu yakin?"
Dengan cepat Dira menganggukkan kepalanya walaupun om Arzan tak melihatnya, "Iya om, om tenang aja,"
"Ya sudah, kalau kamu butuh bantuan atau sesuatu kamu bisa bilang ke saya, jangan sungkan,"
Mendengar tawaran Arzan membuat Dira berfikir sejenak.
"Mm kalau begitu, saya butuh bantuan om,"ujar Dira setelah memikirkan sesuatu yang menurutnya penting.
"Apa itu?"tanya Arzan.
"Saya minta tolong cari tahu tentang siswi SMA Cahaya bernama Fay Heleina om,"jawab Dira.
"Fay Heleina? hmm baiklah saya akan bantu,"
Dira tersenyum senang," Terimakasih banyak om,"
"Sama-sama nak."
__ADS_1
...-DSP-...